• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERLINDUNGAN KONSUMEN

A. Pengertian dan Istilah dalam Perlindungan Konsumen

Pembangunan dan perkembangan perekonomian umumnya dan khususnya di bidang perindustrian dan perdagangan nasional telah menghasilkan berbagai jenis barang dan/atau jasa yang dapat dikonsumsi. Di samping itu, globalisasi dan perdagangan bebas yang didukung oleh kemajuan tekhnologi telekomunikasi dan informatika telah memperluas ruang gerak arus transaksi barang dan/atau jasa melintasi batas-batas wilayah suatu negara, sehingga barang dan/atau jasa yang ditawarkan menjadi lebih bervariasi baik produksi luar negeri maupun produksi dalam negeri.

Kondisi seperti ini pada satu sisi mempunyai manfaat bagi konsumen karena kebutuhan konsumen akan barang dan/atau jasa yang diinginkan dapat terpenuhi serta semakin terbuka lebar kebebasan untuk memilih aneka jenis dan kualitas barang dan/atau jasa sesuai dengan keinginan dan kemampuan konsumen. Namun, disisi lain dapat pula menyebabkan kedudukan pelaku usaha dan konsumen menjadi tidak seimbang, dimana sering kali kosumen berada pada

posisi yang lemah.22

Hal inilah yang melatarbelakangi dibentuknya Hukum Perlindungan Konsumen sebagai salah satu upaya pemerintah untuk menyeimbangkan kedudukan antara pelaku usaha dan konsumen. Perlindungan konsumen adalah

perangkat

22

Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Hukum Tentang Perlindungan Konsumen, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003, Hal. 12

hak dapat menuntut hak-haknya sesuai apa yang diperjanjikan.

Didalam Hukum Perlindungan Konsumen terdapat beberapa istilah-istilah yang memiliki makna yang berbeda-beda dan menyebabkan akibat hukum yang berbeda pula. Untuk itu perlu dibahas mengenai beberapa istilah yang sering digunakan di dalam perlindungan konsumen tersebut.

1. Konsumen

Di dalam kegiatan sehari-hari kita tidak terlepas dari kegiatan-kegiatan yang memposisikan kita sebagai konsumen. Konsumen merupakan salah satu pihak dalam hubungan dan transaksi ekonomi yang hak-haknya sering diabaikan. Di dalam ilmu ekonomi ada dua jenis konsumen, yakni konsumen antara dan konsumen akhir. Konsumen antara adalah distributor, agen dan pengecer. Mereka membeli barang bukan untuk dipakai, melainkan untuk diperdagangkan

Sedangkan pengguna barang adalah konsumen akhir.23

23

Gunadiemaha, Pengertian Produsen dan Konsumen dalam Tinjauan TOU,

Kata “konsumen” pun sering kali di sebutkan di dalam percakapan sehari-hari. Sehingga perlu diberikan batasan pengertian yang jelas agar mempermudah kita dalam membahas tentang perlindungan konsumen.

Di dalam Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) yaitu UU Nomor 8 Tahun 1999 disebutkan bahwa :

“Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.” Pengertian konsumen yang dituliskan didalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen tersebut dapat kita simpulkan bahwa konsumen yang dimaksud adalah konsumen akhir. Karena konsumen akhir memperoleh barang dan/atau jasa bukan untuk dijual kembali, melainkan untuk digunakan, baik bagi kepentingan dirinya sendiri, keluarga, orang lain dan makhluk hidup lain dimana ia merasakan secara langsung dampak yang ditimbulkan oleh barang dan/ atau

jasa yang dikonsumsinya.24

Selain pengertian diatas, dikemukakan pula pengertian konsumen, yang khusus berkaitan dengan masalah ganti kerugian. Di Amerika Serikat, pengertian konsumen meliputi “korban produk yang cacat” yang bukan hanya meliputi pembeli, melainkan juga korban yang bukan pembeli, namun pemakai, bahkan korban yang bukan pemakai memperoleh perlindungan yang sama dengan

Dapat dilihat bahwa di dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen ini tidak hanya manusia dan badan hukum yang dilindungi namun juga makhluk hidup lain yang bukan manusia seperti hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Pengertian mengenai konsumen di dalam UUPK tersebut memberikan perlindungan yang seluas-luasnya kepada konsumen, sehingga diharapkan dapat menanggulangi seluruh permasalahan yang merugikan konsumen dalam mengonsumsi barang dan/ atau jasa.

pemakai. Sedangkan di Eropa, hanya dikemukakan pengertian konsumen

berdasarkan Product Liability Directive ( Direktif Kewajiban Produk ) selanjutnya

disebut directive, sebagai pedoman bagi negara Masyarakat Ekonomi Eropa

(MEE) dalam menyusun ketentuan mengenai Hukum Perlindungan Konsumen.

Berdasarkan directive tersebut yang berhak menuntut ganti kerugian adalah pihak

yang menderita kerugian (karena kematian atau cedera) atau kerugian berupa

kerusakan benda selain produk yang cacat itu sendiri.25

2. Pelaku Usaha/ Produsen

Produksi merupakan salah satu kegiatan yang berhubungan erat dengan kegiatan ekonomi. Melalui proses produksi bisa dihasilkan berbagai macam barang yang dibutuhkan oleh manusia. Tingkat produksi juga dijadikan sebagai patokan penilaian atas tingkat kesejahteraan suatu negara. Jadi tidak heran bila setiap negara berlomba - lomba meningkatkan hasil produksi secara global untuk meningkatkan pendapatan perkapitanya. Orang yang menjalankan proses produksi

inilah yang disebut sebagai produsen.26

25

Nurhayati Abbas, “Hukum Perlindungan Konsumen dan Beberapa Aspeknya”,

Makalah, Elips Project, Ujungpandang, 1996, Hal. 13

Kata produsen tidak digunakan didalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen sebagai lawan dari kata konsumen, melainkan menggunakan kata pelaku usaha.

Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Perlindungan Konsumen menyebutkan bahwa:

26

Febri Jikrillah, Pengertian dan Defenisi Produksi,

2013

“Pelaku usaha dalam setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui penyelenggaraan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.”

Pengertian pelaku usaha yang dituangkan didalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen merupakan pengertian yang sangat luas meliputi grosir, pengecer, dan sebagainya. Namun, dalam pengertian pelaku usaha tersebut , tidak mencakup eksportir ataupun pelaku usaha luar negeri, karena UUPK membatasi orang perserorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan

kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia.27

Dokumen terkait