BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.3.1. Pengaruh Investment Opportunity Set Berdasarka
Book Value of Asset)(MVABVA) terhadap Return Saham
Dari hasil pengujian pada Tabel 5.6 diperoleh nilai t hitung sebesar -3.240
dengan signifikansi sebesar 0.001 dengan nilai koefisien -0.107. Berdasarkan hasil uji
t tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel Market to Book Value of Asset
(MVABVA) berpengaruh negatif signifikan terhadap return saham perusahaan. Dari
hasil nilai koefisien variabel Market to Book Value of Asset sebesar -0.107
menunjukkan bahwa hubungan antara variabel Market to Book Value of Asset dengan
return saham adalah negatif, artinya setiap kenaikan variabel Market to Book Value of
Asset satu satuan akan diikuti oleh penurunan return saham sebesar 0.107.
Market to Book Value of Asset berpengaruh negatif terhadap return saham.
Hal ini dapat dijelaskan melalui hubungan bahwa semakin rendah market to book
value of asset maka semakin rendah nilai perusahaan. Gaver dan Gaver (1993) dalam
Norpratiwi (2007) juga menemukan bahwa semakin rendah nilai rasio nilai pasar
terhadap nilai buku, maka akan semakin rendah pula nilai IOS. Kallapur dan
Trombley (2001) dalam Evana (2009) menyatakan pula bahwa rasio nilai buku aktiva
terhadap nilai pasar mengarah pada investasi realisasinya. Di mana rasio ini
mencerminkan seberapa besar return yang diterima oleh pemegang saham. Market to
sebagai proksi pertumbuhan memiliki korelasi yang negatif serta signifikan terhadap
return saham. Jika rasio MVABVA rendah maka semakin tinggi nilai return saham
yang akan dihasilkan perusahaan. Market to book value of asset (MVABVA)
berpengaruh negatif disebabkan karena data sampel yang memiliki nilai market to
book value of asset (MVABVA) yang rendah. Hal ini dikarenakan beberapa
perusahaan sampel belum memanfaatkan aset yang dimiliki untuk berinvestasi
sehingga menimbulkan adanya penyimpangan pada hasil penelitian. Faktor lain yang
menjadi dasar diperolehnya hasil penelitian yang berbeda dengan penelitian
sebelumnya adalah kondisi perekonomian setiap tahun yang berubah-ubah. Hasil
penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian Norpratiwi (2007) dan Barus (2008)
yang menyatakan bahwa Market to book value of asset berpengaruh positif terhadap
return saham.
5.3.2. Pengaruh Investment Opportunity Set Berdasarkan Harga (Firm Value to
Book Value of Property, Plant and Equipment) (VPPE) terhadap Return Saham
Dari hasil pengujian pada Tabel 5.6 diperoleh nilai t hitung sebesar 2.979
dengan signifikansi sebesar 0.003 dengan nilai koefisien 0.034. Berdasarkan hasil uji
t tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel firm value to book value of property,
plant and equipment (VPPE) berpengaruh signifikan terhadap return saham perusahaan.
Dari hasil nilai koefisien variabel firm value to book value of property, plant and
equipment (VPPE) sebesar 0.034 menunjukkan bahwa hubungan antara variabel firm
value to book value of property, plant and equipment (VPPE) dengan return saham
plant and equipment (VPPE) satu satuan akan diikuti oleh kenaikan return saham
sebesar 0.034.
Firm value to book value of property, plant and equipment (VPPE)
menunjukkan adanya investasi pada aktiva tetap yang produktif sebagai asset in
place. Semakin besar perusahaan memanfaatkan investasinya mengakibatkan
kenaikan harga saham yang akhirnya meningkatkan return yang diterima pemegang
saham. Chen et.al. (2000) dalam Muhardi (2008) menunjukkan bahwa perusahaan
dengan set kesempatan investasi yang tinggi memiliki respon positif yang signifikan
terhadap harga saham. Hasil penelitian ini tidak mendukung dengan hasil penelitian
Barus (2008) yang menyatakan bahwa variabel firm value to book value of property,
plant and equipment (VPPE) tidak berpengaruh terhadap return saham. Sedangkan
dalam penelitian ini firm value to book value of property, plant and equipment
(VPPE) berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham.
5.3.3. Pengaruh Investment Opportunity Set Berdasarkan Varian (Varriance of
Total Return)(VARRET) terhadap Return Saham
Dari hasil pengujian pada Tabel 5.6 diperoleh nilai t hitung sebesar 11.351
dengan signifikansi sebesar 0.000 dengan nilai koefisien 0.755. Berdasarkan hasil uji
t tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel Varriance of Total Return berpengaruh
signifikan terhadap return saham perusahaan. Dari hasil nilai koefisien variabel
Varriance of Total Return sebesar 0.755 menunjukkan bahwa hubungan antara
kenaikan variabel Varriance of Total Return satu satuan akan diikuti oleh kenaikan
return saham sebesar 0.755.
Varriance of Total Return (VARRET) merupakan variasi return yang
diperoleh investor. Semakin besar varians return, semakin besar penyebaran nilai
return dan semakin besar pula ketidakpastian atau risiko dari suatu investasi.
Semakin tinggi nilai return maka semakin tinggi investasi yang dilakukan. Semakin
banyak investasi yang dilakukan perusahaan maka semakin tinggi minat investor
melakukan investasi sehingga return saham yang diterima juga ikut meningkat.
5.3.4. Pengaruh Profitabilitas (Return On Equity) (ROE) terhadap Return
Saham
Dari hasil pengujian pada Tabel 5.6, diperoleh nilai t hitung sebesar 1.958
dengan signifikansi sebesar 0.050 dengan nilai koefisien 0.258. Berdasarkan hasil uji
t tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel Return On Equity berpengaruh signifikan terhadap return saham perusahaan. Dari hasil nilai koefisien variabel Return On
Equity sebesar 0.258 menunjukkan bahwa hubungan antara variabel Return On
Equity dengan return saham adalah positif, artinya setiap kenaikan variabel Return
On Equity satu satuan akan diikuti oleh kenaikan return saham sebesar 0.258.
Return On Equity merupakan indikator penting untuk diperhatikan investor
untuk melihat sejauhmana investasi yang akan dilakukannya di suatu perusahaan
mampu memberikan return yang sesuai dengan tingkat yang disyaratkannya. Jadi
semakin tinggi ROE suatu perusahaan akan semakin menarik minat investor untuk
return yang akan diterimanya juga semakin besar. Tingginya minat investor untuk
berinvestasi di perusahaan dengan ROE yang tinggi pada gilirannya akan
menyebabkan harga saham perusahaan tersebut cenderung bergerak naik. Hasil
Penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Hidayat (2009) menunjukkan bahwa
return on equity berpengaruh terhadap return saham.
5.4. Hasil Pengujian Asumsi Klasik Model Kedua
Model regresi yang baik dan layak diuji adalah model regresi yang bebas dari
masalah asumsi klasik. Untuk menghasilkan suatu model regresi yang baik, analisis
regresi harus melakukan pengujian asumsi klasik dan apabila terjadi penyimpangan
dalam pengujian asumsi klasik perlu dilakukan perbaikan terlebih dahulu.