BAB III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. PENGAWASAN DPRD PADANG LAWAS TERHADAP
C.3. Pengawasan DPRD Padang Lawas terhadap
Sebagaimana dipaparkan sebelumnya, dalam menjalankan tugas pengawasannya, DPRD mengacu kepada tata terib yang telah ditetapkan serta undang-undang yang mengatur kedudukan dewan. Selanjutnya dalam operasionalnya pengawasan ini dijalankan alat kelengkapan dewan sebagaimana disinggung pada uraian sebelumnya. DPRD Padang Lawas telah membentuk Badan Kelengkapan Dewan dan Mitra Kerja Eksekutif dengan Komisi di DPRD, tentang mitra kerja ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Bupati Padang Lawas. Piranti ini bertujuan untuk efektifitas kinerja dewan dalam menjalankan tugas dan fungsi, khususnya fungsi pengawasan DPRD Padang Lawas terhadap Pelaksanaan APBD.
Melakukan kunjungan langsung ke lapangan atau dalam agenda kunjungan kerja. Jaring aspirasi masyarakat, baik saat reses maupun tidak. Kemudian evaluasi DPRD Padang Lawas terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati, adalah merupakan wujud pengawasan DPRD Padang Lawas. Sebagaimana yang diharapkan, bahwa fungsi pengawasan yang dilakukan tentu tidak sekedar memenuhi agenda seremonial atau pengawasan bersifat administratif saja, tetapi pengawasan DPRD yang memanfaatkan kekuatan legitimasi politik bahkan yuridis yang dimiliki dalam rangka mewujudkan keinginan rakyat serta untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan anggaran maupun penyalahgunaan wewenang yang merugikan keuangan negara.
a. Pengawasan Langsung terhadap Program atau Proyek Realisasi APBD tahun 2010 di Lapangan dan Peran Alat Kelengkapan Dewan
1. Alat Kelengkapan Dewan Padang Lawas
Kelengkapan Dewan DPRD Padang Lawas terdiri dari : a.Pimpinan
Satu orang Ketua dan dua orang Wakil Ketua b.Badan Musyawarah (Bamus)
Berjumlah 15 orang, Bamus dipimpin pimpinan dewan sendiri, sekretaris Bamus adalah sekretaris dewan, dan anggotanya mewakili fraksi-fraksi.
c.Komisi
Terdiri dari tiga komisi yaitu, Komisi A. Bidang Politik dan Pemerintahan, Komisi B. Bidang Perekonomian dan Keuangan, dan Komisi C. Bidang Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat.
d.Badan Legislasi Daerah e.Badan Anggaran
f.Badang Kehormatan
Daftar Pimpinan dan Anggota beserta Alat Kelengkapan Dewan DPRD Kabupaten Padang Lawas terlampir.
Bahwa formasi alat kelengkapan dewan ini disusun dan ditetapkan adalah untuk optimalnya kerja-kerja dewan. Keterwakilan unsur dewan untuk berpartisipasi aktif dalam mengemban amanah rakyat sesuai dengan bidang masing-masing. Terlebih-lebih dalam mengawasi pelaksanaan APBD.
Soal pengawasan DPRD Padang Lawas terhadap APBD tahun 2010 sehubungan dengan fungsi alat kelengkapan dewan, kenyataan di lapangan ternyata belum berjalan optimal sesuai yang diharapkan. Misalnya:
1. Terkait dengan tugas pimpinan dewan:
a.Rencana kerja pimpinan dewan belum terbentuk
b.Keterampilan dan penguasaan pimpinan sebagai juru bicara dewan masih kurang mantap di beberapa bidang tertentu, termasuk dalam menyahuti aspirasi, baik saat dialog maupun saat adanya demonstrasi
c.Nuansa kolektif kolegial belum berjalan maksimal 2. Terkait tugas badan musyawarah
a.agenda sidang yang belum berjalan dengan baik, masih seringnya rapat dewan ditunda dan dibatalkan
b.perkiraan dalam penyelesaian suatu masalah dan jangka waktu penyelesaian ranperda masih sering meleset.
3. Terkait tugas komisi
Hal ini melingkupi pengawasan terhadap pelaksanaan perda dan APBD tahun 2010 sesuai dengan ruang lingkup tugas masing-masing, dan akan dijelaskan lebih lanjut di bagian lain. Namun sekilas menyajikan pendapat masyarakat terkait dengan pengawasan komisi-komisi di DPRD Padang Lawas terhadap pelaksanaan APBD 2010, masyarakat berpendapat pengwasan DPRD pada APBD tahun 2010 kurang baik. Hal ini ditandai dengan beruntunnya persoalan-persoalan yang terjadi menyangkut pelaksanaan APBD tahun 2010. Termasuk daya serap APBD yang rendah.
4. Terkait tugas badan legislasi daerah
a. Rencana kerja dan kegiatan balegda belum terbentuk
b.Rancangan program legislasi yang memuat daftar urutan dan prioritas rancangan perda untuk setiap tahun anggaran tidak berjalan dengan baik.
5. Terkait tugas badan anggaran
Masih kurang optimalnya saran yang disampaikan kepada kepala daerah tentang rancangan perda APBD tahun 2010, tentang perubahan (P-APBD) dan pertanggungjawaban APBD. Hal ini ditandai keterlambatan dan kurang maksimalnya pembahasan-pembahasan tentang RAPBD, P-APBD, dan terlebih-lebih LKPJ tahun 2010. Dan diyakini ternyata PAD maupun realisasi anggaran jauh dari target. Miliaran rupiah juga kembali ke kas daerah dan negara. Persoalan ini tentu dipengaruhi Visi-misi, RPJMD yang belum jelas, sehingga melemahkan realisasi anggaran dalam APBD 2010.
6. Terkait tugas badan kehormatan dewan
Masih terdapatnya anggota dewan yang kehadiran dan keaktifannya sudah melewati ambang batas kewajaran, namun tidak ada peringatan dan sanksi yang tegas dari BK. Padahal ini sudah menyangkut disiplin atau kepatuhan terhadap moral, etika dan tata tertib dewan yang mempengaruhi martabat, kehormatan, citra dan kredibilitas DPRD.
Dari hasil penelitian tersebut, baik terkait jalannya tugas dan tanggungjawab badan kelengkapan dewan Padang Lawas, dimana terdapat persoalan-persoalan serius yang merupakan bagian yang sangat mempengaruhi optimalnya pengawasan. Demikian halnya dengan agenda dan rumusan Pengawasan DPRD Padang Lawas terhadap Pelaksanaan APBD tahun 2010, bahwa ternyata tidak terformat dengan baik. Akibat tidak adanya mekanisme tersendiri tentang pelaksanaan fungsi pengawasan, perencanaan agenda pengawasan, akhirnya tahapan-tahapan pengawasan tidak terbentuk secara teratur. Pada akhirnya pengawasan DPRD Padang Lawas tidak terukur dan akuntabel. Misalnya penentuan tahapan-tahapan pengawasan yang dibagi ke dalam beberapa
tahap selama satu tahun pengawasan pelaksanaan APBD tahun 2010, untuk memudahkan kerja-kerja pengawasan serta agar lebih terfokus. Menyiapkan alat analisis dan kendali dalam melakukan perbandingan harga atau capaian substantif dalam pelaksanaan proyek atau program di lapangan. Merencanakan dan melaksanakan keterlibatan tim ahli dalam melakukan pengawasan di lapangan. Merencanakan dan melaksanakan keterlibatan masyarakat luas untuk sama-sama melakukan pengawasan di lapangan.
Untuk diketahui, dalam R-APBD Padang Lawas tahun 2010 dengan rincian sebagai berikut :
Pendapatan Rp.362.737.756.612 Belanja a.tidak langsung Rp 142.251.442.418 b.tidak langsung Rp.248.616.314.194 Pembiayaan a.Penerimaan Rp. 20.000.000.000 b.Pengeluaran Rp.- Devisit Rp. 8.130.000.000
Parahnya lagi, saat dilakukan penelitian melalui wawancara, hingga saat sekarang ini fraksi-fraksi di DPRD Padang Lawas belum menerima Buku APBD yang disahkan. Sebagaimana pengakuan Erwin Pane SH, dari fraksi PPP. Padahal ini wajib diberikan pemerintah (eksekutif) kepada DPRD dan bahkan kepada publik sebagai bentuk transparansi dan keterbukaan publik sebagaimana diatur dalam Undang-undang No.14 tahun 2008. Namun bila ini benar adanya, fraksi belum mendapat buku APBD yang disahkan, berarti DPRD Padang Lawas benar- benar diabaikan pemerintah dan membuktikan lemahnya upaya dewan dalam menyelesaikan suatu persoalan.
Sementara kenyataan di lapangan banyak program atau proyek APBD tahun 2010 yang pelaksanaannya tidak baik, bahkan sebagian di antaranya kategori amburadul dan gagal total. Pengeluaran yang patut dipertanyakan, baik pengeluaran rutin yang terdiri dari belanja aparatur (pegawai) dan pengeluaran pembangunan yang terdiri dari belanja modal investasi (non pegawai) yang mencakup beberapa sektor. Belanja rutin, misalnya biaya perjalanan dinas di lingkungan kantor Bupati dan Sekretariat Daerah, sekitar 4 M, diduga banyak masalah. Belanja langsung, misalnya belanja pengadaan meubiler kecamatan senilai Rp. 1.050.000.000,-, juga diduga kuat terjadi mark-up (pembengkakan) dan tidak didistribusikan ke kecamatan-kecamatan dengan baik. Biaya perawatan jalan sekitar Rp.800.000.000,- tidak jelas pelaksanaannya. Biaya penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) senilai 2 M juga tidak jelas dikemanakan, karena sepanjang tahun 2010 sama sekali tidak ada pembahasan RPJPD. Begitu juga dengan program MTQ tahun 2010 yang dianggarkan sebesar 1,4 M, sementara berdasarkan informasi yang beredar masih dilakukan ‘pungutan’ terhadap guru-guru PNS dengan jumlah yang bervariasi, antara Rp.15.000 – 50.000 yang peruntukannya untuk kebutuhan penyelenggaraan MTQ tahun 2010 di Lapangan Mahato, Sosa. Sama halnya dengan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2010 juga terjadi penyalahgunaan. Belanja pembangunan (belanja modal investasi) seperti bantuan sosial, belanja gedung dan bangunan diyakini juga diselimuti banyak persoalan yang berbau korupsi.
Dan kenyataan yang paling nyata disaksikan dan dirasakan masyarakat adalah amburadulnya pembangunan Jalan & Jembatan. Seperti Jalan Sibuhuan - Hapung senilai sekitar Rp.800.000.000,-, Pembangunan Jembatan Aek Barumun Desa Sidondong, Barumun Tengah, senilai Rp.1.100.000.000, gred 5,
Pembangunan Jembatan Aek Nanggulon Namenek Desa Gn.Matinggi, senilai Rp.950.000.000,-gred 4, Pembangunan Jembatan Gantung/Rambin Desa Sabarimba, senilai 900.000.000, gred 4, Pembangunan Jembatan Gantung/Rambin Desa, Sosa, senilai 750.000.000, gred 4 tidak jelas alias diduga fiktif, Pembangunan Jembatan Gantung/Rambin Deas handio, Sosa, 700.000.000,- gred 4, Peningkatan Jalan Srimalo, Barumun, 200.000.000, gred 2, Peningkatan Jalan Sisupak – Pasar Latong (lingkar luar), 800.000.000,- Pembangunan Jalan / Jembatan Sp.Kemiri – Siborna, 650.000.000,-. Pengawasan bidang keciptakaryaan, 250.000.000, gred 2. Begitu juga dengan pembangunan Irigasi, pasar, dan Jaringan. Kemudian rencana kegiatan bidang pertanian dan ketahanan pangan Padang Lawas, seperti pembangunan kantor balai pertanian Kecamatan Batang Lubu Sutam, pembangunan Rumah Kompos Desa Batu Gaja, Kec. Sosa, pembangunan Rumah Kompos Desa Paringgonan Kec. Ulu Barumun, rehab jaringan irigasi Desa Padang Garugur Jae, Kec.Barumun Tengah, rehab saluran irigasi Desa Pagaranbira Jae, Kec.Sosopan. Semuanya dilakukan tanpa perencanaan yang matang dan tanpa pelaksanaan yang serius.
Selanjutnya terkait polemik atau kasus proyek pembangunan prasarana pemerintahan dengan sistem Multi Years (tahun jamak) tahun berjalan 2010 senilai sekitar 216 M, juga sarat korupsi. Dan sebelumnya telah terkuak di permukaan dalam proyek ini terjadi korupsi senilai 6,7 M. Di samping itu, proyek
Multi Years ini masih dalam masalah besar, yakni cacat demi hukum karena tidak
sesuai mekanisme dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Banyaknya proyek APBD tahun 2010 yang proses tendernya asal-asalan alias telah diformat dan ditentukan lebih dahulu pemenangnya dan ini telah menjadi rahasia umum. Proyek yang seharusnya ditenderkan, tapi malah dilakukan penunjukan langsung.
Begitu juga dengan implementasi di lapangan banyak yang mengalami resistensi, penolakan, dan berbagai masalah lainnya dari warga yang bersinggungan langsung dengan proyek tersebut. Contohnya, proyek pelebaran jalan di sekitar Ibukota Sibuhuan, akibat tidak ada sosialisasi yang baik maka proyek tidak berlanjut alias tertunda.
Di bidang Kehutanan, perambahan hutan telah berulang kali terjadi di Padang Lawas. Seperti di Kec. Sosopan, Kec. Aek Nabara Barumun, Sosa dan Batang Lubu Sutam. Dana reboisasi sekitar 5 M, diduga dikorupsi karena tidak jelasnya letak titik-titik reboisasi yang dilakukan Dinas Kehutanan. Namun pengawasan di bidang kehutanan relatif lebih baik daripada pengawasan di bidang lain. Meski penyelesaian persoalan ini juga lebih dimotori masyarakat dan pers, namun partisipasi dewan Padang Lawas cukup terasa dalam penuntasan kasus- kasus peramabahan hutan tersebut.
Di bidang pemerintahan, Sekretaris Daerah masih rangkap jabatan yang sekaligus sebagai Plt.Kadis Pendapatan, tentu ini cukup mengganggu efektifitas dan efisiensi serta akuntabilitas tugas dan tanggungjawab. Kemudian, pengangkatan pejabat eselon III dan IV yang baru-baru ini (April 2011) dilantik, juga tidak sesuai mekanisme, yakni tanpa melewati proses Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat). Tidak menerapkan prinsip the right man
on the right place (orang yang benar berada di tempat yang tepat), seperti Guru
diangkat jadi Sekretaris Dinas PU (Pekerjaan Umum), Guru diangkat jadi salah satu Kabid di Dinas Pertambangan, dan lain sebagainya.
Begitu juga dengan pelayanan KTP, kartu keluarga, akta kelahiran, surat miskin, dan lain sebagainya, juga belum lepas dari budaya yang selama ini terjadi, yaitu budaya ‘tips’ atau ‘pelicin’. Selain ini tidak dibenarkan, tentu tidak semua
masyarakat sanggup, dan ternyata ada tidaknya ‘pelicin’ sangat mempengaruhi kelancaran proses pengurusan tersebut di atas. Padahal hal ini merupakan pelayanan mendasar bagi masyarakat dan cukup membantu pemerintah dalam menjalankan programnya sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya.
Kondisi tersebut di atas berdasarkan penelusuran informasi yang dilakukan. Dimana sebagian di antaranya diakui pejabat di salah satu SKPD bagian pengawasan. Pengakuan beberapa guru yang berstatus PNS, salah satu diantaranya pengakuan Ikhsanul Nasir Hasibuan, A.Ag (Kepala SMP Swasta Abdi Utama-Sibuhuan). Penjajakan oleh beberapa tokoh masyarakat dan tokoh pemuda beserta pers (Idaham Butar-butar, Wartawan Waspada). Serta menghimpun isu yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Apa yang disampaikan tersebut di atas diyakini baru sebagian kecil dari penyalahgunaan APBD Padang Lawas tahun 2010, dan hal ini tentu merupakan cermin dari segenap penyelenggaraan APBD tahun 2010. Hemat penulis dan dari hasil jajak pendapat yang dilakukan bahwa pelaksanaan APBD Padang Lawas tahun 2010 benar-benar sarat dengan prilaku koruptif, kolusi dan nepotisme (KKN).
Belum lagi memperdebatkan program pemerintah sebagai turunan dari visi-misi yang termaktub dalam istilah “Bercahaya” yakni Beriman, Sehat, Cerdas, Sejahtera dan Berbudaya”. Tentu diyakini makin melebar dan mendalam bagaimana pengintegrasiannya, bila ditinjau, dari berbagai sudut, baik filosofis, praktis, realistis, serta target jangka panjangnya.
Artinya, dapat diambil kesimpulan sementara, tapi diyakini kesimpulan ini akurat, tentang perjalanan APBD Padang Lawas tahun 2010, yaitu:
a. APBD/pembangunan Padang Lawas tahun 2010 tidak terencana dengan baik
b. Penyusunan dan pembahasan APBD 2010 tidak melewati substansi proyeksi, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, dan target serta capaiannya. Juga kaitannya dengan sinkronisasi kebijakan program/kegiatan antara Pemerintah dengan Pemerintah Daerah sebagaimana himbauan yang bersifat yuridis dalam Permendagri No. 25 tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan APBD tahun 2010.
c. APBD 2010 belum dikelola secara transparan, efisien, efektif dan akuntabel. Bahwa, diduga banyak sekali anggaran APBD tahun 2010 yang tidak mengindahkan asas umum pelaksanaan APBD sebagaimana ditegaskan dalam peraturan yang mengaturnya.
d. Sehingga APBD/pembangunan 2010 belum menyentuh kebutuhan masyarakat dan belum sinkron dengan segenap potensi sumber daya yang ada di Padang Lawas.
e. APBD 2010 tidak mencerminkan pelayanan publik yang baik dan tidak jalannya fungsi-fungsi anggaran
f. Masyarakat semakin apatis terhadap proses dan hasil pembangunan
g. APBD 2010 sebagai Kebijakan Pemda ternyata mengalami resistensi pada implementasi di lapangan
h. Tingginya Penyalahgunaan APBD tahun 2010 yakni nuansa KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).
i. Sehingga APBD Padang Lawas tahun 2010 sangat jauh dari substansi Permendagri No.13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Banyak mengabaikan perintah pengelolaan keuangan daerah sebagaimana diatur dalam PP No.58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.
Artinya juga, pelaksanaan APBD Padang Lawas tahun 2010 benar-benar jauh dari harapan rakyat.
Benar, pengawasan DPRD Padang Lawas terhadap Pelaksanaan APBD tahun 2010 sebagian dijalankan dan telah disampaikan kepada Bupati Basyrah Lubis, SH serta pimpinan atau perjabat terkait di SKPD, baik melalui rapat paripurna maupun melalui rapat dengar pendapat dan juga lewat konferensi pers dewan. Hal tersebut disampaikan Ir.H.Syarifuddin Hasibuan dari fraksi Golkar dan H.Amir Husin Hasibuan selaku Ketua Komisi A. Di luar persoalan itu, berkaitan dengan pengaduan masyarakat kepada dewan, di antaranya telah diselesaikan, sebagian sedang dalam proses penyelesaian, dan sebagiannya lagi tidak jelas penyelesaiannya.
Namun, Pengawasan DPRD dan penyelesaian terhadap persoalan yang berkembang tersebut di atas yang telah dipaparkan dengan konkrit, meski belum rinci, tapi turut meresahkan masyarakat dan para pemerhati Padang Lawas, hampir sama sekali tidak ditindaklanjuti. Bahwa masih terjadi kesenjangan yang tinggi antara banyaknya persoalan, terkait pelaksanaan APBD Padang Lawas tahun 2010, dengan apa yang telah ditindaklanjuti dengan serius dan mendapat penyelesaian dari DPRD. Kemudian, hampir tidak ada langkah antisipasi dan represif DPRD Padang Lawas terhadap persoalan-persoalan yang terjadi dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Agar terselenggaranya pelaksanaan APBD yang sesuai dengan kaidah-kaidah serta manfaat visionernya dari berbagai sudut atau dimensi dalam pengawasan yang harus dijalankan dengan sebaik- baiknya. Termasuk apakah pelayanan pemerintah sudah mencapai standar pelayanan minimal, dan ukuran-ukuran lainnya.
Pun bila ada pengawasan terhadap sebagian laporan masyarakat dan informasi yang berkembang, tapi kadarnya belum optimal dan belum menyeluruh di semua fraksi maupun alat kelengkapan dewan yang berkaitan, dan ternyata tidak ada ringkasan pengawasan yang dilakukan terhadap itu. Padahal sebagian diantaranya telah diaspirasikan lewat unjuk rasa mahasiswa dan masyarakat, sejak umur pemerintahan terpilih baru 1 (satu) tahun.
Kondisi yang demikian di atas, sebagaimana hasil penelitian, salah satunya diakibatkan karena Pengawasan DPRD Padang Lawas terhadap pelaksanaan APBD tahun 2010 tidak terformat dengan baik. Pengawasan langsung ke lapanganpun sering bersifat insidentil dan terdorong karena adanya pengaduan masyarakat. Sehingga belum pernah terdengar adanya inisiatif dari dewan. Dan belum pernah dilakukan penyidikan terhadap penyimpangan APBD Padang Lawas tahun 2010 atas temuan dan prakarsa DPRD sendiri. Padahal beberapa persoalan di antaranya layak menggunakan hak interprelasi atau hak angket dewan, contohnya masalah proyek pembangunan prasarana pemerintahan dengan sistem Multi Years yang benar-benar cacat demi hukum dan terindikasi syarat penyimpangan anggaran. Proyek Multi Years ini tanpa payung hukum yang jelas dan dijalankan dengan sangat tidak terbuka. Anehnya, proyek ini tidak tertampung di Kementerian Keuangan sebagai proyek yang dibiayai APBN.
Sebagaimana diatur dalam undang-undang dan tertuang pada tata tertib DPRD Padang Lawas pada Bab VI tentang Pelaksanaan Hak DPRD pasal 8 ayat 2 dan 3, hak interprelasi digunakan bila adanya persoalan kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat dan bernegara. Sedangkan kasus Multi Years tentu sudah memenuhi sarat itu, terlebih- lebih bagi Padang Lawas sebagai daerah baru yang butuh perlindungan ketat dari
segala sisi. Bahwa selama ini dewan masih menggunakan hak menyatakan pendapat, dan itu pun dengan intensitas yang belum maksimal dan tanpa penekanan yang benar-benar ‘mengahajar’.
Berangkat dari paparan tersebut di atas sebagai cermin perjalanan tugas DPRD Padang Lawas, baik dilihat tanggungjawab dewan secara kolektif kolegial, maupun dilihat dari tugas masing-masing alat kelengkapan dewan, apa lagi secara perseorangan, dalam menjalankan fungsi Pengawasan terhadap Pelaksanaan APBD tahun 2010 benar-benar kurang baik. Kesimpulan ini juga didukung pernyataan hampir keseluruhan dari anggota DPRD Padang Lawas yang diteliti melalui pengisian quisioner dan wawancara yang dilakukan. Begitu juga dengan pendapat tokoh-tokoh masyarakat dan pers terhadap jalannya fungsi pengawasan DPRD Padang Lawas terhadap pelaksanaan APBD tahun 2010 sama dengan pengakuan tersebut.
Padahal untuk menyikapi adanya penyimpangan terhadap pelaksanaan APBD tahun 2010, DPRD Padang Lawas dapat melakukan :
a) Evaluasi mendalam terhadap masalah penyimpangan dan melakukan koordinasi dengan Dinas yang bersangkutan serta memberikan arahan, teguran sesuai dengan mekanisme/prosedur yang ada.
b) Melakukan penyelesaian masalah penyimpangan melalui rapat kerja dengan dinas terkait.
c) Melakukan rapat dengar pendapat secara intens dengan pihak terkait untuk mencari solusi dalam menyelaseikan masalah penyimpangan tersebut. 4) Membentuk tim investigasi terhadap skala prioritas yang akan diselesaikan
b. Menjaring Aspirasi Masyarakat
Sebagai bentuk Pengawasan DPRD Padang Lawas terhadap Pelaksanaan APBD tahun 2010, DPRD Padang Lawas juga melakukan penjaringan aspirasi baik dalam bentuk formal yang diagenda DPRD maupun informal, termasuk keterwakilan DPRD untuk menghadiri undangan diskusi atau dialog yang dilakukan masyarakat. Reses, merupakan bentuk pengawasan formal yang diagendakan DPRD. Reses idealnya dilakukan 3 kali dalam satu tahun.
Reses bertujuan untuk menjaring aspirasi masyarakat dengan cara menemui konstituen, dan menyerap masukan dari masyarakat dalam rangka untuk percepatan pembangunan. Konkritnya, masyarakat dapat mengusulkan proyek pembangunan di daerah untuk diperjuangkan di tahun anggaran berikutnya atau di waktu perubahan APBD (P-APBD). Masyarakat juga bisa mengadukan prihal temuan pelanggaran-pelanggaran dalam pelaksanaan proyek pembangunan atau penyalahgunaan anggaran APBD lewat belanja non-pembangunan fisik.
Dalam hal ini DPRD Padang Lawas melakukan reses tiga kali selama tahun anggaran 2010. Dari data yang diperoleh dan informasi dari masyarakat yang pernah mengikuti reses anggota DPRD Padang Lawas, terlihat bahwa reses lebih dominan seremonial ketimbang maksud yang sesungguhnya diharapkan dari kegiatan reses. Nuansa ‘pesta kecil’ dan bagi-bagi ‘angpao’ lebih kelihatan daripada proses penjaringan aspirasi. Parahnya, hampir tidak ada pendidikan politik yang diberikan anggota DPRD kepada konstituen sebagai objek janji politik yang dikumandangkan semasa kampanye. Sehingga kondisi yang dialami masyarakat banyak yang akhirnya tidak terakomodasi dalam reses tersebut dan masyarakat terkesan masih takut menyampaikan secara vulgar tentang apa yang menjadi kebutuhan mereka. Sehingga usulan yang disimpulkan pun relative
sedikit dan tidak memiliki nilai tawar yang kuat dan terkesan tidak memiliki muatan kontrak politik di dalam usulan yang disampaikan. Padahal ini perlu agar DPRD yang bersangkutan benar-benar merasa terbebani dan bertanggungjawab akan keinginan atau aspirasi masyarakat.
Contohnya, reses periode III anggota DPRD daerah pemilihan (dapem) III, Kec. Barumun Tengah dan Huristak. Gambaran yang disampaikan di atas sepertinya terjadi pada reses anggota DPRD dapem III. Di samping itu, kejujuran anggota DPRD dalam penggunaan anggaran reses juga belum baik. Contohnya, biaya sewa gedung/ tempat memiliki kesamaan biaya, sementara di tempat yang berbeda-beda, yaitu sebesar Rp.833.100,- sedangkan dari dokumentasi reses tersebut, kelihatan bahwa tempat yang digunakan pada umumnya adalah rumah warga.
Sedangkan terkait dengan tugas DPRD Padang Lawas dalam hal penjaringan aspirasi masyarakat sebagaimana diatur pada pasal 135 tata tertib dewan, pada umumnya tidak terlaksana. Termasuk di antaranya, website DPRD Padang Lawas, pembukaan kotak pos khusus, kotak saran di tempat strategis, membuat dan menyebarkan quisioner, hingga saat sekarang ini tidak jalan. Padahal, hal itu juga merupakan bagian besar dari pengejewantahan fungsi pengawasan DPRD.
C.4.Pengawasan DPRD Padang Lawas terhadap Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD tahun 2010