• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.7 Pengambilan Spesimen Urin (Nasronudin,2007) a.Urin kateter a.Urin kateter

Biasa dilakukan pada penderita yang sedang dirawat di rumah sakit dan dipasang kateter jangka panjang (indwelling catheter). Pengambilan spesimen menggunakan kateter adalah berisiko memasukkan bakteri. Jangan mengambil spesimen dari kantong kateter urin (bed side catheter bag)

Pengambilan dilakukan dengan cara mengambil urin dari catheter port setelah dilakukan disinfeksi dengan antiseptik dan alkohol. Jika kateter yang tidak mempunyai catheter port jepitlah kateter (jangan lebih lama dari 30 menit) kemudian cari tempat diatasnya, lakukan disinfeksi dengan menggunakan spuit sekali pakai.

Berkenaan dengan cara pembiakan urin yang khusus, jangan lupa member label yang benar, khususnya waktu pengambilan urin.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta b. Urin porsi tengah (clean catch urine)

Pengambilan urin dengan cara ini paling banyak diterapkan karena mudah. Namun jika kurang hati-hati, banyak terjadi pencemaran dari flora sekitar sehingga bisa mengaburkan hasil pemeriksaan mikrobiologis.

Pengambilan dan penampungan urin porsi tengah sebaiknya dilakukan pada pagi hari dengan membuang 1/3 aliran urin pertama dan terakhir. Bahan yang dibutuhkan yaitu botol steril bertutup, sabun medis, kasa atau kapas steril, dan akuades atau air.

Sebelum dilakukan pengambilan urin sebaiknya pasien diberitahu dahulu, baik secara lisan maupun tertulis cara pengambilan urin yang benar agar spesimen tidak tercemar. Cara pengambilan urin pada wanita yaitu diawali dengan mempersiapkan kasa atau kapas steril untuk membersihkan daerah vagina dan muara uretra. Satu potong kasa atau kapas steril yang telah diberi air sabun, dua potong kasa steril yang telah dibasahi air dan sepotong lagi dibiarkan kering. Pada saat membersihkan genital sebaiknya jangan menggunakan larutan antiseptik. Kedua labia dipisahkan dengan dua jari dan daerah vagina dibersihkan dari arah depan ke belakang dengan potongan kasa steril yang mengandung sabun kemudian bilas daerah tersebut dari arah depan kebelakang dengan potongan kasa yang dibasahi dengan air. Selama pembilasan, kedua labia tetap dipisahkan dengan dua jari dan jangan biarkan labia menyentuh muara uretra. Pembilasan dapat dilakukan sekali lagi, kemudian daerah tersebut dikeringkan dengan potongan kasa steril yang kering.

Taruh botol didepan genital dan jangan menyentuh tepi botol, pada saat berkemih buang 1/3 urin pertama, dan berikutnya ditampung sebelum 1/3 urin terakhir, botol harus segera ditutup untuk menghindari terjadinya kontaminasi. Wadah diberi identitas pasien dan urin dikirim segera ke laboratorium.

Cara pengambilan urin dan penampungan urin porsi tengah pada pria, diawali dengan mempersiapkan beberapa potongan kasa steril untuk membersihkan daerah penis dan muara uretra. Satu potong kasa steril dibasahi dengan air sabun, dua potong kasa steril dibasahi dengan air dan sepotong lagi dibiarkan dalam keadaan kering. Pada saat pembersihan daerah penis dan muara uretra sebaiknya jangan menggunakan antiseptik, tarik prepusium ke belakang

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

dengan satu tangan dan daerah ujung penis dibersihkan dengan kasa yang dibasahi air sabun. Ujung penis dibilas dengan kasa yang dibasahi air. Pembilasan dapat dilakukan kembali, lalu daerah tersebut dikeringkan dengan potongan kasa steril yang kering. Buang kasa yang telah dipakai ke tempat sampah.

Dengan tetap menahan prepusium ke belakang, mulailah berkemih, pada saat berkemih buang 1/3 urin pertama, dan berikutnya ditampung sebelum 1/3 urin terakhir, tutup segera botol untuk menghindari terjadinya kontaminasi. Identitas pasien ditulis pada wadah tersebut dan kirim segera ke laboratorium. Sampel harus diterima satu jam setelah penampungan dan sampel harus sudah di lakukan pemeriksaan dalam waktu 2 jam. Jika ada penundaan dalam pemeriksaan, urin harus disimpan dalam lemari es dengan suhu 4oC

c. Urin aspirasi suprapubik

Pengambilan urin secara suprapubik sebenarnya paling baik, hanya dalam penerapan klinis banyak hambatan baik bagi penderita maupun petugas laboratorium atau petugas medis seperti timbulnya rasa kurang nyaman bagi penderita karena dilakukan langsung dari kandung kemih melalui kulit dan dinding perut dengan semprit dan jarum steril. Yang penting dalam tindakan punksi suprapubik ini adalah tindakan antisepsis yang dilakukan oleh tenaga medis dengan baik pada daerah yang akan ditusuk. Hanya saja untuk biakan anaerobik, cara ini adalah yang memenuhi syarat. Pengambilan dengan cara ini dilakukan langsung dari kandung kemih melalui kulit dan dinding perut dengan semprit dan jarum steril pada punksi suprapubik ini adalah tindakan antisepsis yang baik pada daerah yang akan disuntikan untuk diambil urinnya, anestesi lokal pada daerah yang akan disuntik dan keadaan asepsis harus selalu dijaga. Bila keadaan asepsis baik, maka bakteri apapun dan berapa pun jumlah koloni yang tumbuh pada biakan, dapat dipastikan merupakan penyebab ISK.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2.8 Pemeriksaan Mikrobiologi (SOP,2012)

2.8.1 Cara Pemeriksaan

Alat

Ose standar dari platina yang telah dikalibrasi dengan volume 0,001mL, Bunsen, inkubator

Bahan

Pewarna Gram, kuman kontrol positif atau negatif, media agar darah, media agar Mac Conkey

Cara kerja

Pertama, urin dikocok terlebih dahulu agar homogen, kemudian dilakukan pemeriksaan mikroskopik dengan pewarnaan Gram, hasil Gram sementara di laporkan dengan menggunakan kuman kontrol meliputi jenis kuman dan leukosit per lapang pandang, selanjutnya urin yang telah ditempatkan pada botol steril dengan ose standar dari platina, yang telah dikalibrasi dengan volume 0,001, diinokulasikan dengan membuat satu garis lurus pada bagian tengah lempeng agar darah dan pada agar Mac Conkey membuat goresan tegak lurus pada garis pertama dengan menggunakan ose lain, selanjutnya agar darah dan Mac Conkey tersebut di inkubasikan pada suhu 35-37oC selama 24 jam, bila kuman tumbuh, dilakukan perhitungan jumlah koloni. Jumlah kuman per mL air kemih didapat dari hasil perkalian penghitungan jumlah koloni dikalikan dengan 1000.

2.8.2 Interpretasi Hasil (Kass 1957)

Cara perhitungan pertumbuhan koloni pada plate yaitu jumlah koloni pada plate dikalikan 1000. Bila bakteri < 1000/mL dinyatakan kontaminasi, bila jumlah bakteri 103-104/mL kemungkinan kontaminasi, bila jumlah bakteri 104-105/mL dinyatakan kemungkinan infeksi dan bila jumlah kuman > 105/mL dinyatakan infeksi.

Bila hasil hitung jumlah kuman termasuk kategori infeksi dan kemungkinan infeksi maka dilanjutkan dengan identifikasi dan uji resistensi. Bila hasil hitung jumlah kuman termasuk kategori kemungkinan kontaminasi atau ditemukan pertumbuhan tiga jenis bakteri, maka harus dilakukan biakan urin ulang. Biakan dikatakan negatifapabila tidak ada pertumbuhan bakteri.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta BAB 3

Dokumen terkait