• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Daya Saing Industri Semen Indonesia Terhadap

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3. Pengaruh Daya Saing Industri Semen Indonesia Terhadap

5.3.1. Uji Ekonometrika

Pengujian autokorelasi dengan menggunakan perangkat E.views 4.1 dapat

diketahui melalui serial correlation LM Test, dimana jika nilai probability obs* R-

Squared pada model lebih besar dari taraf nyata (α = 10 %) yang digunakan maka disimpulkan bahwa model persamaan tidak mengalami gejala autokorelasi dan

sebaliknya jika nilai probability obs* R-Squared pada model lebih kecil dari taraf

nyata (α = 10 %) yang digunakan maka model persamaan mengalami gejala

autokorelasi. Dari model struktural pengaruh daya saing industri semen Indonesia terhadap penyerapan tenaga kerja yang dapat dilihat pada Lampiran 11 bahwa

nilai probability obs* R-Squared adalah sebesar 0.674, lebih besar dari taraf nyata

yang digunakan yaitu sebesar sepuluh persen (α=10%). Oleh karena itu model

persamaan yang digunakan tidak mengalami gejala autokorelasi.

Selanjutnya kriteria ekonomi yang perlu diuji adalah heteroskedastisitas. Pengujian heteroskedastisitas ditujukan untuk melihat apakah model regresi memenuhi asumsi bahwa model memiliki gangguan yang variannya sama (homoskedastisitas). Pengujian asumsi ini dilakukan dengan menggunakan uji

White Heteroskedasticity. Apabila hasil nilai probabilitas Obs* R-Squared lebih

besar dari taraf nyata yang digunakan (α = 10 %) maka disimpulkan bahwa model

persamaan mempunyai variabel pengganggu yang variannya sama

(homoskedastisitas) dan sebaliknya jika nilai probabilitas Obs* R-Squared lebih

86

mempunyai variabel pengganggu yang variannya beda (heteroskedastisitas). Dari

uji yang dilakukan dapat dilihat pada Lampiran 12 dimana nilai probabilitas Obs*

R-Squared adalah sebesar 0.271, lebih besar dari taraf nyata yang digunakan (α = 10 %) maka disimpulkan bahwa model persamaan tidak memiliki masalah heteroskedastisitas.

Jarque-Bera Test digunakan untuk menguji apakah sampel yang

digunakan memiliki error term yang terdistribusi secara normal atau tidak. Hasil

Jarque-Bera yang dapat dilihat pada Lampiran 13 bahwa nilai probability (P-

Value) yaitu sebesar 0.7, lebih besar dari taraf nyata yang digunakan (α = 10 %)

maka dapat disimpulkan bahwa pada syarat keyakinan 90 % error term

terdistribusi normal.

5.3.2. Estimasi Model

Hasil estimasi parameter model struktural pengaruh daya saing industri semen terhadap penyerapan tenaga kerja adalah seperti terlihat pada Tabel 5.4. Tabel 5.4. Parameter Pengaruh Daya Saing Industri Semen Indonesia Terhadap

Penyerapan Tenaga Kerja

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.*

Konstanta 3.021257 0.571516 5.286389 0.0000

Daya Saing 0.025166 0.011190 2.249017 0.0349

Ln Biaya Tenaga Kerja 0.415608 0.039382 10.55337 0.0000

Produktivitas Tenaga Kerja 0.025686 0.006987 3.676034 0.0013

Efisiensi 0.802852 0.211308 3.799443 0.0010

Dummy Krisis 0.026847 0.063103 0.425449 0.6746

R-squared 0.941407 Mean dependent var 9.499136

Adjusted R-squared 0.928091 S.D. dependent var 0.331793

S.E. of regression 0.088973 Sum squared resid 0.174157

F-statistic 70.69463 Durbin-Watson stat 2.039190

Prob(F-statistic) 0.000000 Keterangan : * (Pada taraf nyata 10%)

Berdasarkan hasil pendugaan dari Tabel 5.4. diatas, maka dapat

Square) sebesar 0.928 artinya bahwa variasi variabel endogennya (TK atau tenaga kerja) dapat dijelaskan secara linear oleh variabel bebasnya didalam persamaan sebesar 92.8 persen dan sisanya 7.2 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain diluar persamaan.

Dari hasil uji-F didapatkan bahwa variabel-variabel eksogen mampu

menerangkan variadel endogen yang ditunjukkan oleh nilai P-Value = 0.000000

yang lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan yaitu sebesar sepuluh persen (α =

10 %). Nilai ini menandakan bahwa persamaan tersebut telah mendukung keabsahan model atau dengan kata lain bahwa pengaruh yang ditimbulkan oleh keseluruhan variabel penjelas terhadap variabel terikat atau dependennya adalah baik.

Dari uji-t menunjukkan bahwa ada empat variabel eksogen berpengaruh nyata atau signifikan terhadap variabel dependennya pada taraf nyata sepuluh persen. Variabel-variabel tersebut adalah daya saing, biaya tenaga kerja, produktivitas tenaga kerja dan efisiensi. Sedangkan variabel lainnya yakni dummy krisis tidak signifikan mempengaruhi variabel tak bebasnya (TK atau tenaga

kerja) pada taraf nyata sepuluh persen (α = 10 %). Hal ini mengindikasikan bahwa

penyerapan tenaga kerja lebih dipengaruhi faktor-faktor lain yaitu daya saing, biaya tenaga kerja, produktivitas tenaga kerja dan efisiensi.

Dari hasil estimasi berdasarkan Tabel 5.4. diketahui bahwa daya saing industri semen Indonesia berpengaruh positif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja yang dilihat dari tenaga kerja dengan koefisien sebesar 0.03, artinya jika daya saing meningkat sebesar satu persen maka penyerapan tenaga kerja

88

meningkat sebanyak 0.03 persen, asumsi cateris paribus. Ketika suatu industri

memiliki tingkat daya saing yang tinggi maka industri tersebut mempunyai kemampuan yang tinggi untuk memperoleh keuntungan. Dengan keuntungan yang tinggi, perusahaan-perusahaan semen bisa mengembangkan perusahaannya dan akan merekrut tenaga kerja baru.

Biaya tenaga kerja berpengaruh positif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja dengan koefisien sebesar 0.42, artinya jika biaya tenaga kerja meningkat sebesar satu persen maka penyerapan tenaga kerja meningkat sebesar

0.42 persen, asumsi cateris paribus.

Fakta yang terjadi pada industri semen Indonesia menyimpang dari teori ekonomi, dengan asumsi di Indonesia memiliki tingkat upah relatif rendah. Ketika terjadi kenaikan pada biaya tenaga kerja, tenaga kerja Indonesia akan fokus pada pekerjaannya sehingga menyebabkan peningkatan pada produktivitas tenaga kerja dan secara langsung produsen semen akan menambah jumlah tenaga kerja karena akan menambah keuntungan dari tingginya produktivitas tenaga kerja. Dalam kasus ini, produsen semen Indonesia memiliki batas maksimum peningkatan biaya tenaga kerja, yaitu pada saat industri semen Indonesia berada pada kondisi skala

usaha yang constant return to scale (laju pertumbuhan input sama dengan laju

pertumbuhan output) untuk mencegah kerugian. Dapat dijelaskan pada gambar 5.1.

Gambar 5.1. Kurva Produksi output

increasing constant decreasing return return return to scale to scale to scale

input

Keterangan :

„ Increasing return to scale = laju pertumbuhan output lebih besar daripada laju pertumbuhan input

„ Constant return to scale = laju pertumbuhan output lebih sama dengan laju pertumbuhan input

„ Decreasing return to scale = laju pertumbuhan output lebih kecil daripada laju pertumbuhan input

Produktivitas tenaga kerja mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja dengan koefisien sebesar 0.03, artinya jika produktivitas tenaga kerja meningkat sebesar satu persen maka penyerapan tenaga

kerja meningkat sebesar 0.03 persen, asumsi cateris paribus.

Produktivitas tenaga kerja yang tinggi melalui peningkatan jumlah produksi akan memberikan keuntungan bagi industri semen Indonesia sehingga produsen semen Indonesia akan menambah jumlah tenaga kerja selain menambah input lain untuk meningkatkan keuntungan yang lebih tinggi, walaupun industri semen merupakan industri padat modal.

Tingkat efisiensi mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja dengan koefisien sebesar 0.80, artinya jika tingkat efisiensi meningkat sebesar satu persen maka penyerapan tenaga kerja meningkat

90

Ketika industri semen Indonesia memiliki tingkat efisiensi yang tinggi berarti industri tersebut mempunyai nilai ekonomis yang tinggi maka secara tidak langsung akan memberi keuntungan bagi industri tersebut. Keuntungan industri tersebut menyebabkan para produsen semen Indonesia melakukan pengembangan persahaannya sehingga akan menambah jumlah tenaga kerja.

Variabel dummy krisis yang ditandai dengan kenaikan tingkat resiko dan

peningkatan semua biaya input menunjukkan pengaruh positif yang signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja industri semen Indonesia dengan koefisien sebesar 0.03, artinya ketika terjadi krisis maka tingkat resiko semakin besar, biaya produksi semakin meningkat yang tidak diimbangi dengan tingkat produktivitas dan efisiensi yang mengurangi tingkat keuntungan industri tersebut dan akan menyebabkan daya saing menurun sebesar 0.03 persen.

Pada saat terjadi krisis, asumsi industri semen adalah industri padat modal, akan terjadi peningkatan resiko yang besar menyebabkan kerugian yang besar bagi industri ini. Ketika tingkat resiko tinggi, para investor enggan untuk menanamkan modalnya ke Indonesia. Hal ini sangat berdampak buruk kepada industri semen Indonesia karena industri ini sangat membutuhkan modal besar dari para investor dalam berproduksi, tetapi karena tingkat resiko tinggi maka tidak ada investasi yang masuk ke industri tersebut untuk menambah modal. Untuk mengurangi kerugian yang besar, produsen semen Indonesia akan mempertahankan jumlah produksinya melalui penambahan jumlah tenaga kerja karena upah tenaga kerja sangat rendah. Ketika terjadi krisis, tingkat pengangguran sangat tinggi sehingga setiap orang ingin mendapatkan pekerjaan

walaupun dibayar dengan upah yang sangat rendah. Peningkatan jumlah tenaga

kerja pada saat krisis dan pasca krisis dapat dilihat diperoleh dari Asosiasi Semen

Indonesia memperlihatkan bahwa pada Lampiran 5 pada variabel TK atau tenaga kerja.

Dokumen terkait