• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.2 Hasil Penelitian

4.2.2 Pengaruh Penggunaan Metode Mind map terhadap Kemampuan Inferensi 57

Inferensi

4.2.2.1Uji normalitas distribusi data

Uji normalitas data dilakukan dengan menggunakan rumus One Samples Kolmogorov-Smirnov Test. Distribusi data dikatakan normal jika harga sig. (2-tailed) > 0,05. Berikut ini adalah hasil perhitungan untuk menguji normalitas data

pretest (lihat Lampiran 4.1, halaman 140).

Tabel 4.9 Hasil Uji Normalitas Data Pretest pada Kemampuan Inferensi Kelompok Mean Std. Deviation Harga Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) Analisis Keterangan Eksperimen 1,55 0,382 0,720 0,678 Sig > 0,05 Distribusi

Normal Kontrol 1,509 0,565 1,285 0,074 Sig > 0,05 Distribusi

Normal 2.41 3.38 3.08 2.11 2.59 2.51 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00

Pretest Posttest 1 Posttest 2

Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol

58 Hasil pengujian dengan menggunakan rumus One Samples Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan harga uji normalitas Kolmogorov-Smirnov Z untuk data pretest pada kelompok eksperimen adalah 0,720 dengan signifikansi 0,678. Harga signifikansi 0,678 lebih besar dari 0,05 yang menunjukkan bahwa sebaran data berdistribusi normal. Sedangkan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov Z untuk data pretest pada kelompok kontrol adalah 1,285 dengan signifikansi 0,074. Harga signifikansi 0,074 lebih besar dari 0,05 yang menunjukkan bahwa sebaran data berdistribusi normal.

Setelah uji normalitas data untuk skor pretest, kemudian dilanjutkan dengan uji normalitas data untuk skor posttest I dan posttest II. Pengujian normalitas data pada skor posttest I dan posttest II juga dilakukan dengan rumus

One Samples Kolmogorov-Smirnov Test dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows. Hasil perhitungannya dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.2, halaman 141).

Tabel 4.10 Hasil Uji Normalitas Data Posttest I pada Kemampuan Inferensi Kelompok Mean Std. Deviation Harga Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) Analisis Keterangan Eksperimen 2,4 0,642 1,162 0,134 Sig > 0,05 Distribusi

Normal Kontrol 2,139 0,722 0,584 0,885 Sig > 0,05 Distribusi

Normal

Hasil pengujian dengan menggunakan rumus One Samples Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan harga uji normalitas Kolmogorov-Smirnov Z untuk data posttest I pada kelompok eksperimen adalah 1,162 dengan signifikansi 0,134. Harga signifikansi 0,134 lebih besar dari 0,05 yang menunjukkan bahwa sebaran data berdistribusi normal. Sedangkan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov Z untuk data posttest I pada kelompok kontrol adalah 0,548 dengan signifikansi 0,885. Harga signifikansi 0,885 lebih besar dari 0,05 yang menunjukkan bahwa sebaran data terdistribusi secara normal.

59 Berikut ini adalah hasil uji normalitas data posttest II pada kemampuan

inferensi (lihat Lampiran 4.3, halaman 142).

Tabel 4.11 Hasil Uji Normalitas Data Posttest II pada Kemampuan Inferensi Kelompok Mean Std. Deviation Harga Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) Analisis Keterangan Eksperimen 2,16 0,534 0,167 0,490 Sig > 0,05 Distribusi

Normal Kontrol 1,982 0,559 1,182 0,122 Sig > 0,05 Distribusi

Normal

Hasil pengujian dengan menggunakan rumus One Samples Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan harga uji normalitas Kolmogorov-Smirnov Z untuk data posttest II pada kelompok eksperimen adalah 0,167 dengan signifikansi 0,490. Harga signifikansi 0,490 lebih besar dari 0,05 yang menunjukkan bahwa sebaran data berdistribusi normal. Sedangkan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov Z untuk data posttest II pada kelompok kontrol adalah 1,182 dengan signifikansi 0,122. Harga signifikansi 0,122 lebih besar dari 0,05 yang menunjukkan bahwa sebaran data terdistribusi secara normal.

Data perhitungan skor pretest kelas eksperimen ke posttest I dan posttest II

pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menunjukkan bahwa sebaran data terdistribusi secara normal.

4.2.2.2Uji pengaruh perlakuan

1) Uji perbedaan kemampuan awal

Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan kemampuan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontol. Untuk megetahui perbedaan kemampuan awal dari kedua kelompok dilakukan uji kemampuan awal dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Analisis statistik yang digunakan adalah statistik parametrik Independent samples t-test. Sebelum dilakukan analisis ini perlu dilakukan uji asumsi untuk memeriksa homigenitas varians dengan

Levene’s test. Jika harga sig. > 0,05 ada homogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan. Jika harga sig. < 0,05 tidak ada homogenitas varians pada

60 kedua data yang dibandingkan. Hasil analisis Levene’s test menunjukkan dengan tingkat signifikansi 95% diperoleh harga F = 1,585 dan harga sig. = 0,214 (p > 0,05). Dengan demikian terdapat homogenitas varians sehingga bisa digunakan

Independent samples t-test untuk uji analisis selanjutnya.

Dari uji perbedaan kemampuan awal ini, dikatakan tidak ada perbedaan kemampuan dari kedua kelompok jika harga sig. (2-tailed) > 0,05. Berikut ini adalah hasil analisis uji perbedaan kemampuan awal (lihat Lampiran 4.10, halaman 161).

Tabel 4.12 Uji Perbedaan Kemampuan Awal

Levene’s Test for Equality of

Variance t-test for Equality of Means

F Sig. t df Mean Difference Std. Error Difference Sig. (2-tailed) Keterangan 1,585 0,214 0,302 50 0,407 0,134 0,764 Tidak ada perbedaan

Berdasarkan analisis yang dilakukan, skor yang diperoleh pada kelompok eksperimen lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen diperoleh nilai M = 1,550, SD = 0,382, dan SE = 0,076. Sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh nilai M = 2,111,5095, SD = 0,565, dan SE = 0,109. Karena harga sig. pada Levene’s test adalah 0,214 (atau > 0,05), maka terdapat homogenitas varians dengan harga F = 1,585, t = 0,302, dan df = 50. Dari hasil uji perbedaan kemampuan awal tersebut, didapatkan bahwa hasil

sig. (2-tailed) adalah 0,764. Harga signifikansi 0,764 lebih besar dari 0,05, maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara pretest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain kedua kelompok tersebut mempunyai kemampuan awal yang sama.

2) Uji selisih skor pretest ke posttest

Uji selisih skor pretest ke posttest dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh pada masing-masing kemampuan yang diteliti, yaitu kemampuan

evaluasi dan kemampuan inferensi. Untuk megetahui selisih skor pretest ke

posttest dilakuakn uji kemampuan awal dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Analisis statistik yang digunakan adalah statistik parametrik Independent samples t-test.

61 Sebelum dilakukan analisis ini perlu dilakukan uji asumsi untuk memeriksa homogenitas varians dengan Levene’s test. Jika harga sig. > 0,05 maka ada homogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan. Jika harga sig. < 0,05 maka tidak ada homogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan. Hasil analisis Levene’s test menunjukkan dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh harga F = 6,768 dan harga sig. = 0,120 (p > 0,05). Dengan demikian terdapat homogenitas varians sehingga bisa digunakan Independent samples t-test untuk uji analisis selanjutnya.

Dari uji selisih skor pretest ke posttest ini, dikatakan ada pengaruh jika harga sig. (2-tailed) < 0,05. Berikut ini merupakan hasil analisinya (lihat Lampiran 4.11, halaman 162).

Tabel 4.13 Uji Selisih Skor Pretest ke Posttest pada Kemampuan Inferensi Levene’s Test for Equality of

Variance t-test for Equality of Means

F Sig. t df Mean Difference Std. Error Difference Sig. (2-tailed) Keterangan 6,785 0,120 3,698 50 0,591 0,160 0,001 Ada pengaruh

Berdasarkan analisis yang dilakukan, skor yang diperoleh pada kelompok eksperimen lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen diperoleh nilai M = 0,8500, SD = 0,7569, dan SE = 0,151. Sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh nilai M = 0,0259, SD = 0,32876, dan

SE = 0,06327. Perolehan data menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yg signifikan antara selisih skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan nilai t = 0,369 dan df = 50. Karena harga sig. pada

Levene’s test adalah 0,120 (atau p > 0,05), maka terdapat homogenitas varians dengan harga F = 6,785. Dari hasil uji selisih skor pretest ke posttest tersebut, didapatkan bahwa hasil sig. (2-tailed) adalah 0,001. Harga signifikansi 0,001 lebih kecil dari 0,05 yang menunjukkan bahwa ada pengaruh, maka Hnull ditolak dan Hi

diterima, sehingga penggunaan metode mind map berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan inferensi. Hal ini berarti bahwa ada perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest. Dengan kata lain penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan inferensi.

62 Untuk lebih memperjelas perbedaan selisih, dapat dilihat pada grafik berikut.

Gambar 4.4 Uji Anova pada Kemampuan Inferensi

Pada grafik di atas, dapat dilihat bahwa hasil selisih skor pretest dengan skor posttest pada kelompok eksperimen adalah 0,85. Sedangkan selisih skor

pretest dengan skor posttest pada kelompok kontrol sebesar 0,63. Dari perbedaan selisih skor di kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tersebut, dapat dikatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain penggunaan metode mind map berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan inferensi.

4.2.2.3Analisis lebih lanjut

1) Uji peningkatan skor pretest ke posttest

Uji peningkatan skor pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui skor peningkatan yang terjadi pada posttest setelah diberikan perlakuan. Uji peningkatan skor pretest ke posttest dilakukan dengan menggunakan rumus

Paired Samples t-test dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows. Dikatakan ada peningkatan yang signifikan jika harga sig. (2-tailed) <

63 0,05. Berikut ini merupakan tabel hasil uji kenaikan skor pretest ke posttest yang telah dilakukan (lihat Lampiran 4.7, halaman 158).

Tabel 4.14 Tabel Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest pada Kemampuan Inferensi No Kelompok Rerata Peningkatan

(%)

Signifkansi

(p) Keputusan Pretest Posttest

1 Eksperimen 1,55 2,40 54,84 0,000 Ada peningkatan signifikan 2 Kontrol 1,51 2,14 41,72 0,000 Ada peningkatan

signifikan

Dari hasil uji Paired samples t-test di atas, didapatkan bahwa hasil sig. (2-tailed) pada kelompok eksperimen adalah 0,000. Harga signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pretest ke posttest pada kelompok eksperimen. Dengan kata lain terjadi peningkatan skor yang signifikan dari pretest

ke posttest pada kemampuan inferensi di kelompok eksperimen.

Selain menggunakan uji Paired Samples t-test dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows, juga dicantumkan grafik peningkatan skor pretest ke posttest agar mempermudah dalam melihat peningkatannya. Berikut ini merupakan gambar grafik peningkatan skor pretest ke

posttest pada kemampuan inferensi.

Gambar4.5 Peningkatan Skor Pretest ke Posttest pada Kemampuan Inferensi

1.55 2.40 1.51 2.14 .00 .50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 Pretest Posttest1 Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol

64 Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa rata-rata skor pretest pada kelompok eksperimen sebesar 1,55, dan rata-rata skor posttest meningkat menjadi 2,40. Sedangkan pada kelompok kontrol rata-rata skor pretest sebesar 1,51 yang meningkat menjadi 2,14 pada rata-rata skor posttest. Dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tersebut terlihat bahwa mengalami peningkatan skor dari

pretest ke posttest pada kemampuan inferensi.

2) Uji besar pengaruh perlakuan

Uji pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perlakuan yang dilakukan dalam penelitian. Hal ini juga untuk memastikan apakah ada perbedaan antara skor posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Menurut Cohen (dalam Field, 2009:57) kriteria untuk penentuan besar efek adalah:

1) r = 0,10 : efek kecil (1%) 2) r = 0,30 : efek menengah (9%) 3) r = 0,50 : efek besar (25%)

Berikut ini adalah tabel uji besar efek perlakuan pada kemampuan

inferensi (lihat Lampiran 4.12, halaman 163):

Tabel 4.15 Uji Besar Pengaruh Perlakuan pada Kemampuan Inferensi Kemampuan

Inferensi t df r % Efek

Eksperimen 5,61 31,53 24 0,754 0,569 56,85 Besar Kontrol 4,51 20,36 26 0,663 0,221 43,96 Besar

Dari hasil uji besar pengaruh pengaruh metode mind map di atas, diketahui besarnya effect size pada kelompok eksperimen sebesar 0,754 dengan nilai df =

24. Sedangkan pada kelompok kontrol besarnya effect size sebesar 0,663 dengan nilai df = 26. Berdasarkan kriteria yang digunakan, besarnya effect size pada kelompok eksperimen sebesar 56,85%, hal ini menunjukkan bahwa metode mind map memiliki efek besar terhadap kemampuan inferensi. Sedangkan pada kelompok kontrol, besarnya effect size adalah 43,96%. Hal ini menunjukkan bahwa metode ceramah memiliki efek besar terhadap kemampuan inferensi.

65

4) Uji retensi pengaruh perlakuan

Untuk mengetahui perbandingan yang terjadi pada posttest I ke posttest II.

Berikut ini akan ditampilkan tabel uji retensi pengaruh perlakuan. Analisis statistik yang digunakan adalah paired samples t-test. Data akan dikatakan ada peningkatan yang signifikan jika harga sig. (2-tailed) < 0,05. Berikut ini adalah hasil analisis uji retensi pengaruh perlakuan (lihat Lampiran 4.9, halaman 160).

Tabel 4.16 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan pada Kemampuan Inferensi No Kelompok Rerata Peningkatan (%) Signifkansi (p) Keputusan Posttest 1 Posttest II

1 Eksperimen 2,40 2,16 -10 0,065 Ada perbedaan 2 Kontrol 2,14 1,98 -7,48 0,251 Tidak ada

perbedaan

Dari hasil uji retensi pengaruh perlakuan, diiketahui bahwa harga M = 0,240, SD = 0,631, dan SE = 0,126 dan sig. (2-tailed) pada kelompok eksperimen sebesar 0,069 (atau p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II

pada kelompok eksperimen. Dengan kata lain terjadi peningkatan skor yang signifikan dari skor posttest I ke posttest II pada kemampuan inferensi di kelompok eksperimen. Pada kelompok kontrol harga M = 0,157, SD = 0,697, SE = 0,134, dan sig. (2-tailed) sebesar 0,251 (atau p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi

ditolak. Hal ini berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor

posttest I dan posttest II pada kelompok kontrol. Dengan kata lain tidak terjadi peningkatan skor yang signifikan dari skor posttest I ke posttest II pada kemampuan inferensi di kelompok kontrol.

Selain menggunakan tabel uji retensi pengaruh perlakuan diatas, peneliti juga menggunakan grafik perbandingan skor posttest I ke posttest II, agar lebih mudah dalam melihat perubahan skor yang terjadi. Berikut ini merupakan grafik perubahan skor dari pretest, ke posttest I dan ke posttest II.

66

Gambar 4.6 Perbandingan Skor Pretest, Postest I, dan Postest II pada Kemampuan Inferensi

Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa rata-rata skor pretest pada kelompok eksperimen sebesar 1,51, dan rata-rata skor posttest I meningkat menjadi 2,40 yang kemudian mengalami penurunan pada posttet II dengan rata-rata skor sebesar 2,16. Sedangkan pada kelompok kontrol rata-rata-rata-rata skor pretest

sebesar 1,51 yang meningkat menjadi 2,14 pada rata-rata skor posttest I,

kemudian mengalami penurunan skor pada posttest II dengan rata-rata skor sebesar 1,98.