BAB II KAJIAN TEOR
METODE PENELITIAN A Model Pengembangan
B. Prosedur Pengembangan
2. Pengembangan Mater
Dalam mengembangkan materi, terdapat tiga tahap yang dilewati meliputi produksi media, validasi ahli dan uji coba.
a. Produksi media
Pada tahap produksi media ini lebih berfokus pada penentuan materi yang selanjutnya akan dilakukan produksi dalam bentuk macromediaflash. Tahapan yang dilalui meliputi:
1) Menentukan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Dalam menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar, pengembang bekerjasama dengan guru Bahasa Jawa yang dipandang lebih mengetahui terkait materi Bahasa Jawa yang dibutuhkan oleh siswa.
2) Mendesain Materi
Desain materi dan stor yboar d merupakan dasar dalam pengembangan media. Desain materi ini meliputi:
a) Merencanakan materi yang diberikan terkait pembatasan cakupan materi dan urutan penyajian materi.
b) Merancang latihan/review dari materi yang telah diberikan beserta pemberian feedbackatau umpan balik.
c) Mendesaian masing-masing framedalam tiap slide.
d) Memilihima gedan video yang akan digunakan sebagai pendukung materi. e) Memilih audio dan rekaman suara sebagai pendukung materi.
Dalam pembuatan rancangan desain materi, pengembang bekerjasama dengan Guru Bahasa Jawa terkait materi, gambar dan model latihan yang akan
dituangkan dalam multimedia. Sementara itu, untuk desain latar dan rancangan permainan, pengembang bekerjasama dengan lembaga pengembangan multimedia yaitu CIE Jogja.
3) Membuat Storyboar d
Storyboa rd merupakan skenario dari materi yang akan dikembangkan dalam desain materi. Dalam stor yboa rd akan menjelaskan mengenai materi yang disampaikan, visual, audio pengiring, setting/latar, dan button yang diperlukan. 4) Memproduksi Materi
Desain materi dan stor yboa rd yang telah ada, disusun dalam bentuk multimedia dengan program macromediaflash. Proses produksi macromediaflash ini dilaksanakan oleh lembaga CIE Jogja.
b. Validasi produk
Pada tahap validasi ini, media yang merupakan produk awal akan divalidasi oleh ahli materi dan ahli media. Berikut dijelaskan masing-masing aspek yang divalidasi.
1) Ahli materi
Dalam penelitian ini, yang akan melakukan validasi terhadap materi yang dikembangkan adalah ahli yang dianggap menguasai materi yang akan dikembangkan. Ahli tersebut diantaranya adalah 2 orang guru Bahasa Jawa dan seorang dalang. Instrumen yang digunakan adalah angket. Ahli materi akan memvalidasi aspek isi dan aspek pembelajaran dari materi yang dikembangkan. Adapun aspek yang akan dinilai meliputi:
Tabel 1. Kisi-Kisi Instrumen Angket untuk Ahli Materi No Aspek yang
direview
Variabel Indikator
A Isi 1. Kebenaran konsep 1. Ketepatan materi dengan kurikulum
2. Kesesuaian materi dengan kompetensi dasar 2. Kedalaman materi 3. Kecukupan materi
4. Kejelasan materi 5. Keruntutan materi B Pembelajaran 3. Kebahasaan 6. Kejelasan penggunaan
bahasa
4. Keterlaksanaan 7. Kejelasan petunjuk belajar 8. Kemudahan memahami materi 9. Kesesuaian contoh dengan materi 10. Kecukupan latihan
11. Pemberian umpan balik (dikemba ngka n berda sa rka n teori Ma yer (2009: 270-271), Heinich et al (2003:
136), Sutopo (2003:46) da n Arsya d (2011:96))
2) Ahli Media
Tujuan validasi dari ahli media adalah untuk mengetahui kualitas media yang dikembangkan. Ahli media yang akan memberikan penilaian adalah seorang dosen media dari Universitas Negeri Sebelas Maret dan 2 orang dosen dari STMIK AMIKOM Yogyakarta yang mengampu mata kuliah desain grafis, multimedia dan visual artis. Instrumen yang digunakan adalah angket. Ahli media melakukan validasi terhadap aspek tampilan dan pemograman. Aspek tampilan terkait dengan penggunaan huruf dalam teks, pemilihan warna, penggunaan audio pengiring dan pemilihan gambar. Sementara untuk aspek pemograman lebih ditekankan pada operasional penggunan media.
Tabel 2. Kisi-Kisi Instrumen Angket untuk Ahli Media Aspek yang
Divalidasi
Variabel Indikator
Permediaan 1. Tampilan 1. Keterbacaan teks
2. Ketepatan pemilihan jenis dan ukuran huruf
3. Ketepatan pemilihan warna 4. Kualitas gambar
5. Kejelasan suara 6. Daya dukung musik 7. Tampilan slide
8. Relevansi visual dengan materi 2. Pemograman 1. Interaksi
2. Keaktifan
3. Konsistensi button 4. Petunjuk penggunaan
5. Keleluasaan dan kemudahan penggunaan
6. Pemberian umpan balik 7. Pengulangan untuk jawaban
salah
(dikemba ngka n berda sa rka n teori Sma ldino, 2008: 127)
Data penilaian dari ahli materi dan media kemudian diolah dengan langkah sebagai berikut:
a) Data kualitatif berupa komentar dan saran revisi yang diperoleh dari ahli materi dan ahli media melalui angket akan dianalisis dan dideskripsikan secara deskriptif kualitatif untuk merevisi produk yang dikembangkan
b) Data kuantitatif skor penilaian ahli materi dan ahli media dikonversikan dengan skala 5 yang ditetapkan (Sukarjo, 2005:55) berikut:
Tabel 3
Konversi Skor pada Skala 5
NILAI INTERVAL KATEGORI
5 X > X bar i + 1, 80 SBi Sangat baik 4 X bar i +0,60SBi<X< X bar i +1, 80 SBi Baik 3 X bar i 0,60 SBi <X X bar i +0,60 SBi Cukup 2 X bar i 1, 80 SBi < X X bar i 0,60 SBi Tidak baik 1 X X bar i 1,80 SBi Sangat tidak baik
Xi = Rerata ideal
= ½ (skor mak+skor min) Sbi = Simpang baku ideal
= 1/6 (skor mak-skor min) X = Skor aktual
Adapun pengubahan data ke dalam data kualitatif pada pengembangan ini diterapkan konversi yang bisa disederhanakan dalam tabel berikut.
Tabel 4
Pedoman Pengubahan Data Kuantitatif menjadi Data Kualitatif Interval skor Nilai Kategori
X> 4.2 5 Sangat baik
3.4 < X 4.2 4 Baik 2.6 <X 3.4 3 Cukup baik 1.8 < X 2.6 2 Kurang baik
X 1.8 1 Sangat kurang baik
Proposed by Sudijono (2003, p. 339)
Hasil dari penilaian yang diberikan oleh ahli materi dan media selanjutnya akan dijadikan dasar untuk merevisi ulang materi yang dikembangkan. Revisi dari draft tersebut dilakukan berdasar atas komentar dan pendapat dari ahli materi dan ahli media. Revisi ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas multimedia yang dikembangkan.
c. Uji Coba Produk
Setelah tahapan produksi dan validasi pada materi selesai dilakukan sampai pada tahap revisi, maka dilanjutkan dengan proses uji coba. Prosedur pengujian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi materi jika diterapkan bagi para siswa. Terdapat tiga tahapan uji coba produk untuk evaluasi materi yang
dikembangkan, yaitu uji coba satu lawan satu (one to one), uji coba kelompok kecil (sma ll group eva lua tion), dan uji coba kelompok besar (field evaluation) (Borg, Gall & Gall, 2007:572).
1) Uji Coba Satu-Satu (Perorangan)
Pada uji coba satu lawan satu, informasi yang didapatkan adalah kesalahan pemilihan kata atau uraian-uraian yang tak jelas, kesalahan dalam memilih lambang-lambang visual, kurangnya contoh, terlalu banyak atau sedikitnya materi, urutan penyajian yang keliru, pertanyaan atau petunjuk yang kurang jelas, tujuan tak sesuai dengan materi dan sebagainya.
Responden dalam uji coba ini berjumlah tiga orang siswa kelas III Sekolah Dasar. Pemilihan responden dilakukan secara random, dengan memperhatikan perbedaan kemampuan siswa berdasarkan informasi dari guru kelas tempat dilakukannya uji coba. Hasil dari uji coba perseorangan ini didapatkan desain revisi 1.
2) Uji Coba Kelompok Kecil
Pada tahap uji coba kelompok kecil, media diujicobakan kepada 10 orang siswa yang dapat mewakili populasi target. Siswa yang dipilih diusahakan mencerminkan karakteristik populasi. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan proses pelaksanaan atau dampak dari produk yang dikembangkan. Hasil uji coba ini didapatkan desain revisi 2.
3) Uji Coba Kelompok Besar/Operasional
Sementara itu, uji coba kelompok besar adalah tahap akhir dari evaluasi formatif yang perlu dilakukan. Dalam tahap ini, dipilih 30 anak dengan berbagai
karakteristik (tingkat kepandaian, kelas, latar belakang, jenis kelamin, usia, kemajuan belajar, dan sebagainya) sesuai dengan karakteristik populasi sasaran. Hasil dari uji coba ini adalah desain revisi 3.
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data pada tahap uji coba dari mulai uji coba satu-satu sampai pada uji coba kelompok besar adalah angket. Angket digunakan untuk mengetahui kualitas aspek tampilan dan materi berdasar tanggapan dari siswa. Angket yang dikembangkan lebih sederhana daripada yang diberikan kepada ahli materi dan media. Adapun kisi-kisi angket yang diberikan kepada siswa adalah sebagai berikut.
Tabel 5. Kisi-Kisi Instrumen Angket untuk Siswa No Aspek yang
direview
Indikator A Materi 1. Kejelasan materi yang diberikan
2. Kejelasan petunjuk belajar
3. Kemudahan memahami materi pelajaran 4. Ketepatan urutan penyajian
5. Keleluasaan dan kemudahan penggunaan 6. Pemberian umpan balik
7. Pengulangan untuk jawaban salah B Tampilan 1. Keterbacaan teks
2. Pemilihan jenis dan ukuran huruf 3. Ketepatan pemilihan warna 4. Kualitas gambar yang disajikan 5. Suara yang digunakan
6. Musik yang digunakan 7. Tampilan slide
dikembangka n berdasar ka n teori Ma yer (2009: 270-271), Heinich et al (2003: 136), Sutopo (2003:46), Arsya d (2011:96) da n Sma ldino(2008: 127)
Data yang diperoleh melalui instrumen angket dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif seperti pada bagian angket untuk validator.
3. Evaluasi
Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk mengetahui efektivitas produk yang dikembangkan. Masukan-masukan dari hasil evaluasi inilah yang menjadi dasar terakhir bagi pengembang untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan produk.
Instrumen berupa tes disusun untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan program multimedia pembelajaran. Oleh karena itu, peneliti memberikan soa l pr e-test dan post-test kepada siswa. Berikut ini adalah kisi-kisi soal pre-testdan post-test yang diberikan kepada siswa.
Tabel 6. Kisi-Kisi Soal Pre-testdan Post-test
Kompetensi Dasar
Indikator Jumlah Soal Nomor Butir Menceritakan silsilah tokoh wayang Pandawa Lima Siswa dapat menyebutkan tokoh wayang Pandawa Lima Siswa dapat menulis pokok- pokok cerita silsilah wayang Pandawa Lima Siswa dapat menjelaskan sifat/karakter dari tokoh wayang Pandawa Lima 5 7 8 1,4,5,6,9 2,3,12,13,14,15,17 7,8,10,11,16,18,19,20 Jumlah Soal 20
Hasil tes yang berupa pre-test dan post-test dianalisis dengan analisis statistik dengan paired sa mple t test.Pa ired sample t testmerupakan uji beda dua
sample berpasangan. Sample berpasangan merupakan subjek yang sama namun mengalami perlakuan yang berbeda.
Data skor hasil pre-test dan post-test dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Sebelum dianalisis dengan perhitungan paired sample t test, dilakukan uji normalitas sample yang diambil.
b. Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan prestasi belajar siswa dilakukan eksperimen dengan membandingkan nilai hasil pre-test dan post-test (Sugiyono, 2011: 415). Model eksperimen tersebut ditunjukkan dengan gambar berikut:
Gambar 5. Model Eksperimen Pengujian Pre-test dan Post-test O1 =nilai pre-test
O2 = nilai post-test
X = pemberian multimedia pembelajaran wayang
Multimedia pembelajaran wayang yang diberikan dinilai dapat meningkatkan prestasi belajar jika O2lebih besar daripada O1.
c. Data hasil pre test dan post test dianalisis dengan uji t. Uji t yang digunakan adalah uji t data berpasangan atau data berkorelasi yang memiliki persamaan dengan rumus:
t:
Keterangan:
: rata-rata post test : rata-rata pre-test
: uraian post test : uraian pre test
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN