• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

1. Penetapan Standar Pelaksanaan

Penetapan Standar Pelaksanaan merupakan penetapan awal yang dilakukan oleh lembaga atau organisasi untuk menentukan bagaimana kegiatan akan dilakukan. Penetapan standar pelaksanaan kegiatan dijadikan sebagai acuan bagaimana organisasi mencapai suatu tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Dalam dimensi kali ini berkaitan dengan bagaimana kesiapan lembaga atau organisasi dalam melaksanakan kegiatan, mulai dari SOP, Anggaran, dan Sumber daya manusia atau

pihak-pihak yang dilibatkan dalam menjalankan program tersebut. Penentuan standar awal dalam pelaksanaan sangatlah berpengaruh bagi jalannya suatu organisasi.

Dalam menjalankan sebuah pelayanan, penetapan standar pelaksanaan kegiatan dianggap penting karena organisasi atau lembaga ditentu untuk siap dan dapat memecahkan segala masalah yang ada di lapangan. Sama hal nya dengan penentuan standar pelaksanaan yang dilakukan oleh Satwas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Serang yang telah melakukan kegiatan yang sesuai dengan standar pelaksanaan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Pemerintah pusat yang berkaitan. Selain itu dalam pelaksanaannya Sumber daya manusia dianggap penting karena manusia merupakan salah satu faktor terpenting agar pelaksaan kegiatan dapat berjalan. Selanjutnya yaitu masalah yang paling penting adalah masalah tentang biaya/anggaran yang akan digunakan, biaya/anggran juga sangat berpengaruh sebagai pendukung utama berjalannya suatu kegiatan.

a. Standar Operasional Prosedur (SOP)

Berdasarkan hasil temuan lapangan yang telah peneliti dapatkan pada I1-1 yaitu pada pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia pada Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Dirjen PSDKP sebagai pengawas memiliki peranan penting sebagai pihak yang senantiasa mengawasi segala aktivitas yang ada di laut, baik dari hasil laut dan dari segi perikanan. Pengawas perikanan dalam hal

ini Dirjen PSDKP melakukan tugas dan wewenangnya mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adapun pada fokus penelitian ini adalah pengawasan aktivitas kapal penangkap ikan dalam penerbitan Surat Laik Operasi (SLO), maka yang akan dibahas adalah terkait pengawasan aktivitas kapal penangkapan ikan dalam perizinan SLO. Sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku SOP yang digunakan dari pengawasan aktivitas perikanan Dirtjen PSDKP dan bawahannya yaitu Satuan Pengawas SDKP Serang mengacu pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 1/Permen-KP/2017 Tentang Surat Laik Operasi Kapal Perikanan. Dalam hal SOP yang dijadikan acuan oleh pengawas perikanan, pada hasil temuan lapangan peneliti mengetahui bahwa dari pihak I1 Dirtjen PSDKP Republik Indonesia mengatakan bahwa:

“terkait SOP di bidang pengawas perikanan diseluruh Indonesia dibawah wewenang DIRTJEN PSDKP Pusat. Jadi semua kegiatan yang dilakukan oleh seluruh petugas pengawas yang ada diseluruh Indonesia itu

semuanya mengacu pada SOP yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat”. (Sumber: Wawancara dengan Bapak Ariyanto, S.Pi pada hari Kamis, 22 Februari 2017 Pukul: 13.00 WIB di Kantor Dirtjen PSDKP Republik Indonesia).

Berdasarkan hasil wawancara diatas menjelaskan bahwa dari pihak Kementerian Pusat yaitu Dirtjen PSDKP Republik Indonesia melaksanakan tugas dan wewenangnya sesuai dengan apa yang telah tertuang di undang-undang yang berlaku. Dari pihak daerah yaitu Satuan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Serang juga menyatakan hal yang sama terkait Pelaksanaan SOP yang dijadikan sebagai acuan pelaksaan tugas pengawas

perikanan diseluruh daerah yang ada di Indonesia yaitu salah satunya Provinsi Banten. Adapun dari hasil temuan lapangan yang telah peneliti dapatkan dari I2-1 yaitu pihak Satwas SDKP Serang menyatakan bahwa:

terkait SOP kita mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, seperti undang-undang no. 31 tahun 2004 dan Permen KP No 1 tahun 2017 tentang SLO. disini kita hanya melaksanakan tugas sesuai

dengan aturan yang sudah dibuat saja”. (Sumber: Wawancara dengan Bapak Slamet Riyanto, S.Pi Penyidik Pegawai Negeri Sipil Satwas SDKP Serang pada hari Jumat tanggal 02 Maret 2018 Pukul: 14.35 WIB di Kantor Satwas SDKP Serang).

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak Satwas SDKP Serang terkait SOP pelaksaan pengawas perikanan, di daerah pun dalam hal SOP pelaksanaan tugas mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Peraturan yang digunakan sebagai acuan pengawas perikanan karena segala aturan yang telah dibuat merupakan suatu pemecahan masalah yang telah dibuat dan ditetapkan sebelumnya guna mencapai suatu tujuan pengawasan pada bidang perikanan dan kelautan yang menjadi lebih baik. Oleh karena itu dari segi SOP pelaksaaan tugas pengawas perikanan di Satwas SDKP Serang sudah berjalan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dalam undang-undang. Adapun alur SOP Pelayanan Penerbitan SLO bagi para nelayan yang yang diterbitkan oleh Satwas SDKP Serang adalah sebagai berikut:

Prosedur Penerbitan (SOP)

Hasil Pemeriksaan Kapal (HPK) dan Surat Laik Operasi (SLO) Gambar 4.4

(Sumber: Satwas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Serang)

Peran pengawas perikanan dalam penerbitan Surat Laik Operasi (SLO) sangatlah penting karena seorang pengawas perikanan tidak hanya bertugas DOKUMEN LENGKAP DOKUMEN TIDAK LENGKAP KAPAL MENGAJUKAN PERMOHONAN PENERBITAN SLO

PEMERIKSAAN KELENGKAPAN DOKUMEN: SIPI/SIKPI, SIUP, SKAT, PHP, NP, BARCODE

CETAK HPK KEBERANGKATAN

KAPAL

CEK KESESUAIAN DOKUMEN FISIK KAPAL DAN ALAT BANTU PENANGKAPAN IKAN

BERDASARKAN HPK PERINTAH UNTUK MELENGKAPI SESUAI DENGAN DOKUMEN YANG TERCETAK DI HPK TIDAK SESUAI HPK TERDAPAT UNSUR PIDANA PENYIDIKAN TINDAK PIDANA PERIKANAN

CETAK SLO KAPAL LAIK

pada hasil ikan tangkapan saja tetapi juga segala aktivitas kapal perikanan, baik kapal penangkap ikan, kapal penangkut ikan dll. Tugas pengawas perikanan dalam pengawasan penerbitan SLO yaitu dengan memeriksa kelayakan teknis dan administrasi kapal perikanan sebelum melakukan operasi ke laut untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan. Dari persayaratan administrasi yang harus dilengkapi perizinannya oleh para nelayan pemilik kapal perikanan jika ingin melakukan penerbitan SLO yaitu dengan cara harus memiliki Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) terlebih dahulu. Dalam hal ini perizinan SIPI dilakukan oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu terkait (DPMPTSP). Dinas terkait harus bisa menerbitkan SIPI nelayan yang sudah menjadi tugas dan kewenangannya.

Dalam hal perizinan SIPI nelayan di DPMPTSP Provinsi Banten, peneliti masih menemukan nelayan yang mengeluhkan masalah perizinan SIPI yang dinilai lambat dan jangka waktu yang tidak sesuai dengan prosedur yang telah dibuat. Adapun peneliti melakukan wawancarai I5-1 dengan salah satu nelayan pemilik kapal perikanan di karangantu yang pernah melakukan perizinan SIPI di DPMPTSP Provinsi Banten sebagai berikut:

Perizinan SIUP dan SIPI di PTSP Provinsi Banten berlangsung selama 2-3 bulan yang menjadi masalah bagi nelayan yaitu karena lambatnya

proses perizinan ini”. (Sumber: Wawancara dengan Bapak H. Sahibe pemilik kapal perikanan karangantu pada hari Selasa tanggal 27 Februari 2018 pukul: 11.00 WIB).

Dari hasil wawancara salah satu pemilik kapal perikanan di atas nelayan menyatakan bahwa dalam hal perizinan SIPI nelayan yang dilakukan di

DPMPTSP Provinsi Banten dinilai lambat yang akhirnya hanya menyusahkan nelayan saja. Kemudian selanjutnya peneliti melakukan observasi ulang dengan mewawancarai I5-2 kembali nelayan yaitu nahkoda kapal perikanan yang juga melakukan perizinan SIPI nelayan sebagai berikut:

kalau masalah kendala sih ada, sering terjadi nya keterlambatan selama 3 bulan baru jadi. Sehingga berakibat pada kita, karena kita

tidak bisa laporan”. (Sumber: Wawancara dengan Bapak Jamaludin Nahkoda kapal perikanan pada hari Rabu tanggal 14 Maret 2018 pukul: 09.38 WIB di Tempat pelelangan ikan karangantu).

Bersadarkan hasil wawancara di atas peneliti mengetahui bahwa masih banyaknya kapal penangkap ikan yang ada di Karangantu masih belum memiliki dokumen kapal yang lengkap sehingga nelayan merasa susah dalam hal kepengurusan SIPI.

SIPI yang di miliki setiap kapal perikanan dianggap penting karena merupakan salah satu syarat administrasi awal agar kapal perikanan bisa diterbitkan Surat Laik Operasi (SLO). Jika SLO tidak diterbitkan oleh pengawas perikanan karena dokumen kapal perikanan tidak lengkap maka kapal tidak dapat beroperasi. Dari hasil observasi yang peneliti lakukan masih adanya masyarakat nelayan pemilik kapal perikanan melakukan pengaduan kepada pihak pengawas perikanan, namun pada kewenangannya perizinan SIPI bukanlah wewenang dari Pihak Satwas SDKP Serang. Selanjutnya peneliti mewawancarai salah satu petugas Satwas SDKP Serang yang pernah menerima

pengaduan dari masyarakat nelayan pemilik kapal perikanan yang pernah melakukan perizininan SIPI di DPMPTSP Provinsi Banten sebagai berikut:

“Inti dari masalah perizinan yaitu, nelayan menganggap SIPI perizinan

yang lamban. Jadi banyaknya nelayan yang memiliki kapal perikanan

belum memiliki SIPI”. (Sumber: Wawancara dengan Bapak Slamet Riyanto, S.Pi Penyidik Pegawai Negeri Sipil Satwas SDKP Serang, pada hari Jumat tanggal 02 Maret 2018 pukul: 14.00 WIB di Kantor Satwas SDKP Serang).

Dari hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti dengan pihak nelayan dan pihak Satwas SDKP Serang memiliki kesamaan yaitu masalah perizinan yang di nilai lambat yang dilakukan oleh DPMPTSP Provinsi Banten. Seharusnya masalah jangka waktu harus sesuai dengan ketentuan yang telah berlaku agar tidak merugikan masyarakat nantinya. Ketetapan dan kesesuain waktu pelayanan merupakan salah satu kriteria yang harus dipenuhi dari pelayanan publik. Pada intinya pegawai pemerintah harus memberikan pelayanan yang optimal bagi masyarakat tanpa harus membeda-bedakan terlebih dahulu. Adapun salah satu tujuan dibuatnya Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) untuk memudahkan masyarakat dalam melakukan perizinan apapun tanpa harus dengan perantara terlebih dahulu.

b. Sumber Daya Manusia (SDM)

Kriteria yang selanjutnya yang terpenting dari penetapan standar pelaksanaan yaitu terkait Sumber Daya Manusia yang dimiliki. SDM dianggap salah satu factor yang penting karena SDM merupakan agen yang melakukan aktivitas pelaksanaan secara nyata. SDM harus ditunjang dengan berbagai

macam aspek yang mendukung guna melancarkan aktivitas pengawasan penangkap ikan dalam penerbitan SLO. Jika SDM tidak diperhatikan dengan benar maka menjadi salah satu faktor penghambat untuk suatu organisasi atau lembaga. Tidak hanya di Satwas SDKP Serang, setiap organisasi atau lembaga harus memperhatikan SDM yang baik guna mencapai tujuan yang organisasi atau lembaga telah tetapkan sebelumnya.

Kriteria penerbitan SLO tidak hanya dilihat dari aspek kelengkapan dokumen kapal perikanannya saja sebagai syarat yang bersifat administratif. Dalam penerbitan SLO, kapal perikanan dalam pemeriksaan teknis harus sesuai dengan apa yang sudah tertera pada izin. Pemeriksaan teknis kapal perikanan yang akan melakukan operasi dilakukan oleh petugas Satwas SDKP Serang karena merupakan salah satu tugas pokok dari setiap pengawas perikanan. Pemeriksaan teknis kapal perikanan ini bertujuan untuk mengetahui apakah nelayan yang sudah melakukan izin untuk penerbitan SLO sudah sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan sehingga tidak adanya unsur manipulasi data kapal perikanan yang dilakukan oleh nelayan pemilik kapal perikanan.

Pada saat pemeriksaan teknis kapal dilakukan harus ditunjang dengan kesiapan SDM yang akan melakukan pemeriksaan. Dalam pemeriksaan teknis kapal perikanan harus dilakukan oleh SDM atau petugas yang diserahi tugas. Tidak hanya itu SDM juga harus siap dalam melaksanakan tugas sebagai seorang pengawas perikanan dan kelautan yang sudah diserahi wewenang. Dalam penerbitan SLO di Satwas SDKP Serang dari tahap pemeriksaan teknis kapal perikanan dilakukan oleh petugas atau pegawai yang bertugas. Dalam

menjalankan kegiatan pengawasan perikanan harus ditunjang dengan SDM yang cukup guna melaksanakan tugas tersebut Berikut peneliti melakukan temuan lapangan dengan cara mewawancarai I2-1 yaitu salah satu pegawai Satwas SDKP Serang jumlah SDM dalam melaksanakan kegiatan pengawasan perikanan berdasarkan peraturan perundang-undangan:

kita merasa masih kurang, karena dilihat dari operasional kerja kita yang banyak. Di setiap tahunnya kita melakukan Analisis Jabatan (ANJAB) di tahun sebelumnya. Setelah saya buat ternyata untuk kegiatan pengawasan kita membutuhkan 2-3 orang orang lagi. Jika dilihat dari aturan yang sudah dibuat, seharusnya setingkat Satwas SDM yang dibutuhkan yaitu minimal sebanyak 18 orang. Sedangkan di kita SDM nya hanya ada 8 orang saja, dilihat dari wilayah kerja nya luas yaitu di

kabupaten dan kota di Provinsi Banten”. (Sumber: Wawancara dengan Bapak Slamet Riyanto, S.Pi., Penyidik Pegawai Negeri Sipil Satwas SDKP Serang, pada hari Jumat tanggal 02 Maret 2018 pukul: 14.35 WIB di Kantor Satwas SDKP Serang).

Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti mengetahui bahwa jumlah SDM di Satwas SDKP Serang dinilai kurang memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Hal ini terlihat dari luas nya wilayah operasional kerja yang dilakukan oleh Satwas SDKP Serang. Dalam hal ini menjadi masalah bagi Satwas SDKP Serang dalam melaksanakan tugas sebagai pengawas perikanan. Sehingga bisa menimbulkan masalah-masalah baru yang berkaitan dengan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan yang ada di Provinsi Banten.

Dalam hal penerbitan Surat Laik Opersi (SLO) untuk kapal-kapal penangkap ikan penting adanya pemeriksaan teknis kapal perikanan agar tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran yang tidak diinginkan. Jika dalam perizinannya saja tidak sesuai dengan apa yang terjadi dilapangan berarti sudah

terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh nelayan. Hal ini dilakukan agar membangun kedisiplinan nelayan sehingga tidak menimbulkan masalah yang tidak diinginkan. Pelanggaran yang dilakukan oleh nelayan yang masih tidak disiplin biasanya diberikan peringatan oleh pihak Satwas SDKP Serang.

Selanjutnya peneliti melakukan wawancara dengan I2-3 Pihak Satwas SDKP Serang tentang penambahan SDM yang harus diperhatikan guna melaksanakan tugas sebagai petugas pengawas perikanan. Adapun hasil wawancara dengan pihak Satwas SDKP Serang sebagai berikut:

kita sudah pernah mengajukan moratorium, sementara dari pihak UPT dan Dirtjen hanya menanggapi nya dengan statement SDM yang ada

saja harus dimaksimalkan kinerja nya”. (Sumber: Wawancara dengan Bapak Latif Turmantyo Bendahara Pembantu Pengeluaran Satwas SDKP Serang pada hari Rabu, tanggal 04 April 2018 pukul: 14.30 WIB di Kantor Satwas SDKP Serang).

Dari hasil wawancara yang telah peneliti lakukan dengan pihak Satwas SDKP Serang terkait penambahan SDM pengawas perikanan pernah diajukan kepada instansi (UPT) Diatas Satwas SDKP Serang, namun pihak UPT yaitu pangkalan PSDKP Jakarta belum melakukan perekrutan pegawai baru untuk ditetapkan di Satwas SDKP Serang. SDM yang cukup akan berpengaruh pada kinerja pegawai dalam pengawasan perikanan. Oleh karena itu ini merupakan hal yang serius perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan masalah baru. Karena pada hakikatnya SDM merupakan salah satu factor penting dalam pelaksanaan suatu kegiatan atau program.

Hal lainnya yang ditemukan peneliti selama dilapangan yaitu dari hasil wawancara dengan I2-1 pihak Satwas SDKP Serang terkait kesiapan SDM Satwas dalam pemeriksaan teknis kapal perikanan dalam penerbitan SLO yaitu sebagai berikut:

“terkait pemeriksaan teknis kapal perikanan yang kami lakukan

terhadap nelayan yang melakukan perizinan penerbitana SLO di sini, kita jarang melakukan pemeriksaan teknis kapal langsung karena SDM kita juga sedikit dan dilihat dari kapal-kapal yang biasa melakukan izin disini juga bisa dibilang sedikit, sehingga kita sudah hafal dan jarang melakukan pemeriksanaan teknis kapal terlebih dahulu dalam

penerbitan SLO”.(Sumber: Wawancara dengan Bapak Slamet Riyanto, S.Pi PPNS Satwas SDKP Serang pada hari Jumat, tanggal 02 Maret 2018 pukul: 14.35 WIB di Kantor Satwas SDKP Serang).

Dilihat dari hasil wawancara yang dilakukan dengan pihak Satwas SDKP Serang, kesiapan SDM dan penambahan SDM sangat diperlukan guna menunjang semua aktivitas pengawasan di bidang kelautan dan perikanan. Pemeriksaan teknis kapal penagkap ikan dalam penerbitan izin SLO sangat pentin karena berkaitan dengan kelayakan atau tidak kapal perikanan beroperasi. Selanjutnya hal ini diperkuat dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan nelayan pemilik kapal perikanan terkait pemeriksaan teknis kapal perikanan yang mereka miliki sebagai berikut:

“pernah, tapi kadang kita juga terkena teguran terkait pemeriksaan

kapal jika petugas menemukan ketidaksesuaian spesifikasi kapal berdasarkan yang sudah terlampir di SIPI. Tetapi pemeriksaan teknis kapal biasanya dilakukan jika ada masalah, namun jika kita melakukan perizinan penerbitan SLO sehari-hari tidak pernah dilakukan

pemeriksaan teknis kapal”. (Sumber: Wawancara dengan Bapak Jamaludin Nahkoda Kapal Perikanan pada hari Rabu tanggal 14 Maret 2018 pukul: 09.38 WIB di Tempat Pelelangan Ikan Karangantu).

Dari uraian diatas menjelaskan bahwa petugas Satwas SDKP Serang hampir tidak pernah melakukan pemeriksaan teknis kapal perikanan. Masalah ini karena keterbatasan SDM yang dimiliki sehingga Satwas SDKP Serang melupakan salah satu syarat dari prosedur penerbitan Surat Laik Operasi (SLO). Di pelabuhan perikanan nusantara karangantu setiap hari nya banyak aktivitas kapal perikanan. Banyaknya aktivitas kapal perikanan ini mengakibatkan pengawas perikanan yang memiliki wilayah operasional kerja di PPN Karangantu semakin susah untuk melakukan pemeriksaan kapal perikanan karena setiap harinya banyak kapal perikanan yang berlabuh keluar masuk di Dermaga PPN Karangantu. Ketersedian petugas pengawas perikanan haruslah diperhatikan agar tidak ada nya pelanggaran-pelanggaran yang muncul.

Pemeriksaan kapal perikanan dianggap penting karena berkaitan dengan keberlangsungan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan agar tetap lestari tanpa pencemaran dan perusakan lingkungan. kerusakan laut dan lingkungannya disebabkan oleh masyarakat nelayan yang melakukan penangkapan ikan tidak sesuai dengan aturan yang telah dibuat. Setiap nelayan yang melakukan aktivitas penangkapan ikan biasanya menggunakan kapal perikanan yang disertai dengan alat tangkap ikan. Alat tangkap ikan menjadi masalah yang dianggap penting karena awal dari keberlangsungan ikan di masa depan.

Jika pemeriksaan teknis kapal perikanan tidak dilakukan maka berakibat nelayan akan melakukan pelanggaran. Salah satu contoh akibat dari tidak dilakukannya pemeriksaan teknis kapal perikanan adalah banyaknya nelayan

yang tidak menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan. Dalam perizinan SLO bisa saja nelayan melakukan pelaporan alat tangkap yang ramah lingkungan, namun kenyataan di lapangan alat tangkap yang digunakan tidak ramah lingkungan. Akibat dari nelayan yang menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan yaitu merusaknya habibat laut dan segala macam nya sampai pada pencemaran lingkungan.

Oleh karena itu pemeriksaan kapal perikanan yang akan beroperasi di laut sangatlah penting dilakukan dengan cara pengecekan terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan penangkapan ikan. Hal ini bertujuan agar pengawas perikanan tahu dan memberikan tindakan jika ada kapal perikanan yang beroperasi tidak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Sehingga pengawas perikanan bisa memberikan tindakan untuk nelayan sesuai dengan pelanggaran yang telah dilakukan. Jika jumlah SDM pengawas perikanan dianggap masalah maka harus adanya perekrutan pegawai baru dan harus disertai dengan pelatihan-pelatihan terlebih dahulu guna menunjang kegiatan pengawasan perikanan.

c. Biaya/Anggaran

Kriteria yang terakhir yang berkaitan dengan tahapan dalam pengawasan yaitu biaya/anggaran. Anggaran dianggap penting karena faktor utama berjalannya suatu kegiatan karena ditunjang oleh anggaran yang memadai. Dengan sistem penganggaran yang baik tentunya akan memberikan manfaat bagi suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam

pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan anggaran merupakan masalah yang dianggap penting karena menunjang segala aktivitas pengawasan. Dalam hal ini peneliti diperkuat dengan hasil wawancara I2-3 Bendahara Pengeluaran Pembantu Satwas SDKP Serang sebagai berikut:

jadi kita kerja itu berdasarkan anggaran, atau disebut sebagai kinerja berdasarkan anggaran. Namun, sebelum anggaran direncanakan kita sudah harus mengajukan point-point kegiatan yang akan kita laksanakan pada tahun berikutnya. Karena dalam pelaksanaan tugas pengawasan perikanan kita memiliki TOR atau disebut sebagai target rencana kerja

apa yang akan kita lakukan”. (Sumber: Wawancara dengan Bapak Latif Turmanto, S.Pi., Bendahara pengeluaran pembantu Satwas SDKP Serang pada hari Selasa tanggal 03 April 2018 pukul: 14.30 WIB di Kantor Satwas SDKP Serang).

Pelaksanaan kegiatan yang didukung oleh anggaran yang dilakukan oleh Satwas SDKP Serang sangatlah berguna untuk melakukan kegiatan pengawasan perikanan terutama bagi kapal penangkapan ikan. Dari pemaparan diatas peneliti mengetahui bahwa anggaran sangatlah penting karena pada dasarnya Satwas SDKP Serang menjalankan tugas nya sebagai pelaksana. Pengawasan kapal perikanan di teluk Banten sangatlah penting agar menertibkan masyarakat nelayan dapat melakukan aktivitas penangkapan ikan yang sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Sehingga mengurangi penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh masyarakat nelayan. Selain itu pengawas perikanan bertugas merubah pemikiran masyarakat nelayan agar menjadi lebih baik dari segi kedisiplinan kegiatan penangkapan ikan, seperti dokumen kapal perikanan yang harus selalu dilengkapi.

Satwas SDKP Serang tidak hanya menjalankan tugas-tugas yang disudah diberikan oleh UPT diatasnya. Satwas SDKP Serang melakukan pengajuan

kegiatan-kegiatan yang baru guna mendukung kegiatan pengawasan lainnya. Salah satu factor tahapan pengawasan yang harus diperhatikan yaitu mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat dalam proses pengawasan sebelumnya. Oleh karena itu penting bagi suatu lembaga atau organisasi melakukan tahapan pengawasan yang sifatnya menampung aspirasi jika terdapat pengawasan yang dinilai tidak berhasil.

Hal lainnya yang ditemukan peneliti selama di lapangan terkait anggaran yang dilakukan dala kegiatawan pengawasan perikanan yaitu dengan mewawancarai I1-1 pihak Dirtjen PSDKP RI sebagai berikut:

“kalau masalah anggaran kita pasti tersendat. Karena menteri kita

adalah orang paling konsen dalam masalah perhitungan biaya. Dilihat