• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN RETRIBUSI ANGKUTAN UMUM DAN BADAN INSTANSI SEBAGAI PIHAK PENGELOLA RETRIBUS

E. Pengertian Angkutan Umum dan Jenis – Jenisnya

1. Pengertian Angkutan Umum

Sejalan dengan peningkatan pendapatan masyarakat, banyak orang yang mampu membeli kendaraan pribadi. Banyak alasan untuk memiliki kendaraan pribadi, antara lain karena masalah privasi dan kenyamanan. Namun dibalik kebaikannya, kepemilikan kendaraan pribadi terlalu banyak juga menimbulkan banyak masalah.

Banyaknya kendaraan pribadi berarti kemacetan yang semakin banyak di jalan. Hal ini dikarenakan jumlah peningkatan kendaraan pribadi tidak sebanding dengan peningkatan kapasitas jalan. Semakin banyak masyarakat yang menggunakan kendaraan umum, semakin efektif pula penggunaan jalan raya. Dengan kata lain, angkutan umum merupakan salah satu pemecahan masalah yang dihadapi hampir semua kota besar di dunia.

Angkutan umum merupakan sarana angkutan untuk masyarakat kecil dan menengah supaya dapat melaksanakan kegiatannya sesuai dengan tugas dan fungsinya dalam masyarakat. Pengguna angkutan umum ini bervariasi, mulai dari buruh, ibu rumah tangga, mahasiswa, pelajar, dan lain-lain..

Angkutan umum, khususnya angkutan orang yang diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 68 Tahun 1993 yang telah diperbaharui menjadi Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 84 Tahun 1999 tentang

Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan Dengan Kendaraan Umum dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan, secara struktural dipisahkan dalam tiga kepentingan yaitu kepentingan pengguna jasa ( masyarakat ), penyedia jasa ( operator angkutan ) dan pemerintah ( regulator ). Namun definisi yang ditetapkan dalam ketentuan hukumnya memperlihatkan keberpihakan kepada operator dengan profit-oriented-nya yaitu : “angkutan yang dipergunakan oleh umum

dengan dipungut bayaran”.49

Pengertian angkutan dalam Keputusan Menteri Perhubungan No. KM.35 tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan dengan Kendaraan Umum adalah angkutan dari pemindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan.50

Sedangkan didalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1993 menyebutkan bahwa, definisi dari angkutan umum adalah pemindahan orang dan/atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan untuk umum dengan dipungut bayaran.51

Keputusan Menteri Perhubungan No. KM.35 tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan dengan Kendaraan Umum definisinya adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran baik langsung maupun tidak langsung.52

Pengertian umum disini adalah penumpang atau orang secara umum tidak membedakan strata sosial, umur, jenis kelamin, dan lain sebagainya. Siapa pun

boleh menaiki angkutan umum asal mampu membayar ongkos sesuai dengan rute yang dituju begitu juga dengan angkutan barang siapa pun boleh melakukan pengangkutan barang dengan kenderaan umum ketempat yang dituju asalkan mampu untuk membayar ongkos.

Vuchic ( 1981 ) menyatakan bahwa angkutan kota adalah sarana transportasi penumpang perkotaaan yang biasanya dijalankan di jalan raya pada kondisi lalu lintas campuran ( mixxed trafict ) yang disediakan oleh swasta atau operator

umum dan berada dalam kelompok dan rute tertentu.

Warpani ( 1990), menyatakan bahwa angkutan umum penumpang adalah angkutan penumpang yang dilakukan dengan sistem sewa atau membayar. Juga dikatakan bahwa yang termasuk dalam pengertian angkutan umum penumpang adalah angkutan kota ( bus, minibus, dsb), kereta api, angkutan air, dan angkutan udara.53

Keberadaan angkutan umum bertujuan untuk menyelenggarakan angkutan yang baik dan layak bagi masyarakat. Ukuran pelayanan yang baik adalah pelayanan yang aman, nyaman, cepat dan murah.54

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Angkutan umum adalah kendaraan umum untuk mengangkut barang atau orang dari satu tempat ke tempat lain, yang disediakan oleh pribadi, swasta atau pemerintah, yang dapat digunakan oleh siapa saja dengan cara membayar atau sewa dan ternimologi angkutan umum tidak hanya mengangkut manusia saja melainkan juga untuk mengangkut barang.

Manfaat pengangkutan dapat dilihat dan berbagai kehidupan masyarakat yang dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu manfaat ekonomi, soaial dan politik.

Dari sudut pandang pemakaian terdapat 2 (dua) sistem pemakai angkutan umum berdasarkan Peraturan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat tahun 1994, yaitu sebagai berikut:

a. Sistem sewa, yaitu kendaraan yang bisa dioperasikan baik oleh operator maupun oleh penyewa. Dalam hal ini tidak ada rute dan jadwal tertentu yang hams diikuti oleh pemakal. Sistem ini sering disebut sebagal demand

responsive system, karena penggunaannya yang tergantung pada adanya

permintaan. Contoh jenis ini adalah angkutan jenis taksi.

b. Sistem penggunaan bersama, yaitu kendaraan dioperasikan oleh operator dengan rute dan jadwal yang tetap. Sistem ini dikenal dengan transit

system.Terdapat dua jenis transit, yaitu sebagai berikut:

1) Para transit, yaitu tidak ada jadwal yang pasti dan kendaraan dapat berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di sepanjang rutenya. Contohnya adalah angkutan kota atau angkutan pedesaan; dan 2) Mass transit, yaitu jadwal dan tempat hentinya Iebih pasti dan teratur.

Contohnya adalah kereta api.55

Untuk memfasilitasi kepentingan masyarakat angkutan umum juga merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah. Hal ini dapat dilihat dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan ,Pasal 138 disebutkan :

(1) Angkutan umum diselenggarakan dalam upaya memenuhi kebutuhan angkutan yang selamat, aman, nyaman, dan terjangkau.

(2) Pemerintah bertanggung jawab atas penyelenggaraan angkutan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(3) Angkutan umum orang dan/atau barang hanya dilakukan dengan Kendaraan Bermotor Umum.56

Selanjutnya dalam Pasal 139 disebutkan :

(1) Pemerintah wajib menjamin tersedianya angkutan umum untuk jasa angkutan orang dan/atau barang antarkota antar provinsi serta lintas batas negara.

(2) Pemerintah Daerah provinsi wajib menjamin tersedianya angkutan umum untuk jasa angkutan orang dan/atau barang antar kota dalam provinsi.

(3) Pemerintah Daerah kabupaten / kota wajib menjamin tersedianya angkutan umum untuk jasa angkutan orang dan/atau barang dalam wilayah kabupaten / kota.

(4) Penyediaan jasa angkutan umum dilaksanakan oleh badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, dan/atau badan hukum lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.57

Dari kedua pasal tersebut sangat jelas tampak bahwa pemerintah wajib menyelenggarakan suatu angkutan umum yang aman, nyaman, dan terjangkau kemudian pemerintah juga berkewajiban menjamin adanya suatu angkutan antar kota dalam provinsi dan angkutan orang atau pun barang dalam wilayah kabupaten kota. Selain itu dari pada itu dalam Undang – Undang tersebut juga mengklarifikasikan jenis – jenis angkutan umum antara lain:

Dalam pasal 140 Undang – undang lalu lintas dan angkutan jalan disebutkan Pelayanan angkutan orang dengan Kendaraan Bermotor Umum terdiri atas: a. angkutan orang dengan Kendaraan Bermotor Umum dalam trayek; dan b. angkutan orang dengan Kendaraan Bermotor Umum tidak dalam trayek.

Kemudian untuk angkutan orang dengan kenderaan bermotor umum dalam trayek diuraikan dalam beberapa jenis yaitu:

a. angkutan lintas batas negara; b. angkutan antarkota antarprovinsi; c. angkutan antarkota dalam provinsi; d. angkutan perkotaan; atau

e. angkutan perdesaan.58

Dalam upaya penyelengaraan fasilitas angkutan umum yang baik yang merupakan bagian dari pada tanggung jawab pemerintah salah satu hal yang terpenting adalah pengadaan terminal untuk angkutan umum.

Secara umum terminal merupakan suatu titik simpul dan berbagai moda angkutan, sebagai titik perpindahan penumpang dan berbagai moda ke suatu moda, juga merupakan suatu titik tujuan atau titik akhir orang setelah turun melanjutkan berjalan kaki ke tempat bekerja. rumah atau pasar. Dengan kata lain terminal merupakan suatu titik henti perjalanan. Dengan demikian terminal angkutan umum selalu diperlukan pada setiap kota baik untuk kota besar maupun kecil.

2. Fungsi Terminal

Berdasarkan studi Direktorat Jenderal Perhubungan Darat tahun 1994 fungsi terminal transportasi jalan raya dapat ditinjau dan 4 (empat) unsur :

a. Titik konsentrasi penumpang dan segala arah yang berkumpul atau menuju ke sana, karena tujuan perjalanan di sekitar terminal atau yang akan berganti kendaraan;

b. Titik dispersi, yaitu tempat penyebaran penumpang ke segala arah tujüan kota atau luar kota, atau ke beberapa tujuan khusus seperti bandara, stasiun KA dsb;

c. Titik tempat penumpang berganti moda angkutan;

d. Pusat pelayanan penumpang untuk naik dan turun kendaraan, menunggu, membeli karcis dan beberapa keperluan yang bersangkutan dengan perjalanan; dan tempat untuk memproses kendaraan dan muatan.59

3. Jenis Terminal

Berdasarkan jenis materi yang diangkut, terminal dibedakan menjadi dua ( Keputusan Mentri Perhubungan Nomor 31 tahun 1995, pasal 1), yaitu sebagai berikut:

a. Terminal Penumpang

Adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan menurunkan dan menaikkan penumpang, perpindahan intra dan / atau antar moda transportasi serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan angkutan umum.

b. Terminal barang

Adalah prasarana transportasi bagi keperluan perpindahan barang dan pengiriman barang.60

4. Tipe Terminal

Berdasarkan Keputusan Mentri Perhubangan Nomor 31 tahun 1995 pasal 2, tentang tipe dan fungsi terminal, mengklasifikasi terminal penumpang menjadi 3 (tiga) tipe, yaitu sebagai berikut:

a. Tipe A, berfungsi untuk melayani kendaraan untuk angkutan antar kota dan antar propinsi (AKAP) dan/atau angkutan lintas batas negara, angkutan kota dalam propinsi (AKDP), angkutan dalam kota (ADK) dan angkutan pedesaan (ADES);

b. Tipe B, berfungsi melayani angkutan dalam kota dalam propinsi (AKDP), angkutan dalam kota (ADK) dan angkutan pedesaan (ADES); dan

c. Tipe C, berfungsi melayani angkutan dalam kota (ADK) dan angkutan pedesaan (ADES).61

Suatu wujud dari pada tanggung jawab pemerintah untuk memfasilitasi kepentingan khusus terhadap pengguna angkutan umum Pemerintah Daerah kota Padangsidimpuan membangun 3 terminal yang merupak titik kumpul dan persinggahan bagi angkutan umum yaitu:

a. Terminal Batunadua b. Terminal Pijorkoling

c. Terminal Hutaimbaru Pal IV Maria

Ketiga terminal tersebut bertujuan untuk tempat persinggahan bagi angkutan umum untuk menaikkan dan menurunkan para penumpangnya, selain itu pengelolaan terminal juga dapat berpotensi untuk peningkatan PAD di kota Padangsidimpuan melalui retribusi terminal.

Syarifuddin mengemukakan bahwa retribusi terminal adalah retribusi jasa usaha yang dipungut oleh Pemerintah daerah kepada orang / barang dengan kendaraan umum.62

Dalam Perda kota Padangsidimpuan Nomor 05 tahun 2010 tentang Retribusi Jasa Usaha disebutkan pengertian retribusi terminal yaitu Dengan nama retribusi terminal dipungut retribusi atas pelayanan penyediaan tempat parkir untuk kendaraan penumpang dan bis umum, tempat kegiatan usaha, dan fasilitas lainnya di lingkungan terminal yang disediakan, dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah.63

Sedangkan yang merupakan Objek Retribusi Terminal adalah pelayanan penyediaan tempat parkir untuk kendaraan penumpang dan bis umum, tempat kegiatan usaha, dan fasilitas lainnya di lingkungan terminal yang disediakan, dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah.

Sedangkan yang dimaksud dengan jasa diuraikan didalam pasal 11 Perda Nomor 05 Tentang Retribusi Jasa Usaha sebagaimana sebagai berikut :

(1) Jasa Pelayanan dan penggunaan fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah :

a. tempat parkir/masuk untuk kendaraan penumpang lain dan Bis Umum; b. sewa Lahan Kios/Ruko/Loket;

c. fasilitas Lainnya.

(2) Dikecualikan dari objek Retribusi Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah terminal yang disediakan, dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah, BUMN, BUMD dan Pihak Swasta.64

Berdasarkan ketentuan dari Perda tersebut pemerintah kota Padangsidimpuan menyediakan terminal berupa tempat parkir ntuk kenderaan umum, bangunan berbentuk loket, serta fasilitas lain yang dapat digunakan untuk kepentingan para peumpang dan kenderaan – kenderaan umum, kumudian pemerintah juga memungut biaya berupa retribusi sebagai balas jasa yang di terima oleh masyarakat umum dan kemudian dijadikan sebagai masukan pendapatan pada kas Pemerintah Daerah. Untuk mencapai suatu masukan yang maximal dari retribusi terminal untuk PAD kota Padangsidimpuan tentu perlu adanya tarif yang dikenakan bagi subjek retribusi. Besarnya tarif retribusi untuk jenis jasa pelayanan di dalam terminal ditetapkan sebagai berikut:

Tabel 3.1 : Tarif Retribusi Terminal Untuk Angkutan Umum di Kota Padangsidimpuan Berdasarkan Perda Nomor 05 Tahun 2010 Tentang Retribusi Jasa Usaha.

a. Tempat parkir/masuk untuk Kendaraan Penumpang Umum dan Bis Umum : 1. Bus AKAP kelas Executive Rp. 2.000,-/lewat 2. Bus AKAP kelas Ekonomi Rp. 1.500,-/lewat 3. Bus Antar Kota Dalam Provinsi Rp. 1.500,-/lewat 4. Bus Kota Rp. 1.000,-/lewat 5. Bus Menginap Rp. 2.000,-/lewat 6. Non Bus Antar Kota Rp. 1.000,-/lewat 7. Non Bus Dalam Kota Rp. 1.000,-/lewat

8. Mopen Rp. 1.000,-/lewat

b. Sewa Lahan Kios/Ruko/Loket :

1. Sewa Lahan Kios Rp. 2.000,- /hari 2. Sewa Lahan Ruko Rp. 4.000,- /hari 3. Sewa Loket/Ruangan Rp. 2.000,- /hari c. Fasilitas lainya :

1. Jasa pelayanan Kamar Kecil Rp. 1.000,-/sekali masuk 2. Jasa pelayanan Kamar Besar Rp. 1.500,-/sekali masuk

Sumber. Perda Kota Padangsidimpuan No 05 tahun 2010 tentang retribusi jasa usaha

Dengan adanya tarif yang telah ditentukan tersebut sehingga ada suatu kepastian bagi para subjek retribusi untuk membayar seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk menggunakan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah daerah tersebut. Pengguanaan tarif retribusi itu akan digunakan sebagai biaya pemeliharaan fasilitas yang terdapat dalam terminal dan selebihnya akan dimasukkan kedalam kas pemerintah daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah. Secara tidak langsung seseorang yang membayar retribusi terminal tersebut telah turut serta dalam pembangunan kota Padangsidimpuan.