BAB IV ANALISIS PERHITUNGAN PROFIT MARGIN
C. Profit Margin
3. Penetapan Profit Margin Menurut Islam
Penetapan profit margin menurut Islam tidak jauh dari proses terjadinya kegiatan yang dilakukan oleh bank syariah khusus di produk pembaiayaan murabahah. Kata murābaḥah berasal dari kata kerja Arab, rābaḥa, yurābiḥu, murābaḥatan. Kata kerja aslinya adalah dari fiʻil thulāthi adalah rabaḥa. Dalam kamus Lisān al-‘Arab, kata-kata al-rib ,u, al-raba andu dan al-rabbaḥu memiliki arti pertumbuhan atau pertumbuhan yang sama dalam perdagangan. 148
Syariah adalah cara hidup manusia dan diciptakan untuk membawa orang menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat (falāḥ) melalui penegakan berbagai permohonan yang terkandung dalam Alquran dan al-Ḥadīth. Aturan mengatur kehidupan manusia dalam berbagai aspek, yaitu bidang ‘ubūdiyah dan mu‘āmalah.149
Selain prinsip-prinsip ekonomi syariah seperti yang disebutkan di atas, dalam hukum Islam juga memiliki moralitas ekonomi, yang dikenal sebagai "emas lima", yaitu keadilan, kebebasan, kesetaraan, partisipasi, dan akuntabilitas. Emas lima digunakan sebagai prinsip umum yang mendasari prinsip-prinsip syariah.150 Seperti bank konvensional, bank syariah juga berfungsi sebagai lembaga perantara, yaitu untuk mengumpulkan dana dari masyarakat dan menyalurkan dana kembali ke masyarakat yang
148 Ibn Manẓūr, Abū al-Faḍl Jamāl al-Dīn Muḥammad Ibn Mukarram.. Lisān Al-‘Arab. 4th ed. al-Qāhirah: al-Dār al-Miṣriyyah li al-Ta’līf wa alTarjamah. 1954 dalam al-Fīyrūzābādī. 1983. Al-Qāmūs Al-Muḥīt. 1st ed. Beirūt: Dār al-Fikr.
149Ahmad Maulidizen,. ‚Penjadualan Semula Pembiayaan Mikro Murābaḥah Di Bank Syariah Mandiri, Indonesia.‛ Universiti Malaya Kuala Lumpur. 2016.
150 Tabari, Nima Mersadi. ‚Islamic Finance and the Modern World: The Legal Principles Governing Islamic Finance in International Trade.‛ The Company Lawyer 2010. 31 (8): 249–54. ttps://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1740669
107 membutuhkan dalam bentuk pembiayaan.151 Filosofi perbankan Islam, pembiayaan harus memenuhi aspek syariah dan aspek ekonomi.152
Pembiayaan paling dominan yang dilakukan oleh perbankan Islam saat ini adalah murabahah. Hal ini dapat dibuktikan dari beberapa hasil penelitian, ternyata perbankan syariah pada umumnya menerapkan pembiayaan murabahah sebagai pembiayaan utama yaitu 85%. Sejak awal 1984, pembiayaan murabahah di Pakistan mencapai sekitar 87%. Sementara di Dubai Islamic Bank, pembiayaan murabahah mencapai sekitar 82%. Bahkan di Islamic Development Bank (IDB), selama periode lebih dari sepuluh tahun periode pembiayaan, 73% dari total pembiayaan adalah pembiayaan murabahah. Padahal, sebenarnya perbankan syariah memiliki produk unggulan berdasarkan untung dan rugi (PLS), yaitu muḍārabah dan mushārakah.153
Namun demikian, mekanisme pembiayaan murabahah, ternyata tidak lepas dari kritik para cendekiawan Muslim. Mereka berpendapat bahwa perbankan syariah dalam melakukan kegiatan bisnisnya, bukannya menghilangkan minat dan berbagi risiko, tetapi mempertahankan praktik memaksakan minat dengan label 'Islam'.154 Di antara para ahli hukum fiqh, validitas pembiayaan murabahah masih
151 Muhammad.. Sistem & Prosedur Operasional Bank Syariah. Yogyakarta: UII Press, 2000
152 Saeed, Abdullah.. Islamic Banking and Interest: A Study of the Prohibition of Riba and Its Contemporary Interpretation. Netherlands: E.J. Brill. 1999
153 Ahmad Maulidizen, Literature Study on Murābaḥah Financing in Islamic Banking in Indonesia, Economica: Jurnal Ekonomi Islam – Volume 9, Nomor 1 (2018): 25 - 49 ISSN:
2085-9325 (print); 2541-4666 (online) DOI:
https://dx.doi.org/10.21580/economica.2018.9.1.2411
154 Ibrahim Warde, Islamic Finance in the Global Economy. ( Edinburgh: Edinburgh University Press. 2000.)
108
diperdebatkan. Ada beberapa ulama yang mengizinkan karena murabahah adalah jual beli, tetapi beberapa ulama yang melarang karena menganggap bahwa murābaḥah bukanlah penjualan tetapi membeli ḥilah untuk mendapatkan riba atau riba. Ada beberapa ulama yang menganggapnya sebagai ba'i al-inah yang melanggar hukum, dan beberapa menganggapnya sebagai bai‘atāni fī ba‘iah.155
Murabah diharuskan menjadi salah satu instrumen pembiayaan berdasarkan al-Qur'ān dan al-Ḥadīth dan ijma '(al-Kāsānī, n.d.). Namun, tidak ada ayat Al-Qur'an dan Nabi Muhammad SAW yang secara langsung berkaitan dengan murabahah, hanya menemukan panduan umum tentang jual beli, laba, rugi dan perdagangan.156 Ulama mendefinisikan murabahah dengan berbagai bentuk definisi tetapi dengan tujuan relatif yang sama. Menurut Ibn al-Ḥumām, murābaḥah adalah kontrak pengiriman barang dagang komersial yang dimiliki oleh seseorang, berdasarkan biaya harga asli dari kontrak pertama, dan keuntungan tambahan, dengan memberi tahu pembeli.157 Keuntungan yang proporsional dapat ditentukan dalam bentuk jumlah uang tertentu atau dalam bentuk persentase tertentu daripada rasio harga pembelian, misalnya 10% atau 20%.158
155 Qaraḍāwī, Yūsuf. Bayʻ Al-Murābaḥah Li Al-‘Amir Bi Al-Syirā’ Kama Tajrīhī Al-Maṣārif Al-Islāmiyyah. al-Qāhirah: Maktabah Wahbah. . 1987
156 Tamkin, Joni bin Borhan. ‚Bay Al-Murabahah in Islamic Commercial Law.‛ Jurnal (Syariah : 1998) 55.
157 Ibn al-Ḥumām, al-Imām Kamāl al-Dīn ‘Abd al-Rāḥid al-Sirāsi.. Sharḥ Fatḥ Al-Qadīr. Vol. 5. (Beirūt: Dār Kutub al-‘Ilmiyyah. 1970)
158 al-Sharbīnī, Muḥammad al-Khaṭīb.. Mughnī Al-Muḥtāj. Vol. 2. Kairo: Sharikah Maktabah wa Maṭbaʻah al-Muṣṭafā al-Bābī al-Ḥalabī wa Awlādih, 1958 dalam Musjtari, Dewi Nurul. Penyelesaian Sengketa Operasional Bank Syariah. Yogyakarta: Nuha Medika, . 2000 dan
109 Imām al-Nawawī, salah seorang ulama di mazhab Shāfiʻi menyatakan murabahah ‚sah‛ tanpa argumen.159 Ibn Rushd mendefinisikan murabah sebagai pembelian dan penjualan barang dengan harga modal sebagai tambahan dari manfaat yang disepakati.160 Ulama Ḥanafī membenarkannya dalam kondisi esensial untuk validitas penjualan di dalamnya, dan juga karena manusia membutuhkannya.161 Jadi murabahah adalah penjualan barang dengan harga tertentu yang termasuk harga beli dan margin keuntungan dan harga harus disepakati oleh kedua pihak yang berkontrak.162 Dengan menggunakan murabahah, pemilik barang (bank) membuat perjanjian jual beli dengan pelanggan. Dalam hal ini pelanggan sebagai penasihat meminta dari bank untuk membeli aset untuknya. Bank akan membeli aset yang diinginkan dan akan menjual kepada pelanggan pada tingkat harga yang mencakup biaya awal dan keuntungan tambahan yang disepakati oleh kedua belah pihak.163 Pelanggan juga akan membayar dengan mencicil selama periode waktu tertentu yang disepakati tanpa bunga yang dikenakan pada utang.
Ibn Qudāmah memberikan definisi tentang bentuk perdagangan yang menjual barang dengan harga modal dan
159 al-Nawawī, Abū Zakariyyā Muḥyi al-Dīn bin Sharaf.
Rawḍah Al-Ṭālibīn Wa ‘Umdah Al-Muftīn. 3rd ed. (Beirūt: al-Maktab al-Islāmī. 1991.)
160 Ibn Rushd, Muḥammad Ibn Aḥmad Ibn Muḥammad. Bidāyah Al-Mujtahid Wa Nihāyah Al-Muqtaṣid. Vol. 2. (Beirut: Dār al-Qalam, 1988.)
161 Abdullah Saeed,. Islamic Banking and Interest: A Study of the Prohibition of Riba and Its Contemporary Interpretation. (Netherlands: E.J. Brill. 1999.)
162 Muhammad Taqi Usmani,. An Introduction to Islamic Finance. (London: Kluwer Law International. 2002.)
163 Adrian Sutedi,. Perbankan Syariah Tinjauan Dan Beberapa Segi Hukum. (Bogor: Ghalia Indonesia, 2009.)
110
menambahkan keuntungan yang diketahui.164 Imām Mālik juga menjelaskan bahwa murabahah adalah bahwa jika dia menjual sesuatu dengan mengambil dirham untuk setiap dirham dari modal yang dikeluarkan atau setengah dirham untuk setiap dirham yang dia keluarkan, atau sebelas dirham untuk setiap sepuluh dirham dari modal yang dikeluarkan, dalam hal untung kecil dari modal atau untungnya lebih dari modal, tergantung pada kesepakatan kedua belah pihak (al-Tanūkhi, nd). Imām Mālik mendasarkan validitas murabahah dengan with amalu ahli al-Madīnah ’. Ada konsensus pendapat di sini (Madinah) tentang hukum orang yang membeli pakaian di kota, dan mengembalikannya ke kota lain untuk menjualnya berdasarkan perjanjian laba. Imām al-Shāfiʻī menerima validitas murabahah. Dia menyatakan: "Jika seseorang menunjukkan komoditas kepada seseorang dan berkata," Kamu membelinya untuk saya, saya akan memberi Anda keuntungan seperti ini, "maka orang itu membelinya, maka transaksi itu sah".165
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa mekanisme mutakhir dari murabahah saat ini adalah skema perdagangan barang antara kedua pihak berdasarkan kesepakatan harga yang mencakup harga barang dan keuntungan. Pelanggan meminta pembiayaan, kepada bank, lembaga keuangan atau koperasi untuk membeli aset yang diinginkan dan memesan barang dengan harga asal dicampur dengan keuntungan yang
164 al-Dasūqī, Shams al-Dīn al-Shaikh Muḥammad. n.d.
Ḥāshiyah Al-Dasūqī ‘alā Al-Sharḥ Al-Kabīr. Vol. 4. Beirūt: Dār al-Fikr. Dalam Ibn Qudāmah, ‘Abd Allāh Ibn Aḥmad al-Maqdisī. Al-Mughnī Wa Al-Sharḥ Al-Kabīr. Vol. 4. (Beirūt: Dār Kutub al-‘Arabī. 1972.)
165 al-Shāfiʻī, Muḥammad bin Idrīs. Al-Umm. (Kairo: Dār al-Sha‘b. 1968.)
111 diberitahukan kepada pelanggan.166 Pada prinsipnya murabahah telah meminjam unsur-unsur dan diganti dengan konsep penjualan dan pembelian barang, di mana pemodal akan memberi tahu biaya pemesanan barang dan keuntungan yang diambil dari pelanggan. Oleh karena itu, atas dasar harga tambah, laba menjadi harga jual yang ditawarkan kepada pelanggan sebagai pembeli yang akan membayar yang berat, secara bertahap atau simultan mengikuti kesepakatan kedua belah pihak.167 Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa, murabahah adalah kontrak penjualan dan pembelian barang dengan menyatakan harga perolehan dan laba (margin) yang disepakati antara penjual dan pembeli.168 Sedangkan harga dalam jual belimurābaḥah adalah harga beli dan biaya-biaya yang diperlukan ditambah laba sesuai dengan perjanjian.169
Persyaratan dan Syarat Kontrak Murabahah Melihat murabahah adalah salah satu jenis kontrak jual beli yang legal, maka syarat dan kontrak murabahah harus memenuhi persyaratan untuk membeli dan menjual secara umum, yaitu: (1) Dua orang yang berakad (penjual dan pembeli) / al-'āqidāni, (2) Sighah akad (ijab dan kabul) / ṣīghah, (3) Barang dan harga / maʻqūd ʻalayh dan al-thaman. Selain itu ada beberapa kondisi khusus untuknya, yaitu: (1) Penjual harus
166 al-Ashqar, Muḥammad Sulaimān, Muḥammad Uthman Shabīr, Mājid Muhammad Abū Rakhiyyah, and ‘Umar Sulaimān Al-Ashqār. 1998. Buḥūth Fiqhiyyah Fī Qaḍāyā Iqtiṣādiyyah Mu’āṣirah. Vol. 1. (Amman: Dār al-Nafā’is. 1998.) dalam Haron, Sudin. Prinsip Dan Operasi Perbankan Islam. (Kuala Lumpur: Berita Publishing Sdn Bhd, 1996.)
167 Hamoud, Sami. Islamic Banking. ( London: Arabian Information Ltd. 1985)
168 Sahroni, Oni dan Adiwarman A. Karim. Maqhashid Bisnis & Keuangan Islam: Sintesis Fikih Dan Ekonomi. (Jakarta: Rajawali Press, 2016.)
169 Susamto, Burhanuddin. Aspek Hukum Lembaga Keuangan Syariah. (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010.)
112
menyatakan biaya aktual atau modal barang yang akan dijual kepada pembeli, (2) Penjual dan pembeli menyetujui jumlah keuntungan yang ditentukan di samping untuk modal, yang keduanya adalah (3) Jika ada kesalahan dalam menentukan jumlah aktual biaya atau modal barang, pembeli dapat membatalkan kontrak, (4) Barang dan harga tidak boleh dari barang dari ribāwī yang sedang melakukan pertukaran penjualan kecuali untuk memenuhi ketentuan pertukaran barang ribāwī, (5) Jika barang-barang tersebut akan dijual dalam murabahah itu telah dibeli dari produsen, penjualan pertama ini harus valid sesuai syarak170
Mengingat lima kondisi yang disebutkan di atas akan memberikan jaminan validitas kontrak dan menghindari praktik ribā.171 Fuqaha mengklasifikasikan murabahah dalam kategori buy buy ʻ al-amānah karena diperlukan penjual saat membuat kontrak ini terlebih dahulu menyatakan harga perolehan barang yang dibelinya sebelum menentukan harga jual.172 Jika ditemukan bahwa informasi tentang harga perolehan tidak benar, maka pembeli memiliki hak untuk membuat pilihan (khiyār) untuk membatalkan atau melanjutkannya.173 Khiyār memiliki barang dengan harga yang benar dan sesuai atau memulangkannya. Tetapi jika
170 Usmani, Muhammad Taqi. An Introduction to Islamic Finance. (London: Kluwer Law International. 2002.)
171 Hasanīn, Fayyā ‘Abd al-Munʻīm.. Bayʻ Al-Murābaḥah Fī Al-Maṣārif AlIslāmīyyah. (Kairo: al-Maʻhad al-Ālamī li al-Fikr al-Islāmī. 1992)
172 Shubair, Muḥammad ‘Uthmān. Muʻāmalat Al-Māliyyah Al-Muʻāṣirah Fī Al-Fiqh Al-Islāmī. (Beirut: Dār al-Nafā’is. 1998.) dalam al-Zarqā, Muṣṭafa Aḥmad. Madkhal Al-Fiqhī Al-‘Ām. Vol.1. Damaskus, 1968.
173 Ibn Qudāmah, ‘Abd Allāh Ibn Aḥmad al-Maqdisī. Al-Mughnī Wa Al-Sharḥ Al-Kabīr. Vol. 4. (Beirūt: Dār Kutub al-‘Arabī. 1972.)
113 barang itu tidak lagi berada di tangan pembeli, maka ia tidak punya pilihan selain mengesahkan pembelian.
Kontrak murabahah, sebagaimana dijelaskan di atas, mencakup kontrak jual beli. Allah menegaskan bahwa jual beli itu halal, dan riba dilarang (Baqarah [2]: 275). Ibn al-Ḥumam, seorang faqih mazhab Ḥanafī menyatakan bahwa dengan tidak adanya penghentian kontrak jual beli yang secara jelas disebutkan dalam ayat tersebut, tidak ada kebutuhan untuk proposisi lain yang menunjukkan perlunya murabahah. Karena fakta bahwa proposisi penjualan mutlak mutlak, saya juga proposisi perlunya.174 Al-Qur'an memberikan panduan bahwa transaksi hanya sah jika masing-masing pihak yang terlibat dalam transaksi memenuhi kewajiban terkait dengan konsekuensi transaksi. Misalnya, dalam transaksi dalam bentuk perjanjian jual beli, pembeli harus membayar jumlah yang disepakati, sementara penjual harus mengirimkan barang yang dijualnya kepada pembeli (al-Ma'idah [5]: 2). Dan Seseorang yang berjanji, harus memenuhi janjinya (al-Isra [17]: 34).
Apa yang dijelaskan dalam surat al-isra ayat 34, bahwa kesempurnaan perjanjian merupakan kewajiban penting di pihak Islam. Al-Qur'an juga menyebutkan bahwa semua transaksi harus dilakukan dalam kerangka kerja sama timbal balik (al-Ma'idah [5]: 2). Dalam ayat lain, Allah SWT memerintahkan untuk tetap percaya pada semua transaksi, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan skala (al-Isra [17]: 35). Setiap transaksi harus dilakukan dengan cara yang benar, saling suka rela dan menghindari kesombongan (al-Nisa '[4]: 29). Selain itu, dalam transaksi barang yang diperdagangkan harus diakui dengan prinsip syariah (al-Ma'idah [5]: 4). Allah memberikan peringatan tegas terhadap
174 Ibn al-Ḥumām, al-Imām Kamāl al-Dīn ‘Abd al-Rāḥid Sirāsi. Sharḥ Fatḥ Al-Qadīr. Vol. 5. (Beirūt: Dār Kutub al-‘Ilmiyyah, 1970.)
114
para pelaku transaksi yang melakukan penipuan dan penipuan (al-Muthaffifin [83]: 1-3).
Kemudian ada beberapa hadis yang membentuk dasar hukum keabsahan murabahah, meskipun tidak secara langsung menunjukkan jenis kontrak murābaḥah, yang merupakan (i) hadits yang berkaitan dengan validitas perampasan. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhārī, Abū Dudwud dan al-Tirmidhi bahwa Nabi Muhammad berkata yang berarti: "Muslim dapat masuk ke dalam kontrak dengan membuat syarat apa pun kecuali kondisi yang membenarkan haram dan melarang yang sah".175 (ii) Hadis tentang jual beli itu sulit. Dari Suhayb al-Rūmī ra bahwa Rasulullah (saw) mengatakan: ‚Tiga hal di mana ada berkah (yaitu): menjual ditahan, muqāraḍah (muḍārabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk digunakan di rumah, bukan untuk dijual ‛176. (iii) Hadis tentang etika berutang. Dari Ibn Abbas r.a bahwa Nabi Muhammad berkata: "Siapa pun yang berutang sesuatu, harus mengikuti batas-batas tertentu dan skala tertentu ke periode waktu tertentu" (al-Bukhārī, n.d.). iv) Dari Abī Sa‘īd r.a, Nabi Muhammad berkata: ‚Sesungguhnya pembelian dan penjualan harus dilakukan juga.177
Islam adalah agama yang selalu cocok untuk segala zaman dan tempat. Sifat Islami ini didukung oleh instrumen hukum yang membuatnya fleksibel dengan semua perubahan zaman. Diantaranya ada di muʻāmalah. Para cendekiawan understanding setelah memahami filosofi yang mendasari
175 al-Tirmidhī, Muhammad Ibn ‘Īsā.. Sunan Al-Tirmidhī (Al-Jāmī Al-Ṣaḥīḥ). Vol. 3. (Kairo: Maktabah al-Bābī al-‘Ma‘rifah al-Ḥalabī. 1967) dalam Ibn Taymiyyah, Aḥmad bin ‘Abd al-Ḥalīm bin ‘Abd al-Salām. n.d. Naẓariyyah Al-‘Aqd. Beirut: Dār al-Ma’rifa
176 Ibn Mājah, Muḥammad Ibn Yāzīd. 1395. Sunan Ibn Mājah. Vol. 2. Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arab
177 al-Albānī, Muḥammad Nāsir al-Dīn. 1986. Ṣaḥīḥ Al-Jāmī Al-Ṣaghīr Wa Ziyādatuh. Vol. 1. Beirut: al-Maktab al-Islāmī.
115 hukum Islam, merumuskan prinsip dasar dalam muʻāmalat ', yang berarti ‚Hukum awal Anda adalah bahwa segala sesuatu diperbolehkan kecuali ada larangan yang dilarang (Al-Qur'an dan hadits)‛ (alSuyūtī 1399).178 Ini berdasarkan pada firman Allah yang mengatakan: ‚Sesungguhnya Allah telah menetapkan apa yang dilarang untuk kamu semua‛ (al-Anam [6]: 119).
Ini berarti bahwa segala sesuatu yang haram telah dirinci dalam syariah, sementara mubāḥ (wajib) tidak dirinci secara terperinci juga tidak terbatas secara terperinci. Karena itu dimungkinkan dalam masa-masa belakangan ini untuk mengadopsi transaksi modern yang tidak bertentangan dengan Syariah.179 Pihak-pihak yang bertransaksi harus selalu menjaga transaksi yang dilakukan tidak menyebabkan kerugian bagi dirinya sendiri dan orang lain. Karena itu adalah kasus: "Tidak menyala dan melanggar hukum".180
Ada banyak fatwa ulama yang menunjukkan perlunya murabahah, seperti fatwa Bayt al-Tamwil al-Kuwayti (Shaikh Badr al-Mutawallī 'Abd alBasīṭ), ketika ditanya tentang kewajiban bank untuk membeli barang secara tunai, kemudian dia menjual kepada pelanggan yang memintanya dengan harga yang lebih tinggi setelah memperhitungkan biaya operasional. Menurutnya, permintaan pelanggan untuk membeli ke bank adalah janji. Walaupun dia mengakui perbedaan pendapat para ahli hukum tentang status wajib atau tidak memenuhi janji, tetapi dia percaya bahwa janji itu harus dipenuhi karena selain mendapat dukungan banyak tradisi juga memudahkan umat manusia. Seminar Keuangan
178 al-Suyūṭī, al-Imām Jalāl al-Dīn ʻAbd. al-Raḥmān. Al-Asybāh Wa Al-Nāza’īr. (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1399.)
179 al-Nadwī, ‘Alī Aḥmad. Mausūʻah Al-Qawāʻid Wa
Al-Ḍawābiṭ Al-Fiqhiyyah. (Beirut: Dār ‘Ālam al-Ma’rifah, 1999.)
180 al-Zarqā, Shaikh Muḥammad. Sharḥ Al-Qawāʻid Al-Fiqhiyyah. (Damaskus: Dār al-Qalam, . 2001 )
116
Islam pertama di Dubai pada Mei 1979 juga menyatakan bahwa transaksi murabahah mengandung janji dari lembaga keuangan dan pelanggan yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak.181 Shaikh bin Baz menyatakan bahwa transaksi murabahah diperlukan jika barang yang dijual benar-benar menjadi milik Bank dan pengalihan harta terjadi secara legal.
Jika perbankan syariah menerapkan metode mark-up pricing, maka metode ini hanya sesuai jika digunakan untuk membiayai sumber dana dari Rekening Investasi Terbatas (RIA) atau muḍārabah muqayyadah. Oleh karena itu, metode penentuan harga mark-up tidak sesuai untuk digunakan dalam pembiayaan murabahah. Oleh karena itu, perbankan syariah dapat menerapkan target penetapan harga pengembalian target untuk pembiayaan murabahah. Karena pembiayaan murabahah dilakukan berdasarkan kontrak kepastian tertentu, metode yang digunakan adalah tingkat laba yang disyaratkan (rpr). Dalam hal ini rpr tinggi dipengaruhi oleh tingkat keuntungan dari setiap transaksi dan jumlah jumlah transaksi dalam suatu periode. Perlu dicatat, bagaimanapun, bahwa dua variabel, yaitu tingkat laba dan jumlah besar transaksi, hanya variabel independen, sedangkan tingkat laba aktual sering dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, seperti tingkat harga pasar (biasanya bank juga menjadikan suku bunga sebagai patokan) dalam menentukan tingkat laba yang diinginkan). Penentuan nilai rpr dapat dihitung menggunakan yang berikut ini:
Keterangan :
181 Qaraḍāwī, Yūsuf. 1987. Bayʻ Al-Murābaḥah Li Al-‘Amir Bi Al-Syirā’ Kama Tajrīhī Al-Maṣārif Al-Islāmiyyah. al-Qāhirah: Maktabah Wahbah.
117 n = tingkat keuntungan dalam transaksi tunai
v = jumlah transaksi dalam satu periode
Praktisi perbankan syariah perlu berhati-hati dalam menerapkan metode rpr dalam perbankan syariah. Karena prevalensi, Bank Syariah juga menggunakan suku bunga pasar sebagai patokan. Perbankan syariah seharusnya tidak hanya menjadikan suku bunga sebagai acuan dalam menentukan harga jual (pokok + margin). Cara menetapkan margin yang hanya mengacu pada suku bunga sebagai tolok ukur adalah langkah sesat sekaligus menyesatkan dan lebih parah dapat merusak reputasi perbankan syariah.
Dalam praktiknya, mungkin margin keuntungan tinggi yang diambil oleh perbankan Islam adalah untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga di pasar (inflasi). Jadi jika ada kenaikan suku bunga besar, maka perbankan syariah tidak mengalami kerugian nyata. Namun, jika suku bunga di pasar tetap stabil atau bahkan menurun, maka margin murabahah akan lebih besar daripada premis suku bunga di bank konvensional. Dengan penetapan murabahah margin keuntungan yang tinggi, secara tidak langsung bahkan akan menyebabkan inflasi lebih besar daripada yang disebabkan oleh bunga. Oleh karena itu, perlu menemukan format yang tepat sehingga nilai jual dengan murabahah tidak merujuk pada antisipasi kenaikan suku bunga selama periode pembayaran angsuran. Karena, menghubungkan marjin laba murabahah dengan bunga bank konvensional, itu masih bukan cara yang baik.182
Menentukan harga jual murabahah, harus dilakukan denga cara Nabi saat berdagang. Metode ini dapat digunakan sebagai salah satu metode perbankan syariah dalam menentukan harga jual produk murabahah. Cara Nabi dalam menentukan harga jual adalah dengan menjelaskan harga beli,
182 Muhammad.. Sistem & Prosedur Operasional Bank Syariah. (Yogyakarta: UII Press. 2000)
118
seberapa masuk akal yang diinginkan. Apakah penetapan harga didasarkan pada biaya plus mark-up (Muhammad 2004). Secara matematis, menurut Muhammad, murabahah harga jual berdasarkan biaya ditambah metode mark-up dapat dihitung dengan rumus berikut:
Harga Jual = Harga Pembeian + Biaya + Keuntungan
Pemulihan biaya adalah bagian dari perkiraan biaya pengoperasian perbankan syariah yang dibebankan pada harga beli / total pembiayaan. Pemulihan biaya dapat didekati dengan membagi estimasi biaya operasi dengan volume pembiayaan murabahah yang ditargetkan, kemudian ditambahkan ke harga pembelian pemasok dan laba yang diinginkan untuk mendapatkan harga jual. Sedangkan marjin murabahah diperoleh dari pemulihan biaya ditambah laba dibagi dengan harga beli. Persentase margin di atas dapat