• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Pengaruh Penggunaan Metode Mind map terhadap Kemampuan Evaluasi 48

jenis bidang miring, katrol, dan roda berporos. Pertemuan keempat atau terakhir membahas mengenai materi pesawat sederhana secara keseluruhan.

Kegiatan yang dilakukan pada setiap pertemuan di kelas kontrol adalah dengan menggunakan metode ceramah. Guru menjelaskan materi pelajaran kepada siswa, dan siswa mendengarkan penjelasan dari guru. Pada kegiatan awal pembelajaran guru mengajak siswa untuk menyanyikan lagu yang dibuat oleh guru dengan mengganti liriknya dengan materi pelajaran yang akan disampaikan. Pada kegiatan inti, guru menjelaskan mengenai materi pelajaran secara detail kepada siswa. Setelah mendengarkan penjelasan dari guru mengenai materi yang telah disampaikan, siswa mencatat materi yang telah disampaikan oleh guru yang telah dituliskan di papan tulis atau dengan di diktekan. Setelah itu siswa mengerjakan lembar kerja siswa. Pada kegiatan penutup guru memberikan kesimpulan atas kegiatan pembelajaran yang telah disampaikan. Selanjutnya siswa mengerjakan soal evaluasi yang telah disediakan.

Dalam kegiatan pembelajaran di kelas kontrol ini, siswa hanya mendengarkan penjelasan yang telah disampaikan oleh guru.

4.2 Hasil Penelitian

Pada bagian berikut akan dipaparkan hasil analisis statistik. Seluruh analisis statistik dalam penelitian menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%.

4.2.1 Pengaruh Penggunaan Metode Mind map terhadap Kemampuan

Evaluasi

4.2.1.1Uji normalitas distribusi data

Uji normalitas data dilakukan dengan menggunakan rumus One Samples Kolmogorov-Smirnov Test. Distribusi data dikatakan normal jika harga sig. (2-tailed) > 0,05.

49 Berdasarkan kriteria diatas diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut (lihat Lampiran 4.1, halaman 140).

Tabel 4.1 Hasil Uji Normalitas Data Pretest pada Kemampuan Evaluasi Kelompok Mean Std. Deviation Harga Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) Analisis Keterangan Eksperimen 2,41 0,71 0,654 0,785 Sig > 0,05 Distribusi

Normal Kontrol 2,115 0,633 1,092 0,184 Sig > 0,05 Distribusi

Normal

Hasil pengujian dengan menggunakan rumus One Samples Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan harga uji normalitas Kolmogorov-Smirnov Z untuk data pretest pada kelompok eksperimen adalah 0,654 dengan signifikansi 0,785. Harga signifikansi 0,785 lebih besar dari 0,05 yang menunjukkan bahwa sebaran data berdistribusi normal. Sedangkan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov Z untuk data pretest pada kelompok kontrol adalah 1,092 dengan signifikansi 0,184. Harga signifikansi 0,184 lebih besar dari 0,05 yang menunjukkan bahwa sebaran data berdistribusi normal.

Setelah uji normalitas data untuk skor pretest, kemudian dilanjutkan dengan uji normalitas data untuk skor posttest I dan posttest II. Pengujian normalitas data pada skor posttest I dan posttest II juga dilakukan dengan rumus

One Samples Kolmogorov-Smirnov Test dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows. Hasil perhitungannya dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.2, halaman 141):

Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Data Posttest I pada Kemampuan Evaluasi Kelompok Mean Std. Deviation Harga Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) Analisis Keterangan Eksperimen 3,38 0,332 1,206 0,109 Sig > 0,05 Distribusi

Normal Kontrol 2,593 0,476 0,85 0,465 Sig > 0,05 Distribusi

Normal

Hasil pengujian dengan menggunakan rumus One Samples Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan harga uji normalitas Kolmogorov-Smirnov Z untuk data posttest I pada kelompok eksperimen adalah 1,206 dengan signifikansi 0,109.

50 Harga signifikansi 0,109 lebih besar dari 0,05 yang menunjukkan bahwa sebaran data berdistribusi normal. Sedangkan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov Z untuk data posttest I pada kelompok kontrol adalah 0,85 dengan signifikansi 0,465. Harga signifikansi 0,465 lebih besar dari 0,05 yang menunjukkan bahwa sebaran data berdistribusi normal.

Berikut adalah hasil analisi uji normalitas data posttest II pada kemampuan

evaluasi (lihat Lampiran 4.3, halaman 142).

Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Data Posttest II pada Kemampuan Evaluasi Kelompok Mean Std. Deviation Harga Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) Analisis Keterangan Eksperimen 3,308 0,455 1,229 0,098 Sig > 0,05 Distribusi

Normal Kontrol 2,511 0,775 0,836 0,486 Sig > 0,05 Distribusi

Normal

Hasil pengujian dengan menggunakan rumus One Samples Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan harga uji normalitas Kolmogorov-Smirnov Z untuk data posttest II pada kelompok eksperimen adalah 1,229 dengan signifikansi 0,098. Harga signifikansi 0,098 lebih besar dari 0,05 yang menunjukkan bahwa sebaran data berdistribusi normal. Sedangkan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov Z untuk data posttest II pada kelompok kontrol adalah 0,836 dengan signifikansi 0,486. Harga signifikansi 0,486 lebih besar dari 0,05 yang menunjukkan bahwa sebaran data berdistribusi normal.

Data perhitungan skor pretest kelas eksperimen ke posttest I dan posttest II

pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menunjukkan bahwa sebaran data terdistribusi secara normal.

4.2.1.2Uji pengaruh perlakuan

1) Uji perbedaan kemampuan awal

Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan kemampuan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontol. Untuk megetahui perbedaan kemampuan awal dari kedua kelompok dilakuakn uji kemampuan awal dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for

51

Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Analisis statistik yang digunakan adalah statistik parametrik Independent samples t-test. Sebelum dilakukan analisis ini perlu dilakukan uji asumsi untuk memeriksa homigenitas varians dengan

Levene’s test. Jika harga sig. > 0,05, maka ada homogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan. Jika harga sig. < 0,05, maka tidak ada homogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan. Hasil analisis Levene’s test

menunjukkan dengan tingkat signifikansi 95% diperoleh harga F = 0,042 dan harga sig. = 0,839 (p > 0,05). Dengan demikian terdapat homogenitas varians sehingga bisa digunakan Independent samples t-test untuk uji analisis selanjutnya.

Dari uji perbedaan kemampuan awal ini, dikatakan tidak ada perbedaan kemampuan dari kedua kelompok jika harga sig. (2-tailed) > 0,05. Berikut ini adalah hasil analisis uji perbedaan kemampuan awal (lihat Lampiran 4.5, halaman 155).

Tabel 4.4 Uji Perbedaan Kemampuan Awal

Levene’s Test for Equality

of Variance t-test for Equality of Means

F Sig. t df Mean Difference Std. Error Difference Sig. (2-tailed) Keterangan 0,042 0,839 1,585 50 0,295 0,186 0,119 Tidak ada perbedaan

Berdasarkan analisis yang dilakukan, skor yang diperoleh pada kelompok eksperimen lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen diperoleh nilai M = 2,41 SD = 0,710, dan SE = 0,142. Sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh nilai M = 2,115, SD = 0,633, dan SE

= 0,122. Karena harga sig. pada Levene’s test adalah 0,839 (atau > 0,05), maka terdapat homogenitas varians dengan harga F = 0,042, t = 1,585, dan df = 50. Dari hasil uji perbedaan kemampuan awal tersebut, didapatkan bahwa hasil sig. (2-tailed) adalah 0,119. Harga signifikansi 0,119 lebih besar dari 0,05, maka Hnull

diterima dan Hi ditolak. Hal ini berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara pretest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain kedua kelompok tersebut mempunyai kemampuan awal yang sama.

2) Uji selisih skor pretest ke posttest

Uji selisih skor pretest ke posttest dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh pada masing-masing kemampuan yang diteliti, yaitu kemampuan

52

evaluasi dan kemampuan inferensi. Untuk megetahui selisih skor pretest ke

posttest dilakuakan uji kemampuan awal dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Analisis statistik yang digunakan adalah statistik parametrik Independent samples t-test.

Sebelum dilakukan analisis ini perlu dilakukan uji asumsi untuk memeriksa homigenitas varians dengan Levene’s test. Jika harga sig. > 0,05 maka ada homogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan. Jika harga sig. < 0,05 maka tidak ada homogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan. Hasil analisis Levene’s test menunjukkan dengan tingkat signifikansi 95% diperoleh harga F = 2,218 dan harga sig. = 0,145 (p > 0,05). Dengan demikian terdapat homogenitas varians sehingga bisa digunakan Independent samples t-test untuk uji analisis selanjutnya.

Dari uji selisih skor pretest ke posttest ini, dikatakan ada pengaruh jika harga sig. (2-tailed) < 0,05. Berikut ini merupakan hasil analisinya (lihat Lampiran 4.6, halaman 156).

Tabel 4.5 Uji Selisih Skor Pretest ke Posttest pada Kemampuan Evaluasi

Levene’s Test for Equality of

Variance t-test for Equality of Means

F Sig. t df Mean Difference Std. Error Difference Sig. (2-tailed) Keterangan 2,218 0,143 3,145 50 0,480 0,1526 0,003 Ada pengaruh

Berdasarkan analisis yang dilakukan, skor yang diperoleh pada kelompok eksperimen lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen diperoleh nilai M = 0,9800, SD = 0,637, dan SE = 0,127. Sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh nilai M = 0,5000, SD = 0,455, dan

SE = 0,086. Perolehan data menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yg signifikan antara selisih skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dg nilai t = 3,145 dan df = 50. Karena harga sig. pada Levene’s test adalah 0,143 (atau p > 0,05), maka terdapat homogenitas varians dengan harga F = 2,218. Dari hasil uji selisih skor pretest ke posttest tersebut, didapatkan bahwa hasil sig. (2-tailed) adalah 0,003. Harga signifikansi 0,003 lebih kecil dari 0,05, maka Hnull

53 antara pretest dan posttest. Dengan kata lain penggunaan metode mind map

berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan evaluasi.

Untuk lebih memperjelas perbedaan selisih, dapat dilihat pada grafik berikut.

Gambar 4.1 Uji Anova pada Kemampuan Evaluasi

Pada grafik di atas, dapat dilihat bahwa hasil selisih skor pretest dengan skor posttest pada kelompok eksperimen adalah 0,98. Sedangkan selisih skor

pretest dengan skor posttest pada kelompok kontrol sebesar 0,768. Dari perbedaan selisih skor di kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tersebut, dapat dikatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain penggunaan metode mind map berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan evaluasi.

4.2.1.3Analisis lebih lanjut

1) Uji peningkatan skor pretest ke posttest I

Uji peningkatan skor pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui skor peningkatan yang terjadi pada posttest setelah diberikan perlakuan. Uji peningkatan skor pretest ke posttest dilakukan dengan menggunakan rumus

54

Paired samples t-test dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows. Dikatakan ada peningkatan yang signifikan jika harga sig. (2-tailed) < 0,05. Berikut ini merupakan tabel hasil uji kenaikan skor pretest ke posttest yang telah dilakukan (lihat Lampiran 4.7, halaman 158).

Tabel 4.6 Uji Kenaikan Skor Pretest dan Postest I pada Kemampuan Evaluasi No Kelompok Rerata Peningkatan

(%)

Signifkansi

(p) Keputusan Pretest Posttest

1 Eksperimen 2,41 3,38 40,66 0,000 Ada peningkatan signifikan 2 Kontrol 2,11 2,59 22,47 0,000 Ada peningkatan

signifikan

Dari hasil uji Paired samples t-test di atas, didapatkan bahwa hasil sig. (2-tailed) pada kelompok eksperimen adalah 0,000. Harga signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pretest ke posttest pada kelompok eksperimen. Dengan kata lain terjadi peningkatan skor yang signifikan dari pretest

ke posttest pada kemampuan evaluasi di kelompok eksperimen.

Selain menggunakan uji Paired Samples t-test dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows, juga dicantumkan grafik pengingkatan skor pretest ke posttest agar mempermudah dalam melihat peningkatannya. Berikut ini merupakan gambar grafik peningkatan skor pretest ke

posttest pada kemampuan evaluasi.

Gambar 4.2 Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I pada Kemampuan Evaluasi

2.41 3.38 2.11 2.59 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 Pretest Posttest 1 Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol

55 Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa rata-rata skor pretest pada kelompok eksperimen sebesar 2,41, dan rata-rata skor posttest meningkat menjadi 3,38. Sedangkan pada kelompok kontrol rata-rata skor pretest sebesar 2,11 yang meningkat menjadi 2,59 pada rata-rata skor posttest. Dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tersebut terlihat bahwa mengalami peningkatan skor dari

pretest ke posttest pada kemampuan evaluasi.

2) Uji besar pengaruh perlakuan

Uji pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perlakuan yang dilakukan dalam penelitian. Hal ini juga untuk memastikan apakah ada perbedaan antara skor posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Menurut Cohen (dalam Field, 2009: 57) kriteria untuk penentuan besar efek adalah:

r = 0,10 efek kecil (1%) r = 0,30 efek menengah (9%) r = 0,50 efek besar (25%)

Berikut ini adalah tabel uji besar efek perlakuan pada kemampuan evaluasi

(lihat Lampiran 4.8, halaman 159).

Tabel 4.7 Uji Besar Pengaruh Perlakuan pada Kemampuan Evaluasi

Kelompok t Df r % Efek

Eksperimen 7,50 56,23 24 0,837 0,701 70,06 Besar Kontrol 6,38 40,76 26 0,781 0,610 61,00 Besar

Dari hasil uji besar pengaruh metode mind map di atas, diketahui besarnya

effect size pada kelompok eksperimen sebesar 0,837 dan kelompok kontrol sebesar 0,781. Berdasarkan kriteria yang digunakan, besarnya effect size pada kelompok eksperimen sebesar 70,06%, hal itu menunjukkan bahwa metode mind map memiliki efek besar terhadap kemampuan evaluasi. Sedangkan pada kelompok kontrol, besarnya effect size adalah 61,00%. Hal ini menunjukkan bahwa metode ceramah memiliki efek besar terhadap kemampuan evaluasi.

56

3) Uji retensi pengaruh perlakuan

Untuk mengetahui perbandingan yang terjadi pada posttest I ke posttest II.

Berikut ini akan ditampilkan tabel uji retensi pengaruh perlakuan. Analisis statistik yang digunakan adalah paired samples t-test. Data akan dikatakan ada peningkatan yang signifikan jika harga sig. (2-tailed) < 0,05. Berikut ini adalah hasil analisis uji retensi pengaruh perlakuan (lihat Lampiran 4.9, halaman 160):

Tabel 4.8 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan pada Kemampuan Evaluasi No Kelompok Rerata Peningkatan (%) Signifkansi (p) Keputusan Posttest I Posttest II

1 Eksperimen 3,38 3,08 -8,88 0,003 Ada perbedaan 2 Kontrol 2,59 2,51 -3,09 0,512 Tidak ada

perbedaan

Dari hasil uji retensi pengaruh perlakuan, diketahui bahwa harga M = 0,300, SD = 0,448 dan SE = 0,08898 dan sig. (2-tailed) pada kelompok eksperimen sebesar 0,003 (atau p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti bahwa ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II pada kelompok eksperimen. Dengan kata lain terjadi peningkatan skor yang signifikan dari skor posttest I ke posttest II pada kemampuan evaluasi di kelompok eksperimen. Pada kelompok kontrol harga M = 0,8148, SD = 0,637, SE

= 0,1226, dan sig. (2-tailed) sebesar 0,512 (atau p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor

posttest I dan posttest II pada kelompok kontrol. Dengan kata lain tidak terjadi peningkatan skor yang signifikan dari skor posttest I ke posttest II pada kemampuan evaluasi di kelompok kontrol.

Selain menggunakan tabel uji retensi pengaruh perlakuan diatas, peneliti juga menggunakan grafik perbandingan skor posttest I ke posttest II, agar lebih mudah dalam melihat perubahan skor yang terjadi. Berikut ini merupakan grafik perubahan skor dari pretest, ke posttest I dan ke posttest II.

57

Gambar 4.3 Perbandingan Skor Pretest, Postest I, dan Postest II pada Kemampuan Evaluasi

Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa rata-rata skor pretest pada kelompok eksperimen sebesar 2,41, dan rata-rata skor posttest I meningkat menjadi 3,38, yang kemudian mengalami penurunan pada posttest II dengan skor 3,08. Sedangkan pada kelompok kontrol rata-rata skor pretest sebesar 2,11 yang meningkat menjadi 2,59 pada rata-rata skor posttest I, kemudian mengalami penurunan pada posttest II dengan skor 2,51.