BAB IV : PERTANGUNGJAWABAN KEPERDATAAN PT.KERETA API (Persero) ATAS
KETENTUAN TENTANG PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG PT. KERETA API (PERSERO) DI INDONESIA
1) Pengaturan Hukum PT.Kereta Api di Indonesia
Kereta api di Indonesia diawali dari peraturan-peraturan peninggalan zaman belanda sebelum adanya pengaturan hukum tentang kereta api di Indonesia yaitu bersumber pada Stb 1926-334 jo Stb 1927-295 (Algemene Regelen betreffende den aanleg en de ekspolitatie van spoor en tramwegen bested voor algemene verkeer in Ned. Indie) yang berbentuk suatu Koninklijk Besluit (KB).39 Peraturan-peraturan tersebut antara lain, sebagai berikut :40
a) Stb 1926 No.334, yang telah diubah dan ditambah dengan Stb 1927 No.295, yaitu tentang peraturan umum mengenai perbuatan dan eksploitasi jalan-jalan sepur dan trem yang ditentukan buat lalu lintas umum di Hindia Belanda.
b) Stb 1927 No.258 tentang peraturan umum mengenai jalan sepur dan trem (Algemeine Bepalingen Spooren Tremwegen = ABST) yang telah diubah dan ditambah dengan Stb 1933 No.139 dan Stb 1937 No. 557
c) Stb 1927 No.295, peraturan tentang pembuatan dan pengusahaan jalanjalan sepur (Bepalingen Aeslangen Bedrijt Spoorwegen = BABS) yang telah diubah dan ditambah dengan Stb 1930 No.387 Stb 1937 No.290 dan Stb 1940 No.4.
d) Stb 1929 No.260, peraturan tentang jalan-jalan trem kota (Bepalingen Staadstranwegen = BST) yang telah diubah dan ditambah dengan Stb 1931 No.168,Stb 1937 No.290 dan Stb 1940 No.4.
39 Achmad Ichsan, Hukum Dagang, PT. Pradnya Paramita, Jakarta, Cetakan ke IV ,2010, hlm. 425
40 Sution Usman Adji,dkk, Op.Cit.,hlm.139-140
Universitas Sumatera Utara
e) Stb 1927 No.261, peraturan tentang jalan-jalan trem di luar kota (Bepalingen Landelijk tramwegen = BLT) yang telah diubah dan ditambah dengan Stb 1930 No.382 Stb 1937 No.290 dan Stb 1940 No.4.
f) Stb 1927 No.262 sebagai salah satu peraturan yang terpenting, peraturan tentang pengangkutan dengan kereta api (Bepalingen Vervoer Spoorwegen = BVS).
g) Reglemen 18 jilid II, tentang peraturan pengangkutan barang.
h) STBH, tentang syarat-syarat dan tarif pengangkutan barang hantaran dan urusan angkutan motor.
i) STB, tentang syarat-syarat dan tarif pengangkutan kiriman biasa/cepat untuk barang, hewan, kendaraan dan jenazah.
j) STP, tentang syarat-syarat pengangkutan dan tarif untuk penumpang, bagasi dan hewan kecil.
Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1992 tentang Perkeretaapian, kondisi perkeretaapian nasional yang masih bersifat monopoli dihadapkan pada berbagai masalah, antara lain kontribusi perkeretaapian terhadap transportasi nasional masih rendah, prasarana dan sarana belum memadai, jaringan masih terbatas, kemampuan pembiayaan terbatas, tingkat kecelakaan masih tinggi, dan tingkat pelayanan masih jauh dari harapan.
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, peran Pemerintah dalam penyelenggaraan perkeretaapian perlu dititikberatkan pada pembinaan yang
48
meliputi penentuan kebijakan, pengaturan, pengendalian, dan pengawasan dengan mengikutsertakan peran masyarakat sehingga penyelenggaraan perkeretaapian dapat terlaksana secara efisien, efektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan tetap berpijak pada makna dan hakikat yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta dengan memperhatikan perkembangan lingkungan strategis, baik nasional maupun internasional, terutama di bidang perkeretaapian, UndangUndang Nomor 13 Tahun 1992 tentang Perkeretaapian perlu diganti karena tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan perkembangan hukum dalam masyarakat, perkembangan zaman, serta ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga untuk meningkatkan pembinaan dan penyelenggaraan perkeretaapian yang sesuai dengan perkembangan kehidupan Bangsa Indonesia serta agar lebih berhasil guna dan berdaya guna, maka perlu ditetapkan ketentuan mengenai perkeretaapian dalam suatu Undang-Undang terbaru.
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2007 adalah merupakan peraturan perundangan mengenai perkeretaapian yang mulai berlaku pada tanggal 25 April 2007. Undang-Undang ini dibentuk dalam rangka pembangunan nasional serta untuk lebih mewujudkan kepastian hukum. Dengan dibentuknya Undang-Undang itu dimaksudkan untuk adanya penyederhanaan, penyesuaian, dan penggantian serta penyempurnaan Undang-Undang dibidang perkeretaapian yang dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman dan teknologi.
Universitas Sumatera Utara
Selain undang-undang nomor 23 tahun 2007 tentang perkeretaapian yang menjadi dasar pokok peraturan mengenai transportasi kereta api serta hal-hal yang berkaitan dengan kereta api, beberapa peraturan-peraturan pemerintah juga dikeluarkan oleh pemerintah indonesia antara lain sebagai berikut :
1) PP Nomor 56 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Perkeretaapian, mengatur mengenai penyelenggaraan sarana dan prasarana perkeretaapian.
2) PP Nomor 72 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Kereta Api.
Peraturan pemerintah ini juga berlaku sama seperti berlakunya undang-undang nomor 23 tahun 2007.
Namun dalam pelaksanaannya undang-undang nomor 23 tahun 2007 menjadi peraturan pokok yang diberlakukan. Dalam suatu peraturan perundang-undangan terdapat suatu asas yang disebut “asas lex specialis derogate lex generalis” yang menyatakan bahwa peraturan hukum yang bersifat khusus mengenyampingkan peraturan hukum yang bersifat umum. Dan menurut hierarki peraturan perundang-undangan dimana kedudukan undang-undang lebih tinggi di bandingkan dengan kedudukan peraturan pemerintah. Maka dengan demikian bahwa undang-undang nomor 23 tahun 2007 menjadi aturan pokok mengenai perkeretaapian dan peraturan pemerintah lainnya masih tetap berlaku sebagai peraturan pelengkap dari undang-undang nomor 23 tahun 2007.
50
2) Struktur Organisasi PT. KAI 41
B. Hak dan Kewajiban PT. Kereta Api (Persero) 1. Hubungan Hukum PT. KAI dengan Penumpang
Hubungan hukum (rechtbetrekkingen) adalah hubungan antara dua subyek hukum atau lebih mengenai hak dan kewajiban di satu pihak berhadapan dengan hak dan kewajiban pihak yang lain.42 Hubungan hukum memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi, yaitu adanya dasar hukum dan adanya peristiwa hukum.43 Berkaitan dengan hal tersebut, kegiatan pengangkutan perkeretaapian diselenggarakan dengan adanya dua pihak atau lebih yang berperan dalam melaksanakan suatu pengangkutan. Pihakpihak yang dimaksud adalah pihak pelaku usaha dan pihak pengguna jasa.
41 Https://kai.id.corporate.organization diakses pada tanggal 6 Januari 2020 pukul 16.36 wib
42 Soeroso R., Pengantar Ilmu Hukum, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta 2006, hlm. 269.
43 Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Prenada Media Grup, Jakarta, 2012, hlm. 254.
Universitas Sumatera Utara
Pengguna jasa dalam pengertian tersebut dapat juga diartikan sebagai konsumen yang definisinya terdapat dalam Pasal 1 angka 2 UUPK yang menyatakan bahwa “Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain, dan tidak untuk diperdagangkan”.44 Dalam penyelenggaraan pengangkutan kereta api ini, konsumen dapat dikategorikan menjadi dua yaitu konsumen sebagai penumpang dan/atau konsumen sebagai pengirim barang. Berdasarkan kasus, yang dimaksud dengan konsumen di sini adalah konsumen sebagai penumpang kereta api.
PT. KAI selaku pengangkut, dan penumpang selaku pengguna jasa, dalam menyelenggarakan pengangkutan kereta api akan menimbulkan suatu hubungan hukum yang disebut dengan perikatan. Bermula dari perikatan inilah hubungan hukum antara PT. KAI dengan penumpang timbul. Mariam Darus Badzrulzaman mengatakan bahwa “Perikatan merupakan suatu hubungan hukum antara dua pihak atau lebih dalam lapangan harta kekayaan, di mana satu pihak berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi tersebut”.45 Perikatan tersebut dapat timbul atau lahir dari suatu perjanjian dan/atau dari Undang-undang.
Berkaitan dengan hal ini, perikatan yang timbul antara PT. KAI dengan konsumen adalah karena adanya perjanjian dan undang-undang. Perikatan yang timbul dari suatu perjanjian dibuktikan dengan adanya perjanjian pengangkutan yang dilakukan oleh PT. KAI dan konsumen. Menurut Soegijatno Tjakranegara,
44 R.I., Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999, tentang “Perlindungan Konsumen”, Bab I, Pasal 1, Angka 2.
45 Mariam Darus Badzrulzaman, dkk, Kompilasi Hukum Perdata, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hlm 1.
52
“Perjanjian pengangkutan merupakan suatu peristiwa yang telah mengikat seseorang untuk melaksanakan pengangkutan karena orang tersebut telah berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal berupa pengangkutan, sedangkan seseorang yang lain telah berjanji pula untuk melaksanakan sesuatu hal berupa pemberian imbalan atau upah”.46
Perjanjian pengangkutan ini pada dasarnya diadakan secara lisan, namun harus terdapat dokumen pendukung untuk membuktikan bahwa telah terjadi perjanjian pengangkutan. Perjanjian pengangkutan atau dokumen pendukung perjanjian pengangkutan kereta api itu disebut dengan karcis atau tiket atau surat pengangkutan yang dijelaskan dalam Pasal 121 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009 yang menyatakan “Karcis merupakan tanda bukti terjadinya perjanjian angkutan orang”. Karcis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 121 ayat (1) tersebut, paling sedikit memuat informasi kelas pelayanan, nama stasiun pemberangkatan dan stasiun tujuan, tanggal dan waktu pemberangkatan serta kedatangan, dan harga karcis.47
Selain perikatan yang timbul dari suatu perjanjian, perikatan antara PT. KAI dengan konsumen juga timbul dari undang-undang. Dikatakan demikian karena dapat dilihat dari adanya beberapa undang-undang yang mengatur mengenai perikatan antara PT. KAI dengan konsumen. Seperti yang terdapat dalam UUPK, UUKA, PM.48 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Minimun Untuk Angkutan Orang Dengan Kereta Api, dan lain sebagainya. Undang-undang tersebut
46 Soegijatno Tjakranegara, Hukum Pengangkutan Barang dan Penumpang, Rineka Cipta, Jakarta, 2011,hlm.9
47 R.I., Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009, tentang “Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api”, Bab IV, Bagian Kedua, Pasal 121-122.
Universitas Sumatera Utara
mengatur mengenai hubungan hukum antara PT. KAI dengan konsumen, serta hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh masing-masing pihak. Hak-hak yang diberikan kepada konsumen sebagai pengguna jasa tidak lain yaitu sebagai bentuk perlindungan hukum terhadap konsumen atas kepastian hukum yang berdasarkan asas keadilan, manfaat, keseimbangan keamanan, dan keselamatan konsumen.48 2. Hak dan Kewajiban PT KAI Menurut Undang-undang No.23 Tahun 2007
Tentang Perkeretaapian
Sebagaimana dalam setiap perjanjian terdapat hak dan kewajiban dari para pihak yang berjanji, demikian pula halnya dalam perjanjian pengangkutan kereta api terdapat hak dan kewajiban dari pihak penyelenggara angkutan. Dalam Pasal 90 Undang-undang No.23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian menyatakan bahwa : “Penyelenggara Prasarana Perkeretaapian berhak dan berwenang :
a. Mengatur, mengendalikan, dan mengawasi perjalanan kereta api;
b. Menghentikan pengoperasian sarana perkeretaapian apabila dapat membahayakan perjalanan kereta api;
c. Melakukan penertiban terhadap pengguna jasa kereta api yang tidak memenuhi persyaratan sebagai pengguna jasa kereta api di stasiun;
d. Mendahulukan perjalanan kereta api di perpotongan sebidang dengan jalan;
e. Menerima pembayaran dari penggunaan prasarana perkeretaapian; dan
48 Suprapti, Tanggung Jawab Perusahaan Angkutan Udara Terhadap Pengiriman Kargo Melalui Udara, Jurnal Manajemen Dirgantara, Vol. 9, Desember 2016, ISSN : 2252-7451, hlm. 37.
54
f. Menerima ganti kerugian atas kerusakan prasarana perkeretaapian yang disebabkan oleh kesalahan penyelenggara sarana perkeretaapian atau pihak ketiga.49
PT Kereta Api Indonesia sebagai pengangkut wajib mengangkut orang yang telah memiliki karcis. Orang yang telah memiliki karcis berhak memperoleh pelayanan sesuai dengan tingkat pelayanan yang dipilih. Karcis merupakan tanda bukti terjadinya perjanjian pengangkutan orang. Hal ini selaras dengan ketentuan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian Pasal 132.
PT Kereta Api Indonesia wajib :
a. Mengutamakan keselamatan dan keamanan orang;
b. Mengutamakan pelayanan kepentingan umum;
c. Menjaga kelangsungan pelayanan pada lintas yang ditetapkan;
d. Mengumumkan jadwal perjalanan kereta api dan tarif pengangkutan kepada masyarakat;
e. Mematuhi jadwal keberangkatan kereta api; dan
f. Mengumumkan kepada pengguna jasa apabila terjadi pembatalan dan penundaan keberangkatan, keterlambatan kedatangan, atau pengalihan pelayanan lintas kereta api disertai dengan alasan yang jelas. (Pasal 133 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian).
49 Undang-undang No.23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian Pasal 90, Tim Redaksi Nuasa Aulia,Bandung, 2019, hlm.36
Universitas Sumatera Utara
Apabila terjadi pembatalan keberangkatan perjalanan kereta api, PT Kereta Api Indonesia wajib mengganti biaya yang telah dibayar oleh pembeli karcis. Akan tetapi, jika pembeli karcis yang membatalkan keberangkatan sampai batas waktu keberangkatan tidak melapor kepada pengangkut, ia tidak mendapat penggantian biaya karcis. Apabila pembeli karcis membatalkan keberangkatan sebelum batas waktu keberangkatan yang dijadwalkan melapor kepada PT Kereta Api Indonesia, ia mendapat pengembalian sebesar 75% dari harga karcis. Apabila dalam perjalanan kereta api tidak dapat melanjutkan perjalanan sampai stasiun yang disepakati, PT Kereta Api wajib :
a. Menyediakan pengangkutan kereta api lain atau moda pengangkutan lain sampai stasiun tujuan;
b. Memberikan ganti kerugian senilai harga karcis. (Pasal 134 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian).
PT Kereta Api Indonesia yang tidak menyediakan pengangkutan kereta api lain atau moda pengangkutan lain sampai stasiun tujuan atau tidak memberi ganti kerugian senilai harga karcis dikenai sanksi administrative berupa pembekuan izin operasi atau pencabutan izin operasi (Pasal 135 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian). Kenyataannya, sekarang belum ada Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) yang menjadi penyelenggara pengangkutan kereta api. Ini berarti, Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) PT Kereta Api Indonesia yang sekarang satu-satunya pengangkutan kereta api dapat dikenai ancaman sanksi
56
pembekuan atau pencabutan izin operasi. Jika sanksi tersebut diterapkan, mungkin dapat menjadi pelajaran bagi PT Kereta Api Indonesia untuk membenahi diri.
Selama kegiatan pengangkutan orang dengan kereta api, petugas PT Kereta Api Indonesia berwenang untuk :
a. Memeriksa karcis yang dimiliki pengguna jasa (penumpang);
b. Menindak pengguna jasa (penumpang) yang tidak mempunyai karcis;
c. Menertibkan pengguna jasa (penumpang) kereta api atau masyarakat yang mengganggu perjalanan kereta api; dan
d. Melaksanakan pengawasan dan pembinaan terhadap masyarakat yang berpotensi menimbulkan gangguan terhadap perjalanan kereta api.
PT Kereta Api Indonesia dalam keadaan tertentu dapat membatalkan perjalanan kereta api apabila terdapat hal-hal yang dapat membahayakan keselamatan, ketertiban, dan kepentingan umum (Pasal 136 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian). Pelayanan pengangkutan orang dengan kereta api harus memenuhi standar pelayanan minimum. Standar pelayanan minimum meliputi pelayanan di stasiun keberangkatan, dalam perjalanan, dan di stasiun tujuan (Pasal 137 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian).
Universitas Sumatera Utara
3. Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha Menurut Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
Dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlndungan Konsumen Pasal 1 angka 3 meyebutkan bahwa pelaku usaha adalah setiap orang-perorang atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.
Dalam penjelasannya menyatakan bahwa pelaku usaha yang termaksud dalam pengertian ini adalah perusahaan, koperasi, BUMN, korporasi, importer, pedagang, distributor, dan lain-lain. Dalam hal ini PT KAI termasuk sebagai pelaku usaha.
a. Hak Pelaku Usaha
Dalam Pasal 6 Undang-undang Nomor 8 Tahun Tentang Perlindungan Konsumen menyebutkan enam hak pelaku usaha diataranya:
1) Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
2) Hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beretikad tidak baik;
3) Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya didalam penyelesaian hukum sengketa konsumen;
58
4) Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
5) Hak-hak yang diatur oleh ketentuan perundang-undangan lainnya.
b. Kewajiban Pelaku Usaha
Kewajiban adalah sesuatu yang harus dilaksanakan oleh mereka yang mengembannya, dalam hal ini Kewajiban Pelaku Usaha beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usaha merupakan salah satu asas yang dikenal dalam hukum perikatan. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 1338 ayat 3 KUHPerdata.
Untuk itu, dalam menjamin terciptanya upaya perlindungan konsumen yang efektif maka, Undang-undang Perlindungan Konsumen secara ekplisit menentukan dalam Bab III Pasal 7 terkait kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan oleh Pelaku Usaha.
Ada 6 (enam) kewajiban pelaku usaha disebutkan dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlndungan Konsumen Pasal 7 diataranya:
1) Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;
2) Memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberikan penjelasan penggunaan, pebaikan, dan pememeliharaan;
3) Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
Universitas Sumatera Utara
4) Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;
5) Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau diperdagangkan.
6) Memberi kompensasi, ganti rugi, dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan konsumen tidak sesuai dengan perjanjian.
C. Kecelakaan dan Hambatan Pengangkutan PT. Kereta Api 1. Kecelakaan Pengangkutan
Kecelakaan (accident) adalah peristiwa hukum pengangkutan berupa kejadian atau musibah yang tidak dikehendaki oleh pihak-pihak, terjadi sebelum dalam waktu atau sesudah penyelenggaraan pengangkutan. Karena perbuatan manusia atau kerusakan alat pengangkut sehingga menimbulkan kerugian material, fisik, jiwa, atau hilangnya mata pencaharian bagi pihak penumpang, pemilik barang, atau pihak pengangkut. Dapat diuraikan unsur-unsur kecelakaan pengangkutan yaitu :
a. Kejadian atau Musibah
Kejadian atau musibah pengangkutan merupakan peristiwa yang tidak dapat diketahui sebelumnya oleh penumpang, pengirim barang, atau oleh pengangkut bahwa hal itu terjadi.
b. Tidak dikehendaki oleh pihak-pihak
Dalam kehidupan manusia normal, tidak seorang pun yang menghendaki terjadi musibah pengangkutan karena peristiwa itu jelas merugikan, baik bagi
60
penumpang, pengirim barang, maupun pengangkut, bahkan mungkin pihak lain yang tidak ada kaitannya dengan pengangkutan. bersangkutan karena sudah diketahui ada ancaman bahaya yang akan terjadi.
c. Sebelum, dalam waktu, sesudah pengangkutan
Kecelakaan pengangkutan berupa kejadian atau musibah dapat terjadi sebelum pengangkutan diselenggarakan. Musibah dapat saja menimpa penumpang atau barang ketika menunggu pemuatan, atau saat pemuatan penumpang atau barang kedalam alat pengangkut.
d. Perbuatan manusia atau kerusakan alat pengangkut
Kecelakaan pengangkutan berupa kejadian atau musibah dapat terjadi karena perbuatan manusia atau karena kerusakan alat pengangkut. Perbuatan manusia sebagai penyebab kecelakaan, misalnya rel kereta api digergaji untuk dijual kepada pedagang besi tua.
e. Kerugian material, fisik, jiwa, atau hilangnya mata pencaharian
Akibat terjadi kecelakaan atau musibah pengangkutan timbul kerugian material, fisik, jiwa, atau hilangnya mata pencaharian. Kerugian material adalah kerugian berupa benda, uang, surat berharga, dan hak milik lainnya. Kerugian berupa benda antara lain musnah atau rusaknya barang bawaan ataupun barang kiriman. Kerugian berupa uang antara lain, hilangnya atau lenyapnya sejumlah uang tunai, keuntungan yang diharapkan.
f. Penumpang, pengirim, pihak ketiga, pengangkut
Penumpang adalah pihak dalam perjanjian pengangkutan. Penumpang selalu berupa manusia pribadi atau perseorangan. Dalam musibah pengangkutan,
Universitas Sumatera Utara
penumpang selalu menjadi pihak yang mengalami kerugian akibat kecelakaan alat pengangkut, misalnya tabrakan kereta api, bus masuk jurang, tenggelamnya kapal, atau jatuhnya pesawat terbang.
1) Penanganan Kecelakaan Pengangkutan
Tugas utama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) adalah melakukan tindakan investigasi terhadap kasus kecelakaan transportasi yang terjadi di darat, laut dan udara, memberikan rekomendasi hasil investigasi kecelakaan transportasi kepada pihak terkait dan memberikan saran dan pertimbangan kepada Presiden berdasarkan hasil investigasi kecelakaan transportasi dalam rangka mewujudkan keselamatan. Tugas dan fungsi KNKT tersebut sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2013 Tentang Investigasi Kecelakaan Transportasi. Dalam melakukan investigasi kecelakaan tertentu terhadap kendaraan bermotor, KNKT wajib berkoordinasi dengan pihak Kepolisian RI. Namun pada prakteknya, KNKT sering mengalami kesulitan karena tidak diberikan akses lebih oleh pihak kepolisian dalam melakukan penyidikan terhadap kecelakaan dengan alasan bahwa hal tersebut telah sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Investigasi kecelakaan transportasi yang dilakukan oleh KNKT berdasarkan prinsip:
a. Tidak untuk mencari kesalahan ;
b. Tidak untuk memberikan sanksi/hukuman ;
62
c. Tidak untuk mencari siapa yang bertanggungjawab menanggung kerugian.
Kecelakaan kereta api yang wajib diinvestigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sebagaimana dimaksud yaitu kecelakaan yang mengakibatkan:
a. Terdapat korban jiwa paling sedikit 8 (delapan) orang;
b. Mengundang perhatian publik secara luas;
c. Menimbulkan polemik/kontroversi;
d. Menimbulkan prasarana rusak berat;
e. Berulang-ulang pada merek dan/atau tipe kendaraan yang sama dalam satu tahun;
f. Berulang-ulang pada lokasi yang sama dalam satu tahun; dan/atau
g. Mengakibatkan pencemaran lingkungan akibat limbah atau bahan berbahaya dan beracun (b3) yang diangkut.
Selain dari kategori di atas, KNKT dapat melakukan investigasi sesuai dengan keputusan rapat pimpinan yang bersifat kolektif kolegial. Dalam melaksanakan investigasi, KNKT akan menunjuk Ketua Kerja Tim Investigasi dan melaporkan hasil investigasi kepada Ketua KNKT paling lama 1 (satu) bulan setelah peristiwa kecelakaan. Hasil tersebut kemudian dilaporkan Ketua KNKT kepada Presiden.50
50https://ombudsman.go.id/produk/lihat/132/SUB_LI_5a1ea99397156_file_2018011 7_142817.pdf diakses pada tanggal 12 Januari 2020 pukul 20.19 wib
Universitas Sumatera Utara
2) Penanganan Kecelakaan Kereta Api
Penanganan kecelakaan kereta api diatur dalam Undang-undang No. 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian, selanjutnya disebut Undang-undang Perkeretaapian Indonesia.
Menurut ketentuan Undang-undang tersebut dalam hal terjadi kecelakaan kereta api, pihak penyelenggara prasarana dan sarana perkeretaapian harus melakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Mengambil tindakan untuk kelancaran dan keselamatan lalu lintas;
b. Menangani korban kecelakaan;
c. Memindahkan penumpang, bagasi, dan barang antaran ke kereta api lain atau moda transportasi lain untuk meneruskan perjalanan sampai stasiun tujuan;
d. Melaporkan kecelakaan kepada Menteri Perhubungan, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/kota;
e. Mengumumkan kecelakaan kepada pengguna jasa dan masyarakat;
f. Segera menormalkan kembali lalu lintas kereta api setelah dilakukan penyidikan awal oleh pihak berwenang; dan
g. Mengurus klaim asuransi korban kecelakaan (Pasal 125 Undang-undang No.
g. Mengurus klaim asuransi korban kecelakaan (Pasal 125 Undang-undang No.