• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS PERHITUNGAN PROFIT MARGIN

1. Transaksi (akad) dalam Islam

Transaksi dalam tinjauan hukum Islam secara konseptual dapat dibagi pada akad unilateral (secara sepihak) dan bilateral (dua belah pihak atau timbal balik).11 Akad unilateral biasanya terdiri dari transaksi yang merupakan kehendak perorangan berdasarkan hak yang dimilikinya untuk tujuan kebaikan atau bersifat bantuan dan menimbulkan kewajiban pada satu pihak. Akad unilateral sering juga disebut dengan akad tabarru atau bentuk jamanya tabarru’at. Akad unilateral atau tabarru ini, seperti pemberian hadiah, hibah, ibra

10 Agus Arwani, Konsep Akad (Transaksi) Dalam Islam,

… 6

11 Mohd. Daud Bakar, Contract in Islamic Comercial and Their Aplication in Modern Islmaic Financial System (Kuala Lumur, 2002), hlm 7,

43 (melepaskan hak), wasiat, wakaf, qardh (pinjaman), iaran, kafalah, rahan, dan al-shulh.12

Akad bilateral, yaitu perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih yang menimbulkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi para pihak secara timbal balik. Kata lain dari akad bilateral adalah mu’awadhat13 atau tijaroh.14 Akad bilateral ini, misalnya perjanjian jual beli (al-bai’), sewa-menyewa (Ijarah), dan kerja sama usaha (syirkah). Akad timbal balik atau mu’awadhat atau tijarah, apabila dilihat dari tujuan dan alasan dilaksanakan suatu akad, terdapat berbagai klasifikasi atau pembagian. Ada yang melakukan klasifikasi pada 5 bagian,15 ada yang melakukan

12 Abdul Sattar Abu Ghadah, Buhut Fi Al-Muamalat wa al-Asalib al-Mashrafiyyah al-Islamiyah, Kwait: Majmu’ah Dallah Al-Baraqah, 2003, edisi ke-3, HLM 67.151;Wahbah Zuhaili, al-fiqh al-islam wa Adilatuh, (Damaskus al-Fikr, 1989 ), Jilid IV hlm 244. Lihat Fathurrahman Djamil, Penerapan Hukum Penjanjian

dalam Transaksi di Lembaga keuangan Syariah … hlm 67

13 Abdul Sattar Abu Ghadah, Ibid., hlm. 50; Frank E. Vogel &Samuel L. Hayes, Islamic Lawa and Fiance Religion Risk and Return (The Huge, Kluwer Law International, 1998), hlm. 105, Lihat Fathurrahman Djamil, Penerapan Hukum Penjanjian dalam

Transaksi di Lembaga keuangan Syariah … hlm 67

14 Istilah Tijarah merupakan kata-kata yang digunakan alquran untuk menunjukan kegiatan perdagangan atau bisnis secara umum. Dalam alquran kata Tijarah terdapat pada delapan ayat yang tersebar dalam tujuh surat, yaitu QS. Al baqarah (2): 16 dan 282; QS. An-Nisa (4): 29; QS. At –Taubah (9): 24; QS. An-Nur (24):37; QS. Fatir (35):29; QS. As-Shaff (61):10-11; QS. Al-Jumuah (11), Lihat Fathurrahman Djamil, Penerapan Hukum Penjanjian dalam

Transaksi di Lembaga keuangan Syariah … hlm 67

15 Klasifikasi yang terdiri dari 5 bagian, yaitu al-taamlikat, al-itlaqat, al-syirkat, al-istitsaq, dan al-istihfadh. Abdul Sattar Abu Ghadah, hlm 151-152, Lihat Fathurrahman Djamil, Penerapan Hukum Penjanjian dalam Transaksi di Lembaga keuangan Syariah … hlm 68

44

klasifikasi pada 6 bagian,16 dan ada yang mengkalsifikasi 7 bagian.17

Dalam kasus hawalah yang berarti mengalihkan utang dari satu pihak kepada pihak lain, tidak akan terjadi pengalihan utang hingga hubungan tersebut telah dibangun antara orang yang berhutang (muhil) dengan orang berpiutang

16 Kalsifikasi yang 6 bagian adalah akad pertukaran (‘uqud al-mu’awadhat/ contract of exchange), akad jaminan/kepercayaan, akad jaminan/kepercayaan (‘uqud al-shirkah/contracts of partnership), akad titpan/simpanan (‘uqud wadi’ah/contract of safe custoday), akad pengambilan manfaat (‘uqud al-manfa’ah/contracts pertaining/ to the utilization of usufruct), dan akad pemberian kuasa/izin (‘uqud wakalah/contracts pertaining to do a work). Lihat. Mohd. Daud Bakar, Ibid., hlm.8. Lihat Fathurrahman Djamil,

Penerapan Hukum Penjanjian dalam Transaksi di Lembaga

keuangan Syariah … hlm 68

17 Wahbah al-Zuhaili, al-fiqh al-Islam wa Adilatuh,

(Damaskus: Dar al-Fikr, 1989), hlm. 244. Abdul Sattar Abu Ghadah, op.cit., hlm. 153. Lihat N.J. Coulson, Commercial Law in the Gulf States: The Islamic Legal Tradition, (London, 1984), hlm.19. N. Coulson mengklasifikasikan akad pada empat bagian, namun pembagianya hanya berdasarkan kepada yang bersifat material semata (‘ayn atau corpus) dan nonmaterial (manfaat atau usurfuct). Pembagian objek transaksi berupa tanggungan (dain) diletakan oleh Coulson sebagai pembagian tambahan dari pembagian empat di atas dengan demikian, pembagian yang disampaikan fuqaha ini tampaknya lebih menyeluruh dan beraneka ragam karena ia hampir mengandung semua aspek akad yang ada dalam fiqh Islam. Adapun klasifikasi tujuh bagian adalah sebagai berikut : Akad Kepemilikan (‘uquqd at-tamlikat/acquiring of ownership); Akad melepaskan hak (‘uqud al-isqathat/release); Akad pemberian izin (‘uqud

al-ithlaqat/permissions); Akad pembatasan (‘uqud

al-taqyidat/restriction); Akad kepercayaan (‘uqud

al-tautsiqat/security); Akad kerja sama (‘uqud al-isytirak/partnership); Akad penjagaan/simpanan (‘uqud al-hifdh/safe custody). . Lihat Fathurrahman Djamil, Penerapan Hukum Penjanjian dalam

45 (muhal atau muhtal). Hubungan hutang-piutang tersebut terjadi melalui transaksi jual-beli atau sewa dengan pembayaran di tangguhkan (Ajil/muajjal) atau melalui pinjaman (al-qard). Dengan demikian akad hiwalah merupakan akad yang timbul atau berasal dari transaksi pertukaran berupa jual-beli, sewa atau pinjaman (qard).18

Rukun-rukun transaksi (akad) dalam islam adalah 1) adanya dua orang atau lebih yang melakukan akad,19 2)

18 Fathurrahman Djamil, Penerapan Hukum Penjanjian

dalam Transaksi di Lembaga keuangan Syariah … hlm. 83.

19 Dua orang atau lebih disini adalah dua orang atau lebih yang secara lansung terlibat dalam transaksi, dan orang yang melakukan transaksi harus memenuhi persayaratan sehingga terwujudnya trsansaksi yang sah. Adapun persyaratannya adalah

peertama orang yang melakukan transaksi harus mampu

membedakan mana yang baik dan buruk yakni berakal sehat (baligh) dan tidak dalam keadaan tercekal. Kedua bebas memilih tidak, sah apabila transaksi dilakukan dengan paksaan misalnya orang yang berhutang dan butuh pengalihan hutangnya atau orang yang bangkrut usahanya kemudian dipaksa untuk menjual asset untuk menutup hutangnya. Ketiga transaski itu dapat dianggap berlaku (jadi total) jika tidak memiliki pengandaian yang disebut (khiyar) . seperti khiyar syarat (hak pilih menetapkan persyaratan ), khiyar ar-ru’yah (hak pilih dalam melihat).

46

adanya objek yang di akadkan,20 3) lafazh (shighat) transaksi.21

Kalsifikasi akad (transaksi) dalam Islam bisa ditijau dari segi hukum taklifi,22 dari segi materi dan non materi, dari segi permanen dan non permanen, dari segi syarat penyerahan barang langsung atau tidak, dari sudut pandang ada atau tidak adanya kompensasi dan dari sudut sah dan batilnya.

20 Objek yang dipertukarkan adalah barang yang dijual dalam kegiatan jual-beli. Adapun persyaratan barang yang diperjual belikan untuk sahnya transaksi menurut Islam adalah ebagai berikut : Pertama barang itu harus suci. Atau meskipu terkena nasjis bisa di bersihkan, Kedua barang tersebut harus bisa diserahterimakan tidak sah transaksi jika barang yang diserhterimakan . karena yang demikian itu termasuk gharar. Ketiga barang yang dijual harus merupakan milik sempurna dari orang yang melakukan penjualan, barang yang tidak bisa dimiliki tidak sah diperjual belikan. Ketiga

barang yang ditransaksikan harus berwujud.

21 Yang dimaksud dengan lafadh adalah pengucapan akad atau ungkapan yang dilontarkan oleh orang yang melakukan transaksi. Abdul Al-Muslih, Shalan Ash-Shawi, Fikih Ekonomi Keuangan Islam, (Jakarta: Darul Haq, 2008) hlm 28

22 Dari sudut hukum taklifi dibagi menjadi Pertama

Transaksi Wajib yakni bagi orang yang telah memenuhi syarat contohnya akad pernikahan wajib baginya segera meneikah jika tidak di takutkan akan berbuat maksiat. Kedua Transaksi Sunnah yaitu suatu bentuk transaksi yang biasa terjadi dalam meminjamkan uang, memberi wakaf dan sejenisnya. dan disinilah dasar dari segala bentuk trsnasaksi yang disunahkan. Ketiga akad (transaksi) Mubah seperti jual beli, penyewaan dan sejenisnya. dan inilah dasar hukum dari setiap bentuk transaksi pemindahan kepemilikan, Bik itu bersifat kepemilikan atau bersifat barang atau jasa. Keempat akad (trnsaksi) makruh yaitu akad yang di ragukan seperti menjual anggur kepada orang apakah anggur tersebut mau dijadikan minuman keras atau tidak. Kelima transaksi (akad ) haram yakni transaski yang dilarang Allah SWT sepeti perdagangan riba, menjual bangkai, darah, atau daging babi dan sejenisnya.

47 Adapun asas asas dalam kegiatan ekonomi terbagi dalam berbagai jenis diantaranya :

1.a. Akad Pertukaran

Meskipun berbagai pandangan tentang pertukaran sosial telah muncul, para ahli teori sepakat bahwa pertukaran sosial melibatkan serangkaian interaksi yang menghasilkan kewajiban.23 Wawasan utama tentang sifat sumber daya SET berasal dari studi antropologi klasik.24 dari karya ini, adalah umum untuk melihat pertukaran dalam hal nilai ekonomi. Namun, pertukaran juga terbukti memiliki relevansi simbolis. Artinya, pertukaran berdiri untuk sesuatu di luar sifat materi biasa. Ide-ide ini masih menjadi bagian dari SET dan dianut oleh para sarjana kontemporer di bidang ini.

Persyaratan terjadinya akad pertukaran adalah Pertama adanya objek pertukaran,25 kedua adanya pembagian objek

23 Emerson, R. M. 1976. Social exchange theory. Annual Review of Sociology, 2: 335-362

24 Malinowski, B. 1922. Argonauts of the western Pacific: An account of native enterprise and adventure in the archipelagoes of Melansian New Guinea. London: Routledge

25 Objek pertukaran adalah sesuatu yang dapat menjadi hak milik seseorang atau sesuatu yang dapat diambil manfaat. Dalam

fiqh, objek akad ini sering disebut dengan istlah mal atau harta. Dalam konteks pertukaran, objek dari pertukaran ini dapat berupa benda tertentu yang sudah pasti keberadaanya atau dapat segera diperoleh manfaatnya (ayn/real aset) dan benda yang tidal tertentu atau objek yang masih merupakan kewajiban (dayn/financial asset). Dengan kata lain, benda (mal) yang berbentuk ‘ayn (real asset) dapat terdiri dari barang dan jasa, sedangkan bentuk dayn (financial asset) dapat terdiri dari uang dan surat berharga liahat . Frank E. Volgel & Samuel L. Hayes, Islamic Law and Fianance, Religion, risk, and return (The Huge, Kluwer Law International, 1998), hlm. 48

48

pertukaran,26 ketiga adanya waktu pembayaran, keempat adanya harga atau keuntungan.

1.b. Prinsip-Prinsip Pertukaran

Prinsip-prinsip dalam pertukaran sangat erat kaitannya dengan alquran sebagai acuan dan dasar hukum Islam. Maka dalam prinsip pertukaran ada tiga yang diklasifikasikan. Salah satu prinsip dasar teori pertukaran adalah bahwa hubungan berkembang dari waktu ke waktu menjadi kepercayaan, loyal, dan komitmen timbal balik. Untuk melakukannya, para pihak harus mematuhi "aturan" pertukaran tertentu. Aturan pertukaran membentuk "definisi normatif dari situasi yang membentuk antara atau diadopsi oleh peserta dalam hubungan pertukaran. Dengan cara ini, aturan dan norma pertukaran adalah "pedoman" dari proses pertukaran. Dengan demikian, penggunaan teori pertukaran dalam model perilaku organisasi dibingkai atas dasar aturan pertukaran atau prinsip yang diandalkan peneliti. Sebagian besar penelitian manajemen berfokus pada harapan timbal balik; namun, sejumlah aturan pertukaran lainnya telah diuraikan dalam teori pertukaran. Dengan demikian, sebagian besar bagian ini akan menguraikan prinsip-prinsip timbal balik, tetapi kami juga memperkenalkan aturan yang dinegosiasikan dan aturan pertukaran yang kurang diteliti.27

26 Dalam pembagian objek pertukaran dapat diidentifikasi pada empat jenis, yaitu pertukaran suatu barang tertentu dengan barang tertentu lainya (‘ayn bil ‘ayn yang disebut dengan bai al muqayadah); Pertukaran nilai uang dengan nilai uang (dayn bil dayn

yang disebut sharf); pertukaran nilai uang dengan suatu barang tertentu (dayn bil ‘ayn yang disebut dengan salam). Lihat Wahbah al-Zuhaili, Al Fiqh al-Islam wa adillatuh op. cit.(Damaskus: Dar al-Fikri, 1996). hlm.595-596.

27 Russell Cropanzano and Marie S. Mitchell Social Exchange Theory: An Interdisciplinary Review, Journal of Management, Vol. 31 No. 6, December 2005 874-900 DOI:

49 a) Prinsip pertukaran yang diperkanankan,28

Keuangan Islam - lembaga dan produk keuangan yang dirancang untuk mematuhi prinsip sentral Syariah (atau hukum Islam) - adalah salah satu segmen industri keuangan global yang berkembang paling pesat. Dimulai dengan Dubai Islamic Bank pada tahun 1975 (dan beroperasi di Uni Emirat Arab, Mesir, Kepulauan Cayman, Sudan, Lebanon, Bahama, Bosnia, Bahrain dan Pakistan), jumlah lembaga keuangan Islam di seluruh dunia sekarang melebihi lebih dari tiga ratus, dengan operasi di tujuh puluh lima negara dan aset lebih dari US $ 400 miliar.29

Keuangan Islam dikendalikan oleh Syariah, kerangka hukum Islam dan interpretasi Alqurannya, bersama dengan ajaran Sunnah. Kerangka kerja ini memberikan pedoman bagi orang untuk mengikuti prinsip-prinsip Al-Qur'an dan Sunnah dalam pengambilan keputusan mereka dalam semua aspek kehidupanTransaksi keuangan adalah salah satu transaksi yang lebih penting yang dikendalikan oleh Syariah, seolah-olah untuk memastikan distribusi pendapatan dan kekayaan yang lebih adil di kalangan umat Islam di ekonomi Islam.

Prinsip-prinsip umum adalah sebagai berikut: (i) larangan riba (bunga riba atau bunga berlebih) dan penghapusan pembiayaan berbasis utang dari ekonomi; (ii) larangan Gharar, yang meliputi pengungkapan penuh informasi dan penghapusan segala informasi asimetris dalam kontrak; (iii) pengecualian pembiayaan dan berurusan dengan kegiatan dan komoditas berdosa dan tidak bertanggung jawab secara sosial seperti perjudian dan produksi alkohol; (iv)

10.1177/0149206305279602 © 2005 Southern Management Association. All rights reserved

28 Fathurrahman Djamil, Penerapan Hukum Penjanjian dalam Transaksi di Lembaga keuangan Syariah … hlm. 80-82.

29 El-Qorchi, M. (2005) Islamic Finance Gears Up, Finance and Development, 42(4): 46-50.

50

pembagian risiko, penyedia dana keuangan, dan pengusaha berbagi risiko bisnis dengan imbalan bagian laba dan rugi; (v) materialitas, transaksi keuangan harus memiliki 'finalitas material', yang merupakan tautan langsung atau tidak langsung ke transaksi ekonomi riil; dan (vi) keadilan, transaksi keuangan tidak boleh mengarah pada eksploitasi pihak mana pun terhadap transaksi tersebut.30

b) Prinsip pertukaran yang dilarang dalam Islam

Sementara agama selalu memainkan peran penting dalam kehidupan publik, termasuk kehidupan ekonomi, selama masa krisis itu dapat menjadi faktor yang lebih signifikan, seperti yang disaksikan selama pemberontakan di Timur Tengah. Krisis keuangan global pada abad ke-21 awal telah berkontribusi pada kebangkitan kembali ide-ide berbasis agama dan budaya dan minat baru dalam layanan yang berfokus pada masyarakat. Secara khusus, tren umum ini telah menciptakan minat yang meningkat pada fondasi dan operasi lembaga keuangan Islam. Dalam konteks Islam, seluruh jaringan transaksi keuangan dan pertukaran — perbankan, bisnis, kemitraan, investasi, dan hipotek — dipandu oleh larangan agama terhadap riba, yang umumnya dipahami sebagai riba. Dalam upaya untuk mendefinisikan dan melegitimasi sektor keuangan Islam yang muncul, mayoritas cendekiawan Muslim berkumpul pada satu prinsip tunggal: penghindaran minat sambil mengurangi risiko ada sejumlah cara ilegal untuk menghasilkan uang saat ini. Banyak masyarakat yang terlibat didalamnya dengan melakukan berbagai tindakan amoral untuk tujuan yang sama. Namun, tingkat kehancuran untuk cara-cara ilegal

30 Alsadek H. Gait and Andrew Worthington, A Primer on Islamic Finance: Definitions, Sources, Principles and Methods, https://www120.secure.griffith.edu.au, di akses tanggal 18 febuari 2019

51 menghasilkan uang dan tindakan tidak bermoral setingkat dengan penerapan bunga secara besar-besaran. 31

Peran yang dimainkan oleh pinjaman subprime, yang pada dasarnya adalah instrumen pinjaman berbasis kebutuhan yang dirancang untuk mendapatkan keuntungan dari konsumen berpenghasilan rendah, tidak hanya kasar tetapi berkontribusi terhadap krisis keuangan 2007-2008. Para cendekiawan Muslim yang membantu merancang layanan dan produk keuangan yang mengabaikan hubungan antara kemiskinan dan riba akibatnya pada akhirnya merugikan baik ekonomi maupun konsumen dan investor kelas menengah dan miskin.

Meskipun Al-Qur'an adalah sumber utama hukum Islam, ini bukan terutama kode hukum. Bahkan, sebagian besar bagiannya adalah non-hukum. Kelangkaan resep hukum dalam Al-Qur'an menambah nilai khusus pada beberapa perintah hukum yang eksplisit dan tidak ambigu. Kasus-kasus seperti itu menjadi model-model dasar yang dapat digunakan untuk memperluas korpus hukum Islam dengan cara yang akan membuatnya sesuai dengan surat dan semangat perintah Al-Quran.

Dari deklarasi murni negatif ke formulasi positif dari jaringan hukum yang mengatur keuangan dan transaksi pertukaran akan menjelaskan beberapa alasan di balik berbagai model yang ada saat ini. Dengan kata lain, kita harus melihat contoh spesifik instrumen hukum yang diadopsi oleh para cendekiawan Muslim untuk memvalidasi transaksi keuangan dan mengalihkannya dari apa yang non-Islam ke

31 Ahmed E. Souaiaia, Theories and Practices of Islamic Finance and Exchange Laws: Poverty of Interest International Journal of Business and Social Science Vol. 5, No. 12; November 2014,

52

apa yang mereka lihat sebagai model Islam dalam melakukan sesuatu di bidang ini.

Secara kategorikal, undang-undang keuangan dan pertukaran jatuh di bawah subdivisi luas yang disebut hukum transaksional mu'āmalāt, yang bertentangan dengan hukum ibadah. Salah satu elemen pembeda yang memisahkan transaksional dari hukum ibadah adalah kenyataan bahwa yang terakhir tidak memerlukan kontrak. Transaksi umumnya membutuhkan kontrak, dan yang lebih penting, transaksi yang melibatkan masalah keuangan memerlukan kontrak tertulis, sesuai dengan bukti hukum Al-Qur'an. Dari sudut pandang hukum dan etika Al-Qur'an, transaksi keuangan pada umumnya baik untuk keuntungan atau untuk bantuan (amal), meskipun perbedaan dalam hukum Islam tidak jelas dan oleh karena itu aturannya sama.32

Samuelson menyatakan bahwa "Bunga adalah harga sewa untuk penggunaan uang".33 Abu Saud di sisi lain, mendefinisikan bunga sebagai ‘excess Kelebihan uang yang dibayarkan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman lebih dari dan di atas pokok untuk penggunaan uang tunai pemberi pinjaman selama periode waktu tertentu’.34

Namun, saat ini minat diketahui oleh kita semua dan telah menjadi begitu dilembagakan dan diterima di ekonomi modern sehingga hampir tidak mungkin untuk membayangkan bahwa ekonomi bisa berjalan tanpa bunga.

32 Ahmed E. Souaiaia, Theories and Practices of Islamic Finance and Exchange Laws: Poverty of Interest International Journal of Business and Social Science Vol. 5, No. 12; November 2014,

https://ijbssnet.com/journals/vol_5_no_12_november_2014/4.pdf

33 Samuelson, P, Economics, 10th ed., McGraw-Hill, New York, NY . 1976

34 Saud, A.M. ‘‘Money, interest and Qirad in Islam’’, Studies in Islamic Economics, (The Islamic Foundation :Leicester, 1983) p. 64

53 Muslim sekarang terus-menerus dipaksa dengan argumen yang rapuh untuk mendukung kepentingan. Akibatnya, banyak Muslim menyerah pada tekanan seperti itu dan disebut argumen rasional, membuat mereka menerima konsep kepentingan.

Keinginan yang dilarang dalam Islam sudah termasuk secara eksplisit dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Kesepakatan di antara semua cendekiawan Islam tentang larangan bunga. Di sisi lain, sistem perbankan modern sepenuhnya didasarkan pada minat dan praktik sistem perbankan modern yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Meminta bunga dari seseorang yang terpaksa meminjam untuk memenuhi kebutuhan konsumsi esensial dianggap sebagai praktik eksploitatif dalam Islam. Penetapan bunga atas pinjaman untuk tujuan produktif juga dilarang karena itu bukan bentuk transaksi yang adil. Sekarang mari kita melihat secara singkat tentang pelarangan bunga dalam terang Al-Qur'an dan Sunnah Nabi.

Jika kita mentelaah alquran, makan akan menemukan sejumlah surat dimana Allah dengan pasti menyebutkan konsekuensi yang menarik tentang pelarangan riba. Allah berfirman dalam alquran.

‚Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.‛ (QS. Al baqarah/2:275)

54

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS. Al baqarah/2:278-279)

‚Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.‛ (Qs. Ali Imron [3]: 130)35

Saat ini banyak ekonom Muslim dan non-Muslim, ilmuwan sosial, sosialis, dan bahkan sejumlah ekonom kapitalis mempertanyakan apa yang disebut dampak positif dari minat baik dari segi teori maupun teknis. Mereka sering menekankan poin penting bahwa modal uang tidak dapat diperlakukan sebagai barang modal dengan dasar yang sama dengan faktor produktif. Peminjaman uang untuk bunga tidak disukai dan, dalam banyak kasus, dilarang oleh semua agama monoteistik. Ekonom Barat terkemuka, Harrod (1973) merekomendasikan penghapusan bunga untuk menghancurkan kapitalisme. Tidak hanya itu, ia berbicara dengan penuh kekaguman terhadap masyarakat tanpa minat dalam karyanya Menuju Ekonomi yang Dinamis.36

Harrod juga mengklarifikasi bahwa, '' Itu bukan keuntungan itu sendiri, diperoleh dari jasa, oleh ketekunan, oleh imajinasi, atau oleh keberanian, tetapi minat yang terus bertambah dari akumulasi yang membuat pengambil laba itu

35 Mushaf Al-quran dan terjemahnya ‚Qs. Ali Imron [3]: 130, (Jakarta:CV.Pustaka Al-Kautsar, 2011)

36 Harrod, R.F. Towards a Dynamic Economics, (Macmillan, London, 1973),

55 akhirnya tampak parasit ½ ... '' . Dia lebih lanjut menyatakan bahwa ‘society masyarakat bebas minat yang akan menjadi masyarakat yang benar-benar baru’ akan menjadi jawaban yang benar dan terakhir bagi semua yang adil dikemukakan oleh para kritikus kapitalisme.

c) Pertukaran yang diperdebatkan.37

Saat ini, lembaga perbankan syariah beroperasi dalam industri yang sangat kompetitif dan menuntut. Agar dapat bertahan dalam lingkungan yang menantang ini, mereka harus dapat memenuhi kebutuhan keuangan pelanggan mereka. Inovasi produk dipandang sebagai faktor kunci sukses untuk mempertahankan pertumbuhan bisnis saat ini. Menariknya, pengembangan produk baru dapat dilihat lebih luas di lembaga perbankan di Asia Tenggara jika dibandingkan dengan inovasi di Timur Tengah. Malaysia adalah salah satu negara di mana produk-produk baru secara teratur dikembangkan dan menjadi negara pertama yang mendirikan Pasar Uang Antar Bank Islam (IIMM), perusahaan pialang