BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI TUGAS, FUNGSI DAN
F. Tindakan Preemtif, Preventif dan Refressif dalam upaya
Tindak Pidana korupsi di Indonesia sudah meluas dalam masy
bangannya terus meningkat dari tahun ke tahun, baik dari jumlah kasus yang terjadi dana jumlah kerugian keuangan negara maupun dari segi kualitas tindak
139
pidana yang dilakukan semakin sistematis serta lingkupnya yang memasuki seluruh aspek kehidupan masyarakat.140
Meningkatnya tindak pidana korupsi yang tidak terkendali akan membawa bencana tidak saja terhadap kehidupan perekonomian nasional tetapi juga pada
melu ekonom
a). T
kehidupan berbangsa dan bernegara pada umumnya. Tindak pidana korupsi yang as dan sistematis juga merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan i masyarakat, dan karena itu semua maka tindak pidana korupsi tidak lagi dapat digolongkan sebagai kejahatan biasa melainkan telah menjadi suatu kejahatan luar biasa. Pencegahan terjadinya tindak pidana korupsi dapat dilakukan melalui tiga tindakan, yaitu tindakan preemtif, preventif dan represif. Berikut ini kita akan melihat hal tersebut satu persatu.
indakan Preemtif
Tindakan Preemtif yaitu tindakan awal sebelum pencegahan korupsi melalui peningkatan kesadaran masyarakat agar turut serta dalam upaya pencegahan tindak pidana korupsi dalam rangka penegakan hukum yang dilakukan dengan cara :
a. melakukan pendekatan dengan tokoh masyarakat (formal dan atau informal) serta komponen masyarakat lainnya;
b. membangun jaringan deteksi dini untuk peringatan dini dan cegah dini terkait dengan tindak pidana korupsi ;
140
Ermansjah Djaja, Memberantas Korupsi bersama KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi),
Kajian Yuridis Normatif UU No. 31 Tahun 1999 juncto UU No. 20 Tahun 2001 versi UU No. 30 Tahun 2002, Sinar Grafika, , Jakarta, 2008, hal. 182-183.
c. meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk mematuhi semua nor
kunci
dip miliki kapasitas dalam menerapkan nilai-nilai dan
Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi,
atau an hukum,
n negara, asas kepentingan umum, asas keterbukaan, asas propors
ma peraturan dan hukum yang berlaku melalui kegiatan sosialisasi. b). Tindakan Preventif
Terwujudnya pemerintahan yang baik (good governance) merupakan
keberhasilan dalam menangkal tumbuhnya praktik-praktik korupsi. Untuk itu, erlukan aparatur negara yang me
prinsip-prinsip good governance. Sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 28
Kolusi, dan Nepotisme, meletakkan tujuh asas penyelenggaraan negara yang baik prinsip- prinsip good governance. Asas-asas ini meliputi asas kepasti
asas tertib penyelenggaraa
ionalitas, asas profesionalitas, dan asas akuntabiltas. Tiga pilar utama good
governance adalah partisipasi masyarakat (asas kepentingan umum), akuntabilitas,
dan transparansi (asas keterbukaan).141
Terbitnya Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2004 pada awal pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu dipicu oleh rendahnya Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia dalam perspektif internasional. Indeks ini ditetapkan oleh Transparency International berdasarkan survei independen tentang persepsi pelaku bisnis terhadap pelayanan publik di suatu negara.
141
Yuhendra, Peningkatan Peran Pengawas dalam Pencegahan Tindak Pidana Korupsi,
diakses dari situs http://pusdiklatwas.bpkp.go.id/artikel/namafile/28/PENINGKATAN_PERAN_PENGAWAS_DALA
Berdasarkan survey yang dilakukan The Political and Economic Risk
Consultancy (PERC), Indonesia tahun 2005 menduduki peringkat pertama sebagai
negara
004 menjadi 2,2 pada tahun 2005, dan pada tahun 2006 m
bersifat memperbaiki sistem pengendalian intern (organisasi, perencanaan, kebijakan, dan reviu intern), penyempurnaan metoda pelaksanaan kegiatan dan koreksi secara langsung atas penyimpangan yang dijumpai terkorup se Asia. Seperti diketahui bahwa dalam decade terakhir ini, IPK Indonesia tidak mengalami kemajuan berarti. IPK Indonesia hanya berubah dari 1,7 pada tahun 1999 menjadi 2,2 pada tahun 2004. sejak diterbitkannya Inpres No.5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, IPK Indonesia mengalami peningkatan dari 2,0 pada tahun 2
encapai 2,4. dan turun lagi menjadi 2,3 pada tahun 2007 atau berada pada posisi 143 dari 179 negara yang disurvei. Sedangkan di tahun 2008 terjadi peningkatan sebesar 2,6 (Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Lembaga Tranparency Internasional).142
Pemberantasan korupsi dapat dilaksanakan melalui tindakan preventif . Peran Aparat pengawasan pemerintah dalam pemberantasan korupsi ditekankan kepada tindakan preventif, tanpa mengabaikan peran melalui tindakan represif. Tindakan
preventif, dilaksanakan melalui pengawasan internal pemerintah dilaksanakan
melalui: audit kinerja, monitoring, evaluasi, reviu, konsultasi, Sosialisasi dan asistensi (bimbingan teknis). Kegiatan ini menghasilkan rekomendasi kepada pimpinan instansi pemerintah dan unit kerja yang
dilapangan. Tindak lanjut atas rekomendasi kegiatan pengawasan ini merupakan
142
langkah
Tindak Pidana Korupsi. Melalu
yang efektif untuk mencegah terjadinya tindak pidana korupsi. Kegiatan konsultasi, sosialisasi dan asistensi bertujuan meningkatkan kapasitas obyek pengawasan dalam pelaksanaan tugas, terutama dalam hal yang berhubungan dengan peraturan perundang-undangan dan administrasi keuangan.
Selanjutnya tindakan represif ini juga dapat dilakukan melalui penegakan supremasi hukum dengan meletakkan landasan kebijakan yang kuat dalam usaha memerangi tindak pidana korupsi. Penegakan supremasi hukum dilakukan dengan meletakkan landasan kebijakan yang kuat dalam berbagai peraturan perundang- undangan, antara lain dalam Ketetapan MPR RI No.XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, UU No. 31 Tahun 1999 Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 31Tahun 1999 tentang Pemberantasan
i penegakan supremasi hukum ini, diharapkan pencegahan korupsi dapat dilakukan baik pencegahan yang sifatnya preventif dengan sanksi yang tertera dalam undang-undang tersebut maupun yang sifatnya represif , yaitu penegakan sanksi yang diancam di dalam undang-undang tersebut.
c). Tindakan Refresif
Tindakan represif, dilaksanakan melalui pemberian rekomendasi kepada
pimpinan instansi pemerintah, berupa sanksi sehubungan dengan adanya temuan terjadinya tindak pidana korupsi atau kerugian negara melalui audit. Selain itu
rekomendasi kepada pimpinan instansi pemerintah dapat berupa pelimpahan hasil audit kepada aparat penegak hukum apabila terjadi tindak pidana korupsi.
Dari kesimpulan diatas, ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam pencegahan korupsi seperti: reformasi birokrasi, reformasi layanan publik, reformasi bidang pelaksanaan anggaran, reformasi bidang perbendaharaan, dan sistem penerimaan dan pembayaran, reformasi bidang pengelolaan kas, piutang, barang
pemerintah, reformasi bidang pemeriksaan dan sistem pengen
milik negara, dan kewajiban
dalian, peningkatan peran serta masyarakat, serta penegakan kode etik secara ketat.