• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORITIS

A. Pengaturan Diri dalam Proses Belajar Mandiri

Pada bagian ini akan dipaparkan mengenai ketrampilan pengaturan diri dalam rangka mencapai tujuan belajar. Ketrampilan ini sangat penting, karena menyangkut diri perorangan setiap siswa dalam pengaturan diri dalam belajar terutama ketika belajar di rumah.

1. Pengertian Pengaturan Diri dalam Proses Belajar Mandiri (Self Regulated Learning)

Corno & Mandinah dan Hargis & Kerlin (Sumarmo, 2010)

mendefisikan Self-regulated learning (pengaturan diri dalam belajar)

sebagai upaya memperdalam dan memanipulasi jaringan asosiatif dalam suatu bidang tertentu, dan memantau serta meningkatkan proses pendalaman yang bersangkutan. Definisi tersebut menunjukkan bahwa

Self-regulated learning merupakan proses perancangan dan pemantauan diri yang seksama terhadap proses kognitif dan afektif dalam

learning itu sendiri bukan merupakan kemampuan mental atau keterampilan akademik tertentu seperti kefasihan membaca, namun merupakan proses pengarahan diri dalam mentransformasi kemampuan mental ke dalam keterampilan akademik tertentu. Mengacu pada pendapat

Corno & Mandinah dan Kerlin (Sumarmo,2010) mengklasifikasi

Self-regulated learning dalam dua katagori yaitu: (1) proses pencapaian informasi, proses transformasi informasi, proses pemantauan, dan proses perancangan, serta (2) proses kontrol metakognitif.

Agak berbeda dengan definisi Corno dan Mandinah (Sumarmo, 2010),

Bandura (Sumarmo, 2010)mendefinisikan Self-regulated learning sebagai

kemampuan memantau perilaku sendiri, dan merupakan kerja-keras personaliti manusia. Selanjutnya Bandura menyarankan tiga langkah

dalam melaksanakan Self-regulated learning yaitu: (1) Mengamati dan

mengawasi diri sendiri: (2) Membandingkan posisi diri dengan standar tertentu, dan (3) Memberikan respons sendiri (respons positif dan respons

negatif). Strategi Self-regulated learning memuat kegiatan: mengevaluasi

diri, mengatur dan mentranformasi, menetapkan tujuan dan rancangan, mencari informasi, mencatat dan memantau, menyusun lingkungan, mencari konsekuensi sendiri, mengulang dan mengingat, mencari bantuan sosial, dan mereview catatan.

Schunk dan Zimmerman (Sumarmo, 2010) mendefinisikan

Self-regulated learning sebagai proses belajar yang terjadi karena pengaruh dari pemikiran, perasaan, strategi, dan perilaku sendiri yang berorientasi

pada pencapaian tujuan. Menurut Schunk dan Zimmerman (Sumarmo,

2010) terdapat tiga phase utama dalam siklus Self-regulated learning yaitu:

merancang belajar, memantau kemajuan belajar selama menerapkan rancangan, dan mengevaluasi hasil belajar secara lengkap. Serupa dengan

Schunk & Zimmerman dan Butler (Sumarmo, 2010) mengemukakan

bahwa Self-regulated learning merupakan siklus kegiatan kognitif yang

rekursif (berulang-ulang) yang memuat kegiatan: menganalisis tugas; memilih, mengadopsi, atau menemukan pendekatan strategi untuk mencapai tujuan tugas; dan memantau hasil dari strategi yang telah dilaksanakan

Self-regulated learning (pengaturan diri dalam belajar) mencakup kemampuan strategi kognitif, belajar teknik pembelajaran, dan belajar sepanjang masa. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Schunk dan

Zimmerman (dalam Winne, 1997, h. 397), yang mengkategorikan

self-regulated learning sebagai dasar kesuksesan belajar, problem solving, transfer belajar, dan kesuksesan akademis secara umum.

Self-regulated learning menyangkut penerapan dari model umum

regulasi dan regulasi diri (self-regulation) dalam proses belajar. Ada empat

asumsi mengenai self-regulated learning yang dipakai Wolters dkk. (2003,

h. 3- 5). Pertama, asumsi aktif dan konstruktif. Siswa sebagai partisipan yang aktif konstruktif dalam proses belajar, baik itu aktif mengkonstruk pemahaman, tujuan, maupun strategi dari informasi yang tersedia di lingkungan dan pikirannya sendiri.

Kedua, self-regulated learning sebagai potensi untuk mengontrol. Siswa sanggup memonitor, mengontrol, meregulasi aspek tertentu dari kognitif, motivasi dan perilaku sesuai karakteristik lingkungan jika memungkinkan. Ketiga, asumsi tujuan, kriteria, atau standar. Asumsi tersebut digunakan untuk menilai apakah proses harus dilanjutkan bila perlu ketika beberapa kriteria atau standar berubah. Keempat, asumsi

bahwa aktivitas dalam self-regulated learning merupakan penengah

(mediator) antara personal dan karakteristik konteks dan prestasi atau performa yang sesungguhnya.

Self-regulation pada kognitif, motivasi, dan perilaku yang dimiliki

individu, merupakan perantara hubungan antara person, konteks dan

bahkan prestasi. Berdasarkan asumsi di atas self-regulated learning adalah

proses aktif dan konstruktif dengan jalan siswa menetapkan tujuan untuk proses belajarnya dan berusaha untuk memonitor, meregulasi, dan mengontrol kognisi, motivasi, dan perilaku, yang kemudian semuanya diarahkan dan didorong oleh tujuan dan disesuaikan dengan konteks lingkungan (Pintrich dalam Wolters dkk., 2003, h. 5: Schunk, 2005, h. 173).

Pemaparan definisi diatas sejalan dengan definisi Zimmerman (1989,

h. 329) yang memaparkan secara umum bahwa self-regulated learning

pada siswa dapat digambarkan melalui tingkatan atau derajat yang meliputi keaktifan berpartisipasi baik itu secara metakognisi, motivasional, maupun perilaku dalam proses belajar.

Zimmerman (dalam Montalvo dan Torres, 2004, h. 4-7), telah memberikan gambaran perbedaan karakteristik antara siswa yang

menerapkan dan tidak menerapkan self-regulation dalam proses belajarnya

akan diuraikan sebagai berikut.

a. Mengetahui cara menggunakan serangkaian strategi kognitif yang

membantu dalam mentransformasi, mengorganisasi, mengelaborasi, dan menemukan kembali informasi.

b. Mengetahui bagaimana merencanakan, mengontrol, dan mengatur

proses mental menjadi prestasi dari tujuan individu (metakognisi).

c. Mampu menentukan keyakinan motivasi dan emosi yang tepat.

d. Merencanakan waktu dan usaha yang akan digunakan untuk mencapai

tujuan.

e. Melakukan peningkatan yang menunjukkan usaha terbaik dalam

proses belajar.

f. Mampu menjalani kondisi yang menuntut serangkaian strategi, yang

bertujuan mempertahankan konsentrasi, usaha, dan motivasi selama melakukan tugas akademis.

Menurut The Liang Gie (1995:189), pengaturan diri dalam proses

belajar (self regulated learning) berarti mendorong diri sendiri untuk maju,

mengatur semua unsur potensi pribadi, mengendalikan kemauan untuk mencapai hal-hal yang baik dan mengembangkan berbagai segi dari pribadi agar lebih sempurna. Terdapat empat bentuk perbuatan yang

mendasari kegiatan pengaturan diri dalam proses belajar (The Liang Gie, 1995:189), yaitu :

a. Pendorongan Diri (self motivation)

Syarat pertama bagi setiap siswa untuk mencapai tujuan belajar adalah pendorongan diri. Pendorongan diri termasuk salah satu dorongan psikologis dari dalam diri seseorang yang merangsang diri dalam mencapai tujuan yang didambakan. Pendorongan dari dalam diri akan melahirkan minat dan motivasi yang besar untuk belajar dengan sepenuh kemampuan. Seseorang dengan minat yang besar akan mendatangkan hasil belajar yang memuaskan, karena dengan konsentrasi maka perhatian tidak terganggu oleh hal lain sehinga akan mudah memahami bahan pelajaran, mampu belajar dalam jangka panjang dan bahkan memperoleh kesenangan batin dari belajar karena bertambahnya pengetahuan.

b. Pengelolaan Diri (self organization)

Bentuk yang kedua dalam pengaturan diri adalah penyusunan diri, yaitu mengatur dengan sebaik-baiknya pikiran, tenaga, waktu, tempat, benda dan semua sumber daya lainnya dalam kehidupan setiap siswa sehingga tercapai efisiensi pribadi. Efisiensi pribadi yaitu perbandingan terbaik antara setiap kegiatan hidup pribadi dengan hasil yang diinginkan. Dalam proses menuju kegiatan belajar mandiri penyusunan diri diperlukan agar tercapai tujuan belajar. Pada dasarnya penyusunan diri dalam proses belajar mandiri yaitu siswa dapat merencanakan,

mengatur dan mengurus semua hal dalam diri sendiri supaya proses belajar dapat berlangsung secara tertib, mudah dan lancar.

c. Pengendalian Diri (self control)

Pengendalian diri dalam proses belajar mandiri adalah perbuatan dalam membentuk tekad untuk mendisiplinkan kemauan, memacu semangat, mengikis keseganan dan mengerahkan energi untuk benar-benar melaksanakan apa yang harus dikerjakan dalam proses belajar. Seseorang memilki tujuan dan rencana belajar yang baik tanpa didukung dengan pengendalian diri dalam proses belajar, maka hasil belajar yang diperoleh tidak akan memuaskan. Oleh sebab itu melatih kontrol diri harus benar-benar diusahakan dari waktu kewaktu oleh setiap siswa agar mencapai hasil belajar yang memuaskan.

d. Pengembangan Diri (self development)

Pengembangan diri dalam proses belajar mandiri merupakan bentuk pengaturan diri yang terakhir. Pengembangan diri adalah perbuatan yang menyempurnakan atau meningkatkan diri sendiri dalam berbagai hal mencakup segenap sumber daya pribadi dalam diri seorang siswa Pengembangan diri dalam proses belajar mandiri meliputi pengembangan fisik untuk menjaga kesehatan, pengembangan sosial untuk meningkatkan berbagai ketrampilan hubungan antar perorangan, pengembangan emosional untuk membina kesadaran diri yang lebih besar dan kekokohan emosional, pengembangan intelektual untuk menambah kearifan serta pengetahuan, pengembangan karakter untuk

membina perilaku moral dan etis, pengembangan spiritual untuk memupuk suatu kesadaran yang lebih besar terhadap makna kehidupan.

Peneliti menyimpulkan bahwa definisi self-regulated learning adalah

proses aktif dan konstruktif siswa dalam menetapkan tujuan untuk proses belajarnya dan berusaha untuk memonitor, meregulasi, dan mengontrol kognisi, motivasi, dan perilaku, yang kemudian semuanya diarahkan dan didorong oleh tujuan dan mengutamakan konteks lingkungan

2. Aspek-aspek self-regulated learning

Self-regulation merupakan fundamen dalam proses sosialisasi dan melibatkan perkembangan fisik, kognitif dan emosi (Papalia, 2001, h.

223). Siswa dengan self-regulation pada tingkat yang tinggi akan memiliki

kontrol yang baik dalam mencapai tujuan akademisnya. Self-regulation

yang diterapkan dalam selfregulated learning, mengharuskan siswa fokus

pada proses pengaturan diri guna memperoleh kemampuan akademisnya.

Menurut Zimmerman (1989, h. 329), selfregulated learning terdiri atas

pengaturan dari tiga aspek umum pembelajaran akademis, yaitu kognisi, motivasi dan perilaku.

Sesuai aspek di atas, selanjutnya Wolters dkk. (2003, h. 8-24)

menjelaskan secara rinci penerapan strategi dalam setiap aspek

self-regulated learning sebagai berikut. Pertama, strategi untuk mengontrol atau meregulasi kognisi meliputi macam-macam aktivitas kognitif dan metakognitif yang mengharuskan individu terlibat untuk mengadaptasi dan

mengubah kognisinya. Strategi pengulangan (rehearsal), elaborasi (elaboration), dan organisasi (organization) dapat digunakan individu untuk mengontrol kognisi dan proses belajarnya.

Kedua, strategi untuk meregulasi motivasi melibatkan aktivitas yang penuh tujuan dalam memulai, mengatur atau menambah kemauan untuk memulai, mempersiapkan tugas berikutnya, atau menyelesaikan aktivitas tertentu atau sesuai tujuan. Regulasi motivasi adalah semua pemikiran, tindakan atau perilaku dimana siswa berusaha mempengaruhi pilihan, usaha, dan ketekunan tugas akademisnya. Regulasi motivasi meliputi

mastery self-talk, extrinsic self-talk, relative ability self-talk, relevance enhancement, situasional interest enhancement, self-consequating, dan

penyusunan lingkungan (environment structuring).

Ketiga, strategi untuk meregulasi perilaku merupakan usaha individu untuk mengontrol sendiri perilaku yang nampak. Sesuai penjelasan Bandura (Zimmerman, 1989, h. 330) bahwa perilaku adalah aspek dari

pribadi (person), walaupun bukan “self” internal yang direpresentasikan

oleh kognisi, motivasi dan afeksi. Meskipun begitu, individu dapat melakukan observasi, memonitor, dan berusaha mengontrol dan meregulasinya dan seperti pada umumnya aktivitas tersebut dapat

dianggap sebagai self-regulatory bagi individu. Regulasi perilaku meliputi

regulasi usaha (effort regulation), waktu dan lingkungan (time/ study

environment), dan pencarian bantuan (help-seeking).

(Sumarmo, 2010) adalah tingkat dimana siswa secara metakognitif mempunyai dorongan untuk belajar dan berpartisipasi secara aktif dalam proses belajar mereka sendiri.

Secara metakognitif, siswa yang mengatur diri adalah mereka yang merencanakan, mengorganisasikan, menginstruksikan diri, memonitor diri dan mengevaluasi diri pada berbagai tahapan selama proses belajar berlangsung. Siswa yang mempunyai dorongan untuk belajar mempunyai otonomi atas dirinya, serta memilih, menyusun dan menciptakan lingkungan yang dapat mengoptimalkan belajarnya.

Definisi di atas mengasumsikan pentingnya tiga unsur untuk mencapai tujuan belajar yaitu :

a. Strategi pengaturan diri dalam belajar yaitu tindakan-tindakan dan

proses-proses yang berhubungan langsung dengan perolehan informasi atau keterampilan.

b. Persepsi self efficacy terhadap kinerja keterampilan yaitu persepi

tentang kemampuan seseorang dalam mengorganisasikan dan melakukan tindakan yang perlu untuk mencapai kinerja keterampilan yang direncankan.

c. Tujuan akademik yang menunjuk pada hal-hal yang berhubungan

dengan perolehan prestasi dalam belajar.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam pengaturan diri dalam belajar, siswa sendiri dalam belajar, siswa sendiri yang memprakarsai dan langsung berusaha sendiri dalam memperoleh

pengetahuan dan keterampilannya, dan tidak hanya mengandalkan diri pada guru, ataupun orang dewasa lainnya.

3. Unsur-unsur Pengaturan Diri dalam Belajar

      Thoresen dan Mahoney (dalam Zimmerman, 1989, h. 332-336)

memaparkan dari perspektif sosial-kognitif, bahwa keberadaan

self-regulated learning ditentukan oleh tiga wilayah yakni wilayah person, wilayah perilaku, dan wilayah lingkungan seperti tergambar dalam diagram berikut.

Gambar 1. Analisis Triadik Self-regulated Functioning

: Strategi Use

: Feedback Loop

Unsur-unsur atau faktor-faktor yang menentukan pengaturan diri dalam

belajar menurut teori social cognitive adalah:

a. Unsur Pribadi.

Persepsi self-efficacy siswa tergantung pada masing-masing empat

tipe yang mempengaruhi pribadi seseorang: pengetahuan siswa

Person (self)  behavior  environment  Convert Self  Regulation  Environmental Self Regulation  Behavioral  Self  Regulation  Convert Self  Regulation 

(students' knowledge), proses metakognitif, tujuan dan afeksi (affect).

Pengetahuan self-regulated learning harus memiliki kualitas

pengetahuan prosedural dan pengetahuan bersyarat (conditional

knowledge). Pengetahuan prosedural mengarah pada pengetahuan bagaimana menggunakan strategi, sedangkan pengetahuan bersyarat merujuk pada pengetahuan kapan dan mengapa strategi tersebut

berjalan efektif. Pengetahuan self-regulated learning tidak hanya

tergantung pada pengetahuan siswa, melainkan juga poses metakognitif pada pengambilan keputusan dan performa yang dihasilkan. Proses metakognitif melibatkan perencanaan atau analisis tugas yang berfungsi mengarahkan usaha pengontrolan belajar dan mempengaruhi timbal balik dari usaha tersebut. Pengambilan keputusan metakognitif

tergantung juga pada tujuan (goals) jangka panjang siswa untuk belajar.

Tujuan dan pemakaian proses kontrol metakognitif dipengaruhi oleh

persepsi terhadap self-efficacy dan afeksi (affect).

Unsur pribadi yang menentukan pengaturan diri dalam belajar

adalah persepsi self efficacy siswa. Menurut Bandura (1997) pengaruh

ini sangat tergantung pada pengetahuan siswa tentang pengaturan diri, proses metakognitif, tujuan dan keadaan afeksi siswa.

Menurut Zimmerman (Jamridafrizal, 2010) pada tingkat umum dalam pengaturan diri, analisis tugas atau perencanaan dilakukan untuk menyeleksi atau memilih strategi-strategi pengaturan diri. Perencaan ini diasumsikan terjadi berdasarkan pada tugas-tugas yang dihadapi. Pada

tingkatan yang lebih khusus, proses-proses mengontrol perilaku menjadi pedoman untuk melaksanakan, menekuni dan memonitor respon-respon penggunaan strategi belajar dalam konteks tertentu. Perbedaan kedua proses metakognitif di atas dapat diilustrasikan dalam strategi pengarahan diri menurut Meichembaum & Goodman (Jamridafrizal, 2010) berikut :

Seorang anak laki-laki SMP yang tergabung dalam kelompok band di sekolahnya secara periodik mengeluarkan bunyi yang janggal dari terompetnya. Kesalahan ini membuat ia dicemoohkan oleh anggota kelompok band lainnya. Untuk memperbaiki kesalahannya dalam membaca not tertentu, ia merencanakan untuk mengingat kata-kata kunci untuk mengingatkannya kembali nada not-not blok pada musik. Untuk mengontrol strategi pengarahan diri, ia menyempatkan diri untuk membaca not-not lebih baik dan mengingat kata-kata kunci untuk membantu ingatannya. Penggunaan strategi verbalisasi tersembunyi dapat dilanjutkan bila ia berhasil dalam mengurangi.

Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa keefektifan siswa dalam merencanakan dan mengontrol perilakunya sendiri merupakan salah satu tanda yang memungkinkan tingkat pengaturan diri yang lebih baik.

Proses metakognitif juga tergantung pada tujuan yang ingin dicapai siswa. Anak laki-laki yang diilustrasikan di atas, dapat saja keluar dari keanggotaan bandnya setelah dicemoohkan teman-temannya. Tetapi

karena ia mempunyai tujuan jangka panjang yaitu keinginan menjadi musikus yang profesional, maka ia mempunyai motivasi yang tinggi untuk memperbaiki kesalahannya, waluapun harus dilakukannya secara bertahap.

Dengan demikian penentuan tujuan merupakan hal yang penting dalam pengaturan diri. Menurut Bandura (1997) banyak hasil-hasil yang diharapkan terlalu jauh dan umum, karena itu orang harus menciptakan pedoman bagi dirinya sendiri dan memotivasi dirinya agar dapat mencapai hasil yang diinginkan.

Selain penentuan tujuan, keadaan afeksi juga mempengaruhi fungsi pengaturan diri. Penelitian yang dilakukan Kuhl (jamridafrizal, 2010) menunjukkan bahwa kecemasan dapat mengganggu berbagai proses metakognitif, terutama dalam proses mengontrol tindakan dan penentuan tujuan.

b. Unsur Perilaku

Terdapat tiga hal utama yang relevan dalam menganalisis pengaturan diri dalam belajar, yaitu observasi diri, penilaian diri dan reaksi diri (Bandura, 1997)

1) Observasi diri

Observasi diri menunjuk pada perilaku siswa yang memonitor kinerja mereka sendiri. Dengan mengobservasi diri, siswa dapat memperoleh informasi tentang sejauhmana kemajuan ke arah tujuan sudah tercapai. Observasi diri juga dipengaruhi oleh faktor pribadi

seperti self efficacy, penentuan tujuan maupun proses metakognitif. Menurut Zimmerman (Jamridafrizal, 2010) terdapat dua metode yang dapat digunakan dalam mengobservasi perilaku yaitu melalui pelaporan lisan atau tertulis, dan rekaman kuantitatif dari tindakan yang dilakukan.

Hasil penelitian yang dilakukan Schunk (Jamridafrizal, 2010) tentang penggunaan prosedur rekaman terhadap siswa- siswa Sekolah Dasar yang mempunyai prestasi kurang dalam pelajaran pengurangan (aritmatik), menunjukkan bahwa siswa-siswa yang melakukan prosedur rekaman memperlihatkan secara signifikan

lebih tinggi dalam self efficacy, keterampilan, dan ketekunannya

dalam menghadapi tugas, dibandingkan dengan siswa-siswa yang tidak melakukan prosedur rekaman. Studi ini menunjukkan bahwa observasi yang dilakukan siswa secara sistematis terhadap kemajuan belajarnya, dapat menghasilkan efek reaksi diri yang positif selama belajar.

2) Penilaian diri

Penilaian diri menunjuk pada perilaku-perilaku siswa yang secara sistematis membandingkan kinerja mereka dengan standar atau tujuan tertentu. Dua cara yang umum yang dapat digunakan

siswa adalah dengan melakukan prosedur checking (misalnya

memeriksa kembali jawaban soal-soal matematika) dan dengan membandingkan jawaban sendiri dengan jawaban teman atau dengan

kunci jawaban. Hasil penelitian yang dilakukan Schunk (Jamridafrizal, 2010) menunjukkan bahwa kelompok siswa yang

diberi perlakuan penilaian diri memperlihatkan self efficacy yang

lebih tinggi dan lebih terampil dalam menyelesaikan tugas, dibandingkan dengan kelompok siswa yang tidak diberi perlakuan. Penelitian yang dilakukan Collin (Jamridafrizal, 2010) menunjukkan

bahwa siswa yang self efficacynya tinggi memperlihatkan penilaian

dari yang lebih baik dalam menghadapi tugas-tugas belajar yang sulit

daripada siswa yang self efficacynyarendah.

3) Reaksi diri

Reaksi diri menunjuk pada perilaku atau usaha siswa dalam mengoptimalkan perilaku tertentu dalam belajar, mempertinggi proses-proses pribadi selama belajar dan memperbaiki lingkungan belajar. Menurut Bandura (1997) ketiga hal di atas sangat tergantung satu sama lainnya. Sebagai contoh ia membuat hipotesis bahwa yang membuat siswa lebih mengobservasi diri dipengaruhi oleh penilaian diri mereka terhadap pekerjaan mereka dalam dua hal, yaitu yang memberi informasi penting bagi penentuan standar kinerja dan untuk mengevaluasi perilakunya. Kedua hal ini diasumsikan akan mendorong reaksi diri seseorang untuk mencapai kinerja yang diinginkan. Penelitian lain yang dilakukan oleh Shapiro (Jamridafrizal, 2010) tentang monitoring diri menunjukkan bahwa melatih siswa melakukan penilaian terhadap diri sendiri dapat

menghasilkan berbagi efek reaksi diri yang positif selama belajar.

c. Unsur Lingkungan

Pengaruh lingkungan yang turut menentukan pengaturan diri dalam belajar adalah peran pengalaman, modeling, persuasi verbal dan struktur dalam konteks belajar.

1) Lingkungan sosial dan pengalaman mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan manusia. Menurut Bandura (1997) observasi diri dan pengalaman merupakan hal yang sangat

berpengaruh dalam mengubah persepsi siswa terhadap self efficacy

dan menambah pengetahuan seseorang. Karenanya peranan pengalaman bagi siswa adalah untuk memotivasi siswa dalam pemilihan strategi belajar.

2) Peranan modeling dalam pengaturan diri dalam belajar yang efektif

dapat mempertinggi self efficacy pada siswa yang kurang percaya

diri. Menurut Bandura (1997) modeling melalui strategi imitasi yang

efektif, dapat meningkatkan self efficacy siswa yang tidak

mempunyai pengalaman. Secara teoritis modeling akan berperan secara efektif, apabila model merasa sama dengan yang diobservasi. 3) Persuasi verbal sebenarnya merupakan suatu metode yang kurang

efektif dalam melakukan pengaturan diri dalam belajar, karena sangat tergantung pada tingkat pemahaman verbal siswa (Bandura, 1997). Tetapi bila dikombinasikan dengan modeling, persuasi verbal menjadi medium yang kuat, karena siswa dapat belajar melalui

berbagai keterampilan kognitif, afektif dan motorik (Jamridafrizal, 2010). Dalam penelitian yang dilakukan mereka tentang peran model motorik dan verbal terhadap siswa SD dalam hal pertukaran boneka (untuk menakuti burung), ditemukan siswa yang mengamati model yang sacara verbal dan motorik menjelaskan rangkaian manipulasi permainan mendapatkan lebih banyak pasangan boneka daripada siswa-siswa yang melihat model diam. Data ini menunjukkan bahwa penjelasan yang terinci dan pengamatan langsung terhadap gerakan model akan mempercepat pemahaman siswa dalam proses belajar. 4) Struktur dalam konteks belajar juga mempunyi pengaruh yang cukup

besar dalam pengaturan diri, terutama menyangkut penentuan tempat belajar dan tugas. Menurut Zimmerman (Jamridafrizal, 2010) manusia dalam belajar tetap tergantung pada lingkungan sosial dimana ia berada. Mengubah kondisi belajar dari suasana yang ribut menjadi tenang akan mempengaruhi pengaturan diri dalam belajar.

4. Fase–fase self-regulated learning

Berdasarkan perspektif sosial-kognitif yang dikemukakan Zimmerman

(2000 dalam Pajares dan Urdan, 2006, h. 57-62), bahwa proses

self-regulation digambarkan sebagai pemikiran, perasaan, dan tindakan yang muncul dari dalam diri seseorang, yang terencana dan selalu berubah perputarannya berdasarkan performa umpan balik yang berpengaruh pada pencapaian tujuan yang ditargetkan diri sendiri.

Perputaran self-regulation mencakup tiga fase umum: fase perencanaan, pelaksanaan, dan proses evaluasi. Ketiga fase tersebut

prosesnya sama dengan self-regulated learning. Fase perencanaan akan

mempengaruhi performa seseorang dalam proses fase kontrol performa atau fase pelaksanaan, yang secara bergantian akan mempengaruhi fase

reaksi diri. Perputaran self-regulation dikatakan sempurna apabila proses

refleksi diri mampu mempengaruhi proses perencanaan selama seseorang berusaha memperoleh pengetahuan berikutnya.

a. Fase perencanaan (Forethought)

Terdapat dua kategori yang saling berkaitan erat dalam fase perencanaan:

1) Analisis tugas (Task Analysis). Analisis tugas meliputi penentuan

tujuan dan perencanaan strategi. Tujuan dapat diartikan sebagai penetapan atau penentuan hasil belajar yang ingin dicapai oleh seorang individu, misalnya memecahkan persoalan matematika selama proses belajar berlangsung. Sistem tujuan dari individu yang

mampu melakukan self-regulation tersusun secara bertahap. Proses

tersebut dilakukan sebagai regulator untuk mencapai tujuan yang

Dokumen terkait