• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian

1. Pengaruh leverage terhadap Tobin’s Q pada perusahaan LQ45

Berdasarkan hasil evaluasi atau pengujian hipotesis yang menguji pengaruh variabel leverage terhadap variabel Tobin’s Q berpengaruh negatif sebesar -0,361 dan signifikan dengan T-statistik 4,897 > T-tabel 1,67 dan P-value 0,00 < alpha 0,05. Hasil penelitian variabel leverage berpengruh negatif dan signifikan terhadap variabel Tobin’s Q pada perusahaan LQ45, sehingga hasil penelitian dapat diterima.

Leverage dalam teori berhubungan negatif dengan nilai perusahaan.

Semakin tinggi leverage maka nilai perusahaan rendah dan semakin rendah leverage maka nilai perusahaan tinggi. Hal tersebut akan membuat investor berhati-hati untuk berinvestasi di perusahaan yang rasio leverage nya tinggi karena semakin tinggi rasio leveragenya semakin tinggi pula resiko investasinya (Weston dan Thomas, 2010). Penggunaan hutang harus hati-hati oleh pihak manajemen, karena semakin besar hutang akan menurunkan nilai perusahaan.

Hasil penelitian leverage berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan dapat kita lihat dari data analisis keuangan rata-rata leverage (DAR dan DER) dan nilai perusahaan. Data analisis keuangan DAR pada perusahaan Pt.

Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) tahun 2014 sebesar 0,362 dan tahun 2015 sebesar 0,456, serta DER pada perusahaan AALI tahun 20014 sebesar 0,362 dan tahun 2015 sebesar 0,456. Leverage pada perusahaan mengalami peningkatan, sedangan dilihat dari data analisis keuangan nilai perusahaan (Tobin’s Q) pada perusahaan

AALI tanun 2014 sebesar 2.322 dan pada tahun 2015 sebesar 1.56 yang berarti nilai perusahaan menurun.

Selain dari data analisis keuangan hasil penelitian ini juga sejalan dengan teori pecking order (Lestari, 2015). Teori pecking order menjelaskan mengapa perusahaan yang mempunyai tingkat keuntungan yang tingggi justru mempunyai tingkatt hutang yang kecil pada suatu perusahaan. Teori pecking order yang menyatakan urutan-urutan pendanaan. Manajer keuangan tidak memperhitungkan tingkat hutang yang optimal dan keutuhan dana ditentukan oleh kebutuhan investasi. Teori ini juga menyatakan bahwa perusahaan akan memilih untuk menerbitkan hutang terlebih dahulu dari pada menerbitkan saham pada saat membutuhkan eksternal perusahaan.

Menurut Devi dan Erawati (2014) menyatakan bahwa utang dapat digunakan dalam meningkatkan nilai perusahaan. Namun, penggunaan utang yang terlalu besar akan mengurangi laba bersih perusahaan, karena akan menimbulkan beban bunga yang besar pula. Tingginya leverage akan melemahkan kemampuan perusahaan dalam membayar dividen, karena mereka harus mempertahankan keuntungan untuk melunasi utang (Kadumi dan Al-Kilanni, 2015)

Penelitian ini menggunakan dua (2) indikator Leverage yaitu rasio DAR dan DER sebagai indikator-indikator. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Sudiyatno, dan Puspitasari (2010) yang menyatakan bahwa DER terhadap Tobin’s Q berpengaruh negatif dan signifikan. Penelitian ini sejalan karena hutang dari beberapa perusahaaan yang terdaftar di LQ45 periode 2012 – 2016 mengalami penurunan dan ekuitas serta aset meningkat yang tidak mempengaruhi nilai

perusahaan tapi, merupakan hal yang penting untuk melihat pengaruh nilai perusahaan.

Debt to Equity Ratio (DER) menunjukan persentase penyediaan dana oleh pemegang saham terhadap pemberi pinjaman. Semakin tinggi rasio, semakin rendah pendanaan perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham. Semakin rendah rasio DER akan semakin baik kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya. Semakin tinggi DER menunjukkan komposisi total hutang (jangka pendek dan jangka panjang) semakin besar dibanding dengan total modal sendiri, sehingga berdampak semakin besar beban perusahaan terhadap pihak luar (kreditur). Meningkatnya beban terhadap kreditur menunjukkan sumber modal perusahaan sangat tergantung dengan pihak luar. Selain itu besarnnya beban hutang yang ditanggung perusahaan dapat mengurangi jumlah laba yang diterima perusahaan.

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan adalah kebijakan hutang, para investor yang rasional akan memandang peningkatan nilai perusahaan berasal dari penggunaan hutang yang tinggi, atau investor memandang hutang sebagai sinyal dari nilai perusahaan. Prinsip perusahaan yaitu setiap perusahaan membutuhkan dana dalam menjalankan operasional perusahaan yang berasal dari sumber internal dan sumber eksternal dalam bentuk hutang.

Kebijakan hutang bisa manfaatkan untuk menciptakan nilai perusahaan yang diinginkan, namun kebijakan hutang juga tergantung dari ukuran perusahaan.

Artinya, perusahaan yang besar relatif lebih mudah untuk akses ke pasar modal

dalam memenuhi sumber dana dari hutang melalui pasar modal dari pada perusahaan kecil.

Perusahaan yang mengandalkan modal atau ekuitas akan sulit melakukan ekspansi bisnis yang membutuhkan modal tambahan. Peranan hutang sangat membantu perusahaan untuk melakukan ekspansi bisnis yang membutuhkan modal tambahan. Jumlah hutang yang melebih tingginya jumlah ekuitas yang dimiliki akan mengakibatkan resiko perusahaan dari sisi likuiditas keuangan juga semakin tinggi. Rasio khusus yang diperlukan untuk melihat kinerja tersebut yaitu Debt to Equity Ratio (DER). DER sering digunakan para analis dan para investor untuk melihat seberapa besar hutang perusahaan jika dibandingkan ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan atau para pemegang saham. Semakin tinggi angka DER maka diasumsika perusahaan memiliki resiko yang semakin tinggi terhadap likuiditas perusahaannya.

DER yang tinggi dimiliki perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan seperti Bank, Perusahaan investasi cenderung memiliki DER yang tinggi, Karena sebagian besar dana yang dikelolanya adalah dana pihak ketiga. Dalam hal ini dana pihak ketiga secara akutansi dianggap sebagai liabilities (hutang). Semakin besar modal pihak ketiga yang mereka kelola, maka kemungkinan untuk mendapat laba usaha juga semakin tinggi.

Deb to Asset Ratio (DAR) adalah sebuah rasio untuk mengukur jumlah aset yang dibiayai oleh hutang. Rasio ini juga sangat penting untuk melihat solvabilitas perusahaan. Solvabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan segala kewajiban jangka panjangnya. DAR perusahaan yang baikmencerminkan

kemampuan perusahaan dalam menggunakan hutang untuk memperbaiki nilai keuangan perusahaan.

Penelitian yang dilakukan Manurung, Siregar, dan Saptono (2016); Dewi, Handayani, dan Nuzula (2016); Tarsali dan Vadodara (2014); Chotimah dan Amanah, (2013) yang menyatakaan bahwa DER berpengaruh positif dan signifikan terhadap Tobin’s Q. Menurut Manurung, Siregar, dan Saptono (2016) DER dan DAR berpengaruh positif dan signifikan secara bersama-sama terhadap Tobin’s Q. Perbedaan penelitian ini mungkin disebabkan oleh berbedanya periode, sampel dan jumlah sampel perusahaan penelitian yang dilakukan yang menjadi objek penelitian.

Dengan demikian penelitian ini mampu membuktikan hipotesis pertama yang dapat ditermia, bahwa mengelola leverage berpengaruh signifikan terhadap Tobin’s Q para perusahaan LQ45.

Dokumen terkait