• Tidak ada hasil yang ditemukan

3 PENGEMBANGAN SKEMA KLASIFIKASI HABITAT BENTIK TERUMBU KARANG

Latar Belakang

Terumbu karang secara terus-menerus telah menjadi subjek dari banyak penelitian. Tujuan utama dari penelitian-penelitian ini adalah untuk menginvestigasi dan mendokumentasikan status kesehatan habitat ini, meskipun banyak penelitian yang dipublikasi dilakukan dalam waktu singkat dan skala yang kecil. Beberapa keterbatasan telah menunjukan banyak kesulitan dalam menganalisis data yang tersedia cenderung menyebabkan perbedaan secara temporal dan spasial. Kesulitan utama adalah keterbatasan ukuran sampel, dimana ukuran sampel yang kecil menjadi faktor pembatas investigasi peluang distribusi data (Hoare dan Tsokos 2009).

Congalton dan Green (2008) menjelaskan bahwa, untuk menghasilkan peta dengan karakteristik bentuk lahan yang dapat dimanfaatkan oleh para pengguna maka dibutuhkan tahapan untuk mendefenisikan objek yang akan dipetakan atau diistilahkan sebagai skema klasifikasi. Tanpa skema klasifikasi tidak ada pemetaan yang benar-benar tepat. Detail dari suatu skema ditentukan oleh antisipasi penggunaan informasi peta dan bentuk-bentuk permukaan bumi yang dapat dibedakan dengan data penginderaan jauh (foto udara atau citra satelit) menjadi bermanfaat untuk menghasilkan peta. Jika skema klasifikasi yang tepat tidak dikembangkan sebelum memulai pembuatan peta, maka tahap pengujian akurasi peta akan menjadi tidak berarti sebab tidak mungkin untuk mendefenisikan lebel sampel pengujian akurasi.

Sistem klasifikasi terumbu karang menggunakan data penginderaan jauh dapat dibangun melalui dua aspek yaitu zona geomorfologi dan tipe-tipe substrat. Banyak penelitian penginderaan jauh terumbu karang, zona geomorfologi dapat dikategorikan secara umum menjadi terumbu bagian depan (front reef), rataan terumbu (reef flat), terumbu bagian belakang (back reef), laguna. Tipe-tipe substrat diklasifikasikan menjadi karang, alga, pasir dan sebagainya. Pada kasus tertentu terumbu karang dikategorikan kedalam kelas atau sub-kelas berbeda tergantung pada kondisi lingkungan atau karakteristik stuktur biomasa (Xu dan Zhao 2014).

Berbagai teknik atau cara mendefenisikan ekosistem terumbu karang menjadi skema klasifikasi dalam pemetaan terumbu karang telah digunakan dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Mumby et al. (1997), menggunakan istilah habitat sebagai pendekatan umum dari kelimpahan spesies dan asosiasi substrat. Istilah resolusi deskriptif digunakan untuk menggambarkan aspek biologi secara detail dari jenis sensor untuk pemetaan daerah tertentu berdasarkan diskriminasi atau perubahan antar habitat. Resolusi deskriptif kasar dalam bentuk sederhana hanya terdiri dari karang, alga, pasir dan lamun. Sedangkan resolusi deskriptif detail mencakup kelimpahan spesies/substrat, variasi tutupan lamun dan seterusnya.

Skema klasifikasi habitat merupakan sistem terstruktur untuk menentukan tipe-tipe habitat menjadi kelompok-kelompok atau kelas-kelas yang dapat didefenisikan berdasarkan karakteristik ekologi. Tahap awal dalam pembuatan peta adalah mengidentifikasi dengan jelas kelas-kelas tersebut dan mendeskripsikan atributnya. Skema klasifikasi digunakan untuk memandu batasan dan defenisi

habitat dalam proses pembuatan peta. Selanjutnya, tahap ini menjadi penting untuk pengguna peta dalam memahami bagaimana sistem klasifikasi sebagai struktur dalam mendefenisikan setiap kelas (Zitello et al. 2009).

Mumby dan Harborne (1999), menggunakan pendekatan secara sistematis klasifikasi habitat yang mengkombinasikan aspek geomorfologi dan penutupan bentik. Kelas bentik diturunkan dan dideskripsikan secara objektif menggunakan aglomeratif klasifikasi hirarki, data lapangan dan analisis persen kemiripan yang dihasilkan dari analisis gerombol. Skema ini memiliki struktur hirarki untuk mengakomodasi kebutuhan pengguna, ketersediaan variabel data dan skala spasial dari kebanyakan metode penginderaan jauh.

Kategori geomorfologi diambil dari hasil klasifikasi Holthus dan Maragos (1995), yang didasarkan pada aspek fungsional untuk menghindari kesalahan istilah. Misalnya lereng adalah istilah yang digunakan untuk dasar perairan dengan kemiringan lebih dari 45o. Kategori geomorfologi terdiri dari back reef, reef crest, spur and groove, forereef, escarpment, patch reef dan lagoon floor. Skema klasifikasi habitat digambarkan dengan pendekatan ekologi kuantitatif untuk mendefenisikan kelas bentik. Karang keras dan makro alga diidentifikasi sampai tingkat spesies, sponge diidentifikasi untuk tingkat taksa atau bentuk tutupan (life form) dan gorgonian dicatat pada unit kepadatan.

Skema klasifikasi terumbu karang yang diaplikasikan oleh Andréfouët et al.

(2003) pada sepuluh lokasi terumbu karang juga didasarkan pada komposisi komponen geomorfologi dan bentik. Komponen geomorfologi ditentukan berdasarkan bentuk atau tinggi relief, sebaran dan kepadatan serta kedalaman. Sedangkan komponen bentik ditentukan berdasarkan persentase penutupan dari karang, alga dan lamun.

Klasifikasi non sistematis dari habitat dan dokumentasi yang rancu menghasilkan masalah-masalah dalam beberapa skala pemetaan terumbu karang. Pertama, interpretasi untuk mendefenisikan skema klasifikasi menjadi sulit pada skala peta habitat secara individual. Hal ini sulit berlaku dalam penggunaan skema untuk perencanaan dan pengamatan lapang yang mengadopsi data secara in-situ. Kedua, integrasi beberapa peta-peta habitat secara regional sangat sulit karena tidak ada atau sangat sedikit standarisasi dalam terminologi ini. Dengan demikian, tidak hanya sulit untuk menentukan kapan dua istilah yang sinonim dapat digunakan, tetapi kurangnya data kuantitatif detail juga mengaburkan perbedaan yang ada pada tipe habitat sehingga mengurangi kemungkinan bahwa habitat akan dibedakan dengan benar (Mumby dan Harborne 1999).

Pemahaman tentang pemetaan habitat bervariasi antara satu peneliti dengan peneliti yang lain menjadi sangat penting untuk mendefenisikan secara tepat tentang habitat sebelum melakukan suatu penelitian. Sebagian besar pembuatan peta-peta habitat pada dasarnya di bagi menjadi lima kelompok yaitu: i) ad hoc, mendefenisikan habitat tanpa data pengamatan lapangan; ii) aplikasi secara khusus penelitian yang hanya difokuskan pada beberapa habitat; iii) aspek geomorfologi; iv) aspek ekologi; dan v) kombinasi dengan lebih dari satu informasi seperti geomorfologi dan kelimpahan biotik (Green et al. 2000).

Defenisi habitat untuk membangun skema klasifikasi merupakan tahapan yang penting sebelum melakukan kegiatan pengumpulan data lapangan dan pemilihan platform citra satelit dalam menghasilkan peta-peta tematik ekosistem terumbu karang. Kompleksitas ekosistem terumbu karang yang tinggi merupakan

30

faktor pembatas dalam mendefenisikan habitat meliputi penggunaan yang tidak konsisten dari aspek biologi, jenis substrat dasar dan geomorfologi untuk memisahkan habitat berbeda dan fleksibilitas dari beberapa istilah untuk menggambarkan habitat. Oleh karena ekosistem terumbu karang sebagai salah satu ekosistem dengan karakteristik komponen penyusun yang kompoleks, maka untuk menghindari subjektifitas dalam penentuan kelas dalam tahap klasifikasi menggunakan data penginderaan jauh, diperlukan suatu proses pengembangan skema klasifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan suatu pendekatan secara sistematik klasifikasi ekosistem terumbu karang dalam mendefenisikan skema klasifikasi habitat.

Metode Penelitian

Data Penelitian

Skema klasifikasi dikembangkan menggunakan data habitat bentik terumbu karang pada 200 stasiun pengamatan. Stasiun pengamatan ditentukan menggunakan teknik stratified ramdom sampling dengan membagi area terumbu karang menjadi beberapa kelas kemudian pada setiap kelas dilakukan pengamatan komponen bentik penyusun terumbu karang secara acak. Kelas-kelas pada area terumbu karang dibagi menggunakan teknik klasifikasi tak terbimbing menggunakan citra Orbview- 3. Citra Orbview-3 terlebih dahulu dikoreksi geometrik karena data yang tersedia dengan level 1B atau belum terkoreksi secara geometrik. Koreksi geometrik menggunakan teknik registrasi citra berdasarkan data koordinat citra yang tersedia pada meta data (Lampiran 3) dan hasil koreksi geometrik citra Orbview-3 disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7 RMSE Koreksi geometrik citra Orbview-3

Lembar Citra GCP RMSE X (m) RMSE Y(m) RMSE Total (m)

M001655948 4 3.3 5.6 6.6

M001658218 4 2.7 0.04 2.8

Sebelum menerapkan teknik klasifikasi tak terbimbing, citra Orbview-3 yang telah terkoresi geometrik dengan dua area perekaman dilakukan koreksi atmosferik menggunakan modul DOS dan penggabungan citra (mosaicking) dengan teknik penyesuaian histogram (histogram adjustment). Stasiun pengamatan ditetapkan pada area terumbu karang mengacu pada citra hasil klasifikasi tak terbimbing dengan mempertimbangkan kelompok kelas yang berbeda. Titik-titik stasiun pengamatan yang telah ditetapkan selanjutnya direkam ke GPS untuk menjadi acuan pengamatan data lapangan. Stasiun pengamatan lapangan sebanyak 200 titik disajikan pada Gambar 10.

Data komponen bentik terumbu karang pada seluruh stasiun pengamatan dikumpulkan menggunakan teknik line transek kuadran. Setiap stasiun pengamatan dikumpulkan foto komponen bentik dengan kamera bawah air sebanyak 25 foto menggunakan kuadran 1x1 m.

Gambar 10 Stasiun pengamatan lapangan komponen bentik yang ditumpang susun pada citra Landsat komposisi RGB432

Deskripsi Kelas Habitat

Faktor penting dalam mendeskripsikan skema klasifikasi adalah pendekatan ekologi kuantitatif untuk mendefenisikan kelas habitat. Deskripsi kelas habitat didasarkan pada persen tutupan komponen bentik hasil pengamatan lapangan foto kuadrat 1x1 m. Persentase tutupan komponen bentik dihitung berdasarkan jumlah titik objek komponen penyusun bentik terumbu karang yang ditumpang susun dengan foto kuadrat dengan skema tumpang susun titik uniformgrid menggunakan perangkat lunak CPCe (Kohler dan Gill 2006).

Komponen penyusun bentik terumbu karang yang dianalisis terdiri dari komponen biotik dan abiotik. Kompenen biotik mencakup karang hidup dan biota asosiasi seperti karang lunak, gorgonian, sponge, zoanthid, coralin algae, fauna lain, kemudian vegetasi dasar perairan seperti alga dan lamun. Komponen abiotik terdiri dari susbtrat pasir, pecahan karang dan bongkahan batu (rock) yang berasal dari sisa bangunan karang mati maupun batuan vulkanik (English et al. 1997; Zitello et al. 2009; Phinn et al. 2013). Karang hidup diidentifikasi sampai ketingkat genus, sedangkan biota asosiasi, vegetasi dasar dan komponen abiotik diidentifikasi berdasarkan tipe-tipe bentuk penutupan (lifeform).

Nilai persentase tutupan komponen penyusun bentik hasil analisis dikonversi (export) dari perangkat lunak CPCe ke perangkat pengolahan data (spredsheet) Microsof Excel 2013 untuk diperoleh data tabulasi seluruh stasiun pengamatan dan digunakan dalam pengembangan skema klasifikasi.

32

Pengembangan Skema Klasifikasi

Sebagai tahap awal data persentase penutupan komponen penyusun habitat bentik adalah mengidentifikasi frekwensi kehadiran setiap komponen penyusun. Komponen bentik dengan frekwensi kehadiran yang kurang dari 4% tidak digunakan karena akan mempengaruhi analisis pengelompokan kelas habitat (Green et al. 2000).

Pengelompokan presentase tutupan komponen penyusun terumbu karang menggunakan analisis gerombol (Agglomerative Hierarhical clustering, AHC). AHC adalah metode klasifikasi yang bekerja berdasarkan nilai ketidakmiripan (dissimilarities) antara objek yang akan dikelompokan. Tipe ketidakmiripan dapat disesuaikan dengan subjek yang dipelajari berdasarkan sifat data. Analisis ini menghasilkan dendogram yang menunjukan pengelompokan secara progresif sehingga memungkinkan diperoleh sejumlah kemiripan kelas dimana data dapat dikelompokan (Ripley 1996).

Kemiripan diukur menggunakan jarak kemiripan koefisen Bray-Curtis (Clarke 1993), karena analisis ini mampu mengakomodir sifat-sifat biologis yang diinginkan dan baik untuk pengukuran jarak secara ekologi. Analisis dengan AHC menggunakan pemilihan kelompok data digunakan untuk mengklasifikasi data lapangan karena merupakan salah satu algoritma yang paling populer dan banyak tersedia. Data persen penutupan tidak ditransformasi sehingga fitur dominan memberikan pengaruh besar terhadap klasifikasi karena data penginderaan jauh akan mendiskriminasi habitat berdasarkan fitur bentik dominan dibandingkan spesies atau jenis substrat.

Persamaan koefisien Bray-Curtis dinyatakan sebagai berikut : = ⁡[ −⁡∑�=1|� −⁡� |

∑�=1(� +⁡� )] (17)

dimana Xij adalah kelimpahan komponen bentik ke-i pada sampel ke-j dan p adalah

total komponen bentik.

Jarak Bray-Curtis berkisar 0-1, dalam penelitian ini digunakan nilai ketidakmiripan 0.4 yang berarti bahwa komposisi seluruh komponen bentik terumbu karang akan terkelompok dengan nilai kemiripan sebesar 0.6 atau 60% (Mumby dan Harborne 1999; Phinn et al. 2011)

Dalam pendekatan AHC, klasifikasi dimulai dengan banyak kelas sebagai bagian dari komponen penyusun terumbu karang, dan komponen yang paling mirip secara progresif dikelompokkan bersama ke dalam kelas membentuk diagram hirarkis, kemudian seluruh komponen dikelompokkan ke dalam satu kelas. Diagram hirarkis, yang disebut dendrogram adalah ekspresi dari hasil klasifikasi dapat disesuaikan sehingga pengguna mempunyai kesempatan untuk memilih tingkat pengelompokan, tergantung pada jumlah kelas yang diinginkan (Martelet et al. 2006).

Analisis skema klasifikasi menggunakan AHC diaplikasikan dengan model statistik XLSTAT berdasarkan langka-langkah sebagai berikut:

a) Menentukan variabel observasi, dalam hal ini adalah seluruh komponen penyususn terumbu karang pada semua stasiun pengamatan.

b) Menentukan variabel sampel stasiun pengamatan.

c) Menentukan tipe jarak kemiripan; tipe yang digunakan adalah Bray and Curtis distance,

d) Menentukan metode aglomeratif unweighted pair-group average. e) Menentukan bentuk dendogram dengan pilihan baris.

f) Menentukan level pemotongan nilai ketidakmiripan sebesar 0.4 atau 40%. Penamaan (labeling) kelas habitat mengacu pada kontribusi nilai centroid

setiap kelas yang dibangun. Nilai centroid adalah persentase rata-rata masing- masing komponen bentik pada seluruh sampel kelompok kelas. Tahap dan prosedur analisis skema klasifikasi disajikan pada Gambar 11.

Data Lapangan Identifikasi Komponen Penyusun Terumbu Karang Mengeliminasi Kompoene Penyusun dengan Frekwensi yang kecil Analisis Persentase Tutupan CPCe Mengeliminasi komponen dengan Frekwensi 3-4% Apakah terdapat komponen penyusun dengan nilai kehadiran

rendah? Pengukuran Kemiripan Klasifikasi menggunakan data persen tutupan Koefisien kemiripan Bray-Curtis Metode Pengelompokan Analisis gerombol (AHC) Deskripsi Kelas Habitat Menggunakan nilai centroid setiap komponen bentik Mengeliminasi Kelas habitat dengan jumlah

kelas yang kecil

Mengeliminasi kelas habitat dengan jumlah

kelas 3-4% Apakah terdapat kelas

habitat dengan jumlah sampel rendah?

Skema Klasifikasi Habitat

34

Hasil dan Pembahasan

Karakteristik Ekosistem Terumbu Karang

Ekosistem terumbu karang disusun oleh biomasa dan organisme asosiasinya di lingkungan laut. Sebagai bagian penting dari ekosistem, karang batu (scleractinian coral) secara umum bersimbiosis dengan alga zooxanthella sebagai penyumbang utama sumber nutrient. Komposisi kandungan pigmen zooxanthella ini bersama-sama menentukan karakteristik optik karang yang menjadi sumber informasi penting bagi penginderaan jauh terumbu karang. Selain karang batu, berbagai variasi alga, zoobenthos, plankton dan ikan turut berperan dalam menentukan tingginya keanekaragaman hayati ekosistem terumbu karang (Wang dan Zhao 2000). Komposisi alga yang melekat pada terumbu biasanya menyebar dan bercampur dengan karang batu bersama-sama dengan lamun, pasir serta berbagai jenis substrat lainnya yang membentuk pola distribusi substrat dengan heterogenitas spasial yang tinggi.

Ekosistem terumbu karang di lokasi penelitian disusun oleh 11 komponen bentik yaitu karang hidup beserta organisme asosiasinya, alga, karang mati dengan alga, coralin algae, lamun dan substrat abiotik. Organisme asosiasi karang hidup adalah gorgonian (kipas laut), sponge (porifera) dan karang lunak. Sedangkan substrat abiotik terdiri dari rock, pecahan karang dan pasir (Lampiran 4).

Komponen terumbu karang yang terliput pada setiap kuadran pengamatan disusun oleh kompoisisi bentik yang didominasi oleh satu komponen dominan maupun campuran beberapa komponen bentik (Gambar 12). Komponen bentik yang dominan terliput pada kuadran adalah pasir, lamun dan karang hidup.

Keterangan: a) Dominan lamun; b) Pasir pecahan karang, Rock, Karang hidup dan Fauna lain; c) Pasir, Pecahan karang dan Rock; d) Dominan Pasir; e) Pasir Alga; f) Dominan Pecahan karang; g) Pecahan karang, Rock Karang hidup Fauna lain; h) Karang Hidup Rubble Pasir; i) Karang Hidup Rock; j) Dominan Karang Hidup; k) Alga Lamun; l) Pasir Lamun

Komponen bentik ekosistem terumbu karang pada 200 stasiun pengamatan didominasi oleh substrat pasir dan lamun dengan nilai rata-rata persentase tutupan masing-masing 44.9% dan 27.9%, sedangkan komponen bentik yang lain mempunyai nilai rata-rata persentase tutupan yang rendah berkisar antara 0.01% (coralin algae) sampai 8.6% (pecahan karang). Substrat pasir dan lamun selain mendominasi lokasi penelitian dengan persentase tutupan yang lebih tinggi dari komponen bentik lainnya, juga mempunyai frekwensi kehadiran yang lebih banyak dari total 200 stasiun pengamatan. Substrat pasir dijumpai pada 168 stasiun sedangkan lamun dijumpai pada 74 stasiun dan komponen bentik yang paling kecil frekwensi kehadiran adalah coralin algae yang hanya dijumpai pada 2 stasiun pengamatan (Gambar 13).

Keterangan: KH = Karang hidup; G = Gorgonian/kipas laut; SP = Sponge; Al = Alga; KL = Karang lunak; KMA = Karang Mati dengan Alga; CA= Coraline Alga; L= Lamun; RCK = Rock; PK = Pecahan Karang; P = Pasir

Gambar 13 Persentase tutupan dan frekwensi kehadiran komponen bentik Persentase tutupan komponen bentik juga menunjukan bahwa komposisi penyusun ekosistem terumbu karang terdiri dari satu komponen dominan dengan nilai persentase tutupan 100% sampai sembilan komponen penyusun. Komponen penyusun yang hanya terdiri dari satu komponen dominan adalah pasir dan lamun yang ditemukan pada 81 stasiun pengamatan Gambar 14.

Persentase tutupan karang hidup berkisar antara 1-71.6% dengan nilai rata- rata persentase tutupan 5.3% dengan frekwensi kehadiran sebanyak 53 stasiun pengamatan. Berdasarkan kriteria baku kerusakan terumbu karang (MENLH 2001), maka kondisi terumbu karang berdasarkan persentase tutupan karang hidup di lokasi penelitian dapat dikelompokan menjadi tiga kategori yaitu kondisi buruk, sedang dan baik. Kategori kondisi buruk dijumpai pada 39 stasiun, kondisi sedang 10 stasiun dan kondisi baik hanya dijumpai pada 4 stasiun. Dengan demikian secara keseluruhan terumbu karang di lokasi penelitian berada dalam kondisi terancam karena sebagian besar didominasi oleh kategori kondisi buruk.

5.3 0.8 0.2 6.2 1.2 0.6 0.01 27.9 4.3 8.6 44.9 53 25 19 46 32 38 2 74 56 57 168 0 20 40 60 80 100 120 140 160 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 KH G SP Al KL KMA CA L RCK PK P Fre k w en si P en u tu p an ( %) Komponen bentik

36

Gambar 14 Jumlah komposisi komponen bentik terhadap jumlah stasiun pengamatan

Mengacu pada hasil penelitian Turak dan DeVantier (2008) menunjukan bahwa terdapat kemiripan informasi tentang kondisi terumbu karang di lokasi penelitian dengan status yang mulai terancam keberadaannya. Mereka melaporkan bahwa secara umum penutupan karang hidup berkurang dan penutupan pecahan karang meningkat terutama pada area slope atau pada daerah yang lebih dalam, sedangkan pada area rataan terumbu dengan kedalaman yang lebih dangkal terjadi peningkatan penutupan alga makro (ekspansi alga). Hasil penelitian ini seperti pada Gambar 13 juga menunjukan bahwa rata-rata persentase tutupan pecahan karang dan alga lebih tinggi dari karang hidup dengan nilai persentase tutupan masing- masing 8.6% dan 6.2%.

Faktor lain yang menyebabkan menurunnya kondisi terumbu karang adalah pemangsaan biologi oleh bintang laut berduri (Achantaster planchii) dan siput

Drupella meskipun dalam kadar yang lebih rendah. Aktifitas manusia seperti penggunaan bahan peledak dalam kegiatan penangkapan ikan, penambangan karang dan budidaya rumput laut (intensitas kegiatan dalam 5 tahun terakhir meningkat) juga merupakan penyebab menurunnya kondisi terumbu karang.

Deskripsi Skema Klasifikasi

Skema klasifikasi yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah skema klasifikasi habitat bentik terumbu karang. Deskripsi skema klasifikasi menggunakan data persentase tutupan komponen bentik terumbu karang dengan mengeliminasi komponen bentik yang memiliki frekwensi kehadiran (jumlah stasiun pengamatan) yang kurang dari 3%. Persentase nilai frekwensi kehadiran komponen bentik pada 200 stasiun pengamatan berkisar antara 1.0-84.0% terdiri dari karang hidup (26.5%), gorgonian (12.5%), sponge (9.5%), alga (23.0%), karang lunak (16.0%), coralin algae (1.0%), lamun (37.0%), rock (28.0%), pecahan karang (28.5%) dan pasir (84.0%). Komponen bentik coralin algae dengan persentase kehadiran 1.0% tidak disertakan dalam analisis pengelompokan (cluster analysis) untuk pengembangan skema klasifikasi.

Deskripsi skema klasifikasi selanjutnya diturunkan dari nilai persentase sepuluh komponen bentik berdasarkan nilai ketidakmiripan koefisien Bray-Curtis

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Ju m lah s tasi u n p en g am atan

sebesar 40% menggunakan perhitungan statistik AHC. Nilai ketidakmiripan 40% menunjukan bahwa setiap kelas habitat yang dibagun memiliki kemiripan komponen penyusun bentik minimal 60%. Jumlah kelas habitat yang dihasilkan dari nilai ketidakmiripan Bray-Curtis 40% berdasarkan analisis pengelompokan yang ditunjukan pada dendogram (Gambar 15) adalah sebanyak 10 kelas habitat bentik.

Gambar 15 Dendogram pengelompokan kelas habitat

Jumlah sampel tiap kelas berkisar antara 1 sampai 63. Kelas 5 dan 7 merupakan kelas dengan jumlah sampel terbanyak yaitu 63 dan 62 sampel, sedangkan kelas 4 9 dan 10 mempunyai jumlah sampel yang kurang dari 6 sampel (Tabel 8) .

Tabel 8 Kelas habitat, jumlah sampel dan jarak ke centroid

Kelas 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sampel 10 15 17 2 62 22 63 6 2 1 JB 10 15 17 2 62 22 63 6 2 1 VDK 327.0 625.6 523.3 322.6 18.4 370.0 629.4 167.2 340.3 0.0 JMiC 7.5 10.3 8.9 12.7 1.0 4.2 3.4 6.6 13.0 0.0 RJC 16.3 22.8 20.9 12.7 1.9 16.0 20.6 11.0 13.0 0.0 JMaC 25.0 36.3 37.2 12.7 21.6 37.2 58.8 17.4 13.0 0.0 Keterangan: JB= jumlah bobot; VDK= varian dalam kelas; JMiC= jarak minimum ke centroid; RJC= Rata-rata jarak ke centroid; JMaC= jarak maksimum ke centroid.

Tahap akhir dalam pengambangan skema klasifiaksi adalah penentuan nama (labeling) setiap kelas yang disusun oleh komponen bentik berdasarkan kontribusi nilai centroid. Mekanisme penamaan kelas dalam skema klasifikasi tidak mempunyai ketentuan atau standar yang baku. Penamaan skema klasifikasi analisis pengelompokan berdasarkan nilai kemiripan dari sepuluh komponen bentik yang terdidentifikasi menggunakan nilai centroid (Tabel 9). Tidak ditemukan komposisi nilai centroid pada seluruh kelas skema klasifikasi yang hanya disusun oleh satu komponen bentik sehingga penamaan kelas skema klasifikasi mengacu pada kontribusi nilai centroid dominan.

Kelas 1 dibangun oleh seluruh komponen bentik dengan kontribusi terbesar adalah pasir (48.7%) dan pecahan karang (19.6%). Kelas 2 dibangun oleh 9 komponen bentik dengan kontribusi terbesar adalah pecahan karang (60.4%). Kelas 3 dibangun oleh seluruh komponen bentik dengan kontribusi terbesar adalah karang hidup (39.7%). Kelas 4 dibangun oleh 8 komponen bentik dengan kontribusi

139 11339 881109613675105 149 156 183 182 181 155 154 153 152 145 144 137 133 129 119 117 116 106 104 10180 78 59 31 32 5814899 56 35 57103 158 102 13497 7990157 100 11555 98 89 60109 11274 77140 14661 7068 69 1 330 15976 81 821237291 64 26 63132 195 194 193 192 191 190 189 188 187 186 185 184 180 179 178 177 176 175 174 172 171 170169 168 167 166 165 164 163 162 161 142 135 131 128 127 126 124 122 121 120 118 114 111 10795 94 93 8786 85 48 47 46 45 22 18 21 6513814725 23 50 38 49 28 37 27 62 20 33 52 19 67 34 24 36 29 51 10 54 9217311 14 95 7 815612 143 10841 71 66160 413 19873 40 43 42 44 17196 1998315153125 216 197 200 15084130 141 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1 D is si m il ari ty C1 0 C7 C1 C5 C6 C4 C9 C3 C8 C2 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1 D is si m il ari ty

38

terbesar adalah rock (82.8%). Kelas 5 hanya dibangun oleh 4 komponen bentik dengan kontribusi terbesar adalah pasir (99.2%). Kelas 6 dibangun oleh seluruh komponen bentik dengan kontribusi terbesar adalah pasir (52.7%) dan alga (43.7%). Kelas 7 dibangun oleh 7 komponen bentik dengan kontribusi terbesar adalah lamun (85.8%). Kelas 8 dibangun oleh seluruh komponen bentik dengan kontribusi terbesar adalah pecahan karang (48.9%) dan pasir (29.8%). Kelas 9 dibangun oleh 8 komponen bentik dengan kontribusi terbesar adalah rock (47.8%) dan pasir (25.2%). Kelas 10 hanya dibangun oleh 2 komponen bentik dengan kontribusi masing-masing lamun alga (57.3%) dan lamun (42.7%).

Tabel 9 Kontribusi nilai centroid komponen bentik penyusun skema klasifikasi habitat Class C G SP MA OL DCA L RCK PK P 1 11.080 2.160 0.240 0.000 4.520 0.520 4.840 8.200 19.560 48.760 2 12.661 1.212 0.409 1.796 3.022 1.716 0.000 14.646 60.415 4.125 3 39.671 5.624 0.824 0.094 8.282 3.471 0.000 15.812 16.188 10.035 4 9.400 1.400 0.200 0.000 2.600 1.200 0.000 82.800 2.000 0.400 5 0.000 0.000 0.000 0.634 0.000 0.000 0.048 0.000 0.075 99.242 6 0.061 0.000 0.061 43.652 0.000 0.485 2.582 0.091 0.364 52.706 7 0.032 0.025 0.000 2.283 0.000 0.000 85.819 0.161 0.165 11.515 8 5.500 4.000 1.067 2.667 0.533 2.800 2.733 1.867 48.900 29.800 9 11.600 2.600 0.200 0.000 1.000 0.200 0.000 47.800 11.400 25.200 10 0.000 0.000 0.000 57.333 0.000 0.000 42.667 0.000 0.000 0.000 Oleh karena tidak ada standarisasi dalam penamaan kelas secara baku dalam pengembangan skema klasifikasi, maka penamaan kelas dalam penelitian ini disesuaikan dengan komposisi bentik penyusun yang teramati di lapangan. Penamaan kesepuluh kelas habitat dari pengembangan skema klasifikasi berdasarkan kontribusi nilai centroid dominan sebanyak sepuluh kelas terdiri dari: Pasir Pecahan karang (PPK), Pecahan karang (PK), Karang hidup (KH), Rock

(RCK), Pasir (P), Pasir Alga (PAL), Lamun (L), Pecahan karang Pasir (PKP), Rock

Pasir (RCKP) dan Alga Lamun (AL) sebagaimana yang disajikan pada Gambar 16. Tidak ada ketentuan dalam menggunakan nilai kemiripan untuk mendefenisikan skema klasifikasi berdasarkan analisis pengelompokan karena disebabkan oleh kondisi dan variasi lokasi pengamatan yang berbeda-beda serta disesuaikan dengan platform citra satelit yang digunakan (Green et al. 2000). Mumby dan Harborne (1999) menggunakan nilai kemiripan sebesar 64% untuk mendefenisikan skema klasifikasi habitat terumbu karang secara hirarki berdasarkan persentase tutupan koloni karang yang dikombinasikan dengan

Dokumen terkait