• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

2.4.2 Petugas KIA

Menurut UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang dimaksud

dengan tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang

kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan

melakukan upaya kesehatan. Tenaga kesehatan merupakan bagian dari petugas

kesehatan. Menurut KBBI (2005), yang dimaksud dengan petugas adalah orang

yang bertugas melakukan sesuatu. Jadi dapat disimpulkan bahwa petugas KIA

merupakan orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki

pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang

bertugas mengelola program KIA seperti Bidan di Desa (Bides), Bidan

Koordinator (Bikor) di Puskesmas, Bikor di kabupaten, petugas KIA lainnya.

Sejak tahun 1989, Depkes RI telah menetapkan kebijakan menempatkan

Bides dalam rangka menurunkan angka kematian ibu, bayi dan anak balita dan

menurunkan angka kelahiran serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk

hidup sehat (Depkes RI, 2007). Menurut Depkes RI (1998), kegiatan Bides sejak

penempatannya adalah:

1. Analisa situasi, yang meliputi (1) Mengenal wilayah kerjanya; (2)

Melakukan pendataan langsung dengan bantuan kader/pamong; dan (3)

Bersama Kepala Desa dan Ketua PKK serta kader dan dukun bayi

menyusun jadwal kegiatan rutin yang akan dilaksanakan di desa.

2. Pelaksanaan kegiatan, yang meliputi hal-hal sebagai berikut (1) Upaya

penurunan AKI; (2) Upaya penurunan AKB; dan (3) Manajerial program

KIA dan upaya pendukungnya.

3. Evaluasi, yang dilakukan yaitu (1) Merekam semua kegiatan yang

dilaksanakan; (2) Mengirimkan laporan pelaksanaan kegiatan ke

Puskesmas; (4) Menghadiri mini lokakarya di Puskesmas dengan

membawa semua laporan dan rencana kegiatan serta permasalahan yang

dihadapi; dan (5) Memantau cakupan pelayanan KIA di wilayah kerjanya

dengan membuat PWS-KIA.

Namun demikian, tentunya kemampuan klinis dan administrasi setiap

Bides bervariasi, sehingga Bikor di Puskesmas dipandang sebagai orang yang

tepat untuk membina Bides, dan bahkan bidan praktek swasta di wilayah kerjanya.

Gagasan yang sama untuk pembinaan tingkat Puskesmas juga memunculkan

adanya Bikor di kabupaten (Depkes RI, 2007). Jadi upaya revitalisasi Bikor

Puskesmas tidak hanya berperan membina Bides dalam aspek klinis medis, tapi

juga berperan dalam aspek manajerial program KIA (Depkes RI, 2007).

Peran Bikor adalah: (1) Membimbing keterampilan klinis profesi bidan

dan manajemen program KIA; (2) Merencanakan kebutuhan prasarana dan

logistik; (3) Mendorong dan memotivasi untuk melakukan praktek terbaik dan

menjalankan program sesuai standar; (4) Menyelia dan memantau kinerja; dan (5)

Melakukan kerjasama tim lintas program dan lintas sektor. Dalam menjalankan

peran ini, Bikor diharapkan bekerja sebagai tim dengan petugas kesehatan lainnya

di Puskesmas. Hal ini penting mengingat program KIA di Puskesmas merupakan

bidang terpadu dari berbagai bidang yang pada tingkat pusat merupakan program

yang bersifat terkotak-kotak, seperti kesehatan anak, kesehatan ibu, gizi, KB, dan

Menurut Depkes RI (2007), agar Bikor dapat menjalankan peran dengan

baik, maka Bikor diharapkan dapat menjalankan tugas-tugas yang lebih rinci

sebagai berikut:

1. Menjalin komunikasi dan koordinasi kerja dengan Bides dan bidan praktek

swasta maupun sesama lintas sektor dan lintas program.

2. Merencanakan dan melaksanakan penyeliaan fasilitatif kepada Bides dan

bidan praktek swasta di wilayah kerja Puskesmas.

3. Menilai tingkat kepatuhan terhadap standar pelayanan KIA di Puskesmas

dan melakukan verifikasi tingkat kepatuhan terhadap bidan yang diselia.

4. Mengidentifikasi komponen yang tidak memenuhi standar dan secara

bersama-sama dengan bidan di desa mencari solusi pemecahan

masalahnya.

5. Membuat rencana tindak lanjut bersama-sama dengan bidan yang diselia.

6. Melaksanakan dan memantau upaya perbaikan mutu yang dilakukan.

7. Membuat pencatatan dan pelaporan.

8. Memberikan masukan melalui Puskesmas untuk perencanaan tingkat

kabupaten sebagai bagian penguatan sistem penyeliaan.

9. Mengusulkan penghargaan bagi bidan berprestasi, peningkatan kompetensi

bidan dan pengembangan karir bidan.

Dalam penyeliaan fasilitatif, seorang Bikor di Puskesmas minimal

mempunyai kualifikasi sebagai berikut: (1) Masih bertugas di Puskesmas; (2)

klinis profesi bidan dan manajemen program KIA; (4) Dapat bekerja sama dalam

tim; (5) Mempunyai kemampuan pengambilan keputusan dalam keadaan darurat

pada pra-rujukan; dan (6) Mempunyai kemampuan melakukan penyeliaan

fasilitatif (Depkes RI, 2007).

Untuk penguatan program KIA, Bikor mengadakan pertemuan dengan

Bides setiap bulannya, sementara pertemuan dengan Balai Pengobatan Swasta

(BPS) dan Rumah Bersalin (RB) di wilayah kerja Puskesmas diharapkan

dilaksanakan sekali dalam tiga bulan. Bikor di Puskesmas melakukan koordinasi

dengan lintas program dan lintas sektor terkait untuk melaksanakan program KIA.

Hasil kegiatan Bikor Puskesmas dilaporkan kepada pengelola program KIA dan

Kepala Puskesmas (Depkes RI, 2007).

Dalam melaksanakan koordinasi kerja di tingkat kabupaten/kota, Bikor di

Puskesmas dan Bikor di kabupaten/kota perlu bekerja sama dengan dokter

spesialis kebidanan dan anak dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD),

organisasi profesi seperti Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Obstetri

Ginekologi Indonesia (POGI) dan Ikatan Dokter Ahli Anak Indonesia (IDAI)

yang ada di wilayah setempat.

Dinas kesehatan kabupaten/kota melaksanakan pertemuan setiap tiga bulan

dengan Bikor di Puskesmas. Pada pertemuan tersebut, Bikor di Puskesmas

melaporkan kegiatan selama tiga bulan terakhir baik yang berasal dari kegiatan

laporan program KIA dinas kesehatan kabupaten/kota kepada dinas kesehatan

propinsi (Depkes RI, 2007).

Dalam kaitannya dengan pengelolaan data, petugas KIA di Kabupaten Deli

Serdang selain Bikor di Kabupaten adalah seksi kesehatan ibu dan kepala bidang

kesehatan keluarga memiliki rincian tugas sebagai berikut:

1. Seksi kesehatan ibu, yaitu:

a. Memeriksa, mengecek, mengoreksi, mengontrol dan merencanakan

kegiatan pelaksanaan tugas;

b. Melaksanakan, monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan ibu dan

Keluarga Berencana (KB);

c. Melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap tenaga pengelola teknis di

bidang kesehatan ibu;

d. Melaksanakan pemantauan terhadap kematian maternal dan perinatal;

e. Menyampaikan saran dan pertimbangan pada atasan tentang langkah-

langkah yang perlu diambil dengan ketentuan yang berlaku; dan

f. Menyusun laporan sesuai hasil yang telah dicapai sebagai

pertanggungjawaban pelaksanaan tugas.

2. Kepala bidang kesehatan keluarga, yaitu:

a. Menyusun perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi di bidang

kesehatan keluarga;

c. Menyampaikan saran dan pertimbangan kepada atasan tentang langkah-

langkah yang perlu diambil dengan ketentuan yang berlaku; dan

d. Menyusun laporan sesuai hasil yang telah dicapai sebagai

pertanggungjawaban pelaksanaan tugas (Dinas Kesehatan Kabupaten Deli

Serdang, 2009).