• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan SDM di Industri Busana (Fesyen)

Dalam dokumen 10.7 Dasar dasar Busana (Halaman 71-79)

PRODUK MODE (PRODUK FASHION)  Produk mode ada 2 yaitu :

F. Pengelolaan SDM di Industri Busana (Fesyen)

F. Pengelolaan SDM di Industri Busana (Fesyen) 

Sumber  daya  manusia  (  SDM  )  adalah  merupakan  aspek  penting  yang  tidak  boleh  dipandang  sebelah  mata  dalam  menjalankan  sebuah  perusahaan  atau  bisnis. 

Meski suatu perusahaan ditunjang oleh peralatan serba canggih dan memadai,  jika  dikelola  oleh  SDM  yang  tidak  berkualitas  maka  semua  yang  sudah  dilakukan itu akan sia‐sia. 

Pengertian  SDM  ini  adalah  manusia  yang  mempunyai  kemampuan  terpadu  yang dicirikan dengan pola pikir dan daya fisik yang baik. 

SDM  ini  adalah  merupakan  satu  individu  dan  sumber  utama  yang  bekerja  sebagai inti penggerak dari sebuah perusahaan atau organisasi. 

Mereka menjadi dasar penggerak, pemikir dan perencana sebuah perusahaan  sehingga  harus  dilatih  dan  dikembangkan  kemampuannya  demi  mencapai  tujuan guna mengembangkan suatu perusahaan. 

Peran fungsi SDM disini bisa dibilang cukup banyak, seperti turut menyumbang  kontribusi  dalam  aktivitas  perencanaan,  pengarahan,  dan  pengorganisasian  jalannya sebuah perusahaan. 

Peran  fungsi  SDM  dan  manajemen  sumber  daya  manusia  terbilang  penting,  yakni  menentukan  faktor  produksi,  membangun,  serta  mengembangkan  perusahaan. 

Jika  tidak  ada  SDM  yang  mumpuni  dan  memadai,  pastinya  secara  otomatis  perusahaan akan gagal meraih tujuan yang ingin dicapai. 

Perencanaan  sumber  daya  manusia  adalah  proses  mengantisipasi  dan  membuat ketentuan (persyaratan) untuk mengatur arus gerakan tenaga kerja  kedalam  dan  keluar  organisasi  yang  bertujuan  untuk  mempergunakan  SDM  seefektif  mungkin  dan  agar  memiliki  pekerja  yang  memenuhi  persyaratan/kualifikasi  dan  mengisi  posisi  yang  mengalami  kekosongan. 

Manfaat dari perencanaan sumber daya manusia adalah: 

1. memperbaiaki pemanfaatan sumber daya manusia, 

2. menyesuaikan  aktivitas  sumber  daya  manusia  dan  kebutuhan  dimasa  depan secara efisien, 

3. meningkatkan efisiensi dalam menarik pegawai baru, 

4. melengkapi  informasi  sumbar  daya  manusia  yang  dapat  membantu  kegiatan sumber daya manusia dan unit organisasi lain. 

Busana  merupakan  kebutuhan  pokok  manusia  yang  harus  dipenuhi,  karena  fungsi  dasarnya  yang  melindungi  tubuh  dan  terpenuhinya  unsur‐unsur  kesusilaan, disamping fungsi lain seperti; alat untuk mengekspresikan diri dan  menunjukkan  status  sosial  seseorang.  Perkembangan  mode  yang  berlangsung  begitu  cepat  sangat  mempengaruhi  industri  busana  di  Indonesia.  Dampak  globalisasi  sangat  terasa,  karena  globalisasi  menghadirkan  peluang,  sekaligus  resiko dan tantangan. Salah satu karakteristik dari globalisasi dan pasar bebas 

adalah kompetisi. Untuk dapat memenangkan kompetisi, maka harus memiliki  sumber daya manusia yang berkualitas, sekaligus menuntut cara berfikir yang  baru. 

Industri  busana  yang  ada  di  pasaran  menawarkan  bermacam‐macam  produk  dengan  berbagai  macam  kualitas  untuk  berbagai  macam  klaster.  Produk  fashion yang paling bervariasi adalah busana remaja, hal ini tentu saja sangat  berhubungan  dengan  usia  mereka yang  penuh  dengan  cita‐cita  dan  imajinasi,  serta ingin tampil beda dengan yang lain. Beberapa gaya dan perilaku remaja  serta  ucapan‐ucapan  mereka  seringkali  menjadi  trend,  demikian  pula  cara  berpakaian  yang  unik  dan  aneh‐aneh  sering  menjadi  sumber  inspirasi  bagi  perancang busana. 

Distribution Store, merupakan tempat penjualan produk fashion yang memiliki  kekhasan  anak‐anak  remaja.  Distro  tidak  dapat  disamakan  dengan  Factory  Outlet  (FO),  karena  dari  sisi  idealisme,  konsep  serta  produk  yang  dijualpun  berbeda.  FO  menjual  mass  produk,  sedangkan  distro  bersifat  ekslusif.  Desain  busana dan ilustrasi, pemilihan warna dan label yang mencerminkan dinamika  usia mereka, membuat produk fashion yang ditawarkan oleh distro ini menjadi  alternatif  pilihan  bagi  orang‐orang  yang  ingin  memiliki  street  fashion  sendiri,  eksklusif  serta  mencerminkan  lifestyle  yang  kental  akan  roots  yang  independen. Trend belanja busana ini tentu saja tidak akan bertahan lama jika  tidak  disertai  dengan  manajemen  yang  baik  dan  analisis  daya  saing  terhadap  industri  busana  yang  sudah  ada.  Strategi  yang  tepat  untuk  mempertahankan  model usaha seperti ini, mutlak diperlukan agar dapat menampung kreativitas  produk busana yang biasanya dibuat dalam skala kecil dan terbatas tersebut. 

 

Industri fashion di Indonesia saat ini masih dibanjiri produk‐produk impor yang  murah  (terutama  dari  Cina),  yang  mutunya  juga  tidak  kalah  dengan  produk 

domestik.  Oleh  karena  itu  banyak  eksekutif  puncak  dunia  masa  kini  yang  memberikan  prioritas  utama  pada  peningkatan  dan  pengendalian  mutu  produk,  sehingga  setiap  bidang  industri,  termasuk  industri  tekstil  garment/fashion  tidak  mempunyai  pilihan  lain,  kecuali  mengimplementasikan  manajemen  mutu  total  secara  optimal  untuk  meningkatkan  daya  saing  dan  produktivitasnya di pasar domestik. (Pane. D, 2006:20) 

Hal‐hal  yang  perlu  diprioritaskan  dalam  pengembangan  industri  fashion  diantaranya adalah meningkatkan daya saing pada bidang‐bidang pengendalian  mutu  (Quality  Control/QC),  pengiriman  (Delivery)  dan  produktivitas  (Produktivity) yang harus lebih ditingkatkan secara gradual dan terus menerus  (Sustainability).  Selain  hal  tersebut  ekspansi  pasar  domestik  juga  harus  lebih  dipromosikan,  karena  juga  akan  mendukung  peningkatan  ekspor  garment,  untuk  ini  dibutuhkan  keterampilan‐keterampilan  manajemen  dalam  pengembangan  produk  (Product  development),  produksi  dan  distribusi  harus  diperbaiki,  pelatihan‐pelatihan  professional  bidang  perancangan  busana  (fashion  design)  dan  penambahan  jenis  produk.  Kegiatan‐kegiatan  perdagangan  diaktifkan  dan  ditingkatkan  lagi  dengan  mengadakan  ekspansi  pasar domestik untuk pakaian jadi yang mengikuti standar‐standar industri. 

Industri fashion bukan hanya sekedar bisnis peragaan busana, melainkan bisnis  yang  agar  bisa  sukses  manajemennya  harus  ditangani  secara  serius  dan  lebih  hati‐hati  seperti  pada  industri  lainnya.  Efisiensi  produksi,  mutu  yang  tinggi,  ketepatan waktu pengiriman, system inventarisasi dan distribusi yang terkelola  dengan baik dll. Manajemen yang baik dalam industri fashion juga memerlukan  organisasi  perusahaan  yang  baik  pula.  Produksi  harus  benar‐benar  terencana  untuk  mencapai  target  dan  harus  berdasarkan  permintaan‐permintaan  penjualan  yang  akurat.  Untuk  mengurangi  inventarisasi,  harus  memproduksi  secara efisien dan menghemat pemakaian bahan baku dan penyediaan barang 

jadi  siap  jual.  Bisnis  fashion  juga  harus  memenuhi  persyaratan  pelanggan  seperti  syarat‐syarat  pengiriman,  mutu  dan  harga.  Karena  itu,  kondisi  tempat  kerja  juga  harus  menyenangkan  dan  menarik,  agar  dapat  mempertahankan  pegawai untuk bekerja memenuhi standar‐standar permintaan pelanggan dan  harus  menunjukkan  kinerja  yang  baik,  agar  dapat  meyakinkan  para  pemodal  untuk berorientasi dalam industri fashion. 

 

DISTRIBUTION STORE (DISTRO) 

Distribution  Store  atau  yang  lebih  dikenal  dengan  distro,  merupakan  perwujudan  dari  konsep  DIY  (Do  It  Yourself)  yaitu  suatu  konsep  untuk  melakukan  segala  sesuatunya  secara  sendiri  dan  mandiri.  Distro  lahir  dan  tumbuh  dari  komunitas  yang  independen,  distro  pada  awalnya  merupakan  wadah bagi penjualan album, merchandise serta pernak‐pernik bagi band‐band  indie  yang  memasarkan  produk  mereka  secara  independen.  Distro  menjadi  semacam counter culture bagi pelaku industri besar serta merupakan alternatif  pilihan bagi selera mainstream masyarakat luas. 

Distro,  pada  awalnya  diperkenalkan  oleh  orang‐orang  yang  tumbuh  bersama  komunitas  independen.  Mereka  ingin  membuat  suatu  usaha  street  fashion  sendiri  yang  eksklusif  dan  mencerminkan  lifestyle  komunitas  tempat  mereka  berasal.  Sesuatu  yang  masih  langka  atau  jika  boleh  dikatakan  tidak  ada  pada  waktu  itu.  Ketika  itu  berbagai  macam  merk  fashion  yang  kebanyakan  bersifat  mass produk atau dengan desain yang kebanyakan menjiplak pada fashion luar. 

Kalaupun  ada  street  fashion  tersebut  berasal  dari  merk  luar  negeri  dengan  harga  yang  luar  biasa  pula.  Maka  lahirlah  distro‐distro  lokal  dengan  konsep  eksklusif  serta  mengetengahkan  idalisme  komunitas  mereka.  Misalnya; 

komunitas skateboard, surfing, atau musik indie. 

Pendirian  distro  tidak  bergantung  pada  faktor‐faktor  yang  berada  di  luar  mereka,  seperti  modal  misalnya,  sebagian  besar  pelopor  distro  merintis  usahanya dari modal kecil dan modal idealisme yang besar dan semangat juang  yang  tinggi.  Dari  kacamata  bisnis,  distro  dapat  membesar  dan  dikategorikan  kedalam  industri  tersendiri,  karena  distro  sesunggunguhnya  tidak  akan  melenceng  dari  konsep  dan  idealisme  awal  yang  telah  mereka  tetapkan  sewaktu pendirian distro tersebut. Mereka hanya akan merilis produk dan ide  yang  orisinil,  desain  hasil  produksi  sendiri  serta  cara‐cara  produksi  dan  pemasaran yang tetap eksklusif. Sebagian besar dari distro berusaha agar tidak  terseret arus menuju arah industrialisasi, tetapi seandainya mereka melenceng  dari jalur dan memproduk suatu desain secara masal atau menjual produknya  pada  jalur‐jalur  yang  mainstream,  merekapun  masih  dapat  menyebut  diri  sebagai  distro.  Tetapi  konsumen  yang  smart  pasti  akan  memilah  mana  distro  yang  memiliki  idealisme  serta  konsep  yang  jelas  dan  mana  yang  murni  bisnis  belaka tanpa konsep dan isealisme yang jelas. 

Distro  tidak  sama  dengan  Factory  Outlet  (FO),  karena  dari  sisi  idealisme,  konsep  serta  produk  yang  dijualpun  berbeda.  FO  menjual  mass  produk,  sedangkan distro bersifat eksklusif. FO menjual produk ekspor lisensi dari brand  luar  negeri  dan  merancang  produk  berdasarkan  desain  luar  yang  diproduksi  ulang secara masal dengan sedikit modifikasi pada warna misalnya. Movement  serta  cara‐cara  pemasaran  antara distro  dan  FOpun  jauh  berbeda,  perbedaan  ini  kemungkinan  disebabkan  oleh  adanya  perbedaan  misi  serta  target,  oleh  karenanya  dari  sisi  harga  FO  bisa  lebih  murah  dibandingkan  distro  (Outlet  Jongkok.net) 

Produk  busana  yang  ditawarkan  di  distro  memiliki  kekhasan  anak‐anak  muda  yang unik, ceria dan agak “nyleneh”. Ragam busana yang ditawarkan memiliki  desain  yang  terkadang  hingar  bingar  dan  keluar  dari  “pakem”  teori  busana, 

tetapi  justru  hal  seperti  itulah  yang  mereka  cari.  Eksklusifitas  sebuah  busana  casual  yang  bercirikan  anak  muda  dengan  segala  pernak‐perniknya  dapat  dipenuhi  dengan  mengunjungi  distro.  Bahkan,  jika  dilihat  fenomena  yang  terjadi saat ini, kaum muda merasa lebih percaya diri dengan busana yang tidak  diproduksi masal oleh industri busana yang besar yang memiliki label ternama. 

 

Refleksi 

  Pada bab 2 ini, kalian telah  mempelajari tentang Ekosistem mode dan  overview  fashion  industry,  Gaya  dan  selera  sesuai  dengan  perkembangan  fashion  dan  trend,  Karya  desainer  dan  produk  fashion,  Konsep  sustainable  fashion,  Potensi lokal dan kearifan lokal dalam industri busana (fesyen), dan Pengelolaan SDM di industri busana (fesyen).  Tentunya  pengetahuanmu  terhadap bisnis industri busana (fesyen) semakin luas. Setelah mempelajari bab  ini,  yuk  refleksikan  ilmu  yang  telah  kalian  dapat  dengan  memberi  tanda  centang pada pernyataan yang paling sesuai di bawah ini. 

Tabel 2.4 Refleksi Representasi Bisnis Industri Busana (Fesyen) 

No  Pernyataan  Ya Tidak 

1.  Saya telah memahami Ekosistem mode dan 

4.  Saya  dapat  menjelaskan  Konsep  sustainable  fashion, 

 

5  Saya  dapat  memahami  potensi lokal dan kearifan lokal dalam industri busana (fesyen) 

 

6.  Saya  dapat  memahami  engelolaan SDM di industri busana (fesyen 

 

 

Dari uraian materi yang dipelajari pada bab ini, mana materi yang paling  sulit?  kalian  dapat  mendiskusikan  kesulitan‐kesulitan  yang  ditemui  dengan  teman atau guru sehingga kesulitan‐kesulitan tersebut dapat teratasi. 

1. Bacalah buku, artikel dari website,   2.   

 

Tes tertulis 

I. Soal benar‐salah 

Petunjuk:  sesuai  pernyataan  yang  diberikan,  tuliskan  “B”  jika  pernyataan kalian anggap benar dan “S” jika kalian anggap salah, pada  kolom  yang  disediakan  lalu  berikan  alasan  mengapa  kalian  memilih  benar/salah. 

No  Pernyataan Benar/

Salah 

Alasan 

1.      

2.      

3.      

4.      

5.      

 

II. Soal uraian  

Petunjuk: Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar! 

1. Yang  dimaksud dengan        

Pengayaan 

   

 

     

   

Dalam dokumen 10.7 Dasar dasar Busana (Halaman 71-79)

Dokumen terkait