• Tidak ada hasil yang ditemukan

= (5) Hasil pengukuran biaya transaksi total akan digunakan untuk mengukur propors

3 HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Karakteristik Koperas

3.3 Pengambilan keputusan

Pengusahaan hutan skala kecil memiliki dua ciri khas yang sangat penting dalam sebuah analisis, yaitu kemampuan modal (material dan non material) yang terbatas dan karakteristik petani subsisten. Petani yang memiliki karakteristik subsisten cenderung memiliki sikap risk averse (Kahan 2008). Petani memiliki berbagai ketidaktahuan atas informasi dalam melakukan tindakan produksi (bounded rationality) yang akhirnya mendorong petani betindak atas dasar kepercayaan (trust). Kepercayaan yang dimiliki petani terkait pada konteks pengalaman yang telah terjadi dan relasi kepada aktor yang telah lama dibangun.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa pertimbangan keputusan petani dapat dibedakan menjadi keputusan untuk bergabung dan keputusan untuk menjual kayu. Kedua aspek tersebut mempunyai latar belakang yang berbeda, yaitu keputusan untuk bergabung dengan koperasi karena adanya alasan harga premium dan keputusan untuk menjual kayu karena upaya untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga (Tabel 3.14).

34

Tabel 3.14 Pertimbangan petani dalam mengambil keputusan.

Aspek

Petani anggota KWLM Petani anggota KWML Situasi

Koperasi Keputusan

Situasi

Koperasi Keputusan Harga

Premium Koperasi mam-pu memberikan harga yang lebih tinggi dari tengkulak. Petani bersedia bergabung deng- an koperasi karena adanya harga premium. Koperasi belum memproduksi kayu berserti- fikat. Petani berga- bung dengan ko- perasi karena akses terhadap pengetahuan dan informasi. Pemenuhan

kebutuhan Koperasi ter-kendala dalam pencairan hasil penjualan.

Petani menyia- sati dengan tetap berelasi dengan tengkulak. Koperasi tidak Membelia kayu kepada petani anggota. Petani hanya mempunyai pi- lihan menjual ke tengkulak.

3.3.1 Keputusan bergabung menjadi anggota koperasi

Premium price merupakan harga yang ditentukan oleh mekanisme pasar kayu bersertifikat. Besaran premium price sangat ditentukan oleh kondisi penawaran produsen dan permintaan industri terhadap kayu bersertifikat. Dengan asumsi bahwa petani mengambil keputusan secara rasional (rasional chiocer) dan cenderung menghindari resiko (risk averse) maka dalam mengambil keputusan, petani akan mempertimbangkan resiko yang dihadapi. Pilihan rasional petani cenderung berkaitan dengan kebutuhan diri sendiri (self interest) (Yustika 2008).

Maka dari itu pada dasarnya keputusan petani untuk bergabung dengan koperasi, guna mendapatkan harga yang lebih tinggi (premium price), merupakan keputusan yang mengandung resiko. Namun pilihan penjualan kayu tidak sepenuhnya berdasarkan pada harga penawaran tertinggi. Pertimbangan yang digunakan petani untuk memilih pembeli kayu juga sangat dipengaruhi oleh waktu pembayaran hasil penjualan. Sebelum berdirinya koperasi, petani hanya menjual kayu kepada tengkulak. Kehadiran koperasi mampu mempengaruhi proses pengambilan keputusan oleh petani.

Koperasi membutuhkan waktu untuk membayarkan hasil penjualan kayu petani. Kondisi tersebut menimbulkan ketidakpastian tingkat penawaran harga (ada atau tidaknyapremium price). Selang harga yang ditawarkan koperasi adalah ω1<ω<ω2dengan peluang sebesarf(ω).Setiap nilai ω akan berhubungan dengan tingkat utilitas ʊ (ω). Peluang mendapatkan nilai ʊ (ω) sama dengan peluang ω, atauf(ω) = f(ʊ ) (Gambar 3.7). Pada selang harga ωtersebut, maka harga harapan (expected price) dari koperasi secara pasti adalah:

= 2

f( )

1

ω

sehingga nilai utilitas harapan dengan bergabung menjadi anggota koperasi adalah , yang mana:

= E[ʊ (ω)]=

2

f

d

1

Nilai utilitas harapantersebut dapat dicapai dengan harga pasti sebesar CE (certainty equivalent). Selisih antara dan CE disebut sebagai risk premium,

35

CE

Y A

B

Fungsi Utilitas U(w)

Utilitas dari keputusan

ʊ

1 2

ʊ ( )

ʊ 1 ʊ 2

yakni sejumlah uang yang bersedia dikorbankan petani demi memperoleh kepastian penawaran harga.

Gambar 3.7 Kurva utilitas petani dalam bergabung dengan koperasi. Dengan menggunakan frame berpikir tersebut, maka dapat dilihat bahwa jika harga yang ditawarkan tengkulak secara pasti lebih besar dari CE (ω > CE), maka petani akan lebih memilih menjual kepada tengkulak. Kondisi itu muncul karena dengan menjual ke tengkulak, petani memiliki kepastian nilai utilitas yang berada di atas nilai utilitas harapan dari koperasi (ʊ (ω) > ). Namun jika tengkulak menawarkan harga yang lebih kecil dari CE (ω < CE), maka pilihan terbaik petani adalah dengan menjual kayu kepada koperasi karena memiliki nilai utilitas harapan yang lebih besar dari pada nilai utilitas dari tengkulak. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kisaranharga penawaran koperasi (ω1– ω2) adalah

Rp 1.6 juta–2.0 juta, sedangkan harga penawaran tengkulak terletak di sekitar Rp 1.8 juta. Kecenderungan petani di lapangan adalah menjual kayu kepada tengkulak dengan harga sebesar Rp 1.79 juta. Fakta tersebut menunjukkan bahwa pada dasarnya nilai penawaran tengkulak berada di sebelah kanan nilai CE, atau dengan kata lain nilai CE lebih kecil dari Rp 1.79 juta.

Probabilitas yang dihadapi petani pada dasarnya merupakan probablitas subjektif. Konteks probabilitas subjektif adalah bagaimana persepsi yang digunakan terhadap suatu kejadian (Pindyck dan Rubenfeld 2009). Grafik tersebut menunjukkan bahwa petani merupakan pihak yang risk averse (Pindyck dan Rubenfeld 2009) karena bersedia mengorbankan sejumlah uang demi mendapatkan kepastian harga. Lebih jauh lagi Pindyck dan Rubenfeld (2009) mengambarkan bahwa tindakan petani yang bergabung menjadi anggota koperasi pada dasarnya dapat dikatakan sebagai salah satu upaya dalam mengurangi resiko. Tindakan tersebut merupakan upaya petani dalam mencari asuransi atas kayunya. Kesediaan petani untuk tetap bertahan menjadi anggota koperasi dan mengeluarkan biaya tambahan, meskipun belum memberikan harga premium, adalah korbanan dalam memperoleh asuransi. Asuransi tersebut berupa nilai

36

informasi yang diberikan oleh koperasi, yang mana mampu memberikan posisi tawar yang lebih baik bagi petani. Nilai informasi adalah nilai yang bersedia dikorbankan oleh petani guna memperoleh informasi yang lengkap (Pindyck dan Rubenfeld 2009).

3.3.2 Keputusan dalam kerja sama penjualan kayu

Karakteristik petani yang merupakanrisk aversememaksa untuk melakukan diversifikasi dalam menjalin relasi pemasaran kayu. Diversifikasi dalam konteks resiko merupakan salah satu metode untuk meminimalisir resiko (Pindyck dan Rubenfeld 2009), dalam hal ini adalah resiko kerugian hasil penjualan kayu. Kerugian dalam menjual kayu akan berdampak pada upaya pemenuhan kebutuhan rumah tangga petani. Diversifikasi tujuan penjualan kayu petani juga menunjukkan bahwa kemampuan petani dalam manajemen resiko. Proses manajemen resiko membutuhkan kemampuan dan kemauan petani dalam menyesuaikan keadaan pasar kayu (adaptability dan flexibility). Kemampuan tersebut merupakan syarat utama dalam manajemen resiko (Milleret al2004).

Tindakan petani melakukan diversifikasi adalah dengan menjual kayu kepada koperasi dan tengkulak. Faktor utama yang melatarbelakangi tindakan tersebut adalah ketidakmampuan koperasi untuk melakukan pembayaran hasil penjualan kayu secara cepat. Kondisi tersebut disikapi oleh petani dengan tetap menjalin relasi kerja sama dengan tengkulak. Meskipun pada dasarnya tindakan petani tersebut adalah tindakan ilegal dari sudut pandang koperasi. Koperasi mempunyai aturan yang telah disepakati oleh anggota terkait pelarangan penjualan kayu anggota selain ke koperasi. Namun kemampuan koperasi yang masih minim memaksa koperasi tidak memberikan sanksi atas sikap petani yang bersikap fleksibel dalam menjual kayu.

Koperasi memiliki kendala dalam menyediakan uang kas yang dapat digunakan secara langsung karena belum kondusifnya pasar kayu bersertifikat. Jumlah demand yang masih minim menyebabkan produksi tidak maksimal. Kondisi yang sebaliknya terjadi pada tengkulak. Meskipun harga penawaran tengkulak menggunakan harga pasar lokal, yang lebih rendah dari harga pasar kayu bersertifikat, namun kepastian ketersediaan uang hasil penjualan dapat diprediksi dan dibayarkan sesuai dengan kesepakatan. Kondisi di koperasi wana manunggal lestari yang belum melakukan produksi kayu bersertifikat berdampak pada ketersediaan pilihan kerja sama yang dapat dibangun petani. Relasi yang dibangun memiliki latar belakang berupa pemenuhan kebutuhan yang terencana dapat dilakukan melalui kerjasama dengan koperasi, sedangkan kebutuhan yang mendesak akan dipenuhi melalui tengkulak. Keputusan petani tersebut berdampak pada biaya transaksi petani anggota koperasi. Biaya transaksi akan menjadi lebih besar jika melakukan kerja sama dengan tengkulak, namun tindakan tersebut dapat dimaknai sebagai upaya untuk meminimalisir resiko. Resiko dalam konteks ini lebih cenderung dalam upaya resiko kegagalan petani dalam upaya pemenuhan kebutuhan rumah tangga.

37

4 SIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait