A. Pengembangan Ekowisata Berbasis Lingkungan
Ekowisata telah berkembang. Wisata ini tidak hanya sekedar untuk melakukan pengamatan burung, mengendarai kuda, penelusuran jejak di hutan belantara, tetapi telah terkait dengan konsep pelestarian hutan dan penduduk lokal. Ekowisata ini kemudian merupakan suatu perpaduan dari berbagai minat yang tumbuh dari keprihatinan terhadap lingkungan, ekonomi dan sosial. Ekowisata tidak dapat dipisahkan dengan konservasi. Oleh karenanya, ekowisata disebut sebagai bentuk perjalanan wisata bertanggung jawab. Dimana dalam ekowisata pengelolaan alam dan budaya masyarakat dimaksudkan untuk menjamin kelestarian dan kesejahteraan, sementara konservasi merupakan upaya menjaga kelangsungan pemanfaatan sumberdaya alam untuk waktu kini dan masa mendatang. Hal ini sesuai dengan definisi yang dibuat oleh The International Union for Conservntion of Nature and Natural Resources (1980), bahwa konservasi adalah usaha manusia untuk memanfaatkan biosphere dengan berusaha memberikan hasil yang besar dan lestari untuk generasi kini dan mendatang.
LAPORAN AKHIR
Untuk mengembangkan ekowisata dilaksanakan dengan cara pengembangan pariwisata pada umumnya. Ada dua aspek yang perlu dipikirkan. Pertama, aspek destinasi, kemudian kedua adalah aspek market. Untuk pengembangan ekowisata dilaksanakan dengan konsep product driven. Meskipun aspek market perlu dipertimbangkan, namun macam, sifat dan perilaku obyek dan daya tarik wisata alam dan budaya diusahakan untuk menjaga kelestarian dan keberadaannya.
Pada hakekatnya ekowisata yang melestarikan dan memanfaatkan alam dan budaya masyarakat, jauh lebih ketat dibanding dengan hanya keberlanjutan. Pembangunan ekowisata berwawasan lingkungan jauh lebih terjamin hasilnya dalam melestarikan alam dibanding dengan keberlanjutan pembangunan. Sebab ekowisata tidak melakukan eksploitasi alam, tetapi hanya menggunakan jasa alam dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan, fisik/ dan psikologis wisatawan.
B. Prinsip Pengembangan Wisata
Pengembangan ekowisata di dalam kawasan hutan dapat menjamin keutuhan dan kelestarian ekosistem hutan. Eco traveler menghendaki persyaratan kualitas dan keutuhan ekosistem. Oleh karenanya terdapat beberapa butir prinsip pengembangan ekowisata yang harus dipenuhi. Apabila seluruh prinsip ini dilaksanakan maka ekowisata menjamin pembangunan yang ecological friendly dari pembangunan berbasis kerakyatan (commnnity based). Konsep Ekowisata lain ditulis oleh (Fandeli, 2000) yang mengatakan bahwa ekowisata merupakan kegiatan konservasi oleh masyarakat sekitar wilayah tersebut. Dalam penjabarannya masyarakat harus mampu bertanggung jawab terhadap budaya, keasrian dan ekosistem dari keadaan ekowisata. Akan tetapi masyarakat juga yang harus mendapat keuntungan secara ekonomi atau non ekonomi dari adanya kegiatan di wilayah ekowisata tersebut. Kemudian juga harus berprinsip pada :
Mendidik wisatawan agar mengetahui pentingnya menjaga lingkungan.
Kawasan tersebut mendapat hasil dari profit yang didapatkan dari daya tarik ekowisata.
Partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan pengelolaan, sehingga dalam pengembangan dan pengawasannya masyarakat ikut terlibat dan menerima dampak.
Penghasilan masyarakat artinya profit yang didapatkan masyarakat atas usaha dalam pengembangan dan pengelolaannya yang dihasilkan dari kunjungan wisatawan.
LAPORAN AKHIR
Menjaga keharmonisan dengan alam, artinya segala pembentukan infrastruktur tidak merusak lingkungan.
Daya dukung lingkungan, artinya dalam pengembangan ekowisata harus tetap memperhitungkan dan memperhatikan daya dukung lingkungan.
Peluang penghasilan yang didapatkan negara porsinya cukup besar.
C. Pengembangan Berbasis Komunitas (Community Based Tourism)
Secara konseptual prinsip dasar pariwisata berbasis masyarakat (Community Based Tourism) adalah memposisikan masyarakat dalam pengembangam wisata sebagai pelaku utama, serta melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam setiap kegiatan. Sehingga masyarakat menjadi prioritas utama dalam menerima manfaat untuk meningkatkan kesejahteraan. Konsep pariwisata berbasis masyarakat ini telah digunakan dalam melakukan tindakan pengarahan oleh para perancang pengembangan pariwisata, agar dalam pengembangannya masyarakat dapat memberikan partisipasi secara aktif sebagai pendukung industri pariwisata.
Community Based Tourism bertujuan untuk memastikan bahwa masyarakat diberdayakan dalam pengembangan pariwisata, peluang masyarakat lokal dalam menjual barang dan jasa tertentu dapat dibentuk melalui pengembangan sumber daya budaya, sosial serta lingkungan di daerah tersebut. Dengan kata lain, jenis pariwisata ini dianggap sebagai alat utama dalam melawan/ menanggulangi kemiskinan, di mana partisipasi masyarakat dapat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan tentang program dan kebijakan pariwisata.
D. Konsep Pariwisata Berbasis Komunitas
Konsep keberlanjutan berusaha mencari keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dengan pembangunan di era peradaban modern yang cenderung mengeksploitasi lingkungan. Berdasarkan pengembangan atas pemikiran konseptual tersebut maka diluncurkan konsep ekowisata sebagai instrumen untuk menerapkan pariwisata berkelanjutan pada masyarakat lokal. Konsep ekowisata menganut beberapa prinsip sebagai berikut:
Fokus pada konservasi alam dan lingkungan;
Memberikan muatan edukasi lingkungan kepada turis dan komunitas lokal; Memberdayakan perekonomian masyarakat lokal;
Meminimalisir kerusakan lingkungan;
Memberi ruang publik kepada masyarakat lokal untuk lebih terlibat aktif di dalam pengelolaan sumber daya alam.
LAPORAN AKHIR
Gambar 4. 2 Kerangka Kerja Konsep Ekowisata
Dalam pembangunan Ekowisata Winongo, bentuk program untuk mewujudkan Wisata Winongo berbasis sungai adalah sebagai berikut :
Penataan Kota Tanpa Kumuh bertujuan untuk membangun permukiman lingkungan sungai winongo yang berada di Kabupaten Bantul sehingga terlihat tidak kumuh dan layak huni.
Mundur Munggah Madhep Kali (M3K) hal ini fokus terhadap penataan rumah warga sekitaran bantaran Sungai Winongo agar rumah tidak berdiri di badan sungai dan rumah ditata untuk menghadap ke sungai bukan membelakangi sungai. Dan memberi jarak antara rumah dengan pinggiran sungai. Sehingga rumah tidak mempersempit sempadan sungai sebagai akses jalan masyarakat sekitaran sungai winongo.
Pembangunan taman yang ada di sekitar bantaran Sungai Winongo dengan tujuan agar sungai dan permukiman terlihat asri dan layak huni. Bukan hanya taman saja, bahkan kolam renang anak-anak, gazebo, ruang terbuka hijau yang bertujuan sebagai tempat bermain anaka-anak serta dapat dijadikan tempat wisata berbasis sungai.
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL ini di bagi 2 yaitu IPAL komunal yang biasanya berada di bantaran sungai dan IPAL terpusat yaitu ada di Kecamatan Sewon Bantul). IPAL ini bertujuan untuk mengetahui kadar pencemaran terhadap air sungai sehingga dapat meningkatkan kualitas pengolahan air limbah domestik. IPAL komunal adalah tempat penampungan pertama limbah masyarakat setempat sebelum dialirkan ke IPAL terpusat yang berada di kecamatan Sewon Bantul.
LAPORAN AKHIR
Dengan tercapainya Wisata Winongo berbasis sungai maka akan menunjang perekonomian masyarakat sekitar karena keberadaannya sebagai tempat wisata. Masyarakat juga akan menjadi produktif dan dapat membuka usaha di sekitaran bantaran Sungai Winongo dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dan kelestarian.