BAB II. SAKRAMEN BAPTIS DALAM GEREJA KATOLIK
B. Sakramen Baptis
2. Pengertian dan Makna Sakramen Baptis
20
Ketiga sakramen tersebut menjadi sakramen inisiasi karena adanya tahapan-tahapan yang selayaknya dilaksanakan. Akan tetapi, pada masa berikutnya keadaan konkret dari umat menjadi tidak cocok dengan adanya tahapan yang sebelumnya. Pada awalnya, orang yang ingin menjadi anggota Gereja harus mengikuti persiapan pembaptisan dan dibaptis. Selama masa persiapan baptis, orang tersebut tidak boleh menerima Ekaristi. Ketika sudah baptis itulah, orang dianggap sudah menjadi bagian dari Gereja dan dapat bersama-sama merayakan Ekaristi. Tahap selanjutnya, orang tersebut diurapi dengan minyak yang menyatakan kedewasaan imannya akan Yesus Kristus.
Tahapan itu tidak dilanjutkan karena dianggap tidak lagi sesuai. Baptisan tetap sebagai sakramen yang menjadi pintu masuk seseorang menjadi anggota Gereja dan tetap disebut sebagai sakramen inisiasi. Sesudahnya, orang tersebut diurapi dengan minyak yang oleh Gereja dinamakan Sakramen Krisma dan pada akhirnya dapat mengikuti Perayaan Ekaristi dan menerima komuni.
Sama seperti inisiasi pada lembaga lain, upacara inisiasi dalam Gereja Katolik juga memiliki proses yang tidak mudah. Ada beberapa hal yang harus dilakukan, bahkan dapat dikatakan berbelit-belit. Akan tetapi, jika seseorang memiliki kesungguhan untuk masuk ke kelompok tersebut maka proses yang seperti apapun akan dijalankan.
2. Pengertian dan Makna Sakramen Baptis
Sakramen Baptis merupakan sakramen yang pertama kali diterimakan kepada orang ya ng percaya kepada Yesus Kristus sebelum sakramen lainnya. Istilah
21
“baptisan” berasal dari Bahasa Yunani batizwin, baptismosi= mencelupkan ke dalam air ataupun membasuh dengan air. Dengan pembaptisan, umat beriman Kristiani secara resmi menjadi anggota Gereja dan berhak mengikuti kegiatan gerejawi.
Dilihat dari sejarahnya, Yesus juga pernah mengalami yang pada saat sekarang disebut Sakramen Baptis, yang pada waktu itu dengan cara ditenggelamkan ke Sungai Yordan oleh Yohanes Pemandi, tetapi tidak ditemukan catatan yang menunjukkan kegiatan Yesus dalam membaptis orang. Pembaptisan tersebut dilakukan oleh para rasul sesuai dengan perintah Yesus. Dalam buku Iman Katolik (KWI, 1996: 421) dikatakan:
Kiranya upacara pembaptisan diambil alih oleh Gereja dari Yohane s. Dalam Injil malah dikatakan bahwa “Yesus pergi ke Tanah Yudea dan membaptis” (Yoh 3: 33; lih. ay. 26), maksudnya bahwa “Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya” (Yoh 4: 2). Memang tidak ada berita tentang kegiatan Yesus yang membaptis. Tetapi pada hari Pentekosta, sesuai dengan perintah Yesus (Mat 28: 19; Mar 16: 16) Petrus berseru kepada orang: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing- masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. “ (Kis 2: 38).
Sampai sekarang upacara pembaptisan tersebut terdapat dalam Gereja Katolik dan dilakukan oleh orang-orang yang dipercaya Gereja seperti uskup, pastor, dan diakon tertahbis, tetapi setiap orang tidak dapat membaptis dirinya sendiri. “Tidak seorang pun (dapat) membaptis dirinya, tetapi selalu dibaptis oleh orang lain, entah siapa” (Groenen, OFM, 1989: 83).
Selain menjadi anggota Gereja dan menjadi anak Allah, seorang yang dibaptis juga dihapuskan dosanya. Demikian pula seorang bayi yang belum pernah
22
melakukan perbuatan dosa tetap akan diampuni dosanya karena setiap manusia yang terlahir di dunia memiliki dosa yang disebut dosa asal.
Sakramen Baptis memiliki makna teologis seperti diungkapkan dalam buku Sakramen-Sakramen Gereja (Martasudjita, Pr, 2003: 221-223).
a. Baptisan sebagai tanda iman. Baptisan sebagai tanda iman berarti bahwa di suatu pihak baptisan itu mengandaikan iman dan di lain pihak dari orang yang dibaptis harus dihidupi dan dikembangkan dalam seluruh hidupnya. Dalam teks Kis 2: 37-41, Mrk 16: 16, dan Mat 28: 19 tampaklah bahwa baptisan mengandaikan iman. Artinya, dalam teks-teks itu terlihat suatu struktur dengan urutan: pewartaan Injil à penerimaan melalui iman/pertobatan à baptisan. Dari sini tampaklah bahwa baptisan bisa dipandang sebagai tanda iman dan kesediaan diri untuk bertobat. Teks Rm 6: 1-14 sendiri lebih menunjukkan bahwa iman pada diri orang yang sudah dibaptis harus dikembangkan dan dihayati dalam seluruh hidupnya kemudian.
b. Baptisan sebagai penyerupaan pada Yesus Kristus, artinya dengan baptisan kita menjadi serupa dengan Yesus Kristus. Dengan baptisan, kita berpartisipasi dan mengambil bagian dalam seluruh hidup dan nasib Yesus Kristus. Melalui baptisan, kita bergerak masuk ke dalam misteri Tuhan Yesus Kristus dan berpartisipasi dalam peristiwa wafat dan kebangkitan-Nya. Makna ini dapat dilihat dari istilah Perjanjian Baru yang menyebut baptisan kita dilakukan “dalam nama Yesus Kristus” (Kis 2: 38; 10: 48; 19: 5). Secara khusus Rm 6: 1-14 menghubungkan peristiwa baptisan kita dengan peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus.
c. Baptisan sebagai pengampunan dosa. Makna ini tampak dalam kata-kata St.
Petrus, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing- masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu” (Kis 2: 38). Di beberapa tempat lain, pengampunan dosa dihubungkan dengan kesediaan diri untuk beriman (Kis 10: 43) dan mengubah kehidupan (Kis 3: 19; 5: 31; 26: 18).
d. Baptisan mengaruniakan Roh Kudus. Melalui baptisan, kita menerima karunia Roh Kudus. Makna ini sebenarnya terdapat masih pada Kis 2: 38, “...maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” Dalam konteks Kis 2 itu, karunia Roh Kudus memungkinkan para rasul mengalami Tuhan yang bangkit (Kis 2: 32), dan membuat mereka bisa bicara dengan macam- macam bahasa sehingga semua orang bisa mengerti pewartaan Injil itu (Kis 2: 4. 8-11). Selanjutnya, apabila orang-orang mau menyediakan diri dibaptis sebagai tanda pertobatan, maka dosa mereka akan diampuni dan mereka mendapat karunia Roh Kudus. Dengan karunia Roh Kudus itu, mereka juga akan mengalami pengalaman Paskah, yakni pengalaman akan Yesus Kristus yang bangkit dan menyelamatkan kita, seperti dialami oleh para murid.
e. Baptisan mempersatukan kita ke dalam satu tubuh: Gereja. Paulus berkata,
23
baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minuman dari satu Roh” (1 Kor 12: 13). Melalui baptisan, Gereja dibangun dan tumbuh. Hubungan dari orang-orang yang dibaptis itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan jumlah kuantitatif saja, tetapi yang penting lagi: hubungan itu memasukkan orang ke dalam suatu relasi orang-orang Kristiani yang memiliki martabat yang sama dan hidup menurut jiwa solidaritas sebagaimana tampak dalam Kis 2: 41-47.
f. Baptisan sebagai karunia hidup baru. Yohanes mengembangkan gagasan
baptisan sebagai kelahiran baru. Dalam percakapan dengan Nekodemus, Yesus bersabda, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah...Jangan engkau heran, Aku berkata kepadamu: kamu harus dilahirkan kembali” (Yoh 3: 5.7). Melalui baptisan, seseorang dilahirkan kembali dalam Roh. Ia dikaruniai hidup baru dan sepanjang hidupnya ia harus mewujudkannya dalam gaya hidup dan tindakannya sehari- hari.
Selain makna tersebut, baptisan memiliki makna lain dimana baptisan menjadikan seseorang terselamatkan karena masuk ke dalam jemaah yang mempercayai Sang Penyelamat yakni Yesus Kristus. Jemaah itu merupakan jemaah Kristen di mana didalamnya diajarkan kasih dengan mengajak orang menuju kepada keselamatan. Keselamatan bukan berarti mendatangi orang yang sudah dapat membaptis orang lain melainkan siapapun juga yang memiliki iman kepada Allah. Apabila melihat siapa yang dibaptis dan yang membaptis akan semakin meyakinkan bahwa jemaahlah yang menjadi perantara keselamatan karena dapat pula pembaptisan dilakukan oleh orang yang bukan anggota jemaah Kristen, mungkin karena alasan tertentu yang mendadak, tetapi keselamatan tetap dimiliki oleh yang dibaptis.
Menurut tradisi selanjutnya bahkan orang yang tidak percaya dapat membaptis, menginisiasikan orang lain ke dalam jemaah, yang ia sendiri tidak menjadi anggotanya. Hal itu tentu saja sedikit mengherankan dan tidak mudah juga mengerti bagaimana tradisi itu muncul. Hanya nyatanya itu ajaran resmi (bdk. CIC 861, 2). Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang “membaptis” sebenarnya jemaah secara menyeluruh (secara teologis malah Kristus sendiri) dan orang yang nyatanya membaptis bertindak atas nama jemaah. (Groenen, OFM, 1989: 83).
24
Baptisan juga merupakan suatu ungkapan iman jemaah dan iman pribadi. Iman tersebut merupakan iman akan Yesus Kristus yang sebenarnya telah merangkul orang yang sudah memiliki niat untuk mengimani-Nya. Keselamatan tersebut menjadi nyata pada saat adanya pembaptisan.
Penyelamatan itu tentu saja bukan kejadian seketika, melainkan sebuah proses yang berlangsung terus. Dalam baptisan seketika proses penyelamatan itu menjadi nyata nampak sebagai proses yang kini merangkul orang yang diinisiasikan dan selanjutnya tetap akan nampak baginya dalam jemaat penyelamat, yang kini dimasuki orang yang dibaptis. (Groenen, OFM, 1989: 86).
Baptisan merupakan sakramen perjanjian antara umat dengan Allah dimana umat yang beriman pada Yesus Kristus dijanjikan mendapat tempat dalam Kerajaan Surga. Dengan demikian, keselamatan berada di tangan umat yang telah dibaptis. “Allah, yang berprakarsa, menawarkan diri-Nya sebagai kehidupan sejati dan keselamatan manusia” (Groenen, OFM, 1989: 88). Sakramen Baptis juga tidak bisa terlepas dari “upacara simbolik” dan yang menjadi simbol serta tidak dapat terlepas dari upacara pembaptisan ialah “air”. Sakramen Baptis yang membawa jemaah kepada keselamatan dilihat dari segi negatif merupakan gambaran Allah yang membebaskan manusia dari dosa dimana manusia pernah menolak kasih Allah. Sedangkan dari segi positif menunjukkan ajakan dan pengikutsertaan jemaat kepada keselamatan dan kebahagiaan.