• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran dan Pengawasan DPRD Padang Lawas terhadap

BAB III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. PENGAWASAN DPRD PADANG LAWAS TERHADAP

C.1. Peran dan Pengawasan DPRD Padang Lawas terhadap

Sesuai dengan hakekatnya, bahwa APBD bersumber dari rakyat. APBD ditujukan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat. Maka sudah sepantasnya perencanaan APBD melibatkan rakyat itu sendiri. Karena tentu rakyat yang paling

tahu apa yang menjadi kebutuhan dan kepentingannya. Hal ini juga dalam rangka mengeliminir siklus korupsi yang kerap terjadi sejak perencanaan APBD. Dan dalam siklus perencanaan ini tentu harus memperhatikan Permendagri No.25 tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan APBD tahun 2010 di samping peraturan-peraturan lainnya.

Sebagaimana yang lumrah terjadi dalam sejarah administrasi pemerintahan di Indonesia, bahwa dalam perencanaan APBD Padang Lawas tahun 2010 juga jauh dari harapan dalam rangka mewujudkan perencanaan yang benar-benar menyerap aspirasi rakyat. Apa yang diharapkan pasal 2 Permendagri No.25 tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan APBD tahun 2010 sepertinya tidak tergambar dengan baik dalam perencanaan APBD Padang Lawas tahun 2010, yang meliputi : a. Tantangan dan prioritas pembangunan tahun 2010

b. Pokok-pokok kebijakan penyusunan APBD c. Teknis penyusunan APBD; dan

d. Hal-hal khusus

Pedoman yang bertujuan dalam rangka menjaga kesinambungan pembangunan secara nasional maka keterpaduan dan sinkronisasi, kebijakan program/kegiatan antara Pemerintah dengan Pemerintah Daerah perlu lebih ditingkatkan. Keterpaduan dan sinkronisasi dilakukan melalui upaya penyamaan persepsi terhadap tantangan, prioritas dan langkah kebijakan pembangunan yang menjadi perhatian bersama guna tercapainya tujuan pembangunan nasional sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945.

Selanjutnya, masalah keterlibatan masyarakat Padang Lawas masih minim dalam perencanaan APBD. Informasi forum-forum perencanaan belum

terpublikasikan secara luas, seperti forum musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) baik di tingkat desa maupun di tingkat kecamatan dan kabupaten. Bahkan Musrenbang di tingkat desa dan kecamatan tidak dilaksanakan. Sehingga kepentingan dan kebutuhan masyarakat di Desa dan Kecamatan tidak terakomodasi secara aspiratif dalam perencanaan APBD Padang Lawas, di mana perencanaan yang dilakukan pemerintah masih terkesan acak karena tidak memberikan partisipasi seluas-luasnya bagi rakyat. Begitu juga dalam forum SKPD Padang Lawas, juga tidak melibatkan unsur-unsur sektor dan delegasi Musrenbang.

Dengan demikian, tergambar bahwa kemauan pemerintah dalam melibatkan masyarakat di setiap ritme pembangunan, terutama sejak perencanaan APBD, masih rendah. Padahal dalam Undang-Undang No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pasal 139 ayat 1 cukup tegas memberikan kebebasan yang luas bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi baik lisan maupun tulisan dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan perda (peraturan daerah). Bahwa penyerapan aspirasi melalui perencanaan APBD merupakan kegiatan yang terpadu nantinya saat dilakukannya pembahasan perda APBD Padang Lawas. Terkait pelaksanaan Musrenbang di Padang Lawas, bahwa hanya Musrenbang di tingkat Kabupaten yang melibatkan unsur masyarakat, itupun sangat terbatas. Undangan Musrenbang Kabupaten hanya ditujukan kepada tokoh-tokoh masyarakat dengan jumlah yang sangat terbatas serta tidak diberikan peran yang sesuai dalam menyampaikan aspirasinya. Artinya, dalam pelaksanaan Musrenbang banyak tidak mengacu pada Permendagri No.54 tahun 2010 tentang Tatacara Musrenbang.

H. Mawardi Hasibuan, Imran Joni Hasibuan, serta Raja Parlindungan Nasution ST, selaku tokoh masyarakat dan tokoh pemuda Padang Lawas. Bahwa Musrenbang dilakukan sangat tidak representatif. Dimana undangan atau sosialisasi pelaksanaan Musrenbang sering terlambat. Bahwa pemerintah Padang Lawas melibatkan masyarakat dalam Musrenbang hanya sekedar untuk memenuhi sarat formal, sementara tujuan substansinya ditinggalkan.

Kondisi ini juga menggambarkan bahwa pemerintah Padang Lawas tidak memiliki mekanisme perencanaan APBD yang membuka ruang keterlibatan luas masyarakat. Belum adanya manajemen informasi dan dokumentasi usulan perencanaan. Proses perencanaan dan penyusunan anggaran masih terpisah. Kemudian, tidak sinkronnya antara pendekatan politik, teknokratis, bottom up, top down dan partisipatif dalam merencakan APBD sebagai perwujudan rencana pembangunan secara konfeherenship untuk jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Parahnya, seharusnya perencanaan APBD Padang Lawas adalah merupakan integrasi dari Visi-misi Bupati/Wakil Bupati yang diperdakan sehingga menjadi visi-misi daerah, namun ternyata tidak, visi-misi Bupati/Wakil Bupati belum diperdakan dan belum disosialisasikan sebelum penetapannya, contohnya lewat seminar, dialog, kajian. Seharusnya perencanaan APBD merupakan integrasi RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah), ternyata hingga hasil penelitian ini disusun RPJMD Padang Lawas belum ada. Padahal sesuai dengan aturan bahwa RPJMD harus dibuat paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Pasangan Bupati/Wakil Bupati terpilih dilantik, sebagaimana ditegaskan pada pasal 30 PP No.58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Dan sekarang pemerintahan defenitif Padang Lawas sudah jalan tiga tahun, namun

RPJMD belum ada. Suatu yang fatal dalam menjalankan pemerintahan dan pembangunan. Berarti, Renstra-SKPD yang seharusnya juga memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang bersifat indikatif sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing, tidak terintegrasi dengan kuat dan sesuai dengan dasar yang ditetapkan. Karena penyusunan Renstra-SKPD sebagaimana dimaksud tersebut berpedoman pada RPJMD, penegasan kedua pointer terakhir dituangkan pada pasal 31 dalam peraturan yang sama.

Bila kondisi ini dihubungkan dengan fungsi pengawasan DPRD Padang Lawas dalam pelaksanan perencanaan APBD tahun 2010 dapat disimpulkan masih lemah. DPRD seharusnya hadir dan berperan serius di setiap tahapan- tahapan yang menjaring aspirasi rakyat. Sesuai dengan tugas pengawasannya, seyogianya DPRD ikut memastikan jalannya mekanisme dan tercapainya substansi perencanaan APBD. Sayangnya RPJMD Padang Lawas baru dibahas pada 23 Mei 2011, padahal Kabupaten Padang Lawas sudah berusia 4 (empat) tahun dan DPRD menyurati dan melakukan pemanggilan lebih serius baru di bulan April-Mei 2011 (surat udangan rapat RPJMD terlampir). Perda-perda yang seharusnya bersinergi dengan APBD pada akhirnya dalam rencana APBD tahun 2010 sama sekali tidak terintegrasi dengan baik, karena Perda tentang itu sendiri belum ada.

Juga seharusnya DPRD berada di garis depan dalam mewujudkan forum perencanaan anggaran yang representatif, dengan cara mengajak secara sungguh- sungguh partisipasi atau keterlibatan masyarakat secara luas. Dan ini merupakan pendidikan politik yang efektif dalam rangka menjalankan tugas pengawasan secara bersama-sama, sehingga mengeliminir terjadinya penyalahgunaan dalam

berbagai bentuk, sejak pelaksanaan perencanaan APBD Padang Lawas.

C.2. Peran dan Pengawasan DPRD terhadap Penyusunan APBD Padang

Dokumen terkait