• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

5. Pengairan dan Drainase

Pengairan adalah memberi air sesuai kebutuhan tanaman. Tujuan pengairan adalah menyediakan air bagi tanaman pada daerah perakaran tanaman dengan air yang memenuhi standar pada waktu, cara, dan jumlah yang tepat sehingga penyerapan hara berjalan optimal dan tanaman dapat tumbuh dengan baik. Pemberian air dalam jumlah banya diperlukan pada fase: setelah pemangkasan pelepah, tumbuh anakan dan pembesaran buah. Kebutuhan air dengan jumlah sedikit atau sangat sedikit pada fase: inisiasi pembungaan dan menjelang panen. Tanah perlu pengairan apabila tanah kurang lembab dan dihentikan saat tanah telah cukup lembab (Direktorat Tanaman Buah, 2004).

Pembuatan drainase sangat penting karena tanaman salak tidak tahan akan genangan air dalam waktu yang lama. Fungsi drainase pada musim hujan adalah untuk membuang air yang berlebih dan pada musim kemarau drainase untuk membagi air dari sumber air atau kolam air (Kusumo et al., 1995). Tanaman Salak Pondoh tidak tahan terhadap kekeringan dan genangan air yang cukup lama didaerah perakarannya. Kekeringan menyebabkan tanaman layu dan apabila dibiarkan akan menyebabkan tanaman mati. Akar tanaman yang tergenang air dalam waktu yang cukup lama akan busuk dan mengakibatkan tanaman mati.

Pembuatan kolam air dan sistem drainase yang baik diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut. Pembuatan kolam air berfungsi untuk penyediaan air irigasi kebun salak pada musim-musim kemarau. Ukuran kolam disesuaikan dengan luas tanah dan apabila memungkinkan lokasi kolam di tengah kebun Salak Pondoh.

Air kolam dialirkan ke seluruh kebun melalui saluran air.

6. Penyerbukkan

Tanaman Salak Pondoh merupakan tanaman berumah dua dimana bunga jantan dan bunga betina berada pada pohon yang berbeda. Keadaan tersebut menyebabkan tanaman tidak dapat melakukan penyerbukan sendiri. Penyerbukan tanaman salak memerlukan bantuan angin, serangga dan manusia. Penyerbukan dengan bantuan angin keberhasilannya lebih rendah bila dibandingkan dengan penyerbukan oleh serangga dan manusia. Hal tersebut disebabkan benang sari bunga jantan pada Salak Pondoh lengket sehingga sulit untuk diterbangkan.

Penyerbukan dengan bantuan serangga akan berhasil dengan syarat terdapat pohon salak jantan dan serangga yang membantu penyerbukan.

Penyerbukan dengan bantuan manusia mempunyai tingkat keberhasilan tinggi.

Cara penyerbukan dengan bantuan manusia adalah: (1) periksa bunga betina yang siap dibuahi, dengan ciri seludang bunga sudah berwarna coklat tua dan bila dibuka putik bungan berwarna merah; (2) potong bungan jantan yang telah siap diserbukan dari tandannya; (3) Lakukan proses penyerbukan pad pagi atau sore hari; (4) Buka seludang bunga betina, oles atau ketuk-ketukkan serbuk bunga jantan diatas bunga betina; (5) tutup bunga yang sudah dibuahi dengan tutup (daun muda atau plastik bekas mineral; dan (6) buka tutup tandan 3 – 5 hari setelah penyerbukan.

7. Pemeliharaan

Menurut Kusumo et al., (1995) Pemeliharaan tanaman Salak Pondoh meliputi beberapa kegiatan antara lain: penyiangan, pembubunan, pemangkasan dan pemberantasan hama penyakit. Tanpa pengelolaan tanaman dan lingkungan hidupnya secara tepat dan optimal akan berdampak kerugian bagi petani.

Penyiangan adalah membuang dan membersihan rumput-rumput atau tanaman pengganggu lainnya yang tumbuh di kebun salak.

Tanaman pengganggu yang lazim disebut gulma bila tidak diberantas akan menjadi pesaing bagi tanaman salak dalam memperebutkan unsur hara dan air.

Tujuan penyiangan adalah memelihara daya serap perakaran dalam menyerap unsur hara karena tanaman Salak Pondoh mempunyai sistem perakaran dangkal.

Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 2 bulan setelah bibit ditanam, penyiangan berikutnya dilakukan tiap 3 bulan sekali sampai tanaman berumur setahun. Setelah itu penyiangan cukup dilakukan setiap 6 bulan sekali atau 2 kali dalam satu tahun, dilakukan pada awal dan akhir musim penghujan.

Pembumbunan dilakukan karena tanaman salak tidak tahan terhadap tanah yang mengandung air berlebihan. Jalan keluar untuk untuk mengatasi masalah ini adalah melakukan pembumbunan, yang biasanya dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan dapat berulang-ulang tergantung kondisi alamnya.

Pemangkasan yang dilakukan ada dua jenis yaitu pemangkasan pohon naungan dan pemangkasan pelepah. Pemangkasan pelepah adalah memotong pelepah yang tidak produktif, kering, mati dan terserang organisme pengganggu tanaman. Tujuannya adalah untuk (1) membentuk tajuk ideal tanaman salak (berkisar 7 – 8 pelepah pertanaman) agar produktivitas dan mutu buah yang dihasilkan dalam kondisi yang maksimal; dan (2) merangsang pembentukan seludang bunga betina (Direktorat Tanaman Buah, 2004). Pemangkasan tanaman diawali setelah tanaman berumur satu tahun yang bertujuan mengatur pertumbuhan vegetatif ke arah pertumbuhan generatif yang lebih produktif.

Pemangkasan dilakukan dengan cara memotong pelepah yang telah diidentifikasi dengan membuang daun terlebih dahulu kemudian memotong pelepahnya. Hasil dari pangkasan dimasukkan kedalam rorak yang terdapat diantara tanaman salak untuk menambah aerasi dan bahan organik (Direktorat Tanaman Buah, 2004).

Pemangkasan pohon naungan bertujuan untuk mengatur cahaya matahari yang cukup bagi tanaman, memudahkan peredaran udara serta pemeliharaan tanaman, mengurangi kelembaban udara selama musim penghujan dan mempertahankan tingkat keteduhan tertentu selama musim kering. Pemangkasan pohon naungan dilakukan secara hati-hati, agar tidak mengakibatkan kerusakan pada tanaman Salak Pondoh.

Pengendalian hama dan penyakit tanaman dilakukan terutama sebagai tindakan preventif serangan hama penyakit terhadap tanaman salak. Pengendalian hama penyakit penting agar hasil usahatani memuaskan. Hama yang sering menyerang tanaman Salak Pondoh antara lain: Silphida dan kutu putih. Penyakit yang menyerang tanaman Salak Pondoh antara lain: bercak daun, busuk bunga, busuk buah, dan perubahan bentuk tanaman. Pengendalian hama penyakit dapat dilakukan dengan empat cara yaitu: (1) kultur teknis berupa pemupukan dan pengairan yang seimbang sesuai dengan rekomendasi, usahakan agar buah tidak menyentuh tanah, dan jangan sampai luka; (2) sanitasi berupa pemusnahan bagian tanaman yang terkena serangan hama dan membuang sisa-sisa tanaman, buah

busuk dan gulma disekitar tanaman; (3) penggunaan bibit sehat; dan (4) penyemprotan fungisida.

Pemeliharaan yang masih diperlukan adalah penjarangan anakan, penyerbukan dan penjarangan buah (Direktorat Tanaman Buah, 2004).

Penjarangan anakan adalah mengurangi dan mengatur jumlah anakan dalam satu rumpun tanaman. Tujuannya adalah (1) agar jumlah tanaman dalam satu rumpun membentuk rumpun yang ideal dan tidak terlalu berlebihan agar pemeliharaan tanaman dapat dilakukan dengan mudah, mengurangi resiko serangan organisme pengganggu tanaman dan mengoptimalkan produksi; (2) membentuk rumpun; dan (3) untuk memperoleh bahan tanaman dari anakan yang dipisahkan dari induknya.

Satu rumpun cukup dua anakan yang kualitasnya baik yang dipelihara. Pangkas anakan yang keluar dari barisan, pertumbuhan kurang baik dan terlalu banyak.

Penjarangan buah adalah mengurangi jumlah buah yang terdapat dalam setiap tandan. Tujuannya untuk menghasilkan buah dengan mutu dan jumlah yang optimal sesuai target yang ditetapkan. Caranya adalah: (1) penjarangan pertama saat dua bulan setelah penyerbukan (ukuran buah sebesar kelereng), dengan cara memilih buah yang abnormal, terserang hama dan penyakit atau buah yang normal tapi posisinya terjepit; (2) tusuk buah yang dipilih untuk dijarangkan, kemudian tarik dengan kawat tajam atau tusuk sate; (3) buang buah hasil penjarangan diluar kebun; (4) penjarangan kedua, sebulan setelah penjarangan pertama dengan cara yang sama seperti penjarangan pertama, atau dengan mencongkel buah yang dipilih dengan menggunakan obeng; dan (5) bungkus tandan dengan anyaman atau keranjang bambu.

8. Pencangkokan

Pencangkokan dilakukan untuk memperbanyak bibit tanaman melalui tunas anakan. Kriteria tanaman Salak Pondoh yang akan dijadikan sebagai induk perbanyakan vegetatif adalah: (1) pohon induk harus berumur lebih dari satu tahun; (2) tumbuhnya rimbun dan daun sehat tidak menguning; (3) bebas hama dan penyakit; (4) berbuah lebat dan berkualitas baik; (5) tunas anakan yang akan dicangkok sudah cukup umur dan mempunyai pelepah 4-5 helai. Pencangkokan dilakukan pada saat tanaman berumur 1-2 tahun pada saat tanaman belum berbuah. Saat tanaman mulai berbuah pencangkokan dihentikan agar tidak menggangu produksi. Anakan yang tumbuh setelah tidak dicangkok dipangkas untuk mengurangi penggunaan unsur hara (Kusumo et al., 1995).

9. Peremajaan

Peremajaan bertujuan untuk mengembalikan kondisi kebun menjadi teratur sesuai dengan kondisi semula, mengembalikan produktivitas dengan menanam tanaman muda yang berkualitas, mengefisiensikan pemupukan, pemerataan sebaran cahaya matahari, dan mempermudah penyerbukan.

Peremajaan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu: bongkar tanam, tanam sisip, dan tebang bersih. Bongkar tanam adalah peremajaan dengan cara membongkar tanaman tua dan diganti dengan menanam tanaman muda. Tanam sisip adalah peremejaan tanaman dengan cara menanam tanaman baru diantara tanaman lama tanpa membongkar semua tanaman lama. Tebang bersih adalah peremajaan dengan menebang tanaman yang tegak dengan panjang lebih dari satu meter atau tanaman dengan diameter lebih dari 0,5 m. Tanaman ditebang hingga pangkalnya dan anakan dibiarkan tumbuh menggantikan tanaman lama (Kusumo et al., 1995).

Dokumen terkait