Hasil Penelitian Klaster Batang
4. Pengembangan Pariwisata
Pemerintah Kabupaten Batang telah berhasil mengem-bangkan kawasannya menjadi daerah tujuan pariwisata pantai berkelas, tetapi masih perlu penanganan lebih profesional. Hal ini mengingat perkembangan kawasan tersebut pada masa yang akan datang menjadi tempat bergantung ribuan warga di sekitar kawasan pariwisata itu.
ane-ka jenis kerajinan guna menghidupi keluarga masing-masing. Perkembangan dan penataan lahan untuk mendukung keasrian di kawasan pariwisata Pantai Sigandu, pada hemat peneliti, sudah termasuk dalam kategori baik dan bersuasana alam yang indah sekali dinikmati terutama pada saat sore hingga malam. Sebagian besar pendapatan masyarakat daerah pesisir bersumber pada pekerjaan sebagai nelayan atau petani tam-bak. Besar pendapatan mereka tidak menentu. Akan tetapi, juga terdapat masyarakat yang bekerja sebagai pegawai ne-geri, buruh, dan wirausaha walaupun hanya berjumlah kecil.
Pendapatan lain warga sekitar lokasi pariwisata pesisir adalah berjualan makanan ikan hasil laut siap saji di kawasan Pantai Sigandu. Mereka menyajikannya dengan menu bakar atau goreng. Harganya pun terjangkau. Rasa spesial mengun-dang selera siapa saja untuk datang mencicipi. Mereka biasa-nya buka hingga pukul 22.00 setiap hari.
5. Pelestarian Hutan Mangrove
a. Pelatihan Mangrove dan Nelayan
Pada dasarnya pelatihan yang dilakukan oleh pe-tani tambak dan nelayan serta kelompok mereka di da-erah pesisir tidak berjalan sendiri, tapi dengan penga-wasan dinas terkait melalui penyuluhan lapangan.
b. Penanaman Mangrove
Aktivitas penanaman mangrove dilakukan oleh dinas terkait secara berjangka yang masuk dalam pro-gram penghijauan pesisir pantai dengan mempertim-bangkan kebutuhan mangrove di lapangan. Selain itu juga ada penanaman yang dibiayai oleh institusi pergu-ruan tinggi melalui kuliah kerja nyata dan organisasior-ganisasi peduli lingkungan hidup.
c. Perawatan Mangrove
Kegiatan perawatan dilakukan oleh pihak dinas terkait melalui kelompok tani tiap kecamatan dengan memberi uang jasa. Selain itu, ada pula perawatan dari para nelayan/petani tambak yang mempunyai kesadar-an tinggi (sukarela).
d. Manajemen Pengelolaan
Sistem manajemen pengelolaan yang diterapkan di Kabupaten Batang saat penelitian ini berlangsung masuk dalam kategori belum baik dan tertata dengan rapi. Hal ini tecermin dari hasil analisis yang kurang sig-nifi kan, karena hanya menghasilkan nilai 0.400 poin dan jauh dari angka standardisari (C.R.) 2.00.
Penyebab muncul hasil yang masuk dalam kate-gori tidak signifi kan ini adalah masih rendah kualitas kebijakan yang diusung oleh Pemerintah Kabupaten Batang dalam mengusahakan peningkatan hasil ekonomi dan budi daya berbasis masyarakat di wilayah pesisir. Di samping itu pula tercermin dari hasil rendah yang di-capai karena kinerja dinas-dinas di Kabupaten Batang yang kurang mengantisipasi abrasi parah di sekitar Pan-tai Sigandu yang hampir mengenai fasilitas umum dan permukiman warga.
7. Kelestarian Hutan Mangrove
Dalam bidang perwujudan kelestarian hutan mangrove di Kabupaten Batang, pada kenyataannya memang tidak terwu-jud dengan baik. Saat penelitian ini berlangsung, tetap dalam kondisi rusak parah terutama di kawasan Pantai Sigandu dan Gajah. Hal ini dapat dilihat kinerja dinas-dinas terkait yang kurang memotivasi warga menanam mangrove secara swadaya di daerah-daerah yang dapat menjadi benteng wilayah daratan di sekitar desa itu. Jika kekurangan modal untuk penghijauan lahan di kawasan sekitar, sebaiknya disiasati lebih dini lagi.
Karena untuk mengatasi lahan rusak akibat faktor pe-nyebab alami dan hempasan ombak laut butuh penanganan ekstra dan berkesinambungan dalam tempo relatif lama. Ada-pun keberhasilannya tergantung pada masyarakat di daerah sekitar lokasi, karena tanpa kepedulian mereka terhadap alam sekitar, pelestarian hutan mangrove sulit terwujud.
Berdasarkan hasil penelitian, penerapan analisis peneli-ti terutama untuk Kabupaten Batang dalam penentuan model/ bentuk pengelolaan yang paling sesuai adalah pengembangan
budi daya bandeng silvofi shery dipadukan dengan budi daya lain yang cocok untuk kawasan setempat. Pandangan peneliti itu didasarkan pada kawasan Pantai Batang yang dominan air deras.
Pemerintah Pusat pun memilihnya untuk menangkarkan ikan lumba-lumba. Itu berarti di sekitar lokasi juga memiliki kandungan terumbu karang yang baik. Hasil penanaman pada 2004-2006 itu menuai hasil secara perlahan di kawasan yang ditanami terumbu karang baru yang berubah menjadi lebih biru daripada warna hitam yang mencerminkan adanya kehi-dupan di bawah/dasar laut.
Pembahasan Klaster Pantai Utara Demak
Gambar 4.42
Berdasarkan peta di atas dapat dilihat terjadi pergeseran garis pantai menjorok ke arah laut di beberapa daerah bibir pantai akibat proses akresi (sendimentasi), sehingga menurut pemetaan satelit pada 2003 garis pantai di Kabupaten Demak maju dan melebar di beberapa hulu sungai di daerah setempat dan mengikuti perubahan dan pengembangan di wilayah tersebut.
Gambar 4.43
Hal yang sama juga dapat dilihat pada peta perubahan garis pantai Kabupaten Demak di atas. Tampak sejak 1963 hingga 1993 terjadi akresi yang menyebabkan pertambahan luas daerah bibir pantai. Akresi itu banyak terjadi di hulu atau muara sungai besar.
Data dan Grafi k Perubahan Pantai Kabupaten Demak
Gambar 4.44 P ros e s K ejadia n 1963-1994 1994-1997 1963-1997 1997-2003 A kres i (H a) 1838,1 756,0 2594,1 3,7 A bras i (H a) 191,3 123,6 314,8 2,0 T ota l P eruba ha n 1646,9 632,4 2279,3 1,7 L ua s (H a )/T h 53,1 210,8 0,3 1963 1994 1997 2002 0 1646,9 2279,3 2280,9 Kejadian Erosi 1963 – 1994 Kejadian Erosi 1994 – 1997 Kejadian Erosi 1997 – 2002 Kejadian Akresi 1963 – 1994 Kejadian Akresi 1994 – 1997 Kejadian Akresi 1997 – 2002 Kabupaten Demak
Berdasarkan data di atas dapat diketahui, pada 1963-1997 ter-jadi penambahan lahan di wilayah pesisir pantai Kabupaten Demak seluas 2.279,3 hektare.
Hal itu dikategorikan baik karena lebih besar dibandingkan luas lahan yang terkikis karena abrasi air laut di kawasan yang sama. Namun yang terjadi pada saat ini (menurut pengetahuan peneliti secara langsung) di beberapa lokasi di Kabupaten Demak, tingkat abrasi yang terjadi sangat merisaukan karena telah melenyapkan be-berapa desa di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Hal ini terjadi karena pohon-pohon mangrove yang ditebangi oleh para petani tam-bak akibat isu hama penyakit pada udang windu yang mati secara meluas di wilayah tersebut.
Luas kerusakan akibat abrasi telah mencapai 800 meter le-bih dari bibir pantai yang tercatat sebelumnya (2003) dan kini (saat penelitian ini berlangsung) hanya menyisakan satu desa yang dihuni delapan keluarga yang terselimuti hutan mangrove guna mengaman-kan dari keganasan abrasi air laut.
Gambar 4.45
Berdasarkan gambar grafi k perubahan pantai Kabupaten De-mak tampak pada 1963-2002 menunjukkan angka peningkatan luas lahan (akibat akresi) yang signifi kan. Namun kondisi itu hingga kini
menurun signifi kan akibat dampak pembangunan dermaga dan pe-mecah ombak yang kurang pas sehingga mengakibat putaran ombak di beberapa kawasan seputar lokasi pembangunan itu.
Peta Sebaran Mangrove di Daerah Kajian
Gambar 4.46
Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat, sebaran tanaman mangrove di Kabupaten Demak apabila dilihat lewat Citra Satelit Landsat at 7ETM+, 2003, menunjukkan pertumbuhan yang merata di beberapa kawasan. Namun di kawasan tertentu, biasanya wilayah tambak, tidak memperlihatkan sebaran mangrove.
Daerah ini yang mengalami dampak abrasi paling tinggi di Ka-bupaten Demak, akibat masyarakat sekitar kurang peka terhadap lingkungannya.