BAB 5. PEMBAHASAN
5.6. Pengaruh Nilai Transparan dan Akuntabilitas Terhadap
Deli Serdang
Menurut LAN RI dalam Widodo (2006), akuntabilitas merupakan
kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau menjawab dan
menerangkan kinerja atas tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan suatu
organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk meminta
keterangan atau pertanggungjawaban. Organisasi pemerintah dibentuk oleh
publik, untuk publik, dan karena itu harus bertanggung jawab kepada publik.
Akuntabilitas birokrasi publik menjadi penting dan berdampak pada kinerja
birokrasi. Dengan demikian, akuntabilitas publik menghendaki agar birokrasi
publik dapat menjawab dan menjelaskan secara transparan dan terbuka atas
pertanyaan yang diajukan kepadanya, dan tindakan apa yang telah, sedang, dan
akan dilakukan kepada publik (Widodo, 2006).
Hasil uji regresi linier berganda menunjukkan bahwa secara parsial
variabel nilai transparan dan akuntabilitas mempunyai pengaruh negatif dan
signifikan terhadap kinerja petugas KIA dalam pengelolaan data di Dinas
Kesehatan Kabupaten Deli Serdang dengan nilai signifikansi sebesar 0,002. Hal
ini berarti implementasi nilai transparan dan akuntabilitas yang dikembangkan
oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang berpengaruh negatif namun
signifikan terhadap kinerja petugas KIA dalam pengelolaan data di Dinas
transparan dan akuntabilitas justru akan menurunkan kinerja petugas KIA dalam
pengelolaan data. Penilaian kinerja KIA yang menggunakan indikator pencapaian
target KIA selama ini telah “mengkondisikan” petugas KIA untuk memberikan
data/informasi sesuai dengan target KIA yang dibebankan kepadanya. Dalam
suatu organisasi, aktivitas manajemen data seringkali menemukan
kendala/masalah terkait dengan keberadaan data/informasi sebagai dasar untuk
pengambilan keputusan seperti politik, ideologi, anggaran, donatur, tekanan dari
kelompok tertentu, NGO, krisis, media, komunitas dalam masyarakat dan
sebagainya (Lippeveld, et.al., 2000).
Transparan harus dibangun dalam kerangka kebebasan aliran informasi
(LAN RI, 2003) agar publik menjadi tahu tentang apa yang telah dilakukan oleh
birokrasi publik, berapa besarnya anggaran yang digunakan, dan bagaimana hasil
tindakan tadi (Widodo, 2006). Ini berarti transparan mengandung unsur kejelasan
dan keterbukaan (disclosure). Menurut Hendriksen dalam Sihite (2010), apabila
kata “disclosure” dikaitkan dengan data berarti memberikan data yang bermanfaat
kepada pihak yang memerlukan. Apabila dikaitkan dengan laporan keuangan,
“disclosure” mengandung arti bahwa laporan keuangan harus memberikan
informasi dan penjelasan yang cukup mengenai hasil dari aktivitas suatu
unit/organisasi. Dengan demikian, informasi yang diberikan harus lengkap, jelas,
dan dapat menggambarkan secara tepat kejadian-kejadian yang berpengaruh
Namun demikian, terlalu banyak informasi yang disajikan akan
membahayakan dan mengaburkan informasi yang signifikan dan membuat
laporan keuangan tersebut sulit untuk dipahami. Oleh karena itu, “disclosure”
yang tepat mengenai informasi yang penting bagi publik dan pihak lainnya
hendaknya bersifat “cukup, wajar, dan lengkap”. Keterbukaan ini mencakup
pengungkapan minimal yang harus dilakukan agar informasi yang disajikan dalam
laporan tidak menyesatkan. Wajar dan lengkap merupakan konsep yang lebih
bersifat positif. Dalam bahasa Inggris, keterbukaan yang wajar dan lengkap
disebut dengan istilah “fair and full disclosure”. Keterbukaan yang wajar
menunjukkan tujuan etis agar dapat memberikan perlakuan yang sama dan
bersifat umum bagi semua pemakai informasi/laporan, sedangkan keterbukaan
yang lengkap mensyaratkan perlunya penyajian semua informasi yang relevan
(Sihite, 2010).
Transparan juga mengandung arti adanya kejelasan dan kepastian
mengenai prosedur/tata cara dan persyaratan pelayanan baik teknis maupun
administratif. Jadi dapat disimpulkan bahwa untuk mengukur akuntabilitas kinerja
birokrasi publik diperlukan standar atau prosedur tetap atau Standard Operational
Procedure (SOP) agar tanggung jawab yang diberikan tersebut dapat dibangun dalam kerangka kebebasan aliran informasi. Upaya manajemen untuk
implementasi nilai transparan dan akuntabilitas juga terlihat dari jawaban
responden yang menyatakan petugas KIA memberikan pelayanan KIA secara
sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan KIA sebesar 90%. Namun
demikian, beberapa reponden masih ragu-ragu bahkan tidak setuju jika dinyatakan
bahwa petugas KIA memberikan pelayanan KIA secara transparan kepada
masyarakat dengan menggunakan prosedur tetap sebagai pedoman dalam
memberikan pelayanan KIA.
Adanya prosedur tetap sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan
publik berimplikasi pada hadirnya sebuah peraturan dan pengaturan yang
memungkinkan adanya kontinuitas, koordinasi, stabilitas, dan uniformitas, yakni
bagaimana nilai transparan dan akuntabilitas ini seringkali menghasilkan
kekakuan (rigidity) dan pergeseran tujuan (goal displacement) organisasi. Para
aparatur birokrasi publik senantiasa berorientasi pada aturan (rules). Banyak di
antara aparatur birokrasi publik tersebut yang lupa bahwa “rules and regulations”
merupakan sarana untuk mencapai tujuan, dan bukan merupakan tujuan akhir
(Widodo, 2006). Setiap petugas KIA harus menyadari bahwa target yang
ditetapkan merupakan sarana untuk mencapai tujuan yaitu untuk menjamin bahwa
seluruh masyarakat yang membutuhkan pelayanan KIA telah mendapatkan
pelayanan KIA, dan bukan sebaliknya dimana pencapaian target “dalam bentuk
angka” menjadi suatu bukti bahwa petugas KIA telah mempertanggungjawabkan
tupoksiwab yang diamanahkan kepadanya.
Dengan adanya peraturan dan pengaturan yang ditegakkan dalam birokrasi
publik, maka hubungan antarbagian dalam satu birokrasi hendaknya dilakukan
akan memberikan tindakan hukuman kepada siapa pun yang salah, dan sebaliknya
siapapun yang berprestasi sudah selayaknya mendapatkan hadiah atau imbalan.
Kendatipun demikian, upaya manajemen untuk implementasi nilai transparan dan
akuntabilitas menunjukkan bahwa responden ragu-ragu bahkan tidak setuju
apabila dinyatakan bahwa selama ini baik Dinas Kesehatan Kabupaten Deli
Serdang maupun Puskesmas telah memberikan hukuman/sanksi yang jelas dan
tegas kepada petugas KIA yang melanggar peraturan yaitu sebesar 47,5%.
Pelayanan publik yang profesional lebih diarahkan pada perilaku para
aparatur birokrasi publik yang benar-benar “mau dan mampu” bertanggung jawab
(responsible) dan mempertanggungjawabkan (accountable) segala sikap, perilaku,
tindakan, dan kebijakan yang telah, sedang, dan akan dilakukan kepada
masyarakat (Widodo, 2006). Tanggung jawab didefinisikan sebagai kemampuan
dalam menanggapi dan menyelesaikan pekerjaan yang dilakukan (Poerwopoespito
dan utomo, 2000). Upaya manajemen untuk implementasi nilai transparan dan
akuntabilitas terlihat dari jawaban responden yang menyatakan bahwa pelayanan
KIA yang diberikan kepada masyarakat harus dapat dipertanggungjawabkan
sebesar 92,5%.
Dukungan Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang untuk meningkatkan
implementasi nilai transparan dan akuntabilitas pada petugas KIA di Dinas
Kesehatan Kabupaten Deli Serdang adalah dengan menetapkan suatu peraturan
beranjak dari akar permasalahan data selama ini yang dihadapi oleh petugas KIA,
bukan berorientasi pada keputusan atau gagasan perorangan saja.
Kendatipun demikian, solusi yang ditawarkan ini sering sekali menjadi
dilema dalam suatu organisasi pemerintahan. Banyak pelajaran dari beberapa
pengalaman yang menunjukkan bahwa hampir tidak ada satupun organisasi
pemerintahan yang tidak terikat dalam peraturan dan pengaturan dalam
melaksanakan tupoksiwab yang diamanahkan kepadanya. Mungkin jawaban dari
informan di bawah ini bisa menjadi alasan mengapa masalah dan solusi dari
“rules and regulation” ini selalu menjadi dilema jika birokrasi publik akan mengimplementasikannya.
“… Sepertinya PNS itu kok kebal hukum ya... Dikasih pun surat teguran tetap juga nggak berubah. Bisa jadi memang karena kita rasa nggak mungkinlah kita dipecat hanya karena nggak kasih laporan atau terlambat kasih laporan. Sepertinya memang nggak cocok lagi cara-cara tegas seperti itu. Yang iyanya kasih denda saja misalnya Rp 25.000,- bagi Bides yang terlambat atau nggak kasih laporan. Ini sudah kami jalankan di Puskesmas kami dan berhasil, tidak ada satupun Bides yang nggak kasih laporan. Nah, sekarang tinggal bagaimana memperbaiki kualitas laporan datanya. Ini memamg masih kami rencanakan, tapi akan segera kami lakukan. Jadi dimulai dari Kepala Pustu dan Kepala Poskesdes dulu untuk membuat presentasi laporannya, cakupannya, dan apa-apa saja hambatannya di rapat minilok Puskesmas, nanti mudah-mudahan bisa merubah pelan- pelanlah…”
Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan kinerja petugas KIA dalam
pengelolaan data, Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang perlu melakukan
paradigma “target KIA” dari sekedar penyediaan data sesuai target menjadi
pemicu bagi setiap petugas KIA untuk menghasilkan kinerja yang dapat
dipertanggungjawabkan secara “fair and full disclosure” kepada publik. Jika
tidak dilakukan dengan pendekatan persuasif, maka bisa jadi upaya peningkatan
implementasi nilai transparan dan akuntabilitas justru akan menurunkan kinerja
petugas KIA dalam pengelolaan data di Dinas Kesehatan Kabupaten Deli
Serdang.
5.7. Pengaruh Keyakinan (Belief) Terhadap Kinerja Petugas KIA dalam