• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab V merupakan kesimpulan dan saran dari hasil penelitian ini yang terdir

PELAKSANAAN PEMENUHAN KLAIM GANTI RUGI PADA ASURANSI PENYIMPANAN UANG TUNAI YANG ADA DI BANK

A. Tinjauan Umum Mengenai Asuransi 1 Sejarah Asurans

2. Pengertian Asurans

Banyak defenisi yang telah diberikan kepada istilah asuransi, dimana secara sepintas tidak ada kesamaan antara defenisi yang satu dengan yang lainnya. Hal ini bisa dimaklumi, karena dalam mendefenisikannya disesuaikan dengan sudut pandang yang mereka gunakan dalam memandang asuransi. Pembuat Undang-Undang menyebutkan bahwa asuransi termasuk dalam perjanjian untung-untungan (kans-

overeenkomst).

Pengertian perjanjian asuransi terdapat pada Pasal 246 KUHD (Kitab Undang- Undang Hukum Dagang) yang berbunyi :

Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian, dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena

suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tidak tentu.111

Ketentuan dalam Pasal 246 KUH Dagang tentang defenisi asuransi, ternyata unsur-unsur dalam defenisi tersebut hanya untuk satu jenis asuransi saja, yaitu asuransi kerugian, sedangkan asuransi jiwa belum tercakup dalam defenisi tersebut. Maka dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992, telah menyempurnakan pengertian asuransi, dalam Pasal 1 ayat (1) berbunyi :

Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seorang yang dipertanggungkan.

Berdasarkan defenisi tersebut di atas dapat diuraikan unsur-unsur asuransi sebagai berikut :

a. Unsur Subjek

Subjek pertanggungan adalah pihak-pihak yaitu penanggung dan tertanggung yang mengadakan perjanjian secara timbal balik.

b. Unsur Status

Pihak penanggung dan tertanggung adalah pendukung kewajiban dan hak dapat berstatus sebagai manusia pribadi, sekelompok manusia pribadi dan badan hukum.

      

111 R. Subekti, dkk, Kitab UndangUndang Hukum Dagang dan UndangUndang Kepailitan,  PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 1987, hal. 74. 

c. Unsur Objek

Objek pertanggungan dapat berupa benda, kepentingan yang melekat pada benda, sejumlah uang. Tujuan yang hendak dicapai oleh tertanggung ialah peralihan resiko dari tertanggung kepada penanggung. Pertanggungan terjadi karena tertanggung tidak mampu menghadapi bahaya yang mengancam benda miliknya (kepentingannya).

d. Unsur Peristiwa

Peristiwa pertanggungan merupakan persetujuan atau kata sepakat antara penanggung dan tertanggung mengenai objek pertanggungan dan syarat- syarat yang berlaku dalam pertanggungan. Tidak ada pemberitahuan menurut Pasal 251 KUH Dagang dianggap tidak ada kata sepakat, sehingga dianggap tidak ada pertanggungan. Dalam persetujuan atau kata sepakat itu termasuk juga evenemen (peristiwa tak tentu). Jika evenemen benar-benar, sehingga timbul kerugian, maka penanggung berkewajiban membayar ganti rugi kepada tertanggung. Bila sebaliknya evenemen tidak terjadi, penanggung tetap menikmati premi yang diterima dari tertanggung.

Evenemen adalah peristiwa terhadap mana benda itu dipertanggungkan.

e. Unsur Hubungan Hukum

Hubungan hukum antara penanggung dan tertanggung adalah hubungan kewajiban dan hak, yaitu keterikatan (legally bound) penanggung dan tertanggung memenuhi kewajiban dan memperoleh hak. Kewajiban pokok penanggung ialah memikul beban resiko dan jika terjadi evenemen yang menimbulkan kerugian, dia wajib membayar ganti kerugian kepada tertanggung.112

Menurut Djoko Prakoso, yang mengutip pendapat dari Emmy Pangaribuan Simanjuntak, sifat-sifat asuransi adalah sebagai berikut :

a. Bahwa asuransi itu pada dasarnya adalah suatu perjanjian kerugian karena pihak tertanggung menderita kerugian dan yang diganti itu adalah seimbang dengan kerugian yang sungguh-sungguh diderita.

b. Bahwa asuransi itu adalah perjanjian bersyarat artinya bahwa kewajiban mengganti kerugian dari penanggung hanya dilaksanakan kalau peristiwa yang tertentu atas mana diadakan asuransi itu terjadi, jadi pelaksanaan kewajiban mengganti kerugian digantungkan pada satu syarat.

      

112  Abdulkadir Muhammad,  Pengantar  Hukum  Pertanggungan,  PT.  Citra  Aditya  Bakti,  Bandung, 1994, hal. 7 – 9. 

c. Asuransi adalah suatu perjanjian timbal balik artinya bahwa kewajiban penanggung mengganti rugi dihadapkan dengan kewajiban tertanggung membayar premi walaupun dengan pengertian bahwa kewajiban membayar premi itu tidak bersyarat atau tidak digantungkan pada satu syarat.113

Defenisi yang lebih luas dari pada defenisi dalam Pasal 246 KUH Dagang adalah defenisi asuransi dalam Pasal 41 New York Insurance Law. Menurut ketentuan Pasal 41 New York Insurance Law :

The Insurance contract is any agreement or other transaction whereby one party herein called the insurer, is obligated to confer benefit of pecuniary value upon another party herein called the insured or beneficiary, dependent up on the happening of a fortuitous event in the which the insured or beneficiary has, or is expected to have at the time of such happening, a material interest which will be adversaly effected by the happening of such event. A fortuitous event is any occurance or failure to occur which is, or is assumed by the parties to be, to a substantial extend beyond the control of either party.114

Dalam defenisi di atas dijumpai rumusan “to confer benefit of pecuniary

value”, tidak menggunakan rumusan “to confer indemnity of pecuniary value”.

Pengertian benefit tidak hanya mencakup ganti rugi terhadap harta kekayaan, melainkan juga meliputi pengertian “yang ada manfaatnya” bagi tertanggung. Jadi termasuk juga pembayaran sejumlah uang pada pertanggungan jiwa.

Istilah asuransi dan pertanggungan berasal dari bahasa Belanda yaitu

Assurantie atau verzekering dan dalam bahasa Inggris yaitu Insurance. “Terhadap       

113 

Djoko Prakoso, dkk, Hukum Asuransi Indonesia, Bina Aksara, Jakarta, 1997, hal. 24‐26.  114 Abdul Kadir Muhammad, Hukum Asuransi Indonesia, Cetakan Ke IV, PT. Citra Aditya Bakti,  Bandung, 2006, hal. 10. 

pihak penanggung disebut sebagai Verzekeraar, yaitu orang yang menerima resiko dan terterhadap tertanggung disebut dengan Verzekerde yaitu orang yang mengalihkan resiko yang ada padanya”.115

Secara garis besarnya berdasarkan pembagian lama dari para ahli hukum asuransi, maka ada 2 (dua) jenis asuransi, yaitu :

a. Asuransi Kerugian (Schade Verzekering)

Yaitu prestasi dalam bentuk pengganti kerugian sepanjang ada kerugian. b. Asuransi Sejumlah Uang (Sommen Verzekering)

Yaitu pertanggungan atas hidup atau jiwa kesehatan seseorang, yang pada pokoknya mengenai pribadi seseorang yang sama juga halnya dengan asuransi sejumlah uang.116

Dalam Pasal 247 KUH Dagang, disebutkan ada 5 (lima) jenis asuransi, yaitu: a. Asuransi kebakaran

b. Asuransi yang mengancam hasil-hasil pertanian di sawah c. Asuransi jiwa

d. Asuransi dilautan dan perbudakan

e. Asuransi pengangkutan darat dan di sungai-sungai serta di perairan- perairan pedalaman.

Berdasarkan pembagian di atas, bahwa pembagian tersebut sudah tidak sesuai dengan kondisi sekarang karena adanya kemungkinan timbulnya jenis asuransi lain. Perbedaan pokok antara perjanjian asuransi dengan perjanjian yang lain ialah pada pemenuhan prestasi. Prestasi para pihak pada perjanjian pada umumnya, dapat saling dipenuhi secara seketika dan serentak, jadi pihak kreditur dan pihak debitur secara bersama-sama dalam waktu yang bersamaan dapat saling memenuhi prestasi masing-

      

115 Ibid, hal. 7.  116 Ibid

masing. Dengan demikian segera dapat diketahui siapa yang sudah melakukan prestasinya dan siapa yang belum, sehingga dapat pula diketahui posisi para pihak.