BAB IV :Pembahasan didominasi dengan peranan dan kapasitas IMF selaku organisasi keuangan internasional, dimana salah satu
HUKUM INTERNASIONAL YANG BERLAKU
A. Pengertian dan jenis subjek hukum internasional
Subjek hukum atau subject van een recht dalam kajian ilmu hukum diartikan sebagai sesuatu yang menurut hukum berhak/berwenang untuk melakukan perbuatan hukum atau siapa saja yang mempunyai hak dan cakap bertindak dalam hukum, atau sesuatu pendukung hak yang menurut hukum berwenang/berkuasa bertindak menjadi pendukung hak (rechtsbevoegheid) dan kewajiban.55
Adanya kemampuan sebagai pemilik hak dan pemikul kewajiban tersebut menempatkan subjek hukum dapat melakukan hubungan hukum dengan subjek hukum lainnya. Secara umum, yang dapat dikatakan sebagai subjek hukum ialah:
a. Individu atau perorangan (Natuurlijk persoon) b. Badan hukum (Recht persoon/ Legal person)56
Sebagai subjek hukum, individu atau perorangan memiliki derajat yang sama dihadapan hukum tanpa memandang asal usulnya, agama atau kepercayaan, ras atau etnis, maupun jenis kelamin. Padanya juga melekat hak-hak asasi manusia yang dewasa ini, khususnya pada negara hukum modern, sangat diatur,
55
R Soeroso, “Pengantar Ilmu Hukum”, (Jakarta: Sinar Grafika,2005), hlm.227
56 C.S.T Kansil, “Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia”, (Jakarta: Balai
dilindungi serta dijunjung tinggi. Badan hukum merupakan suatu konstruksi yuridis yang dapat menunjukkan eksistensinya dalam berbagai bidang kegiatan.57
Pendapat tersebut secara sederhana dapat dibawakan pada taraf internasional bahwa yang disebut subjek hukum internasional ialah setiap pemegang segala hak dan kewajiban menurut ketentuan hukum internasional. Tidak dapat dipungkiri jika negara mengambil tempat sebagai pribadi utama, mengingat pada awal mula kelahiran hukum internasional, hanya negaralah satu- satunya entitas yang dipandang sebagai subjek hukum internasional.
Pendefinisian hukum internasional (international law) sendiri diberikan karena hukum ini mengatur hubungan antara bangsa dengan bangsa atau dapat dikategorikan sebagai negara pada masa itu (inter: antara, nation: bangsa dan law:
hukum).58 Dahulu, banyak bermunculan negara merdeka seperti perkembangan di negara Kota Yunani, begitu juga pasca reruntuhan kekuasaan Romawi. Negara- negara tersebut menaati adat-istiadat yang muncul diantara mereka59
Sudah menjadi kodratnya ketika lebih dari satu individu hidup sebagai masyarakat maka dibutuhkan ketentuan untuk mengatur segala yang mereka lakukan. Dalam hal ini negara memiliki kesederajatan makna dengan masyarakat internasional yang membutuhkan regulasi. Seperti yang diungkapkan Brierly: “Law exists only in a society and society can not exists without a system of law to regulate the relations of its members with one another.”
.
60
57
Ibid.
58
J.L Brierly, “The Law of Nations”,(5th Edition,1955), hlm.1
59
J.G Starke, “Pengantar Hukum Internasional”, Edisi Kesepuluh, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm. 10
60
Kedua, pada perkembangannya negara diperhitungkan sebagai aktor hukum yang memberi sumbangsih besar bagi hukum internasional. Dalam berbagai hubungan internasional, perjanjian internasional maupun keputusan- keputusan dan resolusi internasional, pendapat negara selalu dipertimbangkan dalam hubungan internasional.61
Dalam praktik yuridis, negara juga menjadi pihak yang dibebankan kewajiban dengan klausula “Duty on State” seperti pada sejumlah perjanjian maupun konvensi internasional berikut: United Convention on the Law of the Sea
(UNCLOS), Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia (DUHAM), maupun
Konvensi Keanekaragamanhayati.
Uraian tersebut memberi arti betapa primernya posisi sebuah negara sehingga tidak ada kekuasaan tertinggi yang dapat memaksakan keputusan- keputusannya kepada negara atau yang acap kali disebut dengan kedaulatan negara. Hanya saja, tidak semua negara dapat diikutkan sebagai subjek hukum internasional. Ketentuan administratif dan limitatif telah dicanangkan dalam hukum internasional, yaitu dalam hal ini ketentuan Articles 1 Montevideo (Pan
American) The Convention on Rights and Duties of State of 1933. Untuk
menyebut sebuah entitas sebagai negara ada empat kriteria yang telah dianggap mencerminkan hukum kebiasaan internasional. Pasal tersebut berbunyi demikian:
“The States as a person of international law should possess the following qualification: a permanent population; a defined territory; a government; and a capacity to enter into relations with other States.”62
61
Boer Mauna, “Hukum Internasional: Pengertian Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global”, (Bandung: PT. Alumni, 2011),hlm.3
62
Studi kemudian hari menuai sebuah perdebatan pasalnya berdasarkan hukum kebiasaan internasional, dibutuhkan juga subjek hukum lain yang perlu mendapat kedudukan sebagai subjek hukum internasional. Jadi dapat diuraikan bahwa subjek hukum internasional adalah sebagai berikut:
1. Negara yang berdaulat
Henry C. Black memberikan pengertian negara sebagai berikut: “The political system of a body of people who are politically organized; the system of rules by which jurisdiction and authority are exercised over
such a body of people”63. Awalnya memang hanya negara merdeka dan
berdaulat saja yang diperhitungkan, tetapi pada perkembangannya ada negara bagian yang mempunyai hak dan kewajiban terbatas atau dilakukan oleh pemerintah federalnya, seperti Bellorusia dan Ukraina pada masa Uni Sovyet64
Negara termasuk subjek hukum istimewa dan terpenting (par excellence)
dan lebih lanjut negara tersebut haruslah memuat unsur-unsur tertuang dalam Pasal 1 Montevideo Convention on Right and Duties of States 1993.
yang mendapat tempat sebagai subjek hukum internasional.
2. Tahta Suci Vatikan
Tahta Suci Vatikan (Stato della Citta del Vaticano) merupakan subjek hukum internasional yang telah ada sejak dahulu. Hal ini didasarkan pada sejarah bahwa pada zaman dahulu Paus tidak hanya Kepala Gereja Roma melainkan juga memiliki kekuasaan duniawi.65
63
Bryan A. Garner (Ed.), “Black’s Law Dictionary” Seventh Edition, (St. Paul-Minnessota: West Publishing Co.), hlm.1415
64 Mochtar Kusumaatmadja, Op.Cit..,hlm.70-71 65
Kewenangan Tahta Suci awalnya memang terbatas masalah kemanusiaan dan perdamaian umat, sehingga terkesan sebagai kekuatan moral belaka. Namun dalam perjalanannya pengaruh Paus sebagai Kepala Tahta Suci atau pemimpin Gereja Katolik diakui dalam hal sekuler di seluruh penjuru dunia,khususnya di semenanjung Italia. Tepatnya pada tahun 1870, dalam gerakan penyatuan Italia daerah yang dikuasai Paus disita menjadi wilayah bagian Italia termasuk ketika Roma dianeksasi. Hal ini diresponi Gereja katolik Roma dan sempat menimbulkan konflik yang akhirnya diselesaikan melalui Perjanjian Lateran (Laterant Treaty 1929) dimana pemimpin Italia mengakui Negara Vatikan sebagai negara merdeka dan berdaulat dibawah pemerintahan Tahta Suci. Italia juga memberikan ganti rugi terhadap penderitaan yang dialami Vatikan.66
3. Organisasi internasional
Keterbatasan pengertian organisasi internasional secara definitif, tidak membuat para ahli berhenti mengemukakan pendapatnya. Dalam literatur internasional, seperti D.W Bowett, merumuskan:67
“In general, however, they were permanent association i.e postal or railway administration, based on upon a treaty of multilateral than a bilateral type and with some define criterion of purpose”
Oranisasi internasional dewasa ini muncul disebabkan 1) pesatnya perkembangan teknologi dan komunikasi, sehingga timbul keinginan
66
Taufik Adi, “Ensiklopedi Pengetahuan Dunia Abad 20”, (Yogyakarta: Javalitera, 2010), hlm.107
67 D.W Bowett, “The Law of International Institutions”, Second Edition, (London: Butter
untuk mengatur secara kolektif dan 2) meluasnya hubungan internasional serta banyak hal yang tidak dapat diselesaikan secara bilateral atau saluran diplomatik sehingga para ahli hukum beberapa negara menggagas pembentukan organisasi internasional.68
4. Individu
Secara khusus mengenai organisasi internasional akan dibahas dalam bagian lain penelitian ini.
Individu dijadikan sebagai subjek hukum internasional (dalam arti terbatas) pertama kali sejak diadakannya Perjanjian Perdamaian Versailles (1919), 69
Contoh dalam pasal-pasal Perjanjian Versailles tersebut telah dimungkinkan individu (perseorangan) mengajukan perkara ke hadapan Mahkamah Arbiter Internasional.
ia dapat bertindak atas nama dan untuk dirinya sendiri dalam wilayah hukum internasional. Demikian pula individu dapat dibebani kewajiban-kewajiban internasional dan dimintakan pertanggungjawaban atas perbuatannya yang bertentangan dengan hukum internasional.
70
Tendensi hukum internasional memberikan pertanggungjawaban langsung kepada individu telah dikukuhkan dalam Genocide Convention dimana kekejaman yang dilakukan oleh pasukan Jerman pada Perang Dunia II mengedepankan 'individual criminal responsibility' yang kemudian diterima oleh Majelis Umum PBB tanggal 9 Desember 1948.71
68
Syahmin A.K., Ibid.
69
Mochtar Kusumaatmadja, Op.Cit.., hlm. 74
70
Mochtar Kusumaatmadja, Op.Cit.., hlm. 74
71 L.J Le Blanc, “The Intend to Destroy Groups in the Genocide Convention” seperti dikutip
5. Komite Internasional Palang Merah Internasional (International Committee of Red Cross)
Contrary to popular belief, the ICRC, is not a non- governmental organization in the most common sense of term, nor is it an inter-state organization such as the United Nations. Because it limits its membership to Swiss nationals only, and because new members are selected by the Committee itself (a process called cooptation), it does not have a policy of open and unrestricted membership for individuals like other legally defined NGOs.72
ICRC merupakan subjek hukum internasional yang mempunyai arti tersendiri dalam hukum internasional. Lahir dari perkembangan sejarah dan kemudian diakui sebagai subjek hukum internasional dalam konvensi yaitu Konvensi Jenewa 1949 tentang perlindungan korban perang.
73
6. Pihak Bersengketa atau Pemberontak (Belligerent)
Menurut Mochtar Kusumatmadja pengakuan belligerensi berawal dari munculnya konsepsi baru tentang pengertian bangsa-bangsa yang dianut negara dunia ketiga, yaitu bangsa-bangsa yang pada hakekatnya mempunyai hak asasi: hak untuk menentukan nasib sendiri; untuk bebas memilih sistem ekonomi, politik dan sosial sendiri; untuk menguasai sumber kekayaan alam dari wilayah yang didudukinya. 74
72 “International Comimitee of The Red Cross”, dikutip dari
pada Minggu, 01
Desember 2013 16:38 WIB
73
Mochtar Kusumaatmadja, Op.Cit., hlm.120
74 Ibid., hlm.79 Adapun syarat diakuinya kaum beligeren adalah: a) kelompok tersebut telah
Kaum pemberontak mencapai tingkatan yang lebih tinggi dibanding pihak yang bersengketa baik secara politik, organisasi dan militer. Dalam batas- batas tertentu sudah mampu menampakkan diri tidak hanya ke dalam (wilayah nasional) tetapi juga keluar pada tingkat internasional. Pengakuan terhadap kaum pemberontak bersifat politis, dengan empat indikator yang harus dipenuhi yakni:
a. Kaum pemberontak itu harus terorganisasi dan teratur di bawah pemimpinnya yang jelasl;
b. Kaum pemberontak harus menggunakan tanda pengenal atau uniform yang jelas yang menunjukkan identitasnya;
c. Kaum pemberontak harus sudah menguasai sebagian wilayah secara efektif sehingga benar-benar wilayah itu berada di bawah kekuasaannya; dan
d. Kaum pemberontak harus mendapat dukungan dari rakyat diwilayah yang didudukinya.75
Dengan hal seperti ini pemberontak akan tampak berkedudukan sama dengan pemerintah resmi dan juga negara berdaulat lain. Contoh Organisasi Pembebasan Palestina (Palestine Liberation Organisation/PLO) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Indonesia.
B. Personalitas organisasi internasional sebagai subjek hukum