HASIL PENELITIAN
5.5 Pengaruh Karakteristik Responden terhadap Nilai %FEV 1 dan
%FVC Responden di PT X
Status faal paru responden ditentukan melalui nilai %FEV1 dan %FVC.
Nilai %FEV1 mengambarkan ada tidaknya obstruksi saluran pernapasan
sedangkan nilai %FVC menggambarkan ada tidaknya restriksi. Analisis menggunakan regresi linier digunakan untuk mengetahui pengaruh yang paling dominan dari karakteristik responden terhadap nilai %FEV1 dan %FVC pada
kelompok terpapar dan tidak terpapar debu batubara di PT X. Selain itu juga dihasilkan model yang dapat memprediksi nilai %FEV1 dan %FVC jika nilai
variabel bebas telah diketahui. Hasil analisis regresi dapat dilihat pada tabel 5.14 berikut ini:
Tabel 5.14 Pengaruh Karakteristik Responden terhadap Nilai %FEV1 dan %FVC
pada Kelompok Terpapar dan Tidak Terpapar Debu Batubara di PT X, Tahun 2015
Nilai Faal Paru
Karakteristik Responden
NilaiKoefisien Beta Terstandard Terpapar Tidak Terpapar
%FEV1 Usia -0,147 -0,515 Masa kerja -0,004 0,258 IMT -0,127 -0,392 Dosis rokok -0,522 -0,027 Kebiasaan Olahraga -0,368 0,094 Intercept 100,078 130,472 %FVC Usia 0,001 -0,366 Masa kerja 0,006 0,595 IMT 0,429 0,071 Dosis rokok 0,015 0,167 Kebiasaan Olahraga -0,779 -0,509 intercept 81,100 122,232
Berdasarkan tabel 5.14 terlihat faktor yang paling dominan mempengaruhi nilai %FEV1 pada kelompok terpapar adalah dosis rokok, dengan nilai
koefisiennya -0,522. Sedangkan pada kelompok tidak terpapar nilai %FEV1 lebih
dominan dipengaruhi oleh usia, dengan nilai koefisien -0,515.
Model dari hasil analisis regresi linier yang dapat digunakan untuk memprediksi nilai %FEV1 pada kelompok terpapar dan tidak terpapar debu
batubara di PT X adalah sebagai berikut:
a) Model regresi nilai %FEV1 kelompok terpapar debu batubara di PT X
Y = β0 –β1X1 –β2X2 –β3X3 –β4X4 –β5X5
= 100,078 - 0,147(usia) - 0,004(masa kerja) - 0,127 (IMT) - 0,522(dosis rokok) - 0,368(kebiasaan olahraga)
Y = β0 – β1X1 + β2X2 – β3X3 – β4X4 + β5X5
= 130,472 - 0,515(usia) + 0,258(masa kerja) - 0,392(IMT) - 0,027 (dosis rokok) + 0,094 (kebiasaan olahraga)
Keterangan:
Y = nilai % FEV1 (variabel terikat)
β0 = Intercept ; βi = koefisien regresi (i = 1, 2, 3, 4, 5)
Xi = variabel bebas
Berdasarkan tabel 5.14 juga dapat terlihat variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap nilai %FVC responden pada kelompok terpapar adalah kebiasaan olahraga dengan nilai koefisien regresi sebesar -0,779. Sedangkan pada kelompok tidak terpapar yang paling dominan berpengaruh adalah masa kerja dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,595.
Model dari hasil analisis regresi linier yang dapat digunakan untuk memprediksi nilai %FVC pada kelompok terpapar dan tidak terpapar debu batubara di PT X adalah sebagai berikut:
a) Model regresi nilai %FVC kelompok terpapar debu batubara di PT X Y = β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 –β5X5
= 81,800 + 0,001(usia) + 0,006(masa kerja) + 0,429 (IMT) + 0,015(dosis rokok) - 0,779 (kebiasaan olahraga)
b) Model regresi nilai %FVC kelompok tidak terpapar debu batubara di PT X Y = β0 –β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 - β5X5
= 122,232 - 0,366(usia) + 0,595(masa kerja) + 0,071 (IMT) + 0,167(dosis rokok) - 0,509(kebiasaan olahraga)
Keterangan:
Y = nilai % FEV1 (variabel terikat)
β0 = Intercept ; βi = koefisien regresi (i = 1, 2, 3, 4, 5)
BAB VI PEMBAHASAN
Hasil pengukuran faal paru menggunakan spirometri oleh Balai UPTK3 menunjukkan terdapat 3 orang (27,3%) pada kelompok terpapar debu batubara yang mengalami gangguan faal paru. Dua orang diantaranya mengalami restriksi ringan dan satu orang mengalami obstruksi ringan. Pada responden yang tidak terpapar debu batubara, terdapat satu orang (9,1%) yang mengalami obstruksi ringan. Risiko relatif yang didapatkan dari prevalensi gangguan faal paru pada kedua kelompok tersebut adalah 3, artinya responden pada kelompok yang terpapar debu batubara tiga kali lebih berisko terkena gangguan faal paru dibandingkan responden pada kelompok yang tidak terpapar. Namun, dari fakta tersebut belum dapat disimpulkan bahwa risiko gangguan faal paru yang dialami oleh responden pada kelompok terpapar tersebut disebabkan oleh debu batubara mengingat kadar debu batubara rata-rata yang terukur di bagian boiler hanya 0,4174 mg/m3.
Nilai ambang batas debu batubara berdasarkan standar internasional adalah 2 mg/m3 sehingga kadar debu batubara di bagian boiler PT X termasuk masih di bawah NAB. Debu batubara termasuk dalam kategori debu yang berpotensi fibrogenik rendah dimana hanya paparan dalam kadar tinggi yang mempunyai potensi tinggi menimbulkan gangguan faal paru. Menurut Suyono (1995), hanya jika terdapat penumpukan debu batubara dalam jumlah banyak, yaitu sekurang-kurangnya 50 gram/paru, maka reaksi jaringan derajat ringan baru
dapat mengakibatkan gangguan fungsi paru. Teori tersebut sejalan dengan hasil penelitian Puspita (2011) bahwa tidak terdapat pengaruh paparan debu batubara terhadap gangguan faal paru pada pekerja kontrak di PT PJB Unit Pembangkit Paiton yang kadar debu batubaranya di bawah NAB (p=0,558).
Status faal paru responden jika dilihat berdasarkan nilai rata-rata %FEV1
dan %FVC, hanya tampak sedikit perbedaan antara kelompok terpapar dan tidak terpapar dimana nilai rata-rata %FEV1 dan %FVC kelompok tidak terpapar
(%FEV1= 85,255 ± 7,1315 dan %FVC= 104,473 ± 12,0325) sedikit lebih tinggi
dibandingkan pada kelompok terpapar (%FEV1= 84,709 ± 6,2507 dan %FVC=
100,936 ± 20,1219). Kondisi ini mengindikasi bahwa kemungkinan efek paparan debu batubara di bagian boiler PT X terhadap faal paru kecil. Terdapat beberapa faktor lain yang perlu dipertimbangkan sebagai faktor yang mempengaruhi kondisi faal paru responden, misalnya usia, status gizi, kebiasaan merokok, kebiasaan olahraga, dan masa kerja.
Selain intensitas atau kadar paparan, adanya gangguan faal paru juga tergantung dari masa kerja yang menunjukkan lamanya seseorang terpapar debu batubara tersebut. Ditinjau dari masa kerja, responden pada kelompok terpapar masa kerjanya 8,73 ± 1,85 tahun. Masa kerja responden yang rata-rata < 10 tahun ini membuat sulit untuk melihat efek penyakit akibat kerja karena umumnya masa laten penyakit akibat kerja sangat lama, misalnya untuk penyakit pneumokoniosis dan kanker akibat kerja biasanya memerlukan waktu lebih dari 10 tahun untuk dapat memperlihatkan gejala atau tanda (Harrianto,2010). Kadar paparan debu
batubara di bagian boiler PT X juga terbilang cukup kecil, sehingga potensi untuk menimbulkan efek restriktif paru dalam waktu kurang dari 10 tahun kecil.
Hasil analisis regresi masa kerja terhadap nilai %FEV1 dan %FVC
responden pada kelompok terpapar menunjukkan koefisien regresi (β) sebesar 0,006 untuk %FVC dan β = -0,004 untuk %FEV1. Hasil tersebut mengindikasi
bahwa masa kerja yang menunjukkan lama paparan debu batubara hanya berpengaruh sedikit terhadap kondisi faal paru responden. Pada responden kelompok tidak terpapar yang notabene tidak mempunyai faktor risiko karena paparan debu batubara, nilai koefisien regresi untuk masa kerja mempunyai kecenderungan poistif, yaitu β = 0,258 untuk %FEV1 dan β = 0,595 untuk %FVC.
Artinya, semakin meningkat masa kerja justru ada kecenderungan nilai %FEV1
dan %FVC meningkat sehingga masa kerja pada responden yang tidak terpapar debu batubara tidak mempunyai pengaruh negatif terhadap status faal paru respondennya.
Faktor yang mempunyai peluang besar untuk mempengaruhi kandisi faal paru adalah kebiasaan merokok. Merokok seringkali menjadi penyebab utama beberapa penyakit obstruksi kronis (bronkitis dan emfisema) pada pekerja karena konsentrasi asap rokok yang dihirup perokok berlipat kali lebih banyak dibandingkan polutan yang ada di lingkungan kerja. Menurut West (2010), seseorang yang merokok 35 batang/hari mempunyai risiko 40 kali lebih besar untuk terkena karsinoma bronkial. Selain itu, satu batang rokok sudah menunjukkan adanya peningkatan resistensi jalan napas yang berarti meningkatkan risiko bronkitis kronis dan emfisema. Hasil penelitian lain
menyebutkan perokok usia 30 – 40 tahun dengan dosis rokok 30 pack-tahun berisiko bronkitis (Ryu dkk, 2001). Dosis rokok berbeda-beda tersebut menunjukkan bahwa pengaruh rokok terhadap faal paru juga tergantung kerentanan individu. Berdasarkan fakta tersebut, ada kemungkinan gangguan faal paru yang dialami oleh responden di PT X adalah lebih dominan karena pengaruh paparan rokok mengingat 68,2% responden merupakan perokok.
Responden pada kelompok terpapar yang mengalami gangguan berupa obstruksi ringan adalah perokok dengan dosis 264 batang-tahun sehingga sangat mungkin obstruksi ringan yang dialami lebih karena pengaruh rokok dibandingkan efek paparan debu batubara. Perkiraan ini juga didukung oleh hasil uji regresi linier yang menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan mempengaruhi nilai %FEV1 pada responden kelompok terpapar adalah dosis
rokok, dengan β = -0,522 yang berarti setiap peningkatan satu satuan dosis rokok maka nilai %FEV1 responden akan menurun sebesar 0,522. Dosis rokok juga
mempunyai pengaruh negatif terhadap nilai %FEV1 responden kelompok tidak
terpapar, yaitu β = -0,027. Nilai koefisien regresi tersebut lebih kecil dibandingkan pada kelompok terpapar karena rata-rata dosis rokok responden kelompok tidak terpapar juga lebih kecil. Merokok dapat menyebabkan hipertrofi sel mukosa dan meningkatkan sekresi mukus sehingga dapat mengakibatkan obstruksi yang ditandai dengan penurunan %FEV1. Oleh karena itu, tindakan yang
dapat dilakukan untuk tidak memperburuk risiko obstruksi pada pekerja yang terpapar debu batubara di PT X adalah menyarakan pekerja di bagian boiler yang merokok untuk berhenti merokok.
Seorang responden pada kelompok terpapar yang mengalami restriksi ringan adalah perokok aktif dengan dosis rokok 252 batang-tahun. Hal tersebut juga dapat memberikan dugaan bahwa restriksi paru yang dialami juga lebih dominan karena pengaruh rokok. Namun, hasil uji regresi pada kelompok terpapar justru menunjukkan β = 0,015 untuk %FVC, artinya semakin meningkat dosis rokok maka nilai %FVC responden makin meningkat. Begitu pula hasil regresi pada kelompok tidak terpapar dimana β = 0,167 untuk %FVC. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian kasus kontrol oleh Baumgartner dkk (2000) bahwa riwayat merokok beruhubungan dengan peningkatan risiko penyakit fibrosis paru idiopatik dengan OR sebesar 1,6. Hal ini bisa terjadi karena kapasitas vital paru manusia juga dipengaruhi oleh ukuran tubuh sehingga kemungkinan kapasitas vital paru responden pada kelompok terpapar relatif besar. Penelitian oleh Gold (1996) juga mengemukakan tidak terdapat hubungan dosis-respon antara dosis rokok dengan nilai FVC, nilai FVC perokok lebih besar daripada bukan perokok yang diduga ukuran paru lebih besar pada responden yang perokok.
Status gizi responden baik pada kelompok terpapar maupun kelompok tidak terpapar didominasi oleh status gizi lebih (obesitas), yaitu 72,2% pada kelompok terpapar dan 54,4% pada kelompok tidak terpapar. Rata-rata nilai IMT pada kelompok terpapar 27,069 ± 5,396 kg/m2 sedangkan pada kelompok tidak terpapar 24,007 ± 2,956 kg/m2. Berdasarkan nilai rata-rata tersebut dapat terlihat
bahwa status gizi kelompok tidak terpapar lebih banyak yang normal dibandingkan pada kelompok terpapar. Perbedaan ini dapat terjadi kemungkinan
karena responden pada kelompok tidak terpapar lebih banyak yang memiliki kebiasaan berolahraga secara rutin. Kebiasaan olahraga secara rutin dapat meningkatkan metabolisme tubuh sehingga mengurangi risiko obesitas (Karim, 2006). Selain itu kondisi obesitas pada responden kelompok terpapar mungkin berhubungan dengan kebiasaan merokok responden dalam jumlah banyak (> 10 batang/hari). Merokok diguga memicu akumulasi lemak intra abdomen lebih besar dibandingkan pada orang yang tidak merokok atau perokok ringan sehingga perokok sedang hingga perokok berat mempunyai risiko untuk obesitas lebih tinggi (Chiolero dkk, 2008).
Status gizi mempengarhi faal paru seseorang. Obesitas dapat mempengaruhi faal paru karena adanya tambahan jaringan adiposa pada dinding dada dan rongga perut yang menekan rongga dada, rongga abdomen dan paru. Akibat beban tambahan tersebut daya complience paru menurun, otot pernapasan harus memompa lebih kuat untuk menghasilkan tekanan negatif hingga memungkinkan udara masuk saat inspirasi sehingga kecepatan otot berkurang. Hal tersebut menyebabkan menurunnya nilai FEV1 dan menurunnya kapasitas
udara paru (Costa dkk, 2008). Hasil uji regresi terhadap IMT pada penelitian ini menunjukkan β = -0,127 untuk %FEV1 dan β = 0,429 untuk %FVC pada
kelompok terpapar. Koefisien regresi tersebut menunjukkan terdapat pengaruh IMT terhadap nilai %FEV1 dimana jika IMT meningkat maka nilai %FEV1 akan
menurun. Namun, berbeda dengan teori di awal, hasil penelitian ini justru menunjukkan peningkatan nilai %FVC jika nilai IMT meningkat. Kondisi tersebut bisa saja terjadi karena pada dasarnya kapasitas vital individu dipengaruhi oleh
multi faktor. Koefisien regresi pada kelompok tidak terpapar menunjukkan kecenderungan yang sama, yaitu β = -0,392 untuk %FEV1 dan β = 0,071 untuk
%FVC.
Usia merupakan faktor yang secara alamiah mempengaruhi kondisi faal paru seseorang. Sistem pernapasan akan berubah secara anatomi dan imunologi sesuai bertambahnya usia. Daya pengembangan paru, kekuatan otot pernapasan, kapasitas vital, FEV1, FVC, dan cairan antioksidan epiteal akan menurun sesuai
peningkatan usia (Sharma dan Goodwin, 2006). Rata-rata usia responden pada penelitian ini homogen, yaitu 34,27 ± 5,985 tahun pada kelompok terpapar dan 33,36 ± 4,884 tahun pada kelompok tidak terpapar. Usia rata-rata tersebut berada pada titik dimana kapasitas paru sudah optimum, tidak dapat berkembang lagi bahkan sudah dapat mengalami penurunan setelah mencapai usia 30 tahun (Guyton, 1997). Hasil regresi linier pengaruh usia menunjukkan nilai β = - 0,147 untuk %FEV1 dan β = 0,001 untuk %FVC pada kelompok terpapar. Nilai
koefisien regresi pada kelompok tidak terpapar lebih besar dan merupakan yang paling dominan mempengaruhi %FEV1-nya, yaitu β = -0,515 untuk %FEV1 dan
β= -0,366 untuk %FVC. Hasil ini sejalan dengan penelitian Mengkidi (2006) yang menyatakan terdapat hubungan yang signifikan antara peningkatan usia dengan gangguan faal paru.
Kebiasaan olahraga dapat meningkatkan kapasitas vital paru karena aliran darah akan meningkat dengan olahraga yang rutin. Akibat peningkatan aliran darah yang melalui paru, kapiler paru mendapatkan perfusi maksimum sehingga oksigen dapat berdifusi ke dalam kapiler paru dengan volume yang lebih besar.
Disisi lain, dengan berolah raga daya tahan tubuh lebih terjaga sehingga tidak rentan terhadap penyakit infeksi saluran pernapasan serta menguatkan otot-otot pernapasan (Karim, 2006). Hasil analisis regresi linier pada penelitian ini menunjukkan kebiasaan olahraga merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi nilai %FVC pada kelompok tidak terpapar, yaitu β= -0,779 yang berarti tidak berolahraga mengakibatkan penurunan nilai %FVC sebesar 0,779. Pengaruh olahraga terhadap %FEV1 pada kelompok terpapar juga menunjukkan kecenderungan yang sama, yaitu β= -0,368. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Yulaekah (2007) bahwa olahraga merupakan faktor protektif terhadap gangguan faal paru (OR=0,747).
Salah seorang responden pada kelompok terpapar yang mengalami restriksi paru berusia 44 tahun dengan status gizi kurang (underweight), mempunyai kebiasaan merokok dengan dosis cukup tinggi, dan tidak punya kebiasaan berolahraga. Hal itu memungkinkan gangguan faal paru yang dialami merupakan pengaruh kombinasi dari karakteristik individu yang rentan tersebut. Kondisi status gizi yang kurang bisa merupakan indikasi adanya penyakit kronis, misalnya penyakit jantung. Darah mempunyai peranan penting dalam membawa sulpai nutrisi maupun oksigen. Jika aliran darah terganggu akibat adanya kelainan jantung maka kerja normal sistem organ yang lain juga turut terganggu. Adanya penyakit kronis umumnya melemahkan kerja organ tubuh termasuk paru-paru dan otot-otot pernapasan. Menurut West (2011), penyakit gagal jantung kiri termasuk penyakit yang dapat mempengaruhi persyarafat otot napas sehingga menurunkan kapasitas paru.
Pada individu yang rentan, inhalasi debu debu dalam kadar rendah dapat menimbulkan dampak yang buruk pada saluran pernapasan. Jumlah debu yang terinhalasi selain tergantung pada kadar paparan juga dapat dipengaruhi oleh kebiasaan menggunakan alat pelindung pernapasan. Penggunaan alat pelindung pernapasan dapat meminimalkan jumlah partikel debu yang terinhalasi. Kemungkinan responden pada kelompok terpapar yang mengalami gangguan faal paru mempunyai pertahanan jaringan paru yang lemah terhadap debu toksik. Berdasarkan hasil kuisioner dan didukung oleh pengamatan, responden yang mengalami gangguan faal paru tersebut sering tidak menggunakan alat pelindung pernapasan ketika bekerja di lapangan. Menurut penelitian Mengkidi (2006), penggunaan APD merupakan faktor protektif terhadap kejadian gangguan faal paru (RP = 0,572; 95% CI = 0,390 – 0,838). Hasil penelitian serupa oleh Raharjo (2013) juga menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pemakaian masker dengan kejadian gangguan faal paru pada pekerja di pabrik peleburan besi.
Faktor yang mempengaruhi efektifitas penggunaan alat pelindung pernapasan selain intensitas penggunaannya adalah kesesuaian antara jenis partikel paparan dan jenis alat pelindung pernapasannya, cara pemakaian, dan kelayakan alat pelindung pernapasan tersebut (Harrington dan Gill, 2005). PT X perlu lebih memperketat pengawasan penggunaan respirator terhadap pekerja di bagian boiler karena meskipun kadar paparan debu batubara di sana masih termasuk di bawah NAB tidak menutup kemungkinan pekerjanya untuk dapat mengalami gangguan faal paru.
Pekerja bagian boiler di PT X yang mengalami gangguan obstruksi maupun restriksi sebaiknya dipindahkan ke bagian lain yang tidak terdapat paparan debu karena adanya paparan debu batubara dapat memperburuk progesifitas penyakitnya (Suyono, 1995). Penilaian secara pasti apakah gangguan tersebut merupakan penyakit paru akibat kerja dapat diketahui melaui pemeriksaan radiologi atau CT scan untuk melihat ada tidaknya debu batubara di dalam jaringan paru penderita.
Uji kapasitas faal paru menggunakan spirometri mudah dilakukan dan seringkali informatif untuk dapat mendeteksi adannya gangguan faal paru (West, 2011). Uji ini sebaiknya dilakukan berkala setahun sekali untuk menilai hubungan paparan-efek dan membantu memberikan penilaian kelaikan tindakan pengendalian debu di bagian boiler PT X. Jika dari hasil uji kapasitas paru tersebut menunjukkan penurunan nilai %FEV1 dan %FVC pekerja bagian boiler yang bermakna, maka patut dicurigai bahwa paparan debu batubara di boiler PT X menimbulkan pengaruh terhadap faal paru pekerja secara signifikan.
Kelemahan dalam penelitian ini adalah pemeriksaan baru dilakukan satu kali dan jumlah populasi yang terbatas membuat data yang ada juga terbatas sehingga hasil uji statistik mungkin kurang interprtatif. Selain itu, jumlah populasi yang terlalu sedikit membuat faktor-faktor karakteristik individu yang dapat mempengaruhi kapasitas faal paru tidak dapat dikendalikan. Oleh karena itu, sulit untuk melihat efek dari paparan debu batubara saja terhadap kondisi faal paru pekerja di bagian boiler akibat adanya faktor-faktor lain yang tidak dapat dikendalikan tersebut pada responden penelitian.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN