• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HAMBATAN DALAM PENYESUAIAN AKTA YAYASAN

A. Pemisahan dan Pengalihan Kekayaan Yayasan

2. Pengalihan Kekayaan Yayasan Bubar/Dibubarkan Yang

Dengan diberlakukannya ketentuan Pasal 39 Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2008 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Yayasan, bahwa Yayasan yang belum memberitahukan kepada Menteri sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (3) UU Yayasan tidak dapat menggunakan kata “Yayasan” di depan namanya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (4) UU Yayasan dan harus melikuidasi kekayaannya serta menyerahkan sisa hasil likuidasi sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 UU Yayasan kepada Yayasan lain, telah mengakibatkan Yayasan yang selama ini dengan gairah dan cinta menyelenggarakan pendidikan formal melalui sebuah Yayasan untuk turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, tanpa mereka ketahui dan disadari, Yayasan yang mereka geluti selama ini harus bubar, dan harus menyerahkan assetnya kepada Yayasan lain yang mempunyai maksud dan tujuan yang sama atau diserahkan kepada negara yang peruntukannya ditentukan oleh negara. Oleh karena itu menurut Habib Adjie:

Pertanyaannya, relakah, ikhlaskah mereka untuk diperlakukan seperti itu? Saya yakin, jawabannya “tidak”. Adakah undang-undang memberikan perlindungan hukum dan jalan keluar dari permasalahan seperti itu?. Pengalihan tersebut bisa saja terjadi kepada Yayasan yang mempunyai

51

maksud dan tujuannya yang sama yang telah berbadan hukum, jika Pembina, Pengawas, Pengurus dari Yayasan yang bubar rela untuk menyerahkan melalui Tim Likuidator, tapi jika tidak rela? Karena mereka telah membangun dan membesarkan Yayasan dengan susah payah dan dalam jangka waktu yang lama?52

Jika secara cermat dibaca kedua peraturan perundang-undangan tersebut (UU Yayasan dan Peraturan Pemerintahnya serta UU BHP) tidak memberikan jalan keluar apapun atau tidak ada “aturan peralihan” jika terjadi permasalahan sebagaimana tersebut di atas, yaitu artinya Yayasan yang bubar tersebut tidak ingin menyerahkan assetnya kepada Yayasan lain yang mempunyai maksud dan tujuan sama dan telah berbadan hukum, tetapi Pembina, Pengawas, Pengurus Yayasan yang bubar tersebut ingin assetnya dijadikan sebagai kekayaan awal pembentukan BHPM.

Terhadap permasalahan tersebut dapat ditempuh jalan keluar sebagai berikut: 1. Dalam Tim Likuidator yang dibentuk tersebut, cantumkan dan berikan

kewenangan kepada Tim Likuidator untuk mengalihkan seluruh asset Yayasan kepada BHPM yang akan dibentuk oleh mantan Pembina, Pengawas dan Pengurus.

2. Bentuk atau dirikan BHPM dengan harta kekayaan berasal dari asset Yayasan yang bubar yang diterima dari Tim Likuidator.

Ataupun dapat ditempuh dengan jalan sebagai berikut:

1. Ketika diketahui bahwa Yayasan berdasarkan ketentuan Pasal 39 PP No. 63 Tahun 2008 harus bubar dan dilikuidasi. Maka sebelum dibubarkan dan dilikuidasi, secara pribadi (berasal dari Pembina, Pengawas dan Pengurus

52

Yayasan yang akan bubar tersebut) membentuk/mendirikan BHPM dengan harta kekayaan awal BHPM dari harta kekayaan pribadi Pembina, Pengawas dan Pembina.

2. Setelah BHPM mendapat izin dari instansi yang berwenang, maka Yayasan dibubarkan dan dilikuidasi, dan cantumkan atau berikan kewenangan kepada Tim Likuidator untuk mengalihkan seluruh asset Yayasan kepada BHPM yang telah dibentuk oleh mantan Pembina, Pengawas dan Pengurus.53

Bahwa asset Yayasan yang dialihkan tersebut dapat berupa benda bergerak ataupun benda tidak bergerak, dan istilah penga1ihan, merupakan istilah generic. Agar sesuai dengan terminologi hukum yang sering dilakukan dalam dunia Notaris dan PPAT, pengalihan tersebut dapat diberikan istilah hukum yang spesifik, yaitu hibah dan cessie,54 untuk menunjukkan perbuatan hukum tertentu.55

Asset Yayasan yang menyelenggarakan bidang pendidikan formal, dapat berupa:

a. Benda tidak bergerak, berupa tanah dan benda-benda lainnya yang melekat di atas tanah tersebut.

b. Benda bergerak misalnya bangunan, hak tagih, keuntungan, utang. c. Izin operasional satuan pendidikan formal.

53

Ibid., hal. 14.

54

Pasal 613 KUH Perdata menyatakan: Penyerahan piutang-piutang atas nama dan barang-barang lain yang tak bertubuh, dilakukan dengan jalan membuat akta otentik atau di bawah tangan yang melimpahkan hak-hak atas barang-barang itu kepada orang lain. Penyerahan ini tidak ada akibatnya bagi yang berutang sebelum penyerahan itu diberitahukan kepadanya atau disetujuinya secara tertulis atau diakuinya. Penyerahan surat-surat utang atas tunjuk dilakukan dengan memberikannya; penyerahan surat utang atas perintah dilakukan dengan memberikannya bersama endosemen surat itu.

55

Dalam praktek benda tidak bergerak, misalnya tanah, lembaga hukum yang dipergunakan berupa hibah dengan akta Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Untuk benda tidak bergerak dapat pula dilakukan dengan Hibah dalam bentuk akta Notaris,56 maka Hibah yang sangat tepat untuk dilakukan, karena jika dalam bentuk jual-beli, maka tidak akan sesuai dengan maksud dan tujuan Yayasan yang dibubarkan tersebut yaitu asset harus diserahkan kepada Yayasan lain. Dalam hal ini Tim Likuidator menyerahkan asset berupa tanah dan bukan tanah kepada BHPM yang akan atau telah didirikan tersebut.

Jika Hibah dengan maksud dan tujuan tidak untuk mencari untung untuk para pihak, apakah pengalihan tersebut dapat dilakukan dalam bentuk Wakaf?57 Karena Wakafpun tidak untuk mencari untung,58 dan Nazhir dapat berupa organisasi ataupun badan hukum. Jika Wakaf dilakukan sebagai salah satu jalan keluarnya, maka dalam hal ini Tim Likuidator tidak dapat ditempatkan sebagai Wakif karena Tim Likuidator sifatnya sementara yang bertugas melakukan pemberesan, setelah semuanya beres (selesai), maka Tim Likuidator dibubarkan. Dalam keadaan tertentu bahwa Nazhir dapat digantikan, misalnya bubar atau dibubarkan sesuai dengan ketentuan

56

Pasal 1666 KUH Perdata, Penghibahan adalah suatu persetujuan, dengan mana seorang penghibah menyerahkan suatu barang secara cuma-cuma, tanpa dapat menariknya kembali, untuk kepentingan seseorang yang menerima penyerahan barang itu. Undang-undang hanya mengakui penghibahan-penghibahan antara orang-orang yang masih hidup.

57

Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 41Tahun 2004 Tentang Wakaf, menyatakan Wakaf adalah perbuatan Hukum Wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfatkán selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya, guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.

Wakif adalah pihak yang mewakafican harta benda miliknya (Pasal 1 angka 2 UU No. 41 Tahun 2004). Nazhir adalah pihak yang menerima harta benda wakaf dari wakif untuk dikelola dan dikembangkan sesuai peruntukkannya (Pasal 1 angka 4 UU No. 41 Tahu 2004).

58

perundang-undangan yang undangan yang berlaku untuk Nazhir organisasi atau Nazhir badan hukum (Pasal 45 ayat (1) huruf a UU No. 41 Tahun 2004), pemberhentian dan penggantian Nazhir tersebut dilaksanakan oleh Badan Wakaf Indonesia (Pasal 45 ayat (2) UU No. 41 Tahun 2004). Jika Nazhirnya berupa Yayasan, yang ternyata harus bubar atau dibubarkan berdasarkan ketentuan Pasal 39 PP No. 63 Tahun 2008, maka Nazhir tersebut dapat diganti. Penggantian Nazhir dapat dilakukan oleh Tim Likuidator sebagai bagian dari tugas/kewenangan Tim Likuidator yang dicantumkan dalam akta pembentukan Tim Likuidator yang akan dilaksanakan oleh Badan Wakaf Indonesia.59

Khusus untuk satuan pendidikan formal (termasuk izin-izinnya), apakah dapat dialihkan dalam bentuk Hibah atau Wakaf’?. Izin yang dikeluarkan oleh suatu institusi yang tunduk pada ketentuan Hukum Publik (Administrasi Tata Usaha Negara), sehingga ketika suatu izin tidak diperlukan lagi, maka izin wajib dikembalikan kepada institusi yang menerbitkannya, dan izin tidak termasuk kepada benda bergerak yang dapat diperjualbelikan. Akan tetapi dalam kenyataannya tidak sedikit Izin menjadi barang bergerak yang bernilai ekonomis yang dapat diperjual-belikan, meskipun tidak dengan istilah ‘jual-beli”, tetapi menggunakan istilah lain, seperti alih kelola, yang sebenarnya perbuatan hukumnya adalah jual beli izin satuan pendidikan formal.60

59

Habid Adjie, Op. Cit., hal. 17. Lihat juga Pasal 1 angka 7 UU No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, dinyatakan Badan Wakaf Indonesia (BWI) adalah lembaga independen untuk mengembangkan perwakafan di Indonesia.

60

Baik hibah, wakaf dan cessie, dapat saja dilakukan dalam posisi kasus sebagaimana tersebut di atas. Kasus di atas dikategorikan sebagai accident by law, artinya suatu kejadian yang tidak pernah dikehendaki oleh para pihak atau siapapun, dan undang-undang sendiri tidak memberikan jalan apapun, sehingga untuk penyelesaiannya dapat mempergunakan lembaga hukum yang ada, dan tidak ada pihak yang dirugikan serta kemaslahatan masyarakat terjamin, terutama proses belajar-mengajar (pendidikan) tetap berjalan.

Meskipun demikian, ada hal lainnya yang juga perlu diperjelas, yaitu berkaitan dengan pengenaan pajak atas perbuatan-perbuatan hukum tersebut di atas. Berdasarkan aturan hukum yang ada dalam bidang perpajakan, bahwa hibah (apapun) adalah objek pajak, maka mau tidak mau, hibah dari Yayasan yang bubar dilakukan oleh Tim Likuidasi kepada BHPM akan dikenakan pajak. Habib Adjie berpendapat alangkah bijak (wise) jika Pemerintah, Departemen Keuangan, dan Dirjen Pajak secara khusus tidak memberlakukan ketentuan pajak untuk hibah dengan posisi kasus tersebut di atas, karena keadaan tersebut bukan keinginan para pihak demikian pula untuk Badan Pertanahan Nasional tidak perlu memungut biaya apapun atas hibah seperti tersebut di atas dengan alasan semata-mata accident by law saja, demikian pula pihak Perbankan yang telah memberikan pinjaman atau kredit kepada Yayasan seperti tersebut di atas, untuk dapat mengerti atau memahami permasalahan yang terjadi.61

61

Dengan demikian dari uraian di atas dapat dipahami bahwa adanya ketentuan bagi yayasan yang menyelenggarakan pendidikan sesuai dengan tata kelola pendidikan untuk dipisahkan dari kekayaan Yayasan. Kemudian ada juga ketentuan peralihan harta yayasan yang telah dinyatakan bubar sesuai dengan ketentuan Pasal 71 UU Yayasan, dan membentuk badan hukum pendidikan baru. Hanya dalam hal ini pemisahan dan peralihan kekayaan yayasan ini UU BHP belum memberikan aturan yang tegas, misalnya jumlah harta kekayaan yang harus dipisahkan tersebut.

B. Yayasan Belum Siap Melakukan Perubahan Tata Kelola Pendidikan Sesuai

Dokumen terkait