BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Deskripsi Data Hasil Penelitian
1. Perencanaan Perpustakaan Kelas
Berdasarkan catatan notulen rapat sekolah, diperoleh data bahwa proses perencanaan program perpustakaan kelas dilaksanakan pada Senin, 04 Januari 2016 di ruang Laboraturium IPA SD Negeri Percobaan 3 (lampiran 9). Pada perencanaan ini, dibahas terkait beberapa hal berikut ini.
a. Penetapan visi misi dan tujuan perpustakaan kelas
Hasil wawancara dengan guru diketahui bahwa pada dasarnya visi misi perpustakaan kelas sesuai dengan visi misi dari perpustakaan sekolah. Hal ini dikarenakan program perpustakaan kelas merupakan salah satu program kerja dari perpustakaan sekolah. Senada dengan pendapat dari guru di atas, pustakawan juga
menyatakan bahwa visi misi perpustakaan kelas merupakan bagian dari visi misi perpustakaan sekolah. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru juga diketahui bahwa telah ditetapkan tujuan dari program perpustakaan kelas, yaitu membiasakan siswa untuk membaca setiap hari. Berbeda dengan pendapat di atas, pustakawan menyatakan bahwa program perpustakaan kelas ini adalah bentuk realisasi dari program pemerintah yang bertujuan sebagai upaya mendekatkan siswa dengan perpustakaan.
Data di atas diperkuat dengan hasil studi dokumentasi berupa dokumen tentang profil singkat dari perpustakaan sekolah (lampiran 8). Pada dokumen ini dijabarkan terkait dengan visi misi perpustakaan sekolah. Visi perpustakaan sekolah adalah terwujudnya perpustakaan sebagai sumber informasi dan pembentuk karakter. Visi tersebut kemudian dijabarkan kembali dalam beberapa misi perpustakaan sekolah di antaranya adalah (1) meletakkan dasar- dasar belajar mandiri; (2) mengembangkan kemampuan mencari,mengolah, dan memanfaatkan informasi; (3) membangun minat dan kebiasaan membaca bagi seluruh elemen sekolah; (4) menjalin kerjasama dengan seluruh warga sekolah dan instansi terkait; dan (5) menjadikan perpustakaan sebagai sarana edukatif dan rekreatif. Selain itu, pada dokumen dijabarkan pula salah satu program kerja perpustakaan sekolah adalah perpustakaan kelas. Perpuatakaan kelas merupakan “penyediaan pojok baca di masing-masing kelas yang bertujuan untuk mendekatkan siswa pada buku bacaan dan sebagai upaya peningkatan minat baca siswa”.
Berdasarkan hasil wawancara dan studi dokumentasi di atas, diperoleh data bahwa perpustakaan kelas merupakan salah satu program perpustakaan
sekolah, di mana visi misinya sesuai dengan visi misi perpustakaan sekolah. Tujuan perpustakaan kelas adalah untuk mendekatkan siswa pada buku bacaan dan sebagai upaya peningkatan minat membaca siswa.
b. Penetapan sumber daya manusia
Pada hasil wawancara dengan guru diketahui bahwa secara garis besar jawaban guru menyatakan bahwa pembentukan pengurus perpustakaan kelas tidak dilakukan karena perpustakaan kelas masih bagian dari program perpustakaan sekolah, sehingga pengurus perpustakaan kelas mengikuti sesuai dengan struktur organisasi yang ada di perpustakaan sekolah. Hal ini diperkuat dengan pendapat dari putakawan bahwa kepala perpustakaan dan petugas perputakaan sesuai dengan yang ada di perpustakaan sekolah.
Peneliti juga melakukan studi dokumentasi yang berupa dokumen terkait struktur organisasi di perpustakaan sekolah (lampiran 8). Pada dokumen dijabarkan bahwa struktur organisasi yang ada di perpustakaan sekolah meliputi kepala sekolah, kepala perpustakaan sekolah, dan petugas layanan, seperti petugas layanan teknis, petugas layanan pemustaka, serta petugas layanan TIK.
Berdasarkan hasil wawancara dan studi dokumentasi diperoleh data bahwa penetapan pengurus perpustakaan kelas secara khusus belum dilakukan, akan tetapi masih sesuai dengan struktur organisasi yang ada di perpustakaan sekolah. c. Pengadaan koleksi bahan bacaan
Secara garis besar, berdasarkan hasil wawancara dengan guru diketahui bahwa bahan bacaan yang diperbolehkan ada adalah bahan bacaan yang layak dibaca oleh siswa kecuali komik yang unsur mendidiknya kurang dan cerita-cerita
yang tidak sesuai dengan usia siswa. Akan tetapi, untuk komik pengetahuan diperbolehkan sekolah. Untuk sumber pengadaannya berasal dari sumbangan siswa. Senada dengan pendapat dari guru, pustakawan juga mengungkapkan bahwa bahan bacaan bersumber dari sumbangan siswa, di mana bahan bacaan tersebut meliputi buku-buku pengetahuan, buku-buku cerita kecuali komik fiksi.
Data di atas diperkuat dengan adanya dokumentasi berupa dokumen tentang program sedekah buku (lampiran 8). Pada dokumen tersebut disebutkan bahwa “seluruh siswa menyedekahkan minimal satu buku untuk melengkapi buku
di “pojok baca” setiap kelasnya masing-masing”.
Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat diperoleh data bahwa kolesksi bahan bacaan yang diperbolehkan ada adalah bahan bacaan yang layak dibaca oleh siswa usia sekolah dasar, seperti buku cerita maupun buku pengetahuan. Untuk bahan bacaan yang tidak diperbolehkan adalah bahan bacaan seperti komik yang tidak memiliki unsur pendidikan. selain itu, untuk sumber pengadaannya berasal dari sumbangan siswa.
d. Pengadaan sarana dan prasarana
Hasil wawancara dengan guru didapat kesimpulan bahwa saran dan prasarana yang harus dipersiapkan sebelum diselenggarakannya program perpustakaan kelas ini selain bahan bacaan adalah rak buku. Penanggung jawab pengadaan saran dan prasaran ini adalah sekolah, di mana sumber dana yang akan digunakan untuk pengadaan ini diambil dari dana BOS yang dimiliki sekolah. Senada dengan data di atas, pustakawan juga menyatakan bahwa sarana dan prasarana yang harus dipersiapkan meliputi rak buku serta buku besar untuk
mencatat peminjaman koleksi bahan bacaan. Selain itu, pustakawan juga menjelaskan bahwa penanggung jawab atas pengadaan saran dan prasarana ini adalah sekolah.
Data di atas kemudian diperkuat dengan adanya dokumentasi berupa gambar saran dan prasaran yang ada di perpustakaan kelas (lampiran 7). Terlihat bahwa memang di setiap kelas terdapat rak buku yang memiliki model dan ukuran yang sama satu sama lainnya dan memiiki empat kolom rak. Akan tetapi, untuk sarana dan prasarana seperti buku besar hanya ada satu kelas yang memilikinya yaitu kelas VA. Selain itu, ada juga dokumen tentang rincian anggaran belanja langsung (lampiran 10) yang didalamnya tertulis bahwa sekolah telah melakukan pembelian rak buku sebanyak 12 buah dengan menggunakan dana BOSNAS.
Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa saranan dan prasarana yang harus dipersiapkan sebelum program perpustakaan kelas ini diselenggarakan selain bahan bacaan adalah rak buku dan buku besar untuk mencatat peminjaman koleksi perpustakaan kelas, karena pada awalnya setiap kelas hanya menggunakan meja saja. Penanggung jawab pengadaan sarana dan prasarana ini adalah sekolah, di mana direncanakan sumber dana yang digunakan untuk pengadaan ini diambil dari dana BOSNAS yang ada.
e. Rencana kegiatan perpustakaan kelas
Hasil wawancara guru diperoleh data bahwa program perpustakaan kelas merupakan hasil dari kesepakatan bersama pihak sekolah yang didasarkan pada Permendikbud tahun 2015. Kesepakatan tersebut adalah siswa membaca buku selama 15 menit sebelum pembelajaran di kelas masing-masing setiap hari Senin
sampai dengan hari Jumat kemudian pada hari Sabtu siswa membuat ringkasan dari buku yang telah dibaca. Pada perencanaannya program ini akan diselenggrakan pada tahun ajaran 2015/2016 untuk setiap kelas.
Senada dengan data di atas, berdasarkan hasil wawancara dengan pustakawan didapati bahwa program perpustakaan kelas merupakan usulan dari salah satu guru (Pak Uud) dalam upayanya mewujudkan peraturan pemerintah tahun 2015 tentang gerakan literasi. Tata cara penyelenggaraan perpustakaan kelas yaitu siswa membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai yang dilakukan di kelas masing-masing. Program perpustakaan kelas ini direncanakan untuk diselenggrakan pada tahun ajaran 2015/2016.
Data di atas diperkuat dengan adanya salinan dokumen tentang Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti yang didalamnya dinyatakan bahwa salah satu kegiatan wajib yang harus dilakukan oleh sekolah adalah “menggunakan 15 menit sebelum pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari)” (lampiran 20). Dokumen ini menguatkan bahwa kegiatan wajib membaca selama 15 menit itu memang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu, terdapat juga dokumen tentang notulen hasil rapat pada Senin, 04 Januari 2016 yang membahas tentang wajib membaca 15 menit (lampiran 9). Pada dokumen tersebut disebutkan bahwa salah satu guru (Pak Uud) menyampaikan program dari dikpora DIY di mana telah disepakati 15 menit sebelum pembelajaran digunakan untuk membaca atau bapak/ibu guru bercerita dan diharapkan untuk segera diterapkan demi meningkatkan budi pekerti dan minat membaca. selain itu, pada dokumen tersebut
juga disebutkan bahwa membaca atau guru bercerita 15 menit sebelum pembelajaran disepakati dimulai hari Rabu, 6 Januari 2016, yaitu hari Senin sampai dengan hari Jumat adalah kegiatan membaca dan hari Sabtu adalah kegiatan meringkas. Kegiatan dimulai pukul 07.00 – 07.15.
Berdasarkan ulasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa program perpustakaan kelas merupakan hasil dari usulan salah satu guru yang kemudian disepakati bersama pihak sekolah yang didasarkan pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang salah satunya berbunyi menggunakan 15 menit sebelum pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari). Kesepakatan tersebut adalah kegiatan program perpustakaan kelas meliputi kegiatan siswa membaca buku atau guru bercerita selama 15 menit sebelum pembelajaran di kelas masing-masing setiap hari Senin sampai dengan hari Jumat kemudian pada hari Sabtu siswa membuat ringkasan dari buku yang telah dibaca. Pada perencanaannya telah disepakati waktu pelaksanaan secara resmi dimulai pada Rabu, 06 Januari 2016.