BAB II : GAMBARAN UMUM PEMBANGUNAN EKONOMI ORDE
C. Jurnal Prisma dan Orde Baru
1. Sejarah dan Tujuan
Salah satu lembaga swasta atau lembaga non-pemerintah yang berperan dalam pelaksanaan pemerintahan Orde Baru adalah Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Beberapa orang di dalam dewan tersebut pernah mendekap di dalam penjara atau mengalami masa pembuangan yang lama seperti salah satunya yaitu Soemitro Djojohadikusumo. Dari kalangan yang lebih muda beberapa tokoh seperti Nono Anwar Makarim dan Ismid Hadad yang memegang peran penting dalam aksi menghancurkan Partai Komunis Indonesia dan menjatuhkan Soekarno pada tahun 1965-1968. Mereka adalah kelompok yang mempelopori berdirinya LP3ES. Mereka adalah para mantan aktivis mahasiswa yang bekerjasama dengan militer Indonesia dalam menghancurkan PKI dan menjatuhkan Soekarno.39 Koalisi kaum cendekiawan profesional, mahasiswa, para professor dengan Orde Baru dan pendukung utamanya (militer) adalah gabungan yang tidak nyaman bagi kedua belah pihak. Budaya berpikir kritis pihak cendekiawan dan nafsu menguasai dari pihak militer adalah gabungan rapuh yang tidak menjadi jaminan bagi suatu koalisi abadi justru karena adanya kekuatan asimetrik antara mahasiswa dan militer. Sebenarnya kekecewaan terhadap Orde Baru sudah terjadi tidak lama setelah Soekarno jatuh ketika terjadi kudeta sesungguhnya oleh militer pada tanggal 11 Maret 1966.40
39 Daniel Dhakidae, Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003), h. 443-444.
40 Kudeta itu terjadi dengan sepucuk surat yang disebut sebagai “Surat Perintah Sebelas Maret” yang sangat kontroversial. Hal itu menjadi persoalan apakah surat itu benar ada atau tidak karena tidak ada satu orang pun yang pernah melihat versi asli surat tersebut. Apa pun yang terjadi dengan surat tersebut suatu kudeta terhadap Soekarno oleh militer yang sesungguhnya terjadi pada
37
LP3ES merupakan jelmaan politik dari dua ide utama yang disandang PSI (Partai Sosialis Indonesia) yang akan diterjemahkan ke dalam situasi Indonesia pasca-kemerdekaan dan pasca Demokrasi Terpimpin.41 Gagasan awal mendirikan LP3ES itu adalah untuk menjadikannya wadah alternatif untuk persiapan buat para aktivis melanjutkan perjuangannya. Karena hampir sebagian besar yang mendirikannya adalah kaum aktivis gerakan 1966, sebagaimana kita ketahui bahwa pada masa itu sangat banyak gerakan aliansi mahasiswa dan ABRI.42 LP3ES didirikan pada bulan Agustus 1971 dengan pikiran menjadi suatu lembaga alternatif. Sejak saat itulah pemerintah Orde Baru membuka kerjasama dengan Friedrich Naumann Stiftung.43
Pada 7 Juli 1970, sekelompok cendekiawan, akademisi, petinggi pemerintahan dan beberapa aktivis membentuk Perhimpunan Indonesia untuk Pengetahuan Ekonomi dan Sosial (Bineksos)44 dengan sejumlah pendiri organisasi
hari itu. Lihat penjelasan Daniel Dhakidae, Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde
Baru, Op. Cit., h. 144.
41 Hal yang sama sebenarnya bisa dikatakan untuk kelompok yang berhimpun di sekitar LP3ES dan Prisma, yang pada dasarnya berorientasi “Sjahrir-ian” dalam pandangannya tentang modernisasi, modernisme, dan pembangunan ekonomi.
42 Daniel Dhakidae, Op. Cit., h. 449.
43 Modal adalah sesuatu yang langka pada waktu itu, apalagi modal untuk mendirikan suatu yayasan. Namun, kebetulan ada yang membantu. Pada waktu itu Nono Anwar Makarim mengikuti suatu lomba penulisan dan diundang membawakan karya tulisnya di Berlin. Di sana bertemu dengan tokoh-tokoh gerakan mahasiswa Jerman dan beberapa orang dari yayasan-yayasan Jerman, Stiftung, seperti Friedrich Naumann Stiftung. Itulah kontak pertama dengan Friedrich Naumann Stiftung. Mereka mengirim Dieter Wilke ke Jakarta. Dieter Wilke itulah yang mengerjakan segala-galanya dan sejak itu mondar-mandir antara Indonesia-Jerman. Wilke sendiri adalah aktifis mahasiswa Jerman yang banyak melakukan kontak dengan kaum aktivis Perancis seperti Daniel Cohn Bendit. Hal ini dijelaskan oleh Daniel Dhakidae, Op. Cit., h. 450.
44 Bineksos merupakan organisasi berbadan hukum perkumpulan yang disahkan Pemerintah Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Kehakiman Nomor Y.A.5/36/12, tertanggal 22 Januari 1973. Setidaknya terdapat lima nama yang disebut sebagai perintis lahirnya Bineksos: Nono Anwar Makarim, Ismid Hadad, Dr. Emil Salim, Dr. Satrio B. Joedono, dan Prof. Soemitro Djojohadikusumo. Pembentukan Bineksos sesungguhnya tidak terlepas dari kemungkinan menjalin kerjasama dengan FNS yang memerlukan sebuah organisasi sebagai
counterpart-nya di Indonesia. Lihat http://prismajurnal.com (diakses pada Minggu, 18 September,
38
nirlaba.45 Pada tanggal 26 April 1971, Friedrich Naumann Stiftung (FNS) menjalin kerjasama resmi dengan Pemerintah Indonesia. Bantuan teknis FNS sepenuhnya berada di bawah pengawasan dan prosedur Departemen Perdagangan Republik Indonesia. Perjanjian antara Departemen Perdagangan RI dan FNS ditandatangani menteri Perdagangan Sumitro Djojohadikusumo dan Kepala Perwakilan FNS di Indonesia, Dr. Dietrich G. Wilke. Pada 19 Agustus 1971, perjanjian itu pun diresmikan dan ditandatangani oleh Ketua Pengurus Bineksos Emil Salim dan Kepala Perwakilan FNS di Indonesia DG. Wilke.
Perhimpunan LP3ES secara organisatoris merupakan sebuah badan pelaksana yang berada di bawah payung Bineksos. Badan pelaksana ini dipimpin seorang direktur, wakil direktur, dan beberapa staf orang Indonesia. Sejak awal tahun 1980-an LP3ES berkembang menjadi sebuah lembaga yang mandiri.46 Di dalam tubuh LP3ES, selain tokoh-tokoh pendiri Bineksos, bergabung tokoh-tokoh muda seperti Tawang Alun47, M. Dawam Rahardjo48, Abdulah Syarwani, Utomo Dananjaya, Aswab Mahasin49, Arselan Harahap50, Imam Choumain, Amir
45 Antara lain Prof. Ali Wardhana, Prof. Dr. Selo Sumardjan, Dr. Suhadi Mangkusuwondo, Prof. Dr. Koentjaraningrat, Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardjo, Dr. Taufik Abdullah, Dr. Soedradjad Djiwandono, Dr. Zainul Yasni, Joewono Sudarsono, Bintoro Tjokroamidjojo, Dorojatun Kuntjojakti, Adam Malik, Daan Jahja, M. Yusuf Ronodipur, Harlan Bekti, Letnan Jenderal (Mar) Ali Sadikin, dan lain-lain. Emil salim kemudian dipilih menjadi Ketua Pengurus Bineksos pertama didampingi Sumitro Djojohadikusumo, Ali Wardana, dan Ali Sadikin sebagai Ketua Kehormatan. Keterangan ini diperoleh dari http://prismajurnal.com (diakses pada Minggu, 18 September 2016, pukul 18:42 WIB).
46Badan hukum perhimpunan LP3ES disahkan Pemerintah Republik Indonesia lewat Keputusan Menteri Kehakiman Nomor C2-1463-HT01-03, tertanggal 15 Februari 1983. Tiga belas tahun kemudian, tepatnya tanggal 26 September 1996, LP3ES terdaftar di Direktorat Jenderal Sosial Politik Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia sebagai salah satu organisasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
47 Direktur Kedua LP3ES (1973-1976) dan didampingi Ismid Hadad sebagai wakilnya.
48 Wakil Direktur III LP3ES (1976-1980), kemudian menjadi Direktur IV LP3ES (1980-1986) didampingi Aswab Mahasin sebagai wakilnya.
49 Direktur V LP3ES (1986-1992).
39
Karamoy, Endang Basri Ananda, Hassan S. Kertadjoemena, Daniel Dhakidae, Maruto MD, Masmimar Mangiang, Rustam Ibrahim51, Imam Ahmad52, Paulus Widiyanto, dan lain-lain.
LP3ES dikenal luas sebagai salah satu “lembaga penerangan” yang banyak menerbitkan buku-buku teks perguruan tinggi, baik karya asli orang Indonesia maupun terjemahan. Bahkan LP3ES kerap dianggap sebagai perintis penerbitan buku-buku kajian kritis bidang sosial dan ekonomi di Indonesia. Keterkenalan LP3ES semakin lengkap saat LSM ini menerbitkan jurnal Prisma. Dalam edisi perdananya, pada November 1971 tersua kalimat-kalimat sebagai berikut:
Madjalah ini (Prisma) dimaksudkan sebagai media jurnal informasi dan forum pembahasan masalah-masalah pembangunan ekonomi, perkembangan sosial, dan perubahan-perubahan kulturil di Indonesia serta di wilajah sekitarnja.53
Sementara redaktur sekaligus penanggungjawab Prisma, Ismid Hadad menulis dalam Pengantar Redaksi edisi perdana itu dengan kalimat-kalimat,
Kita senantiasa tenggelam dalam manuvre-manuvre politik praktis dan masalah-masalah rutin, hingga tak pernah sempat memikirkan rentjana masa depan Indonesia dari pandangan jang mendalam. Oleh karena itulah di zaman modern dimana tantangan-tantangan pembangunan republik ini lebih menuntut digunakannya fikiran-fikiran jang matang, makin terasa bahwa kita sekarang perlu kontemplasi, sambil madju terus mengedjar keterbelakangan. Apalagi bila kita tidak mau menemui bentjana-bentjana dalam menjongsong Repelita II.54
51 Direktur VII LP3ES (1993-1999).
52 Direktur VIII LP3ES (1999-2005).
53
Prisma, no. 1 (tahun 1), November 1971, yang diterbitkan sebagai edisi “Perkenalan”.
54 Pengantar Redaksi dalam Prisma, no. 1, (tahun 1), November 1971, yang diterbitkan sebagai edisi “Perkenalan”. Berdasarkan untaian kalimat tersebut, dapat diketahui bahwa Prisma memang mengangkat topik-topik terkait dengan pembangunan, misalnya isu pembangunan daerah, pendidikan, olahraga, kesehatan masyarakat, perempuan, ekonomi pertanian, teknologi, industrialisasi, dan lain-lain. Semua disajikan dalam bentuk karangan ilmiah populer atau eksplorasi dan refleksi intelektual. Setiap nomor membahas secara mendalam satu tema tertentu
40
Pada permulaan tahun 1970-an, Prisma adalah salah satu yang pertama dalam bidang ilmu sosial (termasuk ekonomi) dan kemanusiaan. Bahwa ada kebutuhan akan jurnal sejenis ini, yakni terlihat dari sambutannya yang sangat positif terutama dari kaum “intelektual”. Redaksi Prisma berhasil memperoleh tulisan dari ilmuwan, peneliti dan pemerhati masalah-masalah masyarakat yang disajikan secara provokatif dan menarik. Tulisan-tulisan yang ada di Prisma sebagian besar dimanfaatkan untuk mengkaji perkembangan berbagai teori pembangunan yang diaplikasikan di Indonesia. Pengasuh Prisma sendiri adalah mereka yang berpikiran kritis, bukan birokrat, dan tidak mengabdi pada dunia akademis formal. Menurut Daniel Dhakidae, elitisme Prisma dengan sendirinya tampak pada metode yang dipilih. Format dalam bentuk jurnal dengan sendirinya hanya mengandalkan suatu sektor terdidik.55