• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengalaman Awal Mengasuh Anak dengan Penyakit Kronis

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pengalaman Awal Mengasuh Anak dengan Penyakit Kronis

36 Mika Vera Aritonang : Pengalaman Keluarga dengan Anak yang Menderita Penyakit Kronis, 2008.

USU Repository © 2009

1. Respon Emosional

Masing-masing responden merasakan respon emosional yang

berbeda-beda pada awal pengasuhan anak mereka. Perasaan sedih, bingung dan cemas

merupakan hal pertama yang dirasakan oleh keluarga. Hal itu dapat dilihat dari

beberapa pernyataan responden yang mengungkapkan hal tersebut secara

langsung maupun melalui ekspresi responden. Dua orang responden mengaku

sedih begitu mengetahui anak mereka menderita penyakit kronis.

Responden A :“Ya.. kek gitulahh…” (Menunduk)

(Ya, seperti itulah…) (Sambil menunduk)

Responden B :”Yah… Sedihlah Dek… Apalagi anakku yang kedua kan kena thalasemia juga… Meninggal… Kok bisalah dua anakku kena sakit ini, padahal kan cuma tiga orang anakku…”

Tiga orang responden merasa bingung begitu mengatahui kondisi penyakit kronis

yang diderita anak mereka dan salah satu di antaranya tetap optimis

mengharapkan kesembuhan meskipun Ia merasa bingung. Sementara Responden

terakhir merasakan cemas dengan kondisi anaknya.

Responden C : (Tersenyum)

“Awak bisa bilang apa lagi?”

”Macemmanalah…! Orang anak awak ada tiga orang yang kena…!Apa boleh buatlah… Awak mana tau kenapa bisa begini…” (Saya bisa bilang apa? Bagaimanalah…! Anak saya ada tiga orang yang sakit hemophilia. Apa boleh buatlah… Saya tidak tahu kenapa bisa begini…)

Responden D :”Apalah ya…, ga ngertilah bilangnya… Gitu ajalah…”

“Gimanalah ya kan, namanya anak, kurawatlah. Akupun nggak tahunya sebenarnya sakitnya. Nggak pernahpun kutengok sakit kek gitu dulu. Ga tahulah kenapa anakku kena. Tapi kurawat jugalah…”

Responden E :”Saya tetap optimis, artinya saya nggak boleh pesimis dengan keadaan anak saya ini. Saya masih tetap mengharapkan

37 Mika Vera Aritonang : Pengalaman Keluarga dengan Anak yang Menderita Penyakit Kronis, 2008.

USU Repository © 2009

kesembuhan. Cuma, saya tidak tahu akan berlangsung berapa lama, akan sampai kapan dia seperti ini. Tapi, saya tidak mau pesimis,Dek. Saya punya keyakinan dia akan sembuh…”

Responden E :”Bagaimanalah perasaan seorang Ibu, ada cemas dan stresslah. Apalagi masih kecil seperti ini anakku.”

2. Membawa Anaknya ke Pengobatan di luar Medis

Dua orang responden membawa anaknya ke pengobatan non medis

berupa pengobatan alternatif ataupun tradisional dan sekaligus memanfaatkan

pelayanan medis untuk merawat anaknya. Namun, akhirnya mereka memilih

untuk konsisten membawa anak mereka ke pelayanan medis.

Responden B : ”Oh…, sering… Ke mana-mana sudah Ibu bawa… Sambil berobat rumah sakit, sambil obat kampung atau alternatif Namanya juga usaha, bagaimana supaya sembuh. Ada orang kasih tau, ya Ibu bawa… Tapi, mikir-mikir kok nggak sembuh-sembuh ya? Malah sering drop Hbnya… Padahal kalau nggak dibawa berobat kampung, cuma dijaga makanannya, bisa jarang drop. Paling kontrol aja.”

Responden C :”Pernah. Kubawa berobat kampunglah dia… Biar cepat sembuh Ibu pikir, tapi nggak juga. Macemmanalah.., apalagi yang tua-tua itu sudah menyarankan, di suruh bawa ke sana, ada pengobatan tradisional katanya, harus kubawalah… Apalagi waktu yang ke enam itu masih yang sakit., semualah Ibu ikuti. Kalau nggak dilaksanakan, nggak hormat sama yang tua-tua katanya… Terpaksalah…”

Tapi, tidak semua responden melakukan hal yang sama, beberapa mengaku tidak

mempercayai pengobatan di luar medis dan enggan membawa anak mereka ke

pengobatan tradisional meskipun keluarga atau orang di lingkungannya

38 Mika Vera Aritonang : Pengalaman Keluarga dengan Anak yang Menderita Penyakit Kronis, 2008.

USU Repository © 2009

Responden A :“Oh, banyak memang yang ajak… Adalah yang bilang dibawa ke sanalah, sinilah.. Aku pernah sembuh dibuat, katanyalah… Tapi, nggak pernah kami mau… Pokoknya sebaik dijelaskan sakit Adek ini,nggak pernah kami bawa kemana-kemana. Cuma ke rumah sakit aja. Ya memang, cuma ini nya cara pengobatannya… Kan udah dibilang Dokter, harus di rumah sakit ya Bu… Jangan dikasih yang lain-lain.. Kalau ada apa-apa karena minum obat selain yang dari rumah sakit, kami nggak mau tanggungjawab katanya…. Yah, takutlah aku bawa ke mana-mana… Lagian kalau mau orang-orang bawa anaknya yang sakit kayak gini ke pengobatan kampung, karena nggak percayanya mereka itu… Dah banyak orang kulihat yang menyesal kayak gitu… Sampai meninggalpun anaknya…, tapi kalau aku, nggaklah… Biarlah kek gini. Yang penting berdoa.., kubuat semampuku…”

Responden D :”Nggak pernah. Ibu nggak percaya! Pernah disuruh ke berobat kampung, tapi nggak percaya aku, nggak ada gunanya. “

Responden E :”Nggak, biarpun ada yang ngajak, nggaklah.. Saya tidak percaya pengobatan yang begituan…”

Responden F :”Nggak, tetanggaku cuma menyarankan supaya dibawa ke Adam Malik aja, karena selama ini kami cuma berobat ke puskesmas.“

3. Mencari Informasi

Semua responden menyatakan bahwa mereka bertanya dan mencari

informasi tentang penyakit kepada petugas kesehatan maupun orang di sekitar

tentang penyakit dan bagaimana perawatannnya. Namun, tidak semua responden

melakukan hal tersebut secara aktif, beberapa di anataranya cukup menerima

informasi yang diberikan oleh Dokter ataupun Perawat ketika anak mereka

dirawat di rumah sakit.

Responden A :“Pokoknya dia di BNP dulu, trus keluarlah protokolnya, trus dijelaskanlah samaku kayakmana sakit Adek ini. Pokoknya harus sering-sering kontrollah kubawa dia, karena kambuh-kambuhannya dia katanya.”

39 Mika Vera Aritonang : Pengalaman Keluarga dengan Anak yang Menderita Penyakit Kronis, 2008.

USU Repository © 2009

RespondenB :“Nggak terlalu pahamlah… Tapi, dijagalah makannya, mainnya, supaya nggak sering-sering kambuh… Kata Dokter kan begitu, orang-orang juga bilang gitu… ”

Responden C :”Ya! Ibu juga sudah dijelaskan sama Dokter sama perawatnya juga kayak gitu… Makanya Ibu jaga jangan sampai Anak Ibu luka…”

“Kalau waktu itu memang Ibu nggak mengerti. Kan sekarang, Ibu sudah tahu dan dikasih tau sama dokter dan perawat-perawatnya.”

Responden D :”Pokoknya kata dokter, adalah kelainan darahnya, jadinya dia sering kuat-kumat nanti sakitnya, harus teratur dibawa kontrol, ga boleh lupa… Trus, katanya kalau sakit nanti, harus sering transfusi.”

Responden E :”Ya, saya diajari untuk selalu menjaga pola makannya, agar mendapatkan gizi yang baik. Diatur aktivitasnya agar jangan terlalu banyak bermain dan cepat lelah. Selalu rajin membawa kontrol, karena ada surat kontrolnya.”

Responden F :”Iya, kalau matanya pucat, putih. Wajahnya pucat, lemah… Pokoknya gitulah…. Kata Dokterpun kalau udah gitu langsung bawa aja ke rumah sakit.“

4. Aspek Budaya

Dua responden mengakui adanya suatu doa atau upacara bersama yang

biasa dilakukan untuk anak yang sakit menurut budaya mereka.

Responden B :” Ada! Famili-famili nanti datang bawa makanan untuk Dia… Supaya sehat. Banyak Saudara yang datang! Bikin acara! Untuk kesembuhan”

(Ada! Keluarga akan datang membawa makanan untuknya, agar dia sehat. Banyak saudara yang akan datang membuat acara untuk kesembuhannya.)

Responden C :”Ada! Tapi, itu kalau di kampung Ibu. Tapi, Ibu nggak pernah buat di sini. Nggak usahlah. Ngurus ini aja udah cukup. Nggak usah sampai kayak gitu. Tapi , kayak itu tadilah disuruh sering kita berobat ke tempat lain menurut tua-tua itu.”

(Ada! Tapi, itu kalau di kampung Ibu. Tapi, Ibu tidak pernah melakukannya di sini. Tidak perlulah. Merawatnya dengan baik

40 Mika Vera Aritonang : Pengalaman Keluarga dengan Anak yang Menderita Penyakit Kronis, 2008.

USU Repository © 2009

saja sudah cukup. Tidap perlu sampai melakukan acara seperti itu. Tapi, kadang-kadang saya disuruh berobat kampung oleh para penatua saya.)

Dua responden mengakui bahwa menurut suku atau budaya, mereka mengenal

acara-acara tersebut, namun memilih untuk tidak memanfaatkannya sementara

seorang responden yang tidak tahu.

Responden D :”Nggaklah.., sebenarnya adanya., tapi Ibu nggak jalani. Bukan itu yang membuat sembuh. Lagian beda-bedanya adat Ibu dengan suami. Jadi ya nggak usahlah”.

Responden E :”Kami tidak percaya hal seperti itu. Semua kami serahkan pada Tuhan.”

Responden F :” Nggak, nggak pernah. Saya tidak mengerti hal seperti itu… “

B. Pengalaman Tanpa Akhir

Dokumen terkait