BAB IV HASIL DAN ANALISIS
2.3 Hubungan Antar Variabel dan Beda Penelitian
2.3.2 Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap Profit Distribution Management
Kinerja adalah cara, perilaku, dan kemampuan kerja (Poerwadarminta, 2003). Kinerja keuangan merupakan aspek yang sangat diperhatikan oleh perusahaan dengan mengadakan pengawasan terhadap suatu hasil laporan keuangan (Wibisono dan Rodhiyah, 2012). Penelitian sebelumnya menguji adanya hubungan tidak langsung antara kinerja dan alokasi laba. Dengan kata lain, para peneliti berpendapat bahwa mekanisme tata kelola perusahaan mempengaruhi kinerja perusahaan yang memiliki efek pada distribusi laba terutama dalam bentuk dividen. Archer dan Abdel Karim (2009) menyatakan
bahwa bank syariah menjaga tabungan dari laba yang dihasilkan untuk kelancaran pengembalian atau menutupi kerugian periodik untuk bersaing dengan suku bunga yang ditawarkan oleh bank-bank non Islam. Hal ini dipicu oleh hubungan bagi hasil dengan deposan. Menurut Lahrech (2014), bank syariah mampu mengelola tingkat laba yang dialokasikan untuk IAHs berdasarkan keadaan pasar.
Perusahaan dapat diukur tingkat kinerjanya dengan menggunakan rasio- rasio. Rasio ini diukur menggunakan data yang diambil dalam laporan keuangan tahunan perusahaan yang berangkutan. Selain itu, rasio-rasio juga dapat digunakan untuk memantau perkembangan dari keuangan perusahaan. Salah satu model yang digunakan dalam mengukur kinerja perusahaan khususnya perbankan syariah adalah rasio keuangan model CAMEL. Dalam penelitian ini menggunakan rasio keuangan terdiri dari rasio CAR, NPF, FDR, CI, NIM, LA/TA, dan Deposits.
Menurut Lahrech (2014) kinerja perbankan diperkirakan memiliki korelasi yang kuat dengan bagi hasil. Sebenarnya dalam kasus kinerja bank syariah tidak ada ruang untuk memanipulasi laba. Namun, dalam kasus kinerja bank yang rendah, bank syariah cenderung melakukan perkiraan bagi hasil untuk mempertahankan pangsa keuntungan mereka sebagai mudharib. Dalam kondisi ekonomi yang buruk, bank syariah cenderung berkinerja buruk dan menimbulkan kerugian bagi para deposan. Hal ini sesuai dengan teori stakeholder yang tujuan utamanya untuk membantu manajemen perusahaan dalam meningkatkan penciptaan nilai sebagai dampak dari aktivitas-aktivitas
yang dilakukan dan meminimalkan kerugian yang mungkin akan muncul bagi stekholder.
2.3.2.1 Pengaruh Capital Adequacy Ratio terhadap Profit Distribution Management
Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kecukupan modal (Kartika, 2014). Capital Adequacy menggambarkan kemampuan bank dalam mempertahankan modal yang mencukupi untuk menutup risiko kerugian yang mungkin timbul dari penanaman dana dalam aset produktif yang mengandung risiko, serta untuk pembiayaan dalam aset tetap dan investasi (Mulyo, 2012). Semakin besar rasio Capital Adequacy (CAR), maka kesehatan bank dikatakan membaik. Hal ini dikarenakan besar modal yang dimiliki bank mampu menutupi risiko kerugian yang timbul dari penanaman dana dalam aset produktif yang mengandung risiko, serta dapat digunakan untuk pembiayaan penanaman dalam aset tetap dan investasi. Berdasarkan ketentuan Bank for International Settlements, bank yang dinyatakan sebagai bank sehat harus memiliki capital adequacy ratio paling sedikit sebesar 8% (Muhammad, 2005: 249).
Menururt Mulyo (2012) Capital adequacy ratio yang tinggi membuat bank mampu meredam risiko-risiko yang muncul, sehingga manajer bank lebih berani melakukan profit distribution management yang mengacu pada suku bunga dikarenakan bank sedang dalam kondisi yang aman. Jika dikaitkan dengan teori stakeholder, bank syariah akan meningkatkan profit distribution
management yang mengacu pada suku bunga untuk memuaskan deposannya.
Menurut penelitian Farook (2012) dan Lachrech (2014) yang menggunakan sampel bank islam dari berbagai Negara menemukan bahwa adanya hubungan positif antara capital adequacy ratio terhadap profit distribution management. Diperkuat dengan peneliti dalam negeri oleh Mulyo (2012), Kartika (2014) dan Permatasari (2014) menggemukakan bahwa adanya hubungan positif antara Capital Adequacy Ratio terhadap profit distribution management. Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2 : Capital Adequacy Ratio (CAR) berbengaruh positif terhadap rasio profit distribution.
2.3.2.2 Pengaruh Non Performing Financing Ratio terhadap Profit Distribution Management
Menurut Kasmir (2011), kualitas aset adalah penilaian jumlah aset atau aktiva yang dimiliki oleh perusahaan perbankan. Aktiva ini dimaksudkan untuk memperoleh penghasilkan yang sesuai dengan fungsinya (Khasanah, 2010).
Buruknya nilai aset akan menjadi sumber masalah utama dalam perbankan.
Menururt Permatasari (2014) salah satu hal yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja bank adalah Non Performing Financing ratio (NPF) atau sering pula disebut pembiayaan bermasalah. Nilai NPF digunakan karena nilai tersebut menjadi indikator dari penyaluran pembiayaan suatu bank syariah, dimana penyaluran pembiayaan merupakan usaha pokok bank dalam
menghasilkan keuntungan (Rodhiyah dan Wibisono.A,2012). Semakin besar nilai atau peningkatan NPF maka memberikan dampak buruk bagi operasional dan kinerja keuangan. Semakin besar distribusi keuangan akan mengeluarkan pembiayaan semakin besar, maka peluang untuk terjadinya pembiayaan bermasalah juga semakin meningkat.
Menurut hasil penelitian terdahulu yang dilakukan Mawardi (2005) adanya hubungan negatif dan signifikan antara non performing financing ratio terhadap profit distribution managemenrat. Dan penelitian Gozali (2006) menyatakan adanya hubungan negatif dan signifikan antara non performing financing ratio terhadap profit distribution managemenrat. Semakin besar nilai atau peningkatan NPF maka memberikan dampak buruk bagi operasional dan kinerja keuangan. Hal tersebut terjadi dikarenakan masing-masing bank syariah memiliki aktifitas financing yang baik karena adanya kecukupan modal yang aman, mengurangi pembiayaan bermasalah. Sehingga dapat mendorong kenaikan laba dan meningkatkan profit distribution. Hal ini sesuai dengan teori stakeholder yang bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan stakholdernya.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H3 : Non Performing Financing Ratio (NPF) berpengaruh negatif terhadap profit distribution.
2.3.2.3 Pengaruh Financing to Deposito Ratio terhadap Profit Distribution Management
Effectiveness of Depositors Funds merupakan cerminan dari fungsi intermediasi bank, yaitu dalam menyalurkan dana pihak ketiga ke pembiayaan (Mulyo, 2012). Effectiveness of Depositors Funds dihitung menggunakan Financing to Deposit Ratio (FDR). Semakin tinggi rasio ini (menurut Bank Indonesia 85%-100%), semakin baik tingkat kesehatan bank, karena pembiayaan yang disalurkan bank lancar, sehingga pendapatan bank semakin meningkat.
Mempertahankan likuiditas yang tinggi akan memperlancar customer relationship tetapi tingkat bagi hasil akan menurun karena banyaknya dana yang menganggur (Kartika, 2014). Dilain pihak likuiditas yang rendah menggambarkan kurang baiknya posisi likuiditas suatu bank. Semakin tinggi rasio FDR menunjukkan semakin baiknya fungsi intermediasi bank yang bersangkutan. Menururt Mulyo (2012) FDR yang tinggi mengindikasikan tingkat pembiayaan yang tinggi dan berdampak pada peningkatan return yang akan dihasilkan dari pembiayaan. Hal tersebut secara otomatis akan menaikkan tingkat bagi hasil. Bila dikaitkan dengan teori stakeholder, maka bank syariah akan meningkatkan profit distribution management (PDM) yang mengacu pada suku bunga. Meningkatnya profit distribution management (PDM) dikarenakan bank akan mempertahankan customer relationship dengan tingkat bagi hasil yang tinggi, maka akan mengurangi resiko displacement fund.
Menururt hasil penelitian terdahulu yang dilakukan Lacher, dkk (2014) yang menggunakan sampel bank islam dari berbagai Negara mengemukakan bahwa adanya hubungan positif antara Financing to Deposit Ratio (FDR) terhadap profit distribution management (PDM). Peneliti dalam negeri yang mengunakan sampel bank syariah di Indonesia yang dilakukan oleh Kartika (2014) mengemukakan bahwa adanya hubungan positif antara Financing to Deposit Ratio (FDR) terhadap profit distribution management (PDM).
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H4: Financing to Deposit Ratio (FDR) berpengaruh positif terhadap profit distribution.
2.3.2.4 Pengaruh Cost to Income Ratio terhadap Profit Distribution Management
Menururt Bank Indonesia (2010) Cost to Income berasal dari beban operasional dibagi pendapatan bunga besih plus fee-based income. Cost to Income Ratio sebagai indikator efisiensi. Cost to Income Ratio (CIR) membandingkan struktur biaya dengan pendapatan suatu bank.
Dalam penelitian Permatasari (2014) kualitas manajemen diukur menggunakan total biaya dibagi dengan total income. Hasbi dan Haruman (2011) berpendapat bahwa kedua rasio beban dapat membantu mengukur kualitas manajemen pada institusi perbankan. Semakin kecilnya biaya maka semakin besar income yang dihasilkan sehingga semakin besar pula profit distribution yang dilakukan bank syariah.
Penelitian Permatasari (2014) menemukan Cost to Income Ratio berpengaruh negatif signifikan terhadap profit distribution. Hal ini dikarenakan semakin kecilnya biaya atau cost maka akan semakin besar laba atau income yang didapatkan. Proporsi income yang besar akan membuat tingkat profit distribution semakin meningkat. Hal ini sesuai dengan teori stakeholder yang bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan stakholdernya. Sama halnya dengan penelitian Lachrech (2014) menemukan bahwa Cost to Income Ratio berpengaruh negatif terhadap profit distribution. Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H5: Cost to Income Ratio (CI) berpengaruh negatif terhadap profit distribution.
2.3.2.5 Pengaruh Non Interest Margin Ratio terhadap Profit Distribution Management
Productive Assets Management menunjukkan kemampuan bank dalam menghasilkan pendapatan dari bunga dengan melihat kinerja bank syariah dalam menyalurkan pembiayaan, mengingat pendapatan operasional bank sangat tergantung dari selisih bunga (spread) dari pembiayaan yang disalurkan (Mulyo,2012). Productive Assets Management (PAM) dapat dihitung menggunakan Net Interest Margin (NIM). Maka semakin tinggi Net Interest Margin, maka semakin baik pengendalian biaya suatu bank.
Menurut Rivai (2011), kegagalan dalam memperhitungkan spread antara bagi hasil dan margin pembiayaan akan berdampak pada kehilangan margin
keuntungan, kehilangan debitur berkualitas lebih baik, kegagalan untuk memperhitungkan kerugian untuk pinjaman non lancar, dan menyebabkan penurunan kualitas aset pembiayaaan. Hal serupa juga didukung oleh penelitian Ezohoa (2011), yang menjadikan Net Interest Margin (NIM) pada bank konvensional sebagai indikator untuk mengukur efisiensi aset bank. Menurut Mulyo (2012) Semakin kecil spread yang diambil bank, menunjukkan bahwa bank semakin efisien dan kompetitif dalam menyalurkan dana. Maka apabila dikaitkan dengan teori stakeholder manajer bank syariah akan memperhitungkan spread antara bagi hasil dan margin pembiayaan dengan sebaik-baiknya agar bank syariah tidak kehilangan margin keuntungan (Kartika, 2014). Margin keuntungan yang meningkat juga akan berdampak pada peningkatan profit distribution management (PDM) seiring dengan meningkatnya Net Interest Margin (NIM).
Menururt hasil penelitian terdahulu yang dilakukan Farook (2012) dan Lachrech (2014) yang menggunakan sampel bank islam dari berbagai Negara mengemukakan bahwa adanya hubungan positif antara Non Interest Margin Ratio (NIM) terhadap profit distribution management (PDM). Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H6 : Net Interest Margin (NIM) berpengaruh positif terhadap profit distribution.
2.3.2.6 Pengaruh Loan Asset Total Asset terhadap Profit Distribution Management
Assets Composition dari sebuah bank Islam, khususnya yang eksposur pembiayaan dengan tingkat bunga tetap, dapat mempengaruhi sejauh mana bank mengelola distribusi laba kepada deposan (Mulyo, 2012). Assets Composition dihitung dengan menggunakan rasio Loan asset to total asset (LATA). rasio Loan asset to total asset bank syariah mengacu pada pembiayaan dengan tingkat tetap (sisi piutang). Pembiayaan jenis ini menggunakan tingkat harga dan keuntungan yang disepakati di awal kontrak. Selama kontrak ini berjalan dan pembayaran diangsur, waktu semakin berjalan. Saat berjalannya waktu, terdapat kemungkinan terjadi perubahan tingkat suku bunga, sehingga bank syariah berhadapan dengan fund gap antara asset returns yang sudah ditetapkan di awal kontrak dengan dana deposan yang digunakan untuk proses pembiayaan non investasi tersebut.
Nasabah sebagai pemilik dana yang tergolong dalam floating segment akan sangat sensitif terhadap perubahan tingkat suku bunga, mereka berharap mendapat return yang tidak kalah menariknya dari bank lain (Kartika, 2014).
Menururt Mulyo (2012) dana nasabah digunakan oleh bank untuk pembiayaan non investasi yang tergolong menggunakan tingkat harga dan keuntungan yang tetap yang telah disepakati di awal kontrak. Hal ini dinamakan profit rate risk.
Besarnya rasio Loan asset to total asset menentukan tingkat dimana bank syariah melakukan profit distribution management (PDM) untuk return mismatch dalam keadaan pasar dimana terdapat perubahan suku bunga (Farook
dkk., 2009). Oleh karena itu, semakin tinggi tingkat rasio loan asset to total asset, semakin tinggi tingkat profit distribution management (PDM). Hasil penelitian Farook dkk (2009) menemukan bahwa rasio loan asset to total asset berhubungan positif dengan tingkat profit distribution management. Sama halnya dengan penelitian Mulyo (2012) dan Kartika (2014) menemukan adanya hubungan positif rasio loan asset to total asset (LA/TA) terhadap profit distribution. hal ini sesuai dengan teori stakeholder yang bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan stakholdernya. Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H7: Loan asset to total asset (LA/TA) berpengaruh positif terhadaap profit distribution.
2.3.2.7 Pengaruh Deposits terhadap Profit Distribution Management
Deposits merupakan variabel yang menggambarkan seberapa besar kebergantungan bank terhadap dana nasabah (Mulyo, 2012). Dana merupakan masalah utama bagi bank sebagai lembaga keuangan, karena dana yang dihimpun dari masyarakat ternyata merupakan dana terbesar yang paling diandalkan oleh bank (Kartika, 2014). Jika dana tidak cukup, bank tidak mampu melakukan fungsinya dengan maksimal atau bahkan menjadi tidak berfungsi sama sekali.
Farook dkk. (2009) juga berpendapat bahwa bank syariah dengan proporsi dana pihak ketiga yang lebih kecil daripada dana pemegang saham cenderung tidak mengelola profit distribution management (PDM) yang
mengacu pada suku bunga. Menururt Mulyo (2012) Bank syariah tersebut kemungkinan lebih menyediakan profit distribution management (PDM) yang bersifat konsisten sesuai dengan asset returns yang diperoleh. Hal tersebut bila dikaitkan dengan teori stakeholder dimana bank akan me-manage deposannya, maka tingkat profit distribution management (PDM) pun meningkat seiring meningkatnya Deposits. Menurut penelitian yang dilakukan Farook (2009), Mulyo (2012) dan Kartika (2014) menemukan bahwa adanya hubungan negatif antara deposits terhadap profit distribution. Tapi Lacher, dkk (2014) adanya hubungan positif antara deposit terhadap profit distribution. Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H8: Deposits berpengaruh positif terhadap profit distribution.