• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh perlakuan benih terhadap pertumbuhan dan kejadian penyakit bulai tanaman jagung manis

Penanaman benih dilakukan pada saat itu populasi tanaman barrier sudah menunjukkan gejala penyakit bulai sebesar 70-80% (Gambar 6). Hasil analisis ragam menunjukkan perlakuan benih berpengaruh sangat nyata terhadap kejadian penyakit, berat kering tanaman, tinggi tanaman saat 3 MST, tinggi tanaman saat 4 MST, tinggi tanaman saat 5 MST, jumlah daun saat 3 MST, jumlah daun saat 4 MST dan jumlah daun saat 5 MST (Lampiran 4). Perlakuan benih tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman saat 2 MST dan jumlah daun saat 2 MST. (Lampiran 4).

Gambar 6 Tanaman jagung manis percobaan 1 di rumah plastik. (A) populasi tanaman barrier (sumber inokulum) yang menunjukkan gejala penyakit bulai sebesar 70-80%, (B) tanaman barrier bergejala penyakit bulai

Kejadian penyakit. Perlakuan fungisida sintetik tanpa matriconditioning

menunjukkan berbeda nyata dibandingkan dengan semua perlakuan terhadap kejadian penyakit bulai. Dari tiga belas perlakuan benih yang dicobakan dimana delapan perlakuan tanpa dikombinasikan dengan fungisida sintetis yaitu kontrol,

matriconditioning, perendaman dengan B. laterosporus, perendaman dengan B. megaterium, perendaman B. laterosporus + B. megaterium, matriconditioning +

B. laterosporus, matriconditioning + B. megaterium, matriconditioning + B. laterosporus + B. megaterium menunjukkan semua kejadian penyakit yang dihasilkan sebesar 100.0% (Tabel 5). Menurut Arrifunti dan Rumawas (2002) bahwa penggunaan fungisida dengan bahan aktif metalaksil melalui perlakuan benih untuk mengendalikan penyakit bulai pada tanaman jagung manis menunjukkan pengaruh nyata saat tanaman berumur 4, 5 dan 6 minggu setelah tanam, ditambahkan Takhur et al. (2011) bahwa perlakuan benih dengan bahan aktif metalaksil dapat melindungi penyakit bulai pada tanaman pearl millet.

22

Tabel 5 Pengaruh perlakuan benih terhadap kejadian penyakit dan bobot kering tanaman

Perlakuan Kejadian penyakit (%) Bobot kering tanaman (g)

M0 100.0 a 3.3 cd M1 100.0 a 2.7 d M2 64.0 c 15.8 ab M3 100.0 a 4.5 cd M4 100.0 a 4.4 cd M5 100.0 a 3.2 cd M6 83.1 b 18.3 a M7 100.0 a 5.5 cd M8 100.0 a 3.3 cd M9 100.0 a 3.7 cd M10 87.0 ab 22.3 a M11 83.6 b 17.5 a M12 87.0 ab 10.2 bc a

= nilai rata-rata pada tiap kolom yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut DMRT pada alpha = 5%.

M0= kontrol, M1= matriconditioning, M2= campuran fungisida sintetik, M3= agen hayati B. laterosporus, M4= agen hayati B. megaterium, M5= agen hayati B. laterosporus + B. megaterium, M6= matriconditioning + campuran fungisida sintetik, M7= matriconditioning

+ B. laterosporus, M8= matriconditioning + B. megaterium, M9= matriconditioning + B. laterosporus + B. megaterium M10= matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. laterosporus, M11= matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. megaterium, M12=

matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. laterosporus + B. megaterium.

Kombinasi perlakuan fungisida sintetik dan agen hayati cenderung menunjukkan peningkatan persentase kejadian penyakit bulai yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan fungisida sintetik tunggal, hal tersebut terlihat pada perlakuan benih matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. laterosporus, matriconditioing + campuran fungisida sintetik + B. megaterium

serta matriconditioing + campuran fungisida sintetik + B. laterosporus + B. megaterium dengan kejadian penyakit berturut-turut sebesar 87.0%, 83.6% dan 87.0% (Tabel 5). Kombinasi perlakuan fungisida sintetik dengan B. megaterium

maupun B. laterosporus yang cenderung meningkatkan kejadian penyakit bulai diduga kedua agen hayati tersebut mampu berperan sebagai bioremidiator terhadap fungisida sintetik tersebut. Bioremidiasi merupakan proses pendegradasian senyawa-senyawa kimia dengan memanfaatkan jenis mikroba seperti bakteri, cendawan, dan protozoa. Hasil penelitian Priadie (2012) menyatakan bakteri dari kelompok Bacillus, Staphylococcus dan Pseudomonas

mampu mereduksi bahan pencemar logam Pb, nitrat, nitrit, bahan organik (COD), sulfida, dan ammonia.

Bobot kering tanaman. Hasil uji lanjut rata-rata bobot kering tanaman menunjukkan bahwa perlakuan matriconditioning + campuran fungisida sintetik +

23

B. laterosporus menghasilkan bobot kering tanaman yang lebih tinggi dibandingkan dengan seluruh perlakuan yang tanpa dikombinasikan fungisida sintetik. Perlakuan matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. laterosporus menunjukkan paling efektif di dalam meningkatkan bobot kering tanaman yaitu sebesar 19.0 g. Bobot kering tanaman yang dihasilkan perlakuan

matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. laterosporus menunjukkan tidak berbeda nyata dengan seluruh perlakuan yang dikombinasikan fungisida sintetik kecuali perlakuan matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. megaterium + B. laterosporus.

Perlakuan campuran fungisida sintetik + B. laterosporus ini tidak hanya mampu menurunkan tingkat kejadian penyakit bulai, tetapi dengan adanya agen hayati mampu meningkatkan metabolisme tanaman dengan dihasilkannya sejumlah biomasa yang lebih banyak. Menurut Kloepper et al. (2004) bahwa bakteri sebagai agen hayati mampu meningkatkan ketersediaan nutrisi, menghasilkan hormon pertumbuhan serta dapat mengendalikan penyakit.

Tinggi tanaman. Analisis ragam tinggi tanaman percobaan 1 menunjukkan bahwa perlakuan benih tidak berpengaruh nyata saat 2 MST, dan menunjukkan pengaruh nyata saat 3 MST , 4 MST dan 5 MST (Lampiran 4). Hasil uji lanjut rata-rata tinggi tanaman jagung manis pada percobaan 1 disajikan pada tabel 6.

Tabel 6 Pengaruh perlakuan benih terhadap tinggi tanaman jagung manis

Perlakuan Tinggi tanaman

a (cm) 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST M0 4.7 6.2 a 7.3 d 10.2 cd M1 4.7 5.3 a 6.9 d 8.8 d M2 5.6 8.4 abc 14.7 ab 19.7 ab M3 5.1 6.8 bcd 9.5 cd 11.7 cd M4 5.6 7.8 abc 9.3 cd 13.2 c M5 6.1 6.4 bcd 9.3 cd 13.5 c M6 4.7 8.8 ab 14.3 ab 20.9 a M7 5.0 7.0 bcd 8.9 d 12.4 c M8 6.0 6.8 bcd 8.3 d 11.8 cd M9 5.8 6.9 bcd 8.7 d 13.2 c M10 5.1 9.7 a 16.0 a 20.7 a M11 5.2 9.6 a 16.7 a 20.7 a M12 4.7 7.6 abcd 12.5 bc 17.0 b a

= angka pada tiap kolom yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut DMRT pada alpha = 5%.

M0= kontrol, M1= matriconditioning, M2= campuran fungisida sintetik, M3= agen hayati B. laterosporus, M4= agen hayati B. megaterium, M5= agen hayati B. laterosporus + B. megaterium, M6= matriconditioning + campuran fungisida sintetik, M7= matriconditioning

+ B. laterosporus, M8= matriconditioning + B. megaterium, M9= matriconditioning + B. laterosporus + B. megaterium M10= matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. laterosporus, M11= matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. megaterium, M12=

24

Awal pengamatan saat 2 MST tanaman menunjukkan pertumbuhan yang relatif seragam. Gejala penyakit bulai meskipun sudah timbul namun tanaman masih menunjukkan pertumbuhan tinggi tanaman yang masih seragam. Saat pengamatan tinggi tanaman 3 MST menunjukkan perlakuan matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. laterosporus menghasilkan tinggi tanaman lebih tinggi dan berbeda dengan tanaman kontrol yaitu 9.7 cm. Hal yang sama juga saat pengamatan tinggi tanaman 4 MST dan 5 MST, dimana perlakuan

matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. laterosporus menghasilkan tinggi tanaman yang lebih tinggi dibanding kontrol maupun perlakuan yang tanpa dikombinasikan dengan fungisida sintetik (Tabel 6).

Perlakuan benih dengan fungisida sintetik plus agen hayati selain mampu menekan kejadian penyakit juga efektif di dalam meningkatkan pertumbuhan vegetatifnya. Peranan B. laterosporus sebagai agen hayati karena rizhobakteri ini memiliki kemampuan melarutkan fosfat dan memproduksi auksin (IAA). Auksin maupun fosfat sangat dibutuhkan setiap tanaman untuk pertumbuhannya. Senyawa fosfat yang ada di lingkungan tumbuh tidak selalu tersedia bagi tanaman, sehingga keberadaan bakteri pelarut fosfat dapat membantu penyediaan senyawa ini bagi tanaman. Menurut Faramarzi et al. (2012) penggunaan

rhizobakteri pemacu pertumbuhan mampu meningkatkan tinggi tanaman, hasil biji dan bobot biji tanaman jagung, ditambahkan Sopyan (2003) bahwa perlakuan

matriconditioning plus inokulan yang dikombinasikan fungisida sintetik mampu meningkatkan tinggi tanaman kedelai.

Jumlah daun. Hasil analisis ragam jumlah daun menunjukkan perlakuan benih tidak berpengaruh nyata saat 2 MST, dan menunjukkan pengaruh nyata saat 3, 4 dan 5 MST (Lampiran 4). Perlakuan benih yang menunjukkan pengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun saaat 2 MST dikarenakan pada saat awal pertumbuhan, tanaman jagung manis menunjukkan pertumbuhan yang relatif seragam, seperti halnya pada pengamatan tinggi tanaman saat 2 MST. Perlakuan

matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. laterosporus menghasilkan jumlah daun saat 3 MST, 4 MST dan 5 MST yang lebih tinggi dan berbeda nyata dengan kontrol. Jumlah daun saat 3 MST dan 4 MST menunjukkan bahwa perlakuan matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. laterosporus tidak berbeda nyata dengan semua perlakuan benih yang menggunakan atau dikombinasikan dengan fungisida sintetik yaitu perlakuan fungisida sintetik,

matriconditioning + campuran fungisida sintetik, matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. megaterium, matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. megaterium + B. laterosporus. Pengamatan jumlah daun saat 5 MST menunjukkan perlakuan matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. laterosporus menghasilkan jumlah daun yang lebih tinggi serta berbeda nyata dengan kontrol dan perlakuan lain yang tanpa dikombinasikan fungisida sintetik. Perlakuan matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. laterosporus

menunjukkan tidak berbeda nyata dengan seluruh perlakuan yang menggunakan atau dikombinasikan fungisida sintetik, kecuali perlakuan matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. megaterium + B. laterosporus (Tabel 7).

25 Tabel 7 Pengaruh perlakuan benih terhadap jumlah daun tanaman jagung manis

Perlakuan Jumlah daun

a 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST M0 3.1 3.2 d 3.6 d 4.9 cd M1 2.7 3.2 d 3.5 d 4.2 d M2 2.9 4.3 abc 5.2 abc 6.7 ab M3 3.0 3.5 cd 4.3 cd 4.5 d M4 2.9 3.4 d 3.7 d 4.9 cd M5 2.9 3.3 d 3.8 d 4.7 d M6 2.9 4.5 ab 5.9 a 7.2 a M7 3.1 3.8 bcd 4.6 bcd 5.3 cd M8 3.2 3.4 d 3.9 d 4.8 cd M9 3.2 3.9 abcd 4.2 cd 5.2 cd M10 3.0 4.7 a 5.9 a 7.1 ab M11 2.9 4.6 ab 5.6 ab 6.6 ab M12 1.9 4.0 abcd 5.2 abc 6.0 cd a

= angka pada tiap kolom yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut DMRT pada alpha = 5%.

M0= kontrol, M1= matriconditioning, M2= campuran fungisida sintetik, M3= agen hayati B. laterosporus, M4= agen hayati B. megaterium, M5= agen hayati B. laterosporus + B. megaterium, M6= matriconditioning + campuran fungisida sintetik, M7= matriconditioning

+ B. laterosporus, M8= matriconditioning + B. megaterium, M9= matriconditioning + B. laterosporus + B. megaterium M10= matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. laterosporus, M11= matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. megaterium, M12=

matriconditioning + campuran fungisida sintetik + B. laterosporus + B. megaterium.

Penggunaan agen hayati sebagai perlakuan benih diharapkan mampu bekerja sejak awal saat benih diinokulasikan. Kolonisasi awal bakteri mempunyai peranan penting bagi fisiologi tanaman yang berpengaruh terhadap pertumbuhannya (Amelia 2002), hal tersebut berkaitan dengan kemampuan bertahan hidup bakteri. Madigan et al. (1997) melaporkan kemampuan bertahan hidup bakteri berkaitan dengan adanya kompetisi antar mikroorganisme dalam penguasaan tempat hidup atau memperebutkan nutrisi, antibiosis dan predasi.

Hasil analisis dari berbagai peubah pengamatan baik dari aspek mutu fisiologis benih, pertumbuhan tanaman serta efektivitas penghambatan penyakit bulai, maka dapat diambil satu perlakuan benih menggunakan agen hayati yang dianggap paling baik yaitu menggunakan agen hayati B. laterosporus untuk dijadikan bahan perlakuan selanjutnya pada percobaan 2.

26

Percobaan 2

Perlakuan Benih untuk Meningkatkan Mutu dan Produksi Benih serta Mengendalikan Penyakit Bulai pada Jagung Manis di Lapangan

Agen hayati terpilih berdasarkan hasil terbaik percobaan 1 adalah isolat B. laterosporus yang digunakan sebagai perlakuan benih pada percobaan 2. Percobaan 2 guna pengujian kejadian penyakit, pertumbuhan tanaman serta produksi jagung manis dilakukan di lapangan, sedangkan untuk pengujian mutu fisiologis benih hasil panen dilakukan di laboratorium.

1. Pengaruh perlakuan benih terhadap kejadian penyakit, pertumbuhan