• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4. Perpustakaan Sekolah

pengetahuan dan teknologi.

Jika dikaitkan dengan kondisi saat ini, tidak jarang perpustakaan sekolah masing sering diasumsikan sebagai gudang buku, bukan sebagai pusat sumber belajar. Pandangan inilah yang hendaknya mulai diluruskan kembali bahwa pada

dasarnya perpustakaan sekolah bukan sekedar tumpukan buku saja. Menurut Rahayuningsih (2007: 1), perpustakaan adalah sebuah kesatuan unit kerja yang terdiri dari beberapa bagian, yaitu pengembangan koleksi, pengelolaan koleksi, pelayanan pengguna, dan pemeliharaan saran-prasarana. Berdasarkan pendapat di atas menunjukkan bahwa pada dasarnya perpustakaan sangat erat kaitannya dengan pengembangan, pengelolaan, pelayanan, dan pemeliharaan. Oleh karena itu, perpustakaan sekolah hendaknya perlu melakukan pengembangan dan pengelolaan agar perpustakaan sekolah tersebut dapat berjalan dengan baik dan maksimal.

SD Negeri Percobaan 3 merupakan salah satu sekolah yang saat ini telah memenuhi fasilitas pendidikan berupa pengadaan perpustakaan sekolah, selain itu juga sekolah telah melakukan berbagai pengembangan perpustakaan yang menjadikan sekolah ini memiliki prestasi yang cukup membanggakan, yaitu menjadi juara kedua dalam lomba perpustakaan sekolah tingkat SD/MI se-Kabupaten Sleman pada tahun 2016 lalu. Pengembangan perpustakaan yang dilakukan oleh sekolah ini salah satunya adalah dengan diselenggarakannya program kerja perpustakaan kelas yang bertujuan untuk menumbuhkembangkan minat membaca siswa dan dijadikan pula sebagai wadah untuk memfasilitasi kebutuhan siswa akan membaca terutama saat kegiatan budaya membaca berlangsung.

Berdasarkan hasil wawancara pada Sabtu, 22 Oktober 2016 dengan pengurus perpustakaan sekolah yang ada di SD Negeri Percobaan 3, perpustakaan kelas merupakan salah satu program kerja yang dicanangkan oleh perpustakaan

sekolah di SD Negeri Percobaan 3 yang bertujuan untuk mendukung literasi sekolah dan menumbuhkan minat membaca bagi siswa. Perpustakaan kelas ini juga merupakan bentuk realisasi sekolah dalam upaya mengembangkan potensi diri siswa secara utuh yang termuat pada Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti yaitu “menggunakan 15 menit sebelum pembelajaran untuk membaca selain buku mata pelajaran (setiap hari)”.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengetahui pengelolaan perpustakaan kelas di SD Negeri Percobaan 3. Maka dari itu, judul yang peneliti

ajukan adalah “Pengelolaan Perpustakaan Kelas di SD Negeri Percobaan 3”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka dapat diidentifikasi permasalahan yang muncul adalah sebagai berikut:

1. Masih adanya asumsi bahwa perpustakaan hanyalah merupakan gudang buku. 2. Perlu adanya pengembangan yang dilakukan perpustakaan sekolah untuk

memaksimalkan peran perpustakaan sebagai pendukung pendidikan.

3. Adanya Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 mewajibkan sekolah untuk memfasilitasi kegiatan wajib membaca 15 menit sebelum pembelajaran. 4. Belum semua sekolah menyelenggarakan perpustakaan kelas.

C. Fokus Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka perlu adanya fokus masalah agar penelitian yang dilakukan menjadi lebih terfokus dalam menjawab

permasalahan yang muncul. Oleh karena itu, peneliti memfokuskan penelitian ini pada permasalahan terkait dengan pengelolaan perpustakaan kelas di SD Negeri Percobaan 3.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan fokus penelitian di atas, maka pada penelitian ini rumusan

masalah yang diajukan adalah sebagai berikut, “Bagaimanakah pengelolaan

perpustakaan kelas di SD Negeri Percobaan 3?”.

E. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengelolaan perpustakaan kelas di SD Negeri Percobaan 3.

F. Manfaat Peneilitian 1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian kualitatif ini dapat menambah khasanah ilmu terkait dengan pengelolaan perpustakaan kelas di sekolah dasar khususnya di SD Negeri Percobaan 3.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Siswa

1) Mendekatkan siswa dengan perpustakaan.

b. Bagi Guru

1) Memberikan tambahan wawasan guru terkait bagaimana mengelola perpustakaan kelas dengan tepat.

2) Memberikan gambaran terhadap guru dalam merencanakan dan melaksanakan perpustakaan kelas.

c. Bagi Sekolah

1) Membantu dalam mengevaluasi pelaksanaan perpustakaan kelas.

2) Memberikan gambaran bagi sekolah dalam merencanakan perpustakaan kelas dengan tepat.

3) Mengetahui kelebihan dan kelemahan dari adanya perpustakaan kelas. d. Bagi Peneliti

1) Memberikan pengalaman bagi peneliti melalui penelitian yang dilakukan ini. 2) Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai gambaran dan tambahan

pengetahuan ketika peneliti menjadi guru.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka

1. Pengertian Perpustakaan

Perpustakaan adalah kata yang berasal dari kata dasar pustaka. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pustaka memiliki arti sebagai kitab atau buku. Rahayuningsih (2007: 1) berpendapat bahwa perpustakaan adalah suatu kesatuan unit kerja yang terdiri dari beberapa bagian, yaitu bagian pengembangan koleksi, bagian pengolahan koleksi, bagian pelayanan pengguna, dan bagian pemeliharaan saran-prasarana. Dalam kaitannya dapat diketahui bahwa perpustakaan tidak hanya sebagai penyedia koleksi buku saja, namun juga erat kaitannya dengan sistem pengelolaan, pelayanan serta pemeliharaan.

Senada dengan hal tersebut, Ibrahim Bafadal mengungkapkan bahwa perpustakanan adalah sebagai suatu unit kerja. Ibrahim Bafadal (2005: 3) mendefinisikan perpustakaan sebagai berikut:

“Perpustakaan adalah seuatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku (non book material) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya.”

Pendapat di atas menjelaskan bahwa yang dimaksudkan perpustakaan di sini tidak hanya terbatas pada penyediaan buku-buku saja, namun perpustakaan juga menyediakan bukan berupa buku (non book material).

Hakikat perpustakaan sekolah adalah pusat sumber belajar dan sumber informasi bagi pemakainya (Darmono, 2004: 1). Perpustakaan sekolah ini memberikan pelayanan berbagai sumber-sumber yang mendukung kebutuhan

sekolah. Mulai dari pengadaan buku-buku pelajaran, buku-buku pendukung (non pelajaran), serta informasi-informasi penting yang dapat dijadikan media belajar siswa.

Berdasarkan penjabaran di atas, hakikat perpustakaan merupakan suatu unit kerja di mana ruang lingkup kerjanya meliputi penyediaan, pengelolaan, pemeliharaan koleksi serta pelayaan pengguna perpustakaan. Sedangkan, perpustakaan sekolah adalah unit kerja ruang lingkup kerjanya meliputi penyediaan, pengelolaan, pemeliharaan koleksi serta pelayaan pengguna perpustakaan di sekolah. Dengan adanya pepustakaan sekolah ini diharapkan akan membatu sekolah dalam penyediaan informasi dan sumber belajar bagi siswa untuk mendukung terlaksanakannya proses pendidikan yang baik.

2. Tujuan dan Manfaat Perpusatakaan

Perpustakaan sekolah maupun perpustakaan pada umumnya diselenggarakan tentu tidak tanpa tujuan yang jelas. Berikut adalah beberapa tujuan terkait dengan adanya perpustakaan. Pawit M. Yusuf, dkk (2013: 3) menyatakan baawa tujuan perpustakaan sekola adalah sebagai berikut:

1. Mendorong dan mempercepat proses penguasaan teknik mambaca para siswa.

2. Membantu menuis aktif kreatif bagi para siswa dengan bimbingan guru dan pustakawan.

3. Menumbuhkembangkan minat dan kebiasaan membaca para siswa. 4. Menyediakan berbagai macam sumber informasi untuk kepentingan

pelaksanaan kurikulum.

5. Mendorong, menggairakan, memelihara, dan memberi semangat membaca dan semangat belajar bagi para siswa.

6. Memperluas, memperdalam, dan memperkaya pengalaman belajar para siswa dengan membaca buku dan koleksi lain yang engandung ilmu pengetahuan dan teknologi, yang disediakan oleh perpustakaan.

7. Memberikan hiburan sehat untuk mengisi waktu senggang melalui kegiatan membaca, kususnya buku-buku dan sumber bacaan lain yang bersifat kreatif dan ringan, seperti fisik, cerpen, dan lainnya.

Selain itu, tujuan perpustakaan sekolah dasar secara rinci dijabarkan oleh Yaya Suhendar (2014: 5-6), meliputi:

1. Menunjang penyelenggaraan pembelajaran di sekolah dasar.

2. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan pembelajaran di sekolah dasar.

3. Menyediakan saranan untuk membaca, menulis, dan menghitung para siswa.

4. Membantu para siswa mendapatkan bahan pustaka yang dibutuhkan baik untuk menunjang kegiatan pembelajaran maupun untuk bahan bacaan.

5. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para siswa.

6. Membantu para guru mendapatkan bahan-bahan penunjang pembelajaran.

7. Mempercepat proses penguasaan teknik membaca. 8. Menumbuhkan kebiasaan membaca pada para siswa. 9. Memperkaya pengalaman belajar para siswa.

10.Menanamkan kebiasaan belajar mandiri para siswa.

11.Memberikan pengetahuan mengenai cara-cara menggunakan bahan pustaka.

12.Membantu perkembangan kecakapan berbahasa para siswa. 13.Meningkatkan disiplin dan tanggung jawab siswa.

14.Membantu para siswa dalam penyelesaian tugas-tugas pembelajaran. 15.Membantu para siswa dan para guru dalam mengikuti perkembangan

suatu peristiwa dan kabar-kabar terbaru.

16.Membantu para siswa dan para guru dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tujuan umum pengadaan perpustakaan pada akhirnya adalah untuk memfasilitas segala kebutuhan yang diperlukan oleh pengguna. Perpustakaan sekolah tentunya akan bertujuan untuk memfasilitasi kebutuhan yang diperlukan oleh siswa, guru, dan warga sekolah. Melalui adanya perpustakaan sekolah, warga sekolah tidak lagi kesulitan baik dalam mengumpulkan bahan-bahan pustaka maupun mencari informasi.

Perpustakaan juga tidak lepas dari manfaat yang didiharapkan. Manfaat perpustakaan sekolah baik sekolah dasar maupun sekolah menengah di antaranya adalah sebagai berikut (Ibrahim Bafadal, 2005: 5-6):

1) Perpustakaan sekolah dapat menimbulkan kecintaan murid-murid terhadap membaca.

2) Perpustakaan sekolah dapat memperkaya pengalaman belajar murid-murid.

3) Perpustakaan sekolah dapat menanamkan kebiasaan belajar mandiri yang akhirnya murid-murid mau belajar mandiri.

4) Perpustakaan sekolah dapat mempercepat proses penguasaan teknik membaca.

5) Perpustakaan sekolah dapat membantu kemampuan kecakapan berbahasa.

6) Perpustakaan sekolah dapat melatih murid-murid ke arah tanggung jawab.

7) Perpustakaan sekolah dapat memperlancar murid-murid dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah.

8) Perpustakaan sekolah dapat membantu guru-guru menemukan sumber-sumber pengajaran.

9) Perpustakaan sekolah dapat membantu murid-murid, guru-guru, dan anggota staf sekolah dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada hakikatnya manfaat perpustakaan itu bermacam-macam. Di antara sekian banyak manfaat yang ditawarkan, semua sangat membantu siswa maupun warga sekolah pada umumnya. Manfaat-manfaat di atas sangat membantu proses pendidikan, sehingga proses pendidikan semakin dipermudah dengan adanya perpustakaan.

3. Fungsi Perpustakaan

Fungsi perpustakaan pada dasarnya dapat dibedakan menjadi beberapa macam. Menurut Dian Sinaga (2011: 25), fungsi perputakaan sekolah lebih ditekankan kepada fungsi edukatif dan fungsi rekreatif. Pendapat lain yaitu pendapat dari Ibrahim Bafadal (2005:6-8) menyatakan dalam bukunya bahwa

fungsi dari perpustakaan adalah fungsi edukatif, fungsi informatif, fungsi tanggung jawab administratif, fungsi riset, fungsi rekreatif.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya fungsi perpustakaan secara umum adalah sebagai berikut:

1) Fungsi edukatif atau pendidikan yaitu perpustakaan sebagai tempatuntuk menyediakan berbagai informasi yang mendukung keberlangsungan pendidikan. Siswa maupun guru dapat memanfatakan perpustakaan tersebut untuk kepentingan proses belajar mengajar serta dapat pula digunakan sebagai tempat untuk siswa membiasakan belajar secara mandiri.

2) Fungsi informasi ialah perpustakaan sebagai tempat untuk menyediakan berbagai macam informasi dari berbagai sumber. Sumber informasi ini dapat diperoleh dari berbagai jenis bahan bacaan seperti surat kabar, majalah, bulletin, pamflet dan lain sebagainnya.

3) Fungsi riset atau penelitian yaitu perpustakaan sebagai tempat untuk menyediakan informasi yang mendukung suatu penelitian. Informasi yang mendukung penelitian ini pada nantinya akan dijadikan sebagai data atau keterangan-keterangan yang diperlukan guna memperkuat penelitian.

4) Fungsi rekreasi yaitu perpustakaan sering digunakan untuk menunjang berbagai kegiatan kreatif dan sering digunakan sebagai hiburan. Beberapa jenis bahan bacaan yang ada di perpustakaan selain mengandung pengetahuan, sering kali juga mengandung unsur hiburan, seperti buku cerita, novel, majalah, dan lain sebagainnya. Tidak jarang dari siswa, memanfaatkan waktu luangnnya untuk sekedar membaca buku cerita, melihat-lihat gambar maupun

membaca majalah. Hal ini lah yang disebut dengan fungsi rekreasi dari adanyanya perpustakaan.

5) Fungsi tanggung jawab administratif yaitu terlihat saat kegiatan peminjaman dan pengembalian buku. Siswa akan diajarkan tentang tanggung jawab untuk menjaga dan merawat buku yang telah dipinjamkan sampai batas waktu pengembalian tiba. Bagi siswa yang tidak mampu mengembalikan buku tepat pada waktunya maupun tidak mampu menjaga buku dengan baik (menghilangkan atau merusak buku) akan dikenai denda, hal ini tentu akan memicu tanggung jawab siswa. Selain itu, siswa yang akan meminjam maupun mengembalikan buku juga dituntut untuk mencatat pada buku yang telah disediakan, sehingga siswa akan diajarkan tentang administratif terkait dengan peminjaman dan pengembalian buku.

4. Perencanaan Pembentukan Perpustakaan

Perencanaan merupakan langkah awal yang harus dilakukan untuk menciptakan perpustakan yang diinginkan. Perencanaan yang jelas dan matang dapat dijadikan sebagai standar kerja dalam menjalankan sebuah perpustakaan. Selain itu, perencanaan dapat dijadikan pula sebagai suatu alat pengawasan. Tahapan perencanaan perpustakaan menurut Lasa H.S (2008: 60-62), meliputi: a. Penetapan Visi, Misi dan Tujuan

Visi misi perpustakan adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Fungsi visi perpustakaan ini adalah untuk memperjelas arah perkembangan perpustakaan dan sebagai alat untuk mengambil tindakan yang benar. Visi juga sering diartikan sebagai penetapan tujuan dalam jangka panjang, sedangkan misi

adalah penjabaran dari visi di mana dapat diukur, dilihat, dirasakan, maupun dibuktikan karena misi memiliki sifat yaitu kasat mata (tangible). Tujuan perpusatakaan merupakan sasaran yang ingin dicapai dengan adanya perpustakaan. Berbeda dengan visi, tujuan adalah sasaran yang ingin dicapai dalam jangka pendek dan dapat dirasakan. Tujuan dapat membantu pekerjaan dan tugas menjadi lebih terarah sesuai dengan yang ingin dituju.

b. Perumusan Keadaan Sekarang

Perencanaan pembentukan perpustakaan juga sangat penting untuk mempertimbangkan keadaan pada saat itu. Keadaan ini dapat dlihat dari faktor kekuarangan maupun kelebihan dari adanya perpustakaan tersebut. Hal ini penting dilakukan untuk menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan guna pembentukan perpustakaan.

c. Identifikasi Kemudahan dan Hambatan

Kemudahan maupun hambatan dalam perencanaan pembentukan perpustakaan juga perlu menjadi perhatian. Beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai kekuatan di antaranya adalah modal, koleksi, sumber daya manusia, partisipasi anggota dan lain sebagainnya. Selain itu, yang dapat menjadi hambatan adalah adanya kekurangan dana, fasilitas yang kurang memadai, minat membaca yang rendah, pengelolan yang masih belum maksimal dan masih banyak lagi. d. Pengembangan Perencanaan

Pengembangan perpustakaan akan dapat dicapai dengan baik apabila pada saat perencanaan mempertimbangkan tentang sumber daya manusia, bahan informasi, dana, gedung/ruang, sistem dan peralatan.

Perencanaan pembentukan perpustakaan selain menurut pendapat di atas, terdapat pula pendapat lain. Sumardjo, dkk (2006: 4) menjabarkan pembentukan perpustakaan menjadi lima langkah, yaitu:

a. Menetapkan landasan hukum

Perpustakaan sekolah harus memiliki landasan hukum yang jelas. Landasan hukum ini berupa penetapan keputusan yang dikeluarkan secara resmi oleh kepala sekolah. Keputusan kepala sekolah ini dapat meliputi struktur organisasi, tata cara penyelenggaraan, tempat serta waktu penyelenggaraan.

b. Menetapkan sumber daya manusia

Perpustakaan tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya sumber daya manusia. Sumber daya manusia ini digunakan sebagai tenaga pengelola perpustakaan yang bertanggung jawab terhadap segala urusan yang berkaitan dengan perpustakaan, sehingga pada perencanaan perpustakaan perlu adanya penentuan sumber daya manusia yang akan diberikan tanggung jawab tersebut. c. Menyediakan koleksi

Bagian dalam perpustakaan yang tidak boleh terlewatkan selanjutnya adalah penyediaan koleksi. Perpustakaan yang memiliki koleksi yang beragam adalah perpustakaan yang baik, sehingga perpustakaan yang telah terbentuk harus mengembangkan dan melengkapi koleksi agar dapat dijadikan sebgai sumber belajar baik bagi siswa, pendidik maupun tenaga kependidikan.

d. Gedung dan perabot

Sekolah dalam merencanakan pembentukan perpustakaan juga harus memperhatikan terkait dengan tempat dan sarana prasarana yang dibutuhkan.

Perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang memiliki geduang/ruang serta perabot perpustakaan yang diperlukan untuk menyimpan, mengelola dan melakukan pelayanan.

e. Menyediakan dan memprogramkan anggaran

Perpustakaan dapat berkembang jika didukung dengan penganggaran yang baik pula. Sekolah perlu memperhitungkan terkait dengan penganggaran untuk penyelenggaraan dan pengembangan bahan perpustakaan.

Berdasarkan kedua pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dalam perencanaan pembentukan perpustakaan diperlukan beberapa hal yang harus dipersiapkan terebih dahulu. Hal-hal yang perlu untuk dipersiapkan tersebut di antaranya, yaitu (a) menetapkan visi,misi dan tujuan; (b) menetapkan landasan hukum; (c) identifikasi kekurangan dan kelebihan; (d) identifikasi kemudahan dan hambatan; (e) menetapkan sumber daya manusa; (f) menyediakan koleksi; (g) saranan dan prasarana; dan (h) anggaran.

5. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang penting dalam perpustakaan. Sumber daya manusia pengelola perpustakaan sekolah adalah guru/pegawai yang diberi tugas melaksanakan tugas di perpustakaan sekolah yang ditetapkan berdasarkan surat tugas/surat keputusan kepala sekolah (Sumardjo, dkk, 2006: 8). Pendapat lain juga mengungkapkan bahwa petugas perpustakaan adalah seseorang yang telah dangkat oleh pejabat yang berwewenang untuk menjabat atau melaksanakan tugas-tugas sehubungan dengan penyelenggaraan perpustakaan sekolah karena dianggap memenuhisyarat-syarat tertentu (Ibrahim

Bafadal, 2005: 175). Berdasarkan kedua penapat di atas, yang dimaksud dengan sumber daya manusia pengelola perpustakaan adalah seorang guru/pegawai yang telah ditunjuk oleh pejabat berwewenang dalam hal ini adalah kepala sekolah dan diberikan tanggung jawab untuk melaksanakan segala tugas yang berkaitan dengan perpustakaan.

Pada dasarnya sumber daya manusia pengelola perpustakaan terdiri dari dua bagian, yaitu kepala perpustakaan dan petugas/staff perpustakaan. Kedua bagain ini memiliki peranan penting dalam terselenggarannya perpustakaan yang baik. Kepala perpustakaan adalah seseorang yang diberikan tanggung jawab untuk mengelola perpustakaan sekolah (Ibrahim Bafadal, 2005: 176). Darmono (2004: 39) menyatakan bahwa kepala perpustakaan sering pula disebut pustakawan sekolah atau guru pustakawan. Kepala perpustakaan harus ahli dalam beberapa hal, yaitu merencanakan, mengorganisasi, mengkoordinasi, mengevaluasi dan juga harus mampu memimpin petugas perpustakaan lainnya. Dapat disimpulkan bahwa kepala perpustakaan merupakan pustakawan atau guru pustakawan yang diberikan tanggung jawab untuk mengelola segala urusan tentang perpustakaan.

Pertugas perpustakaan pada hakikanya adalah seseorang yang melaksanakan tugas layanan perpustakaan dan membantu tugas dari kepala perpustakaan. Menurut Sumardjo, dkk (2006: 9), tenaga perpustakaan sekolah bertugas untuk melaksanakan pelayanan teknis dan pelayanan pengguna serta kegiatan lain di luar tugas-tugas kepustakawanan. Ibrahim Bafadal (2005: 178) berpendapat bahwa minimal ada tiga petugas perpustakaan, yaitu petugas pelayanan teknis, petugas pelayanan pembaca dan petugas tata usaha. Senada

dengan pedapat di atas, Darmono (2004: 41-43) menyatakan bahwa selain kepala perpustakaan sekolah, ada tiga bagian layanan lainnya yaitu bagian layanan tata usaha, bagian layanan pembaca dan bagian layanan teknis. Dapat disimpulkan bahwa petugas perpustakaan dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu petugas layanan teknis, petugas layanan pembaca, dan petugas tata usaha.

Petugas layanan teknis memiliki tugas untuk pengadaan dan pengelolaan bahan perpustakaan. Petugas layanan pembaca memiliki beberapa tanggung jawab, seperti memberikan lanyanan sirkulasi (peminjaman), layanan referensi dan layanan membaca. Sedangkan, petugas tata usaha bertugas untuk memelihara sarana dan prasarana, menjaga kebersihan, melakukan kegiatan surat menyurat, melakukan pembukuan, keuangan dan sebagainnya.

6. Koleksi Bahan Bacaan

Bahan bacaan merupakan salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam sebuah perpustakaan. Melalui bahan bacaan ini, dapat dijadikan sebagai suatu aspek penting dalam menumbuhkan ketertarikan dan minat membaca dalam diri siswa. Oleh sebab itu, penting untuk memilih bahan bacaan yang sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan siswa.

Pemilihan bahan bacaan yang baik haruslah dipilih secara cermat. Menurut Dwi Sunar Prasetyono (2008: 87), ada dua prinsip yang dapat digunakan sebagai acuan dalam memilih bahan bacaan yang baik, sehat, bermanfaat, dan memenuhi kebutuhan anak. Prinsip tersebut di antaranya adalah memilih jenis bahan bacaan yang sehat dan bahan bacaan yang mendidik. Bahan bacaan yang sehat yaitu bahan bacaan yang memiliki manfaat positif bagi pembaca serta mampu

membantu dalam megembangkan daya imajinasi dan kreativitas pembacanya. Sedangkan, bahan bacaan yang mendidik adalah bahan bacaan yang mampu memberikan cara pandang baru, penuh inspiratif, mengandung pengetahuan yang baik serta tidak bertentangan dengan nilai moral dan etika.

Untuk anak yang sudah masuk SD, kriteria bacaan yang sesuai ialah (R. Masri Sareb Putra, 2008: 124) yaitu: (1) sedikit, bahkan tidak ada gambar, banyak kata; (2) tingkat kesulitan bahasa dan alur sesuai dengan usia anak; (3) mengajarkan kebijakan (karakter baik); dan (4) tidak mengandung kekerasan dan pornografi. Keempat kriteria tersebut dapat dijadikan sebagai ukuran dalam menentukan jenis bacaan yang sesuai dengan selera siswa dan tentunya layak untuk dibaca oleh siswa.

Melalui pemenuhan bahan bacaan ini diharapkan mendukung upaya menumbuhkan minat baca, di mana siswa akan lebih tertarik untuk membaca jika bahan bacaan yang diberikan sesuai dengan selera siswa. Tentunya hal ini sesuai dengan fungsi perpustakaan sekolah, yakni untuk kepentingan pendidikan (edukasi) dan hiburan (rekreasi) (Dian Sinaga, 2011: 49). Beberapa jenis bahan bacaan yang dapat dijadikan sebagai koleksi dalam perpustakaan di antaranya adalah:

a. Buku teks (text book)

Buku teks merupakan salah satu bentuk bacaan yang sering disebut dengan buku pelajaran. Menurut Farida Rahim (2007: 86), di Indonesia buku teks umumnya dikemas menjadi suatu paket yang terdiri atas buku pelajaran yang diajarkan di kelas termasuk buku Bahasa indonesia. Sedangkang, pendapat lain

mengungkapkan bahwa buku teks (text book) terbagi menjadi dua, yaitu buku teks utama dan buku teks pelengkap (Dian Sinaga, 2011: 50). Buku teks utama merupakan buku yang digunakan oleh siswa maupun guru sebagai pegangan atau sumber belajar utama, sedangkan buku pelengkap adalah buku yang hanya sebagai pelengkap dari buku utama. Menurut Andi Prastowo (2012: 124) tujuan buku teks pelengkap adalah untuk membantu meningkatkan wawasan pembacannya. Dapat disimpulkan bahwa buku teks pelengkap selain digunakan untuk melengkapi buku teks utama juga dapat digunakan untuk memperluas wawasan pembaca.

b. Buku Bacaan

Buku bacaan adalah buku yang digunakan sebagai bacaan yang menurut jenisnya dapat dibedakan menjadi bacaan nonfiksi, fiksi ilmiah dan fiksi (Sumardjo, dkk, 2006: 13).

1) Buku nonfiksi adalah buku yang ditulis berdasarkan fakta atau kenyataan alam

Dokumen terkait