0,070 ISK + Penyakit
4.5.5 Profil Bakteri Penyebab ISK dan Kepekaan Bakteri terhadap Antibiotika
Berdasarkan hasil penelitian, bakteri Gram-negatif lebih banyak ditemukan dibandingkan dengan bakteri Gram-positif.Dari 350 kultur positif, 213 pasien diantaranya adalah penderita ISK dan terdapat 106 pasien yang termasuk dalam kriteria inklusi, 100 diantaranya disebabkan oleh bakteri Gram-negatif dan 6 sisanya disebabkan bakteri Gram-positif. Dari hasil penelitian ini pula menunjukkan bahwa, bakteri yang sering ditemukan pada penderita infeksi saluran kemih yaitu Escherichia coli (58,5%) kemudian diikuti bakteri Klebsiella pneumonia (13,2%). Hal seperti ini tidak berbeda dengan hasil penelitian yang ditemukan oleh Firdaus pada tahun 2009 menyatakan bahwa bakteri tersering
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
yang dapat menyebabkan infeksi saluran kemih yaitu Escherichia coli (39,5%) dan disusul pula oleh bakteri Klebsiella pneumonia (28,3%).
Antibiotik yang biasa digunakan dalam pengobatan infeksi saluran kemih adalah cotrimoxazole, fluoroquinolone, Beta-laktam: penicillin dan cephalosporin, aminoglycoside (Syarif A et.al.2007). Antibiotik ceftriaxone dan ciprofloxacin dipilih dalam penelitian ini karena kedua antibiotik tersebut memiliki kemampuan sebagai antibakteri yang tepat. Mekanisme kerja cephalosporins sebagai antibakteri yaitu dengan menghambat sintesis dinding sel, dimana dinding sel berfungsi mempertahankan bentuk mikroorganisme dan
“menahan” sel bakteri, yang memiliki tekanan osmotik yang tinggi di dalam
selnya. Ceftriaxone kurang aktif terhadap bakteri Gram-positif, karena dinding sel bakteri Gram-positif memiliki tekanan 3-5 kali lebih besar menahan masuknya antibiotik ceftriaxone sehingga antibiotik ini kurang aktif terhadap bakteri Gram-positif, sedangkan pada kemampuan ceftriaxone terhadap Gram-negatif dapat menembus dinding sel (misalnya oleh lisozim) yang dapat mengakibatkan kerusakan bentuk atau lisis pada dinding sel sehingga ceftriaxone lebih aktif terhadap bakteri Gram-negatif sedangkan, mekanisme kerja pada antibiotik ciprofloxacin dengan menghambat sintesis asam nukleat dimana antibiotik golongan ini dapat masuk ke dalam sel dengan cara difusi pasif melalui kanal protein terisi air (porins) pada membran luar bakteri secara intra seluler, secara unik obat-obat ini menghambat replikasi DNA bakteri dengan cara mengganggu kerja DNA girase (topoisomerase II) selama pertumbuhan dan reproduksi bakteri (Mycek,2001).
Pada tabel 8, hasil penelitian terlihat bahwa bakteri yang resisten tertinggi terhadap antibiotik ceftriaxone hingga mencapai (100,0%) adalah bakteri Klebsiella pneumonia, Citrobacter koserii, Acinetobacter baumanii, Pseudomonas luteola, Enterobacter cloacae, Serratia marcescens, Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus saprophyticus diikuti Enterobacter aerogenes. Dari hasil penelitian diatas adanya Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus saprophyticus resisten terhadap ceftriaxone. Hal ini tidak berbeda dengan pernyataan siswandono pada tahun 2008, bahwa antibiotik ceftriaxone kurang peka terhadap bakteri Gram-positif .
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Bakteri yang menunjukkan pola zona intermediet tertinggi terhadap ceftriaxone sebesar (33,3%) adalah bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Enterobacter aerogenes, sehingga dalam penggunaannya harus di kontrol untuk menghindari terjadinya resistensi, sedangkan bakteri Escherichia coli memiliki sensitivitas terhadap antibiotik ceftriaxone hanya sebesar (38,9%), dengan jumlah persentasi sensitivitas yang sedikit, cenderung bakteri ini telah resisten terhadap ceftriaxone sedangkan sensitivitas bakteri Pseudomonas aeruginosa hanya sebesar (33,3%), hal ini terbukti bahwa ceftriaxone tidak aktif terhadap Pseudomonas aeruginosa seperti pernyataan Siswandono tahun 2008. Sehingga pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa bakteri penyebab ISK telah resisten terhadap antibiotik ceftriaxone. Bakteri yang mengalami resisten terhadap ceftriaxone dapat disebabkan oleh adanya enzim pengurai antibiotik pada mikroorganisme secara alami sehingga beberapa bakteri resisten terhadap ceftriaxone (Pratiwi,2008)
Hasil penelitian ini menunjukkan pula bakteri yang resisten tertinggi terhadap ciprofloxacin hingga mencapai (100,0%) adalah bakteri Enterobacter aerogenes, Acinetobacter baumanii, Klebsiella ozaenae, Raoultella ornithynolytica, Morganella morganii dan Staphylococcus saprophyticus disusul Escherichia coli (84,6%) dari hasil diatas dapat disimpulkan sebagian besar bakteri penyebab ISK telah resisten terhadap antibiotik ciprofloxacin. Terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik ciprofloxacin karena antibiotik golongan fluoroquinolones seperti halnya ciprofloxacin dapat terikat pada subunit β enzim
DNA girase, dan memblok aktivitas enzim yang essensial dalam menjaga supercoiling DNA dan penting dalam proses replikasi DNA. Mutasi pada gen pengkode DNA girase menyebabkan diproduksinya enzim yang aktif namun, tidak dapat diikat oleh fluoroquinolones, sehingga beberapa antibiotik resisten terhadap ciprofloxacine Bakteri yang menunjukkan zona intermediet terhadap antibiotik ciprofloxacine adalah Klebsiella pneumonia (25,0%) sedangkan bakteri yang sensitif mencapai (100,0%) adalah Pseudomonas aeruginosa, Pseudomonas luteola dan Burkholderia cepacia. Dari hasil penelitian ini, adanya bakteri Pseudomonas aeruginosa yang masih sensitif terhadap ciprofloxacin dinyatakan pula pada penelitian yang dilakukan Samirah pada tahun 2004 bahwa sensitivitas
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Pseudomonas aeruginosa terhadap ciprofloxacin mencapai 75%. Begitu pula hasil penelitian yang dilakukan oleh Syafruddin Haris pada tahun 2012 yang menyatakan bahwa bakteri Pseudomonas aeruginosa memiliki sensitivitas sebesar 100%. Namun sebaliknya, berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Rita Endriani pada tahun 2009 di Riau yang menyatakan bahwa bakteri Pseudomonas telah mengalami resistensi terhadap ciprofloxacin mencapai 75%. Dari hasil yang didapat ciprofloxacin merupakan antibiotik golongan fluoroquinolone terkuat daya antibakterinya terhadap Pseudomonas aeruginosa dan bakteri Gram-negatif lainnya dibandingkan dengan antibiotik lain, Namun untuk pemakaian pada anak, obat tersebut tidak direkomendasikan. Adanya beberapa bakteri yang masih sensitif terhadap ciprofloxacin kemungkinan antibiotik ciprofloxacin dapat masuk ke dalam sel dengan cara difusi pasif melalui kanal protein terisi air (porins) pada membran luar bakteri secara intra seluler, secara unik obat-obat ini menghambat replikasi DNA bakteri dengan cara mengganggu kerja DNA girase (topoisomerase II) selama pertumbuhan dan reproduksi bakteri (Mycek,2001). Pada penelitian ini dengan jumlah Pseudomonas aeruginosa yang sedikit, dalam hal ini kurang mewakili kelompoknya, kemungkinan obat ini tidak bisa direkomendasikan kembali pada pengobatan ISK secara klinis.
Distribusi pola bakteri ISK terhadap masing-masing kelompok antibiotik yang tidak merata, mengakibatkan pola bakteri yang dihasilkan tidak dapat mewakili kelompoknya pada hasil penelitian, sehingga pada penelitian ini antibiotik ciprofloxacin tidak bisa direkomendasikan lagi pada pengobatan ISK secara klinis.
Hasil penelitian uji resistensi dan sensitivitas yang menyatakan zona intermediet merupakan hasil uji kepekaan yang menunjukkan zona tengah terhadap suatu antibiotik dan obat tersebut dapat digunakan dengan menaikkan dosis terapi sehingga dalam terapi infeksi saluran kemih dapat lebih rasional.
Kebanyakan studi menunjukkan hasil pola resistensi yang berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh perbedaan pajanan terhadap antibiotik tertentu di lingkungan rumah sakit. Semakin sering terpapar dengan antibiotik tertentu maka semakin besar pula kemungkinan timbulnya resistensi. Fakta ini menunjukkan bahwa
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
usaha dalam pegendalian resistensi harus pula terfokus pada pengendalian terhadap penggunaan antibiotik.
Perubahan dalam resistensi bakteri terhadap suatu antibiotik dapat disebabkan oleh beberapa hal. Peningkatan resistensi dapat disebabkan oleh pajanan terhadap antibiotik, selection pressure, penggunaan antibiotik yang tidak adekuat serta kolonisasi bakteri yang menyebabkan terjadinya resistensi dapat merupakan keberhasilan pengendalian infeksi dan pembatasan penggunaan antibiotik (Deglin,2004).
Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat meningkatkan resiko terjadinya resistensi antibiotika di kemudian hari. Dari perbandingan di atas dapat dikatakan resistensi bakteri terhadap antibiotik sangat bervariasi. Oleh karena itu penggunaan antibiotik perlu diperhatikan untuk mengurangi angka kecacatan dan kematian pasien akibat resistensi.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta BAB 5