• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Prosedur Penelitian

3. Pengembangan Prototype Bahan Ajar Menjadi Bahan Ajar PPKn Berbasis PBL

a. Draft Awal (Prototype) Bahan Ajar PPKn Berbasi PBL

Hasil dari penyususunan bahan ajar PPKn berbasis PBL adalah draft prototype bahan ajar PPKn berbasis PBL yang telah divalidasi dan dinyatakan layak oleh ahli. Hasil penilaian ahli terhadap bahan ajar PPKn berbasis PBL adalah aspek kebahasaan mendapatkan 92,5%, aspek kelayakan isis mendapatkan 92,5%, aspek media 95%, dan aspek kelayakan isi/materi 92%. Selain penilaian tersebut, para ahli memberikan masukan berupa saran dan kritik untuk memperbaiki kekurangan bahan ajar PPKn berbasis PBL. Masukan para ahli tersebut menjadi bahan untuk menyempurnakan bahan ajar PPKn berbasis PBL sebelum uji coba lapangan.

Pada bahan ajar PPKn berbasis PBL dilengkapi dengan aktivitas siswa berdasarkan sintak PBL. Dengan begitu siswa akan aktif dalam pembelajaran dan mampu berpartisipasi. Keaktifan itu terlihat dari beberapa perilaku misalnya mendengarkan, mendiskusikan, membuat sesuatu, menulis laporan, dan sebaginya, karena partisipasi siswa itu dibutuhkan dalam menetapkan tujuan pembelajaran dan dalam kegiatan belajar mengajar (Hasibuan dan Moedjiono, 2006: 7). Pada penelitian ini sintak PBL yang diintegrasikan ke dalam buku adalah menurut Sugiyanto (2009: 159) yaitu (1) memberikan informmasi kepada siswa; (2) mengorganisasikan siswa untuk meneliti; (3) membentik investigasi

secara mendiri dan kelompok; (4) mengembangkan dan mempresentasikan hasil; (5) menganalisis dan mengevaluasi proses menyelesaikan masalah. Hal ini karena sisntak PBL tersebut lebih mudah dipahami dan diterapkan anak sekolah dasar.

Dimulai dengan mengenalkan siswa pada permasalahan sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan dengan fenomena PPKn. Selanjutnya siswa dihadapkan pada permasalahan yang berupa tugas baik mandiri maupun kelompok. Siswa diminta untuk mencari informasi mengenai permaslahan yang terjadi dan mengumpulkan data sebanyak mungkin. untuk menyelesaikan masalah yang diberikan. Siswa mempresentasikan hasil pekerjaanya. Adanya evaluasi berupa soal tentang materi yang telah dipelajari pada bagian akhir aktivitas belajar siswa. Bahan ajar dilengkapai dengan aktivitas belajar yang menuntut siswa untuk aktif, seperti siswa diharuskan melakukan wawancara dengan teman sekelasnya, mengamati lalulintas di sekitar sekolah, mengamati lingkungan sekitar sekolah, berdiskusi dnegan teman, dan lain-lain. Dalam bahan ajar PPKn berbasis PBL juga dilengkapi dengan konten game kata seperti teka-teki silang dan mencari kata.

Konten dalam bahan ajar yang dikembangkan merujuk pada langkah-langkah pembelajaran PBL. PBL menjadi inovasi yang dapat diitegrasikan dengan bahan ajar dimungkinkan sangat efektif menunjang pembejalaran. Terlebih PBL merupakan pengembanagan dari teori kontruksivisme. Teori kontruksivisme membantu siswa dalam

membangun pengetahuanya yang berorientasi pada proses bukan hasil sehingga lebih mengutamakan pengalaman belajar, merujuk pada pendapat Wina Sanjaya (2014:24) menyatakan bahwa kontruksivisme merupakan proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Pembelajaran yang hebat akan menggunakan seluruh anggota tubuh dan pancaindra untuk belajar. Proses belajar tidak akan meningkat secara otomatis bila siswa hanya diminta untuk berdiri dan berkeliling, proses pembelajaran harus digabungkan antara gerakan fisik dengan kegiatan intelektual/otak. Semua perangkat pembelajaran berkaitan dengan visual, audiotori, dan kinestikik. Kegita hal tersebut dilakukan untuk mengaktifkan siswa dalam belajar. Pelajar visual belajar melalui apa yang dilihat, pelajar auditorial melakukan apa yang mereka dengar, dan pelajaran kinestetik belajar lewat gerak dan sentuhan (Jensen dan Nickelsen, 2011: 35-37). Untuk itu siswa tidak dapat hanya belajar dengan duduk dan berdiam diri mendengarkan guru menjelaskan. Siswa harus aktif dalam melakukan aktivitas pembelajaran.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat diketahui bahwa belajar bisa optimal jika adanya kolaborasi antara indera penglihatan, pendengaran, melakukan (gerak), dan proses intelektual. Keempat unsur tersebut dilakukan dalam satu peristiwa pembelajaran. untuk mengaktifkan empat modalitas belajar tersebut perlunya suatu pendekatan dan media yang mendukung kelancaran proses pembelajaran untuk mencapai tujuan dalam pembelajaran.

b. Uji Coba Terbatas

Temuan dalam uji coba ini adalah siswa masih kesulitan dalam memahami masalah yang disajikan. Saat diwawancara guru belum begitu mampu memberikan orientasi masalah dengan baik. Masalah tersebut belum dipahami siswa dalam kehidupan sehari-hari. Dilakukan tindak lanjut dengan mengganti masalah yang lebih sederhana dan berhubungan dengan tema pada bahan ajar tematik. Orientasi masalah merupakan kegiatan pembuka yang sangat menentukan dalam PBL. Siswa harus mengerti masalah yang terjadi termasuk fenomena di dalamnya. Masalah merupakan media bagi siswa untuk memahami konsep-konsep yang menjadi tujuan pembelajaran. Siswa akan memahami masalahan berdasarkan caranya sendiri. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Gorghiu et al (2015: 1867) menjelaskan jika memecahkan masalah dimasukan ke dalam kompetensi pembelajaran, akan membantu mengidentifikasi hambatan dan cara mengatasi hambatan tersebut. Hal ini sangat sesuai dengan mata pelajaran PPKn yang ada dalam fenomena kehidupan siswa sehari-hari. Siswa akan memberikan soslusi menerut sudut pandang masing-masing dengan begitu secara otomastis siswa telah membangun pengetahuanya sendiri. Pembelajaran berbasis masalah dapat membangun pengetahuan siswa sendiri begitupun pengelompokan dalam belajar dapat memfasilitasi siswa untuk berkolaborasi, saling tukar pikiran, saling mengajari serta dapat menyelesaikan masalah dengan banyak cara karena (Utomo, Wahyuni, dan Hariyadi, 2014:9). Dengan demikian masalah

dapat menjadi media bagi siswa untuk mengkontruksi pengetahuanya dengan caranya sendiri.

c. Uji Coba Luas

Uji coba luas merupakan uji coba produk dengan skala besar. Uji coba luas dilakukan di dua sekolah. Data yang didapatkan dari dua kelas dijadikan satu dan dianalisis. Dari hasil tes civic knowledge

menunjukan peningkatan antara pretest dan posttest dengan selisih 18,14. Meskipun begitu, bahan ajar PPKn berbasis PBL tersebut masih banyak perbaikan. Kesalahan terlihat dari gambar yang tidak sesuai dengan keterangan. Merujuk pada pendapat Tarigan (2009:143-150) salah satu dari delapan kriteria buku ajar yang baik adalah kesesuaian ilustrasi dengan wacana. Teks atau ilustrasi harus berkaitan dengan ilustrasi atau gambar yang dicantumkan berkenaan dengan teks bacaan tersebut. Hal tersebut telah ditindak lanjuti dengan memperbaiki keterangan sesuai gambar. Masukan dari guru masih menemukan beberapa kesalahan dalam penulisan buku. Perbaikan dalam pembelajaran ini difokuskan pada aspek bahasa. Kualitas bahasa dalam bahan ajar sangat diperhatikan agar materi yang disampaikan jelas dan mudah dipahami oleh siswa. Kualitas bahasa tersebut tercermin dari pemakaian kosakata, kalimat, dan susunan bahasa yang dipakai dalam paragraf dan bacaan. Idealnya bahasa yang digunakan mencerminkan bahasa otentik (authentic language) sehingga bahan ajar tersebut layak dijadikan bahan pembelajaran sesuai kenyataan yang ada. Merujuk pada pendapat Jambrohim, Anwar, dan Sayuti (2009:3) dalam

kaitan dengan pamakaian bahasa dalam bahan ajar yang berbentuk buku harus memenuhi kriteria pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Indonesia dan kondisi (komunikasi). Bahasa yang digunakan dalam bahan ajar harus sesuai dengan struktur kebahasaan dan perkembangan dan kemampuan kognitif siswa terhadap teks yang ada.