PRODUK MODE (PRODUK FASHION) Produk mode ada 2 yaitu :
F. Pengelolaan SDM di Industri Busana (Fesyen)
F. Pengelolaan SDM di Industri Busana (Fesyen)
Sumber daya manusia ( SDM ) adalah merupakan aspek penting yang tidak boleh dipandang sebelah mata dalam menjalankan sebuah perusahaan atau bisnis.
Meski suatu perusahaan ditunjang oleh peralatan serba canggih dan memadai, jika dikelola oleh SDM yang tidak berkualitas maka semua yang sudah dilakukan itu akan sia‐sia.
Pengertian SDM ini adalah manusia yang mempunyai kemampuan terpadu yang dicirikan dengan pola pikir dan daya fisik yang baik.
SDM ini adalah merupakan satu individu dan sumber utama yang bekerja sebagai inti penggerak dari sebuah perusahaan atau organisasi.
Mereka menjadi dasar penggerak, pemikir dan perencana sebuah perusahaan sehingga harus dilatih dan dikembangkan kemampuannya demi mencapai tujuan guna mengembangkan suatu perusahaan.
Peran fungsi SDM disini bisa dibilang cukup banyak, seperti turut menyumbang kontribusi dalam aktivitas perencanaan, pengarahan, dan pengorganisasian jalannya sebuah perusahaan.
Peran fungsi SDM dan manajemen sumber daya manusia terbilang penting, yakni menentukan faktor produksi, membangun, serta mengembangkan perusahaan.
Jika tidak ada SDM yang mumpuni dan memadai, pastinya secara otomatis perusahaan akan gagal meraih tujuan yang ingin dicapai.
Perencanaan sumber daya manusia adalah proses mengantisipasi dan membuat ketentuan (persyaratan) untuk mengatur arus gerakan tenaga kerja kedalam dan keluar organisasi yang bertujuan untuk mempergunakan SDM seefektif mungkin dan agar memiliki pekerja yang memenuhi persyaratan/kualifikasi dan mengisi posisi yang mengalami kekosongan.
Manfaat dari perencanaan sumber daya manusia adalah:
1. memperbaiaki pemanfaatan sumber daya manusia,
2. menyesuaikan aktivitas sumber daya manusia dan kebutuhan dimasa depan secara efisien,
3. meningkatkan efisiensi dalam menarik pegawai baru,
4. melengkapi informasi sumbar daya manusia yang dapat membantu kegiatan sumber daya manusia dan unit organisasi lain.
Busana merupakan kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi, karena fungsi dasarnya yang melindungi tubuh dan terpenuhinya unsur‐unsur kesusilaan, disamping fungsi lain seperti; alat untuk mengekspresikan diri dan menunjukkan status sosial seseorang. Perkembangan mode yang berlangsung begitu cepat sangat mempengaruhi industri busana di Indonesia. Dampak globalisasi sangat terasa, karena globalisasi menghadirkan peluang, sekaligus resiko dan tantangan. Salah satu karakteristik dari globalisasi dan pasar bebas
adalah kompetisi. Untuk dapat memenangkan kompetisi, maka harus memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, sekaligus menuntut cara berfikir yang baru.
Industri busana yang ada di pasaran menawarkan bermacam‐macam produk dengan berbagai macam kualitas untuk berbagai macam klaster. Produk fashion yang paling bervariasi adalah busana remaja, hal ini tentu saja sangat berhubungan dengan usia mereka yang penuh dengan cita‐cita dan imajinasi, serta ingin tampil beda dengan yang lain. Beberapa gaya dan perilaku remaja serta ucapan‐ucapan mereka seringkali menjadi trend, demikian pula cara berpakaian yang unik dan aneh‐aneh sering menjadi sumber inspirasi bagi perancang busana.
Distribution Store, merupakan tempat penjualan produk fashion yang memiliki kekhasan anak‐anak remaja. Distro tidak dapat disamakan dengan Factory Outlet (FO), karena dari sisi idealisme, konsep serta produk yang dijualpun berbeda. FO menjual mass produk, sedangkan distro bersifat ekslusif. Desain busana dan ilustrasi, pemilihan warna dan label yang mencerminkan dinamika usia mereka, membuat produk fashion yang ditawarkan oleh distro ini menjadi alternatif pilihan bagi orang‐orang yang ingin memiliki street fashion sendiri, eksklusif serta mencerminkan lifestyle yang kental akan roots yang independen. Trend belanja busana ini tentu saja tidak akan bertahan lama jika tidak disertai dengan manajemen yang baik dan analisis daya saing terhadap industri busana yang sudah ada. Strategi yang tepat untuk mempertahankan model usaha seperti ini, mutlak diperlukan agar dapat menampung kreativitas produk busana yang biasanya dibuat dalam skala kecil dan terbatas tersebut.
Industri fashion di Indonesia saat ini masih dibanjiri produk‐produk impor yang murah (terutama dari Cina), yang mutunya juga tidak kalah dengan produk
domestik. Oleh karena itu banyak eksekutif puncak dunia masa kini yang memberikan prioritas utama pada peningkatan dan pengendalian mutu produk, sehingga setiap bidang industri, termasuk industri tekstil garment/fashion tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengimplementasikan manajemen mutu total secara optimal untuk meningkatkan daya saing dan produktivitasnya di pasar domestik. (Pane. D, 2006:20)
Hal‐hal yang perlu diprioritaskan dalam pengembangan industri fashion diantaranya adalah meningkatkan daya saing pada bidang‐bidang pengendalian mutu (Quality Control/QC), pengiriman (Delivery) dan produktivitas (Produktivity) yang harus lebih ditingkatkan secara gradual dan terus menerus (Sustainability). Selain hal tersebut ekspansi pasar domestik juga harus lebih dipromosikan, karena juga akan mendukung peningkatan ekspor garment, untuk ini dibutuhkan keterampilan‐keterampilan manajemen dalam pengembangan produk (Product development), produksi dan distribusi harus diperbaiki, pelatihan‐pelatihan professional bidang perancangan busana (fashion design) dan penambahan jenis produk. Kegiatan‐kegiatan perdagangan diaktifkan dan ditingkatkan lagi dengan mengadakan ekspansi pasar domestik untuk pakaian jadi yang mengikuti standar‐standar industri.
Industri fashion bukan hanya sekedar bisnis peragaan busana, melainkan bisnis yang agar bisa sukses manajemennya harus ditangani secara serius dan lebih hati‐hati seperti pada industri lainnya. Efisiensi produksi, mutu yang tinggi, ketepatan waktu pengiriman, system inventarisasi dan distribusi yang terkelola dengan baik dll. Manajemen yang baik dalam industri fashion juga memerlukan organisasi perusahaan yang baik pula. Produksi harus benar‐benar terencana untuk mencapai target dan harus berdasarkan permintaan‐permintaan penjualan yang akurat. Untuk mengurangi inventarisasi, harus memproduksi secara efisien dan menghemat pemakaian bahan baku dan penyediaan barang
jadi siap jual. Bisnis fashion juga harus memenuhi persyaratan pelanggan seperti syarat‐syarat pengiriman, mutu dan harga. Karena itu, kondisi tempat kerja juga harus menyenangkan dan menarik, agar dapat mempertahankan pegawai untuk bekerja memenuhi standar‐standar permintaan pelanggan dan harus menunjukkan kinerja yang baik, agar dapat meyakinkan para pemodal untuk berorientasi dalam industri fashion.
DISTRIBUTION STORE (DISTRO)
Distribution Store atau yang lebih dikenal dengan distro, merupakan perwujudan dari konsep DIY (Do It Yourself) yaitu suatu konsep untuk melakukan segala sesuatunya secara sendiri dan mandiri. Distro lahir dan tumbuh dari komunitas yang independen, distro pada awalnya merupakan wadah bagi penjualan album, merchandise serta pernak‐pernik bagi band‐band indie yang memasarkan produk mereka secara independen. Distro menjadi semacam counter culture bagi pelaku industri besar serta merupakan alternatif pilihan bagi selera mainstream masyarakat luas.
Distro, pada awalnya diperkenalkan oleh orang‐orang yang tumbuh bersama komunitas independen. Mereka ingin membuat suatu usaha street fashion sendiri yang eksklusif dan mencerminkan lifestyle komunitas tempat mereka berasal. Sesuatu yang masih langka atau jika boleh dikatakan tidak ada pada waktu itu. Ketika itu berbagai macam merk fashion yang kebanyakan bersifat mass produk atau dengan desain yang kebanyakan menjiplak pada fashion luar.
Kalaupun ada street fashion tersebut berasal dari merk luar negeri dengan harga yang luar biasa pula. Maka lahirlah distro‐distro lokal dengan konsep eksklusif serta mengetengahkan idalisme komunitas mereka. Misalnya;
komunitas skateboard, surfing, atau musik indie.
Pendirian distro tidak bergantung pada faktor‐faktor yang berada di luar mereka, seperti modal misalnya, sebagian besar pelopor distro merintis usahanya dari modal kecil dan modal idealisme yang besar dan semangat juang yang tinggi. Dari kacamata bisnis, distro dapat membesar dan dikategorikan kedalam industri tersendiri, karena distro sesunggunguhnya tidak akan melenceng dari konsep dan idealisme awal yang telah mereka tetapkan sewaktu pendirian distro tersebut. Mereka hanya akan merilis produk dan ide yang orisinil, desain hasil produksi sendiri serta cara‐cara produksi dan pemasaran yang tetap eksklusif. Sebagian besar dari distro berusaha agar tidak terseret arus menuju arah industrialisasi, tetapi seandainya mereka melenceng dari jalur dan memproduk suatu desain secara masal atau menjual produknya pada jalur‐jalur yang mainstream, merekapun masih dapat menyebut diri sebagai distro. Tetapi konsumen yang smart pasti akan memilah mana distro yang memiliki idealisme serta konsep yang jelas dan mana yang murni bisnis belaka tanpa konsep dan isealisme yang jelas.
Distro tidak sama dengan Factory Outlet (FO), karena dari sisi idealisme, konsep serta produk yang dijualpun berbeda. FO menjual mass produk, sedangkan distro bersifat eksklusif. FO menjual produk ekspor lisensi dari brand luar negeri dan merancang produk berdasarkan desain luar yang diproduksi ulang secara masal dengan sedikit modifikasi pada warna misalnya. Movement serta cara‐cara pemasaran antara distro dan FOpun jauh berbeda, perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh adanya perbedaan misi serta target, oleh karenanya dari sisi harga FO bisa lebih murah dibandingkan distro (Outlet Jongkok.net)
Produk busana yang ditawarkan di distro memiliki kekhasan anak‐anak muda yang unik, ceria dan agak “nyleneh”. Ragam busana yang ditawarkan memiliki desain yang terkadang hingar bingar dan keluar dari “pakem” teori busana,
tetapi justru hal seperti itulah yang mereka cari. Eksklusifitas sebuah busana casual yang bercirikan anak muda dengan segala pernak‐perniknya dapat dipenuhi dengan mengunjungi distro. Bahkan, jika dilihat fenomena yang terjadi saat ini, kaum muda merasa lebih percaya diri dengan busana yang tidak diproduksi masal oleh industri busana yang besar yang memiliki label ternama.
Refleksi
Pada bab 2 ini, kalian telah mempelajari tentang Ekosistem mode dan overview fashion industry, Gaya dan selera sesuai dengan perkembangan fashion dan trend, Karya desainer dan produk fashion, Konsep sustainable fashion, Potensi lokal dan kearifan lokal dalam industri busana (fesyen), dan Pengelolaan SDM di industri busana (fesyen). Tentunya pengetahuanmu terhadap bisnis industri busana (fesyen) semakin luas. Setelah mempelajari bab ini, yuk refleksikan ilmu yang telah kalian dapat dengan memberi tanda centang pada pernyataan yang paling sesuai di bawah ini.
Tabel 2.4 Refleksi Representasi Bisnis Industri Busana (Fesyen)
No Pernyataan Ya Tidak
1. Saya telah memahami Ekosistem mode dan
4. Saya dapat menjelaskan Konsep sustainable fashion,
5 Saya dapat memahami potensi lokal dan kearifan lokal dalam industri busana (fesyen)
6. Saya dapat memahami engelolaan SDM di industri busana (fesyen
Dari uraian materi yang dipelajari pada bab ini, mana materi yang paling sulit? kalian dapat mendiskusikan kesulitan‐kesulitan yang ditemui dengan teman atau guru sehingga kesulitan‐kesulitan tersebut dapat teratasi.
1. Bacalah buku, artikel dari website, 2.
Tes tertulis
I. Soal benar‐salah
Petunjuk: sesuai pernyataan yang diberikan, tuliskan “B” jika pernyataan kalian anggap benar dan “S” jika kalian anggap salah, pada kolom yang disediakan lalu berikan alasan mengapa kalian memilih benar/salah.
No Pernyataan Benar/
Salah
Alasan
1.
2.
3.
4.
5.
II. Soal uraian
Petunjuk: Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar!
1. Yang dimaksud dengan
Pengayaan