BAB II : GAMBARAN UMUM PEMBANGUNAN EKONOMI ORDE
C. Peran Cendekiawan Muslim sebagai Kontributor Prisma
Dinamika Orde Baru
Para kontributor memilih untuk menjadikan Prisma sebagai media alternatif, yang mana tidak semata-mata mencari dan mengolah koalisi baru, namun juga tidak memisahkan diri dari koalisi lama, dan karena itu membangun konflik di sana-sini dan dengan itu memaksakan suatu keseimbangan baru. Dalam hal itu ekonomi politik mereka juga memihak pada upaya untuk menjelaskan bagaimana seseorang atau kelompok bahkan negara Orde Baru memproduksi dan memupuk kekayaan, kapan, sambil mengabaikan mengapa dan siapa yang menjadi korban. Kapitalisme Indonesia sedang bergerak ke arah yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Masuknya militer di dalam bisnis sudah menjadi suatu gejala yang hampir tidak terkendalikan. Pada tingkat tertinggi perusahaan-perusahaan besar seperti perusahaan-perusahaan minyak, perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang distribusi pangan, dan perdagangan berada di tangan militer. Dalam bidang perminyakan penguasaan terutama adalah pada Pertamina yang menjadi sapi
63
perahan paling utama yang sama sekali tidak berada di dalam kontrol dewan perwakilan. Kemenangannya di bidang politik dipakai Soeharto untuk membangun kerajaan bisnisnya sendiri.17
Arus informasi merupakan hal yang sangat penting dalam berjalannya suatu negara. Media massa mempunyai peran yang sangat vital sebagai alat penyebarluasan berita dan juga sebagai kontrol sosial, baik pada pemerintah maupun pada masyarakat itu sendiri. Kedua fungsi tersebut, terkadang memberikan banyak masalah bagi pemerintah. Kritik publik yang tajam seringkali dianggap dapat mengganggu stabilitas jalannya pemerintahan.
Hal tersebut terjadi hampir seluruh periode sejarah Indonesia sejak bangsa ini mengenal media massa. Hal yang sama berlaku juga pada pemerintahan Orde Baru. Menyadari peran penting pers, pada masa awal pemerintahan, Orde Baru membentuk Dewan Pers. Pembentukan maupun peran lembaga tersebut diatur dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 1966.18 Saat itu hubungan antara penguasa Orde Baru dengan pers masih terlihat harmonis, dalam arti pemerintah Orde Baru masih membutuhkan peran besar pers dalam menyebarkan propaganda anti Orde Lama19 dan komunis.20
17 Hal ini dijelaskan oleh Harold Crouch, The Army and Politics in Indonesia, (Itacha and London: Cornell University Press, 1978), h. 273.
18Abdurrachman Surjomohardjo, dkk., Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di
Indonesia (Jakarta: Kompas, 2002), h. 375-383. Pada buku ini ketentuan mengenai Dewan Pers
terdapat pada UU No. 11/ 1966, Bab III. Pada pasal-pasal lainnya juga diatur mengenai kewenangan dan peran Dewan Pers, posisi lembaga tersebut terhadap pemerintah. Biasanya ketentuan-ketentuan yang belum diatur dalam undang-undang tersebut akan dibuat oleh Dewan Pers bekerjasama dengan pemerintah.
19Orde Lama adalah sebutan pemerintah Orde Baru untuk pemerintahan Demokrasi Terpimpin, akan tetapi penulisan selanjutnya pada skripsi ini akan tetap ditulis Orde Lama.
64
Lembaga yang terdiri dari berbagai tokoh pers, para ahli dan juga tokoh masyarakat ini berfungsi sebagai pembuat aturan-aturan yang berkaitan dengan pemberitaan.21 Dewan Pers terdiri atas perwakilan dari berbagai lembaga pers seperti PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) dan SPS (Serikat Penerbit Suratkabar). Selain itu, terdapat wakil-wakil dari kalangan pemerintahan dan sejak 1984 ditambah anggota dari berbagai ahli di bidang pers dan akademisi.
Dewan Pers berwenang dalam menentukan batasan-batasan dalam lingkungan pers. Biasanya wewenang itu disebut self regulation (pembatasan terhadap diri sendiri). Dalam praktiknya di Indonesia, intervensi pemerintah menjadi tidak terhindarkan, self regulation menjadi anjuran untuk self
censorship.22 Semua itu karena kepentingan propaganda pemerintah sangat berkaitan dengan fungsi media massa. Sebenarnya konsep dewan pers bersifat independen, karena pers itu sendiri seharusnya independen terhadap pemerintah.23 Wewenang Dewan Pers dalam membuat peraturan-peraturan, rancangan perundang-undangan, dan juga kode etik jurnalistik cukup besar. Pemerintah merasa perlu membentuk dan mengintervensi langsung ke dalam lembaga ini. Apa yang dibuat oleh Dewan Pers dianggap sebagai persetujuan dari seluruh kalangan pers. Dan peraturan yang dibuat dianggap sebagai hasil yang diperoleh dengan perundingan di kalangan pers sendiri dengan elemen masyarakat lainnya,
21
Tribuana Said, Sejarah Pers Nasional dan Pembangunan Pers Pancasila (Jakarta: PT. Inti Dayu Pers, 1988), h. 176.
22 Yasuo Hanazaki, Pers Terjebak (Jakarta: Institut Studi Arus Informasi, 1998), h. 43-44.
23 Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 05 Tahun 1967 tentang Dewan Pers pun mengatur keindependenan dari Dewan Pers. Pasal 4 Peraturan Pemerintah tersebut yang mengatur tentang status Dewan Pers menyebutkan, “Dewan Pers adalah suatu lembaga di dalam lingkungan Departemen Penerangan yang berstatus otonom di dalam operasinya dan beruang lingkup nasional.
65
jadi harus dipatuhi oleh mereka yang membuatnya dalam konteks ini adalah lembaga penerbitan pers.
Sebenarnya terjadi pertentangan konsep antara pemerintah dengan kalangan pers tentang bagaimana seharusnya Dewan Pers berfungsi. Pemerintah Orde Baru tentu memiliki konsep tersendiri tentang fungsi Dewan Pers yang disesuaikan dengan kepentingan politik mereka. Sedangkan kalangan pers mempunyai perspektif tersendiri mengenai fungsi lembaga ini yaitu dengan lembaga yang dapat mengembangkan kualitas pers dan dapat menjadi penghubung jika terjadi perselisihan di antara pemerintah dan pers. Posisi Dewan Pers menjadi sangat penting karena Pemerintah Orde Baru membutuhkan alat untuk mengendalikan pers.
Peristiwa G30S telah dijadikan momentum untuk terjadinya pergantian kekuasaan. Selanjutnya pada tahun 1966 mengawali suatu perubahan dalam sejarah pers Indonesia. Peralihan dalam dunia politik itu pun pada akhirnya akan mempengaruhi perubahan sifat pers dari masa pemerintahan Soekarno ke pemerintahan Soeharto. Sejak tahun 1965, Soeharto mulai membangun dasar-dasar bagi kekuatan politiknya, dan pers termasuk salah satu unsur dalam pembangunan kekuatan politik tersebut. Jadi pemerintah Orde Baru (Soeharto) memiliki kepentingan yang sangat besar terhadap pers untuk memperoleh dukungan dari masyarakat. David T. Hill yang mengutip Ariel Haryanto menuliskan bahwa:
The mass media, including press and the electronic media, have been the most important area of maintenance and reproduction of the New Order‟s legitimation… Understandably, the Indonesian press has
66
been an institution of cultural practice that went through the most severe and most frequent blow of the (New Order) State.24
Peralihan dari Soekarno ke Soeharto dilakukan secara bertahap. Hal tersebut dilakukan karena di dalam tubuh militer masih banyak kelompok yang mendukung Soekarno. Di samping itu Soeharto juga berhati-hati untuk tidak menonjolkan kekuasaan militer yang otoriter, dalam arti ia tidak ingin menganggap konflik fisik yang frontal dan besar-besaran yang dilakukan adalah solusi untuk menyingkirkan unsur-unsur pendukung Soekarno dalam militer. Ia lebih memilih untuk menggunakan prinsip “alon-alon sing penting klakon” (lambat asal tujuan terlaksana) untuk secara perlahan menguatkan kedudukannya di kalangan militer.25 Pada masa konsolidasi kekuasaan, Soeharto lebih memfokuskan tindakan politik pada kalangan militer.26 Dalam masa tersebut pemerintah menjadi cenderung untuk tidak represif dengan pers yang merupakan kekuatan dari kalangan sipil. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, sikap itu pun akan berubah sesuai dengan keadaan yang kemudian berkembang.
Dari segi strategi konsolidasi di bidang pers, Soeharto membredel berbagai surat kabar yang dianggap pendukung komunis dan Orde Lama. Hal tersebut sudah dilakukan sejak 1 Oktober 1965, Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah, selaku Panglima Daerah Militer Jakarta Raya, melarang semua penerbitan tanpa izin khusus, kecuali Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata. Maka sejak Oktober 1965 tersebut aksi pembersihan terhadap surat kabar komunis dan pro-Orde Lama
24 David T. Hill, The Press in New Order Indonesia (Jakarta: PT. Pustaka Sinar Harapan, 1995), h. 35.
25 Harold Crouch, Militer dan Politik di Indonesia (Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, 1999), h. 248-249.
67
mulai terjadi.27 Sejak terjadinya peristiwa 30 September, dikeluarkan juga suatu mekanisme perizinan lain yang dikenal sebagai Surat Izin Cetak (SIC) yang dikeluarkan oleh Pelaksana Khusus Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Daerah (Laksus Kopkamtibda).28 Selain itu beberapa surat kabar yang pernah dilarang terbit oleh Pemerintah Orde Lama pun diterbitkan kembali. Berbagai surat kabar tersebut antara lain Indonesia Raya, Merdeka, dan
Pedoman.29 Suara-suara (surat kabar) pendukung Orde Lama dibungkam dan
suara-suara yang anti Orde Lama semakin diberi jalan untuk menjalankan penerbitan. Dapat terlihat bahwa pada 1965, berdasarkan izin baru yang dikeluarkan, terdapat 31 penerbitan. Angka tersebut semakin bertambah pada 1966 sebanyak 502 penerbitan. Sedangkan pada 1967 tidak sebanyak tahun sebelumnya yaitu 91 penerbitan baru.30
Meskipun begitu sikap semua surat kabar tersebut tidaklah sama. Secara lebih khusus lagi Abar mengutip Judith B. Agassi yang melakukan pengelompokkan terhadap berbagai penerbitan dengan berdasarkan “peta ideologi” pers pada periode awal kebangkitan Orde Baru.31
Akan tetapi
27 Tribuana Said, Op. it., h. 161
28 Abdurrachman Surjomihardjo, Op. Cit., h. 185. Jadi pada masa Orde Baru berlaku dua macam surat izin, yaitu SIT yang dikeluarkan oleh Departemen Penerangan, dan SIC yang dikeluarkan oleh Laksus Kopkamtibda. Khusus untuk SIC dihapuskan pada 3 Mei 1977.
29 Yazou Hanazaki, Pers Terjebak (Jakarta: Institut Studi Arus Informasi, 1998), h. 19.
30 Soebagio I. N, Sejarah Pers Indonesia (Jakarta: Dewan Pers, 1977), h. 159.
31
Pembagian tersebut antara lain, pertama Pers Militer, yaitu: Berta Yudha, Angkatan
Bersenjata, Ampera, Api Pancasila, Pelopor Baru, dan Warta Harian. Yang kedua adalah Pers
Nasionalis (memiliki hubungan dengan PNI) antara lain Suluh Marhaen dan El-Bahar. Ketiga adalah Pers Kelompok Intelektual, yaitu Harian Kami, Nusantara, Indonesia Raya, dan Pedoman. Yang keempat adalah Pers Kelompok Muslim yaitu Duta Masyarakat, Angkatan Baru,
Mercusuar, dan Abadi. Kelima, dari Kelompok Kristen yaitu Harian Kompas (Katolik) dan Sinar Harapan (Protestan). Yang terakhir dalam klasifikasi adalah Kelompok Independen yaitu Merdeka, Jakarta Times, serta Revolusioner. Ahmad Zaini Abrar, Op. Cit., h. 57-58.
68
pengelompokkan tersebut bukanlah hal yang mutlak, sifat suatu surat kabar bisa saja berubah sesuai dengan tuntutan zaman.32
Setelah pengaruh komunis dan Orde Lama sudah mulai terkikis, pola pemberitaan pers menjadi lebih kritis terhadap pemerintahan Orde Baru. Memang hal tersebut tidak dapat digeneralisasikan. Tidak semua surat kabar yang hidup di masa itu bersifat kritis terhadap pemerintah. Akan tetapi hal tersebut merupakan sebuah gejala umum dari pers yang pada masa sebelumnya dikekang, dan pada saat itu memperoleh “angin segar” dari pemerintah, maka terjadi euforia dalam kebebasan berbicara. Mochtar Lubis, seorang tokoh pers yang terpandang saat itu mengatakan bahwa masa tersebut adalah masa “bulan madu” antara pemerintah dengan pers.33
Beberapa surat kabar yang cukup kritis pada masa itu adalah Indonesia
Raya, Kompas, Pedoman, Kami, Duta Masyarakat, Abadi dan lain-lain. Ada tiga
isu utama yang menjadi sorotan sampai pada awal 1970-an. Isu-isu tersebut antara lain adalah kasus-kasus korupsi yang sudah tercium sejak awal pemerintahan Orde Baru. Lalu persoalan penentuan kebijaksanaan politik ekonomi pembangunan juga banyak dipermasalahkan. Isu pembangunan Taman Mini Indonesia Indah juga mendapat banyak sorotan tajam dari media massa. Banyak
32
Omi Intan Naomi, Anjing Penjaga: Pers di Rumah Orde Baru (Depok: Gorong-gorong Budaya dan Institut Arus Informasi, 1996), h. 81.
33 Sebagian besar tokoh pers lainnya pun berpendapat tidak jauh berbeda. Mereka antara lain Rosihan Anwar, Suardi Tasrif, dan lain-lain.
69
pemberitaan yang turut juga menggambarkan ketimpangan ekonomi yang terjadi di Indonesia.34
Mulai tahun 1970-an kritik pers dianggap dapat menimbulkan ketidakstabilan keamanan negara. Mulai saat itu pemerintah mulai melakukan berbagai tindakan terhadap pers dan mencapai puncak pada tahun 1974. Pada tahun inilah pola hubungan antara pers dengan pemerintah mulai berubah. Pada tahun yang sama juga merupakan tonggak perubahan pola pemberitaan media massa. Pers Indonesia pun akhirnya memasuki suatu masa peralihan menuju era bisnis. Karena pemerintah mengekang pemberitaan-pemberitaan yang lebih bersifat politis, pers lebih dapat berkembang dari segi bisnis dan bersikap hati-hati terhadap isu-isu yang sensitif.
Secara garis besar kebijakan politik Orde Baru menitikberatkan pada stabilitas nasional untuk pembangunan ekonomi. Hal tersebut berlaku sepanjang periode Orde Baru. Pemerintah Orde Baru sejak awal berkeyakinan bahwa pembangunan ekonomi merupakan prioritas utama dalam kehidupan nasional. Pemikiran yang ada dalam kebijakan tersebut adalah dengan adanya ekonomi yang berkembang dan maju maka rakyat Indonesia akan dijauhkan dari kemiskinan dan keterbelakangan. Jika telah tercapai pembangunan ekonomi yang maju maka ancaman dari bahaya komunisme dapat diatasi, karena kemiskinan adalah bibit dari berkembangnya ajaran komunisme dalam masyarakat. Pembangunan ekonomi hanya bisa dilaksanakan dengan baik jika telah ada
34 Akhmad Zaini Abrar, “Kebebasan Pers, Kekecewaan Masyarakat dan Keperkasaan Negara (Studi Sejarah Pers Awal Orde Baru, 1966-1972)” Prisma No. 4, April 1974, LP3ES, h. 23-41.
70
stabilitas nasional. Dan hal tersebut diciptakan dengan pendekatan keamanan yang sangat ketat.35
Memang pembangunan yang dilaksanakan oleh Orde Baru sangat bergantung pada investasi dari luar negeri.36 Tentunya para penanam modal tersebut baru mau menginvestasikan modal mereka jika negara dalam keadaan yang aman dan stabil. Pendekatan keamanan yang ketat diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Hal itu dapat dilihat dari terbentuknya lembaga-lembaga represif seperti Opsus (Operasi Khusus) di bawah komando Ali Moertopo sebagai Aspri (Asisten Pribadi)37, Bakin (Badan Koordinasi Intelijen) di bawah kontrol Angkatan Darat, Laksus/ Kopkamtib dan lain-lain. Lembaga-lembaga tersebut digunakan oleh pemerintah untuk mereka yang kritis, oposisionis, dan menentang.38 Kemudian yang menjadi ciri dari Orde Baru, dari awal berdiri sampai setidaknya akhir 1980-an adalah dominannya peranan militer, meskipun masih samar untuk dikatakan bahwa pemerintahan Orde Baru adalah rezim militer.39 Selanjutnya secara singkat sifat-sifat lain dari pemerintahan Orde Baru yang kemudian mempengaruhi kebijakan-kebijakannya adalah antikomunisme, lembaga kepresidenan yang sangat dominan dibandingkan
35 Afan Gafar, Politik Indonesia: Transisi menuju Demokrasi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), h. 148-149.
36
Mohtar Mas‟oed, Ekonomi dan Struktur Politik Orde Baru 1966-1971 (Jakarta: LP3ES, 1989), h. 6. Lihat juga Mohtar Mas‟oed, Negara Kapital dan Demokrasi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), h. 23-74.
37 Asisten Pribadi Presiden adalah semacam badan penasehat akan tetapi pada praktiknya wewenang mereka meluas sehingga banyak menimbulkan tumpang tindih dengan kewenangan jabatan yang lainnya. Dua tokohnya adalah Ali Moertopo yang menangani bidang politik, dan Soedjono Hoemardani yang menangani bidang ekonomi. Lihat penjelasannya dalam Heru Cahyono, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari ’74 (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998), h. 36.
38 Gafar, Op. Cit., h. 149.
39 Untuk lebih jelasnya mengenai tipe pemerintahan Orde Baru dapat dilihat pada Mas‟oed, 1989, Op. Cit., h. 4-19.
71
lembaga tinggi negara lainnya, birokrasi sebagai instrument kekuasaan, sentralisasi, penyakralan terhadap Pancasila dan UUD 1945 dan beberapa sifat lainnya.40
Sifat-sifat politik dari Orde Baru tersebut juga banyak sekali mempengaruhi kinerja maupun hasil-hasil keputusan Dewan Pers, atau bisa juga dikatakan bahwa Dewan Pers menjadi bagian dari pelaksanaan kebijakan-kebijakan politik tersebut ke dalam dunia pers. Meskipun begitu, tidak selalu pengaruh represif dari pemerintahan Orde Baru mempengaruhi dunia pers. Pada masa awal Orde Baru kalangan pers cukup mendapatkan angin dalam menjalankan aktifitasnya, tentu saja yang antikomunis. Hal tersebut termasuk dalam pembuatan Undang-Undang pokok Pers pertama yang dibuat oleh negara Indonesia. Meskipun di dalamnya masih dimasuki oleh pasal-pasal yang kemudian bisa dimanfaatkan untuk mengekang kehidupan pers.
Dalam rangka menyambut 17 Agustus 1977, Prisma menerbitkan suatu nomor khusus yang diberi judul “Manusia dalam Kemelut Sejarah yang
membahas tokoh-tokoh besar dalam kekelaman sejarah Indonesia”. Pada saat itu
hampir segala bidang kehidupan ditentukan oleh negara dan dikuasai oleh Departemen Penerangan, agama dikuasai Departemen Agama, dan daftar masih bisa diteruskan. Suasana pengap tahun-tahun terakhir dasawarsa tujuh puluhan lebih menggambarkan suatu paradoks yang sulit dipahami. Sirkulasi Prisma berlipat ganda seperti tidak pernah terjadis ebelumnya, dan tidak pernah terjadi dalam sejarah penerbitan suatu jurnal dimana jurnal dicetak lagi untuk kedua
72
kalinya. Jumlah dua kali cetak itu menaikkan sirkulasi Prisma menjadi dua puluh lima ribu eksemplar, sesuatu yang tidak pernah terulang lagi dalam sejarah
Prisma. Kemudian dicetak lagi dalam bentuk buku (Februari 1978) dan terjual di
pasar dengan sambutan yang boleh dibilang luar biasa, diulas dalam berbagai surat kabar besar dan menjadi tajuk yang dibahas, bulan Februari 1979 dicetak lagi untuk kedua kalinya.41
Dalam Prisma Nomor 8, Agustus 1977 itu seluruh nomor membahas dan menilai kembali delapan tokoh: Soekarno, Soedirman, Sutan Sjahrir, Haji Agus Salim, Tan Malaka, Kahar Muzakkar, Amir Sjarifudin, Rahmah El-Yunusiyyah. Tiga tokoh yang dicetak miring (Soekarno, Tan Malaka, dan Amir Sjarifudin) praktis tidak boleh dibicarakan secara terbuka pada masa Orde Baru pada tahun-tahun tersebut. Soekarno karena “perannya” dalam peristiwa tanggal 1 Oktober 1966, yaitu percobaan “kudeta” terhadap pemerintahan Soekarno. Tan Malaka dan Amir Sjarifudin jelas tidak boleh dibahas di depan publik karena mereka oleh Orde Baru disisihkan karena mereka adalah “komunis”. Komunisme dan kaum komunis “tidak boleh berperan” dalam membangkitkan nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sjahrir dibebaskan oleh Orde Baru namun peran PSI dalam pemberontaakan tidak terlalu meluangkan kemungkinan membahasnya. Kahar Muzakkar adalah pemberontak Darul Islam, karena itu juga tidak pernah dibahas secara publik. Pada saat itu Prisma boleh dikatakan membuka belukar dan menyiangi lorong-lorong gelap penuh semak.42
41
Lihat Prisma No. 8, Agustus 1977.
42 Nomor tersebut meledak di pasar. Apalagi ketika nomor tersebut diulas oleh harian Kompas maka untuk pertama kalinya dalam sejarah Prisma dan kelak baru disadari untuk pertama kalinya dalam sejarah penerbitan jurnal dimana pun bahwa edisi tersebut dicetak ulang dalam
73
Pada tanggal 2 Maret 1983, Departemen Penerangan Republik Indonesia mengirim surat ditujukan kepada Pemimpin Umum Majalah Prisma berisi sebagai berikut:
Setelah mengadakan penelitian terhadap beberapa penerbitan majalah Prisma yang dikirimkan kepada Departemen Penerangan sebagai nomor bukti penerbitan, kami temukan beberapa hal yang menurut penilaian kami patut mendapat perhatian serius dari Saudara. Majalah Prisma dalam rubric khusus “TOKOH” menonjolkan tokoh-tokoh yang perlu diketahui antara lain: Mr. Amir Syarifuddin, Aidit dan Cornel Simanjuntak dan lain sebagainya. Menurut penilaian kami penonjolan tokoh-tokoh tersebut seolah-olah merupakan Perjuangan Politik Komunis untuk melakukan penggalangan terhadap masyarakat melalui Majalah Prisma, agar dapat menerima kembali kehadiran PKI dalam masyarakat atau usaha menghidupkan kembali PKI di Indonesia. Adapun majalah prisma yang dimaksud antara lain: 1) Prisma No. 2 Februari 1982, halaman 73-87 dengan judul “Cornel Simanjuntak Cahaya, Datanglah” yang ditulis oleh Hersri S. 2) Prisma No. 5 Mei 1982, halaman 79-96 dengan judul “S.M. Kartosuwiryo, Orang Seiring Bertukar Jalan” yang ditulis oleh Hersri S. dan Joebar Ajoeb. 3) Prisma No. 7 Juli 1982, halaman 61-79 dengan judul “Aidit dan Partai Pada Tahun 1950” yang ditulis oleh Jacques Leclerc. 4) Prisma No. 9 September 1982, halaman 68-89 dengan judul “Oerip Soemohardjo Kebungkaman Yang Ampuh” yang ditulis oleh S.I. Poeradisastra. 5) Prisma No. 12 Desember 1982 halaman 53-73 yang ditulis oleh Jacques Lecrerc.43
Surat yang ditandatangani Direktur Bina Kewartawanan Departemen Penerangan Republik Indonesia, Drs. Daan S. Sahusilawane itu juga menyertakan kalimat bahwa:
Pemuatan tulisan-tulisan tersebut bertentangan dengan Tap MPRS No. XXV/MPRS/1966, Tap MPR No. V/MPR/1973 dan Tap MPRNo. IX/MPR/1978 tentang “Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan sebagai Organisasi Terlarang di seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Paham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme.44
tempo seminggu atau dua minggu. Kelak nomor itu dicetak ulang dalam bentuk buku dan mengalami cetakan ulang juga dalam bentuk buku. Inilah keberhasilan Prisma yang tidak pernah bisa diulangi lagi. Lihat Daniel Dhakidae, Op. Cit., h. 478.
43 http://prismajurnal.com (diakses pada Minggu, 18 September 2016, pukul 20:30 WIB)
74
Dikaitkan dengan dengan Undang-Undang No. 21 Tahun 1982 tentang perubahan Undang-Undang No. 11 tahun 1966 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pers, tulisan-tulisan tersebut dapat ditafsirkan menjurus pada penyebarluasan ajaran-ajaran komunis, yang dapat mengakibatkan satu langkah pengambilan langkah penutupan terhadap penerbitan Saudara. Beberapa minggu kemudian, 11 April 1983, Direktur LP3ES selaku pimpinan umum Prisma M. Dawam Rahardjo, Pemimpin Redaksi Prisma Ismid Hadad, dan Ketua Dewan Redaksi Prisma Daniel Dhakidae:
Diharapkan kedatangannya di Kantor Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Jalan HR Rasuna Said No. 2 Kuningan, Jakarta Selatan, sehubungan dengan artikel yang dimuat Majalah Prisma No. 2, 5, 7, 9 dan 12, dan lain-lain.45 Peringatan serupa kembali dilayangkan ke Prisma empat tahun kemudian. Kali itu Departemen Penerangan Republik Indonesia mengatakan:
Setelah mengadakan penelitian terhadap isi jurnal PRISMA No. 6 Tahun XVI edisi bulan Juni 1987 yang dikirimkan kepada Departemen Penerangan sebagai nomor bukti, kami temukan beberapa tulisan atau artikel khususnya yang menyoroti peranan angkatan muda yang menurut kami patut mendapat perhatian serius dari Saudara.46
Surat tertanggal 21 Agustus 1987 itu menyimpulkan bahwa isi beberapa tulisan dari jurnal Prisma No. 6 Tahun XVI, cenderung merupakan sebuah pameran ilmu yang dapat menyesatkan dan membangkitkan keresahan masyarakat. Prisma baik tersurat maupun tersirat mempunyai kecenderungan untuk “menghasut” pemuda dan mahasiswa untuk bergerak mengubah sistem-sistem politik dan kepemimpinan politik di Indonesia. Prisma secara tersirat
45 Ibid, h. 481.
75
mempunyai kecenderungan mengajak mahasiswa dan generasi muda untuk bangkit menjadi satu-satunya oposisi yang ampuh dalam masyarakat. Prisma