BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN
E. Pembahasan Hasil Penelitian
2. Pengaruh motivasi kerja guru terhadap kinerja guru
variabel Motivasi Kerja Guru (X2) berpengaruh positif secara parsial terhadap Kinerja Guru. Hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien regresi X2 sebesar 2.436 menyatakan bahwa setiap kenaikan Sertifikasi Guru sebesar 3 persen akan meningkatkan Kinerja Guru sebesar 2.436 persen. Nilai probabilitas yang lebih kecil dari 5% yaitu 0.000 < 0.05 mengindikasikan bahwa Motivasi Kerja Guru berpengaruh positif terhadap Kinerja Guru.
Uno dan Lamatenggo (2016: 77) mengatakan bahwa lingkungan kerja guru memiliki peranan yang begitu penting, karena lingkungan kerja dapat mempengaruhi guru dalam melaksanakan tugas, kondisi dan hasil kerjanya. Sehingga sangat memungkinan bahwa variabel- variabel tersebut dapat mempengaruhi kinerja guru. Guru bekerja dengan kinerja yang baik bukan disebabkan faktor-faktor disekolah, seperti gaji, jaminan kesehatan, dan keselamatan kerja tetapi lebih didorong rasa bangga dapat bekerja di suatu sekolah.
Hal ini terlihat dari indikator dan butir pertanyaan dalam instrument yang diisi oleh guru. Adapun indikator- indikator tersebut adalah:
a. Keinginan untuk berprestasi
Indikator ini menjelaskan bahwa seorang guru memiliki motivasi dalam dirinya untuk berprestasi atau lebih unggul dari guru lainnya. Lebih unggul dalam hal ini adalah
bersifat positif yang berusaha menjalankan tugasnya secara profesional. Sebagaimana pendapat Hikmat (2009: 272) yang mengatakan bahwa salah satu tujuan dari motivasi adalah mempertahankan prestasi kerja dan bersaing secara sportif. Hal ini menunjukkan bahwa guru dalam melakukan suatu pekerjaan boleh lebih unggul dari guru yang lain, tetapi harus bersaing secara sportif dan tidak mengganggu hubungan kerja antar guru.
Dari analisis butir-butir pertanyaan instrumen, terlihat bahwa guru-guru Madrasah Ibtidaiyah se- KKMI Kebayoran Lama melakukan tugas-tugas yang bersifat kompetitif, berusaha melebihi guru-guru yang lain yang dapat membangkitkan motivasi guru lain untuk bekerja secara profesional. Selain itu, peran program pemilihan guru teladan juga berdampak pada keinginan guru untuk berprestasi. Pemilihan guru teladan ini tidak memberikan penghargaan dalam bentuk uang, namun non-keuangan seperti hanya penobatan dan ucapan selamat langsung dari kepala sekolah. Hal ini dilakukan agar memotivasi bawahan bukan dihari itu saja namun akan diingat untuk jangka panjang.
Dalam meningkatkan prestasinya, seorang guru dapat menjadi contoh bagi guru lain dengan mengerjakan tugas tambahan dari kepala sekolah untuk mencapai prestasi yang tinggi. Dimana dalam praktiknya, guru selalu berusaha mengembangkan metode pengajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan.
b. Perasaan mencintai pekerjaan itu sendiri
Indikator ini menjelaskan bahwa pekerjaan yang digeluti oleh guru adalah pekerjaan yang sesuai dengan keahlian atau hobi yang membuatnya menyenangi profesi guru. Sehingga timbul motivasi kerja dalam dirinya.
Indikator ini merupakan motivasi intrinsic yang timbul dan sudah ada dalam diri seseorang.
Dari butir-butir pertanyaan yang ada dalam instrument menunjukkan bahwa guru-guru Madrasah Ibtidaiyah se-KKMI Kebayoran Lama menyenangi atau mencintai profesinya. Guru bangga dengan pekerjaannya dan selalu berusaha hadir ditempat kerja dengan tepat waktu. Ini
merupakan sebuah aturan yang dapat menciptakan tata tertib guru dalam melakukan pekerjaan.
c. Fasilitas pekerjaan
Indikator ini menjelaskan bahwa guru akan termotivasi dalam melaksanakan tugasnya jika didukung dengan fasilitas atau tempat kerja yang baik. Dan ini merupakan motivasi ekstrinsik yang berasal dari luar guru.
Berdasarkan hasil dari butir-butir pertanyaan dalam instrumen yang diisi oleh guru, hasilnya menunjukkan bahwa fasilitas kerja di Madrasah Ibtidaiyah se-KKMI Kebayoran Lama dapat mendorong semangat kerja guru, temuan ini hampir sama dengan pendapat dari Simarmata (2014: 654-831) yang mengatakan bahwa salah satu peningkatan motivasi kerja guru adalah memberikan fasilitas, seperti ruang kerja yang nyaman. Agar termotivasi dan produktivitas kerja guru dapat meningkat maka salah satu syaratnya adalah tersedianya suasana dan ruangan kerja yang nyaman.
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa fasilitas pekerjaan dapat meningkatkan motivasi kerja guru dan kreatifitas guru, jika guru memiliki pengetahuan untuk memanfaatkan fasilitas tersebut.
d. Hubungan harmonis antara sesama rekan kerja
Indikator ini menjelaskan interaksi atau komunikasi yang baik antara guru dengan guru lain maupun guru dengan kepala sekolah. Interaksi ini mempunyai tujuan yaitu menciptakan kemudahan serta kelancaran pelaksanaan tugas pekerjaan setiap guru dan timbulnya semangat saling membantu.
Hal yang perlu diperhatikan adalah komunikasi antara sesama rekan kerja, karena jika komunikasi yang dilakukan tidak sesuai dengan adab atau tatakrama, maka akan menimbulkan kesenjangan antara rekan kerja. Oleh karena itu, harus diperhatikan cara komunikasi yang baik. Menurut Muslikhah Dwihartanti (2004: 6), komunikasi akan berjalan dengan efektif manakala ada beberapa aturan dan kaidah yang diikuti, yaitu: (1) Komunikator menghargai setiap individu, orang maupun kelompok yang dijadikan sasaran komunikasi, (2) Komunikator harus mampu
menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi orang lain, (3) Pesan diterima oleh penerima pesan dan dapat didengarkan dengan baik, (4) Kejelasan pesan sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi, dan (5) Berkaitan dengan sikap rendah hati dan mau mendengarkan orang lain.
e. Kompensasi dalam bekerja
Indikator ini menjelaskan tentang semua imbalan atau pendapatan yang diterima oleh guru karena pekerjaannya, termasuk di dalamnya adalah gaji. Menurut Sagita Sukma Haryani, Djamhur Hamid, dan Heru Susilo (2015), kompensasi dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu kompetensi finansial dan non-finansial. Kompetensi finansial adalah imbalan yang diberikan kepada karyawan dalam bentuk uang kartal (gaji/upah). Sedangkan kompetensi non- finansial adalah imbalan dalam bentuk fasilitasfasilitas yang diberikan oleh perusahaan berupa pelatihan dan penghargaan atas kinerjanya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa motivasi dalam hal ini berfungsi sebagai pendorong usaha dalam pencapaian prestasi, pekerjaan itu sendiri, tempat kerja yang nyaman, suasana kerja yang mendukung dan gaji yang besar.
Apabila guru memiliki yang tinggi, maka guru akan memberikan terbaik demi kemajuan organisasinya. Dengan demikian, aspek motivasi kerja seseorang akan berpengaruh terhadap kinerjanya.
3. Pengaruh Sertifikasi Guru dan Motivasi Kerja Guru