• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : GAMBARAN UMUM PEMBANGUNAN EKONOMI ORDE

C. Jurnal Prisma dan Orde Baru

2. Pengelolaan

Berbeda dengan jurnal-jurnal akademik, baik yang diterbitkan oleh perguruan tinggi maupun lembaga-lembaga non perguruan tinggi. Prisma disebarluaskan untuk masyarakat pembaca lebih luas. Sejak awal terbit, sudah banyak para ahli, sarjana, praktisi, dan kaum muda Indonesia yang menulis secara bebas dan kreatif di Prisma. Jurnal ini menjadi semacam bacaan “wajib” di kalangan akademisi, mahasiswa, politikus, para pengambil keputusan dan perencanaan pembangunan, serta kelompok-kelompok strategis lainnya. Mereka memanfaatkan sebagian besar tulisan di Prisma untuk mengkaji perkembangan berbagai teori pembangunan yang diaplikasikan di Indonesia. Pengasuh jurnal ini

dari berbagai sudut pandang. Siapa pun dapat menulis di Prisma sejauh memenuhi kriteria keahlian tertentu.

41

adalah mereka yang berpikiran kritis, nonpartisan, bukan birokrat, dan tidak mengabdi pada dunia akademis formal.

Prisma tampil dengan wajah dan tata letak cukup sederhana. Jurnal ini diterbitkan setiap dua bulan sekali atau dwi bulanan, menggunakan kertas HVS dengan ketebalan isi 52 halaman. Satu tahun setelah terbit perdana, ketebalannya berkembang menjadi 92 halaman. Semula hanya terjual rata-rata 1.000 eksemplar per edisi, namun perlahan-lahan naik menjadi 6.500 eksemplar di penghujung tahun 1975. Pada 1976, Prisma melakukan pembenahan tata letak, isi, perwajahan, memasang gambar sampul muka berbentuk lingkarang yang menjadi ciri khas Prisma, dan menambah rubrik-rubrik baru. Jadwal terbit pun diubah dari yang awalnya dwi bulanan menjadi bulanan.56

Bila sebelumnya hanya dijual lewat cara berlangganan atau diperoleh di toko-toko buku serta agen-agen khusus yang memiliki akses ke kampus perguruan tinggi. Pada tahun 1976 Prisma dapat dijumpai di kios-kios agen Koran dan majalah umum. Upaya tersebut membuat tiras jual Prisma naik sekitar 8.000-14.000 eksemplar per edisi. Namun naik turunnya juga sangat ditentukan oleh isi dan topik yang disajikan.57

56

Setidaknya ada tiga alasan perubahan jadwal terbit. Pertama, untuk memperluas pemasaran karena pembaca Prisma menganggap jadwal terbit dwibulanan terlampau lama. Kadua, menggairahkan para agen dan toko buku karena dengan berubahnya jadwal terbit berarti pendapatan mereka pun akan meningkat. Ketiga, dapat menekan biaya overhead sekaligus harga pokok, karena dengan biaya yang sama dapat diterbitkan 12 nomor dalam satu tahun.

57

Sebagai contoh topik-topik Prisma yang cukup laris pada tahun 1970-an adalah “Industri Seks” (Juni 1976) dan “Angkatan Muda” (Desember 1977), sedangkan yang kurang begitu diminati adalah “Olahraga” (April 1978) dan “Sastra” (April 1979). Sementara yang sulit dan dilampaui oleh edisi-edisi berikutnya adalah “Manusia dalam Kemelut Sejarah” (Agustus 1977). Tiras jual edisi yang mengupas dan menilai kembali tokoh Soekarno, Tan Malaka, Amir Sjarifoeddin, Jenderal Soedirman, Sutan Sjahrir, Haji Agus Salim, Kahar Muzakkar, dan Rahmah El Yunusiyyah itu sekitar 25.000 eksemplar, belum termasuk yang dicetak dan diterbitkan dalam

42

Selain Prisma Indonesia, LP3ES juga menerbitkan Prisma berbahasa Inggris pada 1975. Prisma edisi bahasa Inggris itu terbit dua kali setahun kemudian diubah menjadi empat bulanan. Sebagian besar isinya berupa terjemahan artikel-artikel pilihan yang telah dimuat Prisma Indonesia. Edisi ini terutama “diekspor” ke luar negeri dan diterima oleh agen-agen yang cukup setia di Negeri Belanda, Amerika Serikat, Australia dan Singapura, disamping sejumlah pelanggan pribadi. Tiras edarnya hanya 1.000 eksemplar dan tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan, melainkan lebih unutk memenuhi amanat Anggaran Dasar LP3ES yang antara lain berbunyi:

Menyebarkan pengetahuan yang luas tentang keadaan sosial dan ekonomi Indonesia kepada bangsa lain.58

Fungsi utamanya sebagai public-relation LP3ES terhadap dunia internasional, terutama untuk memberi informasi dan menarik perhatian lembaga-lembaga ilmiah dan sumber-sumber dana di luar negeri. Prisma edisi bahasa Inggris mengisi sebagian kekosongan media komunikasi dalam bahasa Inggris tentang Indonesia yang saat itu makin dibutuhkan oleh publik asing, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Bulan Oktober sampai November 1974, LP3ES mengadakan readership survei dengan sampel 1.250 orang responden pembaca Prisma yang tersebar di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Suarabaya, Malang, Ujungpandang, dan Medan. Dari survei itu diketahui 88 persen pembaca prisma adalah laki-aki dan 12 persen perempuan. Berdasarkan kelompok umur, 33 persen pembaca Prisma berusia

bentuk buku. Sumber: http://prismajurnal.com (diakses pada Minggu, 18 September 2016, pukul 20:05 WIB)

43

26 tahun, 36 persen berusia 27-34 tahun, 20 persen berusia 35-42 tahun, dan 9 persen berusia 43-62 tahun. Sementara tingkat pendidikan pembaca Prisma tamatan SMA sebesar 23 persen, 34 persen sarjana muda atau tamat akademi, 38 sarjana atau tama universitas, dan 3 persen post-graduate. Kelompok pekerjaan mereka 36 persen mahasiswa, 32 persen pejabat pemerintah, 13 persen pengajar atau dosen perguruan tinggi, 9 persen kalangan swasta, 7 persen kaum profesional, dan 3 persen anggota TNI dan Polri dan kelompok lainnya. Dengan kata lain, 69 persen pembaca Prisma adalah golongan muda 19-34 tahun, 72 persen berpendidikan sarjana muda atau lebih, dan 49 persen bekerja di lingkungan perguruan tinggi. Hasil survei itu membuktikan bahwa ide dasar dan tujuan penerbitan Prisma untuk menjadi forum komunikasi dan pembahasan masalah pembangunan sosial ekonomi bagi para sarjana dan cendekiawan muda serta media informasi bagi para praktisi dan pejabat pemeintahan telah berhasil dicapai.

Akhir tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an merupakan masa kejayaan Prisma. Hal ini sejalan dengan pembaharuan isi Prisma yang kian semarak dengan rubrik-rubrik baru. Tahun 1978 Prisma menghadirkan rubrik “Laporan Khusus”.59 Sebelumnya, pada tahun 1976 Prisma menghadirkan rubrik “Dialog”.60

Rubrik lain yang diperkenalkan sejak 1979 antara lain “Dunia Ketiga61

, Tesis62, Tinjauan

59

Sebuah laporan jurnalistik yang digarap oleh redaksi dan disajikan setiap tiga bulan yang tidak harus sejalan dengan topik utama.

60 Berupa wawancara dengan beberapa tokoh.

61 Merupakan artikel terjemahan tentang berbagai masalah negeri-negeri berkembang di Asia Tenggara.

62 Berupa ringkasan tesis atau disertasi bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora mengenai msalah Indonesia yang ditulis oleh sarjana Indonesia.

44

Buku63 dan Kritik dan Komentar”. Pada 1982, Prisma memunculkan rubrik “Tokoh” berupa tulisan mendalam tentang saksi atau pelaku sejarah yang memiliki andil dalam perjalanan negeri ini. Rubrik itu banyak mencuri perhatian pembaca, termasuk rezim Orde Baru saat mengangkat dan mengulas tokoh-tokoh tertentu yang ditulis oleh penulis atau cendekiawan tertentu. Bagaimanapun juga rubrik-rubrik tersebut membuat isi Prisma lebih bervariasi.

Dokumen terkait