• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. REKOLEKSI SEBAGAI USULAN PENYEMPURNAAN

E. Usulan Rekoleksi

1. Rekoleksi Pertama

1). Tema Umum : Menjadi Katolik Lahir dan Batin

2). Tujuan : Calon baptis semakin memahami dan menyadari panggilannya sebagai pengikut Kristus, sekaligus tantangannya, dan dengan tabah menjalankan tugas perutusannya bersama umat lainnya, sehingga sebagai baptisan baru kelak diharapkan mereka lebih terlibat

3). Tema Rekoleksi 1 : Allah Maha Kasih

4). Tujuan : Agar simpatisan merasakan kasih Allah yang telah memanggil dan mengutus untuk melaksanakan tugas Gereja demi kebaha giaan sesama dan diri sendiri lahir dan batin

NO Waktu Judul

Pertemuan

Tujuan Pertemuan Materi Uraian Materi Metode Sarana Sumber Bahan

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

1 07.00-08.00 Heregistrasi Mendata peserta yang hadir dalam rekoleksi • Daftar Hadir • Call Card • Peserta mengisi daftar hadir • Peserta menerima call card dan memakainya - - - 2 08.00-08.30 Pembukaan Membuka pertemuan rekoleksi dengan semangat dan saling mengenal, sehingga dengan keakraban satu sama lain, semakin siap pula

• Doa Pembuka • Ucapan Selamat Datang • Lagu “Dengar Dia Panggil • Pembina memimpin doa pembuka pertemuan • Pembina memberikan ucapan selamat datang kepada - Teks Lagu “Dengar Dia Panggil Nama Saya” Buku Lagu “Choice Week-end”

92

NO Waktu Judul

Pertemuan

Tujuan Pertemuan Materi Uraian Materi Metode Sarana Sumber Bahan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) dalam mengikuti rangkaian pertemuan rekoleksi Nama Saya” • Perkenalan peserta • Bernyanyi lagu “Dengar Dia Panggil Nama Saya” • Perkenalan peserta dengan permainaan ”ekspresi” 3 08.30-10.00 Menyelami Kasih Allah Simpatisan semakin merasakan kasih Allah dan mensyukuri dengan melakukan apa yang dikehendaki-Nya • Iman • Keterlibat-an • Sharing pengalaman dan memaknainya secara iman • Penjelasan tentang iman • Penjelasan tentang keterlibatan • Mendalami bacaan Kitab Suci

• Sharing • Dialog • Cera-mah • Diskusi • Tanya jawab • Refleksi • LCD • Laptop • Layar • Kitab Suci •Yak 2: 14-26 • Penga-laman Hidup Simpa-tisan •Diktat Mata Kuliah “Hidup Meng-gereja” •Buku “Iman Katolik”

93

NO Waktu Judul

Pertemua n

Tujuan Pertemuan Materi Uraian Materi Metode Sarana Sumber Bahan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 4 10.00-10.15 Istirahat-Minum - - - - 5 10.15-12.30 Melangkah Menuju Kebahagia-an Simpatisan semakin memahami dan menyadari konsekuensi menjadi orang Katolik dan siap menjalankannya sehingga mengalami kebahagiaan sebagai orang Katolik • Lagu “Jangan Lelah” • Permainan “Gerakan Maut” • Koinonia dan Diakonia • Ajakan Berkumpul • Bernyanyi lagu ”Jangan Lelah” • Mencari makna dari permainan “Gerakan Maut” sehubunga n dengan tema • Penjelasan tentang koinonia dan diakonia • Mendalami bacaan Kitab Suci

• Bernya-nyi • Berma-in • Diskusi • Sharing • Cera-mah •Teks Lagu “Ja-ngan Lelah” •Kertas •Pena •LCD •Laptop •Layar •Kitab Suci • Penga-laman hidup baptisan baru • Buku “Iman Kato-lik” • Luk 14: 16b-20 6 12.30-13.00 Makan Siang - - - - 7 13.00-14.00 Ibadat Sabda Simpatisan semakin merasakan kasih Allah yang menyatukan dalam iman bersama umat yang hendak mengikuti-Nya • Musa Meminta Penyertaan Tuhan di Gurun • Dua Macam Dasar - • Bernya-nyi • Hening • Berdoa Spontan • Berdoa Bersama • Madah Bakti • Kitab Suci •MB hal.172 •Kel.33: 10-17 •MB hal.210 •Luk.6: 46-49

94

NO Waktu Judul

Pertemuan

Tujuan Pertemuan Materi Uraian Materi Metode Sarana Sumber Bahan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) •MB hal.30 8 14.00 Sayonara-Pulang

Peserta dan pembina pulang ke tempat tinggal masing-masing dengan perasaan suka cita

95

b. Satuan Persiapan 1). Pertemuan Pertama a). Identitas Pertemuan

(1).Judul Pertemua n : Pembukaan

(2).Tujuan Pertemuan : Membuka pertemuan rekoleksi dengan semangat dan saling mengenal, sehingga dengan keakraban satu sama lain, semakin siap pula dalam mengikuti rangkaian pertemuan rekoleksi

(3).Peserta : Simpatisan

(4).Tempat : GKS Widyamandala-Kotabaru (5).Pelaksana : Pembimbing Katekumen (6).Waktu : Pkl. 08.00-08.30 WIB

(7).Hari/Tanggal : Hari Minggu pertama Bulan Agustus

b). Pemikiran Dasar

Peserta rekoleksi ialah para simpatisan, yakni calon katekumen yang baru beberapa kali mengalami pembinaan baik dalam bentuk pertemuan formal maupun secara tidak formal, dengan berbincang-bincang saja antara pembimbing dan simpatisan tersebut. Semua simpatisan belum tentu saling mengenal karena mungkin pembimbingnya berbeda atau bagi yang pembimbingnya sama, mungkin hanya mengenal sekilas karena baru bertemu selama beberapa kali.

Perasaan akrab sangat membantu dalam pembinaan simpatisan pada waktu selanjutnya. Rasa akrab dan persaudaraan, dapat lebih memotivasi dan

96

meneguhkan para simpatisan untuk dengan setia melewati pembinaan pada masa katekumenat dan masa-masa selanjutnya. Keakraban sangat diperlukan bukan hanya ketika mereka berkumpul, melainkan juga pada saat mereka jauh secara fisik. Dengan demikian, kerinduan untuk bertemu dan saling mendukung dalam mendekatkan diri dengan Tuhan semakin terasa, karena Dialah yang telah mempertemukan dan mempersatukan mereka.

Harapan untuk dapat akrab dapat dibangun bersama dalam kegiatan mengawali rekoleksi, yakni dalam bentuk perkenalan yang berkesan. Bentuk perkenalan ini bukan hanya menyebutkan nama “sambil lalu”, melainkan dengan melakukan gerakan-gerakan yang berkesan sehingga akan mudah dan terus diingat oleh simpatisan yang lain.

c). Proses Pelaksanaan (1).Doa Pembuka

Pembimbing memimpin doa sebelum memulai rekoleksi:

“Tuhan Yesus yang Maha Kasih, kami mengucapkan puji dan syukur atas kasih dan cinta yang sungguh besar dari- Mu. Kami dapat merasakan semuanya itu, terutama ketika kami masih bisa bernafas dan berkumpul di tempat ini. Kami ingin mengolah diri kami untuk semakin mengenal-Mu. Sertai kami dalam perenungan ini agar kami dapat lebih merasakan kasih-Mu dan memiliki niat untuk melakukan hal yang lebih baik. Jadikanlah hati kami baru dengan kasih yang berlimpah seperti kasih-Mu. Nama-Mu kami puji kini dan sepanjang masa. Amin”.

97

(2).Ucapan Selamat Datang

Pembimbing menyampaikan ucapan selamat datang bagi peserta rekoleksi, dalam hal ini adalah simpatisan:

“Selamat pagi bapak, ibu, dan saudara-saudari terkasih. Senang sekali melihat Anda semua hadir di sini. Hal ini menunjukkan keseriusan motivasi untuk mengikuti Yesus Kristus. Selama kurang lebih 6 jam, kita akan mendalami kasih Allah dengan materi- materi yang akan kita alami dalam rekoleksi ini”.

(3).Lagu “Dengar Dia Panggil Nama Saya” (Terlampir)

Agar suasana tidak terlalu “tegang”, pembimbing mencoba mencairkan dengan mengajak peserta bernyanyi. Apabila peserta tidak mengenal lagu ini, pembimbing mengajari secara pelan-pelan.

(4).Perkenalan

Pembimbing mengajak untuk saling memperkenalkan diri. Perkenalannya dengan ”permainan ekspresi”, caranya:

(a).Seluruh peserta dan pembimbing membuat lingkangan besar berhadapan (b).Masing- masing maju dengan melakukan gerakan yang lucu sambil

menyebutkan namanya

(c).Setelah selesai, kembali (mundur) ke tempatnya semula

(d).Peserta lainnya mengikuti gerakan yang dilakukan salah satu peserta tadi sambil juga mengucapkan namanya. Demikian seterusnya sampai semua yang hadir selesai perkenalan

98

(e).Setelah semua peserta memperkenalkan diri dengan caranya masing- masing yang khas, pembimbing menanggapi dan memberi kesimpulan yang intinya agar baik peserta maupun pembimbing lebih santai, tetapi juga serius, lebih akrab, dan lebih siap mengikuti rekoleksi.

2). Pertemuan Kedua a). Identitas Pertemuan

(1).Judul Pertemuan : Menyelami Kasih Allah

(2).Tujuan Pertemuan : Simpatisan semakin merasakan kasih Allah dan mensyukuri dengan melakukan apa yang dikehendaki-Nya (3).Peserta : Simpatisan

(4).Tempat : GKS Widyamandala-Kotabaru (5).Pelaksana : Pembimbing Katekumen (6).Waktu : Pkl. 08.30-10.00 WIB

(7).Hari/Tanggal : Hari Minggu pertama Bulan Agustus

b). Pemikiran Dasar

Pengalaman simpatisan berbeda-beda satu dengan yang lain, karena memang latar belakangnya pun berbeda. Kesamaan yang dapat dilihat ialah simpatisan sama-sama “mau” mengikuti pembinaan karena keinginannya untuk menjadi anggota Gereja. Mereka mulai mengimani Yesus sebagai Tuhan, meskipun belum sepenuhnya. Pengalaman dalam mengimani Yesus sebagai Tuhan juga

99

macam. Pengalaman yang berbeda tersebut dapat berdampak pada kualitas iman yang terwujud dalam perbuatannya di masa mendatang.

Iman merupakan keyakinan terhadap “Yang Maha Tinggi”, yakni Tuhan yang telah menciptakan alam semesta dan segala isinya. Iman dapat diungkapkan melalui berbagai cara dan bentuk. Ungkapan dengan kata-kata juga dapat menunjukkan kalau seseorang memang beriman terhadap Tuhan, tetapi ungkapan dengan tindakan yang kelihatan dan dapat dirasakan baik oleh diri sendiri maupun orang lain juga menjadi ungkapan iman yang sangat baik.

Orang yang beriman kepada Tuhan berarti memiliki sikap pasrah pada segala rencana-Nya. Dengan demikian, setiap pengalaman hidupnya akan diserahkan pada kehendak Tuhan. Seringkali manusia tidak menyadari bahwa peristiwa yang dialami dalam kehidupan, ada yang mengaturnya. Sang Pencipta, Tuhan sendiri telah merencanakan segala sesuatu. Apabila pengalaman, baik yang “manis” maupun yang “pahit” diterima, dijalani dan dimaknai maka akan menjadi pengalaman yang layak disyukuri. Pengalaman yang diberikan oleh Tuhan merupakan berkat dan sebagai bentuk syukur manusia, perlu penyerahan dan tindakan nyata. Tindakan tersebut merupakan wujud dari imannya, karena seperti dikatakan dalam Surat Yakobus (2: 14-26), bahwa: “I man tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati”. Maka seharusnyalah orang yang mengimani Tuhannya, melakukan perbuatan seturut dengan kehendak-Nya.

Allah Maha Kasih memiliki rencana yang merupakan misteri bagi manusia. Bagamanapun keadaannnya, manusia perlu menerima dan mengusahakan agar semua seperti yang dikehendaki-Nya. Melalui rekoleksi dengan judul “Menyelami

100

Kasih Allah”, diharapkan simpatisan dapat sungguh-sungguh merasakan kasih Allah yang hadir melalui pengalamannya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.

c). Proses Pelaksanaan (1).Pengantar

Sebelum memasuki session pertama, pembimbing memberikan pengantar agar peserta lebih memahami arah dari session pertama ini:

“Pada saat ini, kita bersama-sama akan mengingat kembali kasih Allah yang pernah kita terima. Mungkin kita memiliki pengalaman, entah menyenangkan, entah menyedihkan, tetapi bagaimana kita sekarang memaknai pengalaman itu. Pengalaman yang pada saat kita mengalaminya dulu dianggap biasa saja, ketika dimaknai dengan iman, seringkali bermakna yang tidak terbayangkan sebelumnya”.

(2).Sharing Pengalaman Peserta Tentang Peristiwa Hidup yang Berkesan

Setelah memberikan pengantar sebelum memasuki session pertama ini, pembimbing mengajak peserta untuk mengingat kembali peristiwa yang pernah dialami. Peserta diberi waktu beberapa menit untuk mengingat- ingat dan mempersiapkan diri dan hati untuk membagikan kepada peserta lainnya. Sebagai bantuan, diberikan pertanyaan sebagai berikut:

(a).Manakah peristiwa dalam hidup Anda, baik menyedihkan maupun menyenangkan, yang sampai saat ini masih membekas?

101

(b).Bagaimana perasaan Anda saat mengalami peristiwa tersebut dulu?

(c).Bagaimana perasaan Anda sekarang setelah melewati peristiwa tersebut dan mengalami peristiwa lainnya sebagai akibat dari peristiwa tersebut?

(d).Jika Anda diperkenankan menganalisis pengalaman tersebut, apakah maksud dari semua pengalaman tersebut?

Beberapa menit setelah waktu perenungan peserta, diminta dua atau tiga orang untuk membagikan kepada teman lainnya dalam kelompok besar (seluruh peserta dan pendamping).

(3).Peneguhan

Setelah beberapa peserta membagikan pengalaman tersebut, pembimbing mulai memberikan peneguhan dan merangkum keseluruhan sharing peserta:

“Selama beberapa menit, mungkin kita telah melihat kembali pengalaman di masa lalu yang menyedihkan dan sulit diterima, serta yang menggembirakan. Pengalaman yang bermacam- macam satu dengan yang lain telah saudara-saudara maknai masing- masing. Mungkin ada dari kita yang belum bisa memaknai pengalaman itu, hal itu tidak bisa disalahkan. Terkadang kita masih merasa aneh, bahkan belum bisa menerima pengalaman hidup kita. Mengapa sih aku harus begini? Kita sering bertanya akan maksud Allah di balik pengalaman kita. Sering pula kita lupa bahwa Allah senantiasa menjaga dan mempersiapkan kebahagiaan untuk kita, tetapi yang sering terjadi, kita menyia- nyiakan itu dan berjalan seturut keinginan kita yang membuat kebahagiaan semakin menjauh. Apabila kita percaya akan kasih Allah, maka kita tidak akan menentang peristiwa apapun yang

102

mendatangi kita atau yang kita alami. Jika kita memiliki iman mendalam akan Allah, kita akan yakin pula bahwa semua ini adalah rencana-Nya dan kebahagiaan menanti kita”.

(4).Uraian Materi

Iman berarti tanggapan kita akan wahyu Allah. Allah yang terlebih dahulu memanggil dan dengan menjawab-Nya berarti kita telah mengimani-Nya. Keinginan kita untuk menjadi Katolik merupakan panggilan Allah dan kita telah menjawabnya, meskipun kita belum sepenuhnya mengimani-Nya. Masing- masing dari kita memiliki alasan masing- masing sehingga bersedia untuk dibina dan diarahkan untuk masuk ke dalam Gereja. Meskipun dengan alasan yang berbeda, tetapi tanggapan akan panggilan Allah itu sudah pernah kita lakukan. Allah juga memberikan kebebasan kepada kita dan tidak memaksakan agar kita menjawab panggilan-Nya dan melaksanakan kehendak-Nya. Ungkapan bahwa kita mengimani Yesus Kristus memang dapat dengan mudah kita ucapkan, tetapi ada hal yang jauh lebih diperlukan jika kita mengimani Yesus Kristus. Iman yang kita miliki, entah pada saat sekarang dimana kita sedang mengalami pembinaan untuk menjadi anggota Gereja maupun kelak ketika kita sudah benar-benar menjadi anggota Gereja, tidak akan mendalam ataupun abadi manakala kita tidak mengembangkannya. Ada beberapa cara agar iman kita tetap terjaga dan mati sia-sia.

103

(5).Sharing Pengalaman Peserta Tentang Keterlibatan

Secara berkelompok, peserta diminta mensharingkan pengalamannya terlibat dalam kegiatan yang ada di lingkungan sekitarnya. Kelompok dibagi dengan cara berhitung ulang sesuai jumlah kelompok yang diperlukan. Setelah berkumpul dalam kelompoknya, semua diberi panduan pertanyaan yang sama untuk direnungkan dan disharingkan dalam kelompok kecil dan diminta masing- masing kelompok mencatatkan butir-butir penting yang didapatkan dalam sharing kelompok kecil. Pertanyaan yang diberikan kepada peserta, sebagai berikut: (a).Kegiatan apa saja yang pernah Anda ikuti di lingkungan masyarakat atau

bersama umat seagama dahulu?

(b).Bagaiman perasaan Anda ketika mengikuti kegiatan tersebut?

Butir-butir penting dari sharing kelompok kecil yang diutarakan dalam kelompok besar dicatat oleh pembimbing dan dikelompokkan sesuai dengan kelompoknya, misalnya jika ada yang mensharingkan pernah “lotisan” bersama para ibu, maka akan digabungkan menjadi satu kelompok dengan kegiatan “kumpul-kumpul” di sore hari. Kegiatan ini akan diarahkan pada “lima tugas pastoral Gereja”, maka diperlukan kecermatan pembimbing. Setelah pengelompokkan dan pembahasan butir-butir sharing, pembimbing memberikan peneguhan, sebagai berikut:

“Surat Yakobus yang mengatakan “iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati” memang benar. Perwujudan iman memang bermacam- macam, dengan perkataan dan perbuatan. Perbuatan pun bermacam- macam, perbuatan

104

yang dampaknya untuk diri sendiri dan berdampak baik untuk orang lain. Perbuatan untuk diri sendiri dengan berdoa pribadi memang sangat diperlukan, tetapi tidak bisa juga terlepas dari kegiatan yang memiliki dampak bagi orang lain, seperti membantu orang lain yang mengalami kesulitan. Kita di sini memang belum dibaptis, tetapi dengan menyatakan kesediaan untuk mengikuti pembinaan dan mengimani Yesus Kristus, berarti kita perlu siap dengan konsekuensinya. Menjawab panggilan Allah tidak cukup dengan mengik uti pembinaan kemudian menerima Sakramen Baptis melainkan lebih dari itu. Kita juga perlu terlibat dalam tugas-tugas yang menampakkan diri sebagai murid Kristus. Tugas tersebut dapat disebut sebagai Tritugas Kristus yakni sebagai nabi, imam, dan raja. Ketiga tugas ini tidak dapat dilepaspisahkan dari hidup dan perutusan kita. Keterlibatan dalam kegiatan yang ada di lingkungan, baik di masyarakat di daerah maupun lingkungan gerejani akan memiliki banyak dampak positif. Selain diri sendiri semakin diperteguh karena merasakan banyak saudara yang menemani perjalanan iman, juga akan me mbahagiakan bagi orang lain. Mungkin tanpa kita sadari, orang lain juga membutuhkan dorongan kita dan kehadiran kita dalam kegiatan tersebut semakin memperteguh iman orang lain”.

(6).Pendalaman Kitab Suci

Pembimbing meminta salah satu peserta untuk membacakan dari Kitab Suci, Yak 2: 14-26. Setelah selesai dibacakan oleh peserta, pembimbing membacakan sekali lagi agar peserta semakin memahami isi bacaan. Setelah selesai membaca,

105

pembimbing mempersilakan peserta untuk menanggapi bacaan tersebut, dengan panduan pertanyaan sebagai berikut:

(a).Bagaimana perasaan Anda setelah mendengar isi bacaan tadi? (b).Ayat manakah yang berkesan bagi Anda? Mengapa?

(c).Bagaiman sapaan Tuhan yang Anda rasakan lewat ayat “Iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong”?

(d).Bagaimana tanggapan Anda atas sapaan Tuhan yang Anda rasakan ini? (e).Apa niat yang muncul setelah merenungkan ayat tadi?

Diminta beberapa peserta mengutarakan tanggapannya. Setelah beberapa menit diadakan dialog, pembimbing menyampaikan hikmah iman dari bacaan tadi:

“Iman dapat dikatakan sebagai kepercayaan kepada Yang Maha Tinggi. Dengan menyatakan diri beriman kepada Tuhan, berarti di sana terdapat kepercayaan dan kepasrahan atas apapun yang akan terjadi dan dialami. Secara jelas dalam surat Yakobus diutarakan tentang iman yang pada hakekatnya mati jika tidak ada perwujudannya. Tidak ada gunanya kalau seseorang mempunyai iman yang tidak disertai perbuatan; iman itu sendiri tidak dapat menyelamatkan, atau dengan perkataan lain, iman itu takkan diterima Allah. Yakobus hendak membuktikan dalil ini dengan dua cara. Ia mulai dengan perbandingan dari hidup sehari- hari, mengucapkan selamat jalan (syaloom!), selamat makan, dan sebagainya, adalah omong kosong kalau orang untuk siapa ucapan itu ditujukan tidak mempunyai makanan dan sebagainya, sedangkan orang yang mengucapkannya tidak menyertai ucapannya itu dengan pertolongan yang nyata

106

(Gunning, 1971: 23). Pembuktian tersebut sangat mudah dimengerti dan karena juga berasal dari keseharian manusia berhubungan dengan manusia lain. Hal lain lagi, sebagai penjelasan maksud dari bacaan, tidak ada artinya ketika dimana-mana mengungkapkan bahwa dirinya beriman, terutama kepada Yesus Kristus, tetapi perbuatannya tidak mencerminkan sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus. Orang yang beriman kepada Yesus Kristus juga akan meneladani-Nya atau mematuhi ajaran-meneladani-Nya. Bila kita mengaku beriman kepada Yesus Kristus, berarti kita juga harus menjalankan ajaran-Nya. Kita harus meneladani Tuhan Yesus, karena tanpa perbuatan meneladani Yesus itu, iman kita sebenarnya mati”.

3). Pertemuan Ketiga a). Identitas Pertemuan

(1).Judul Pertemuan : Melangkah Menuju Kebahagiaan

(2).Tujuan Pertemuan : Simpatisan semakin memaha mi dan menyadari konsekuensi menj adi orang Katolik dan siap menjalankannya sehingga mengalami kebahagiaan sebagai orang Katolik

(3).Peserta : Simpatisan

(4).Tempat : GKS Widyamandala-Kotabaru (5).Pelaksana : Pembimbing Katekumen (6).Waktu : Pkl. 10.15-12.30 WIB

107

b). Pemikiran Dasar

Simpatisan mungkin pernah hidup bersama (dalam satu rumah atau masyarakat) dengan orang beragama Katolik, tetapi mereka sudah pasti belum pernah menjadi Katolik. Pengalaman menjadi Katolik yang belum pernah dialami ini akan mereka alami setelah menerima Sakramen Baptis. Mungkin ada yang pernah membayangkan rasanya menjadi orang Katolik, tetapi mungkin juga ada yang sama sekali tidak dapat membayangkan.

Perkenalan tentang agama Katolik yang dilakukan pada masa pra katekumenat belum menyeluruh sehingga pemahaman simpatisan masih kurang. Hal ini adalah wajar karena masih ada pembinaan selanjutnya yang diharapkan dapat menambah pemahaman, motivasi, dan niat untuk menjalankan konsekuensi menjadi orang Katolik. Memang menjadi Katolik bukan berarti harus mengenal dan tahu semua tentang Gereja, tetapi paling tidak, ada hal- hal yang penting untuk diketahui bahkan dilakukan. Sebagai calon anggota Gereja pun harus mengetahui kegiatan apa yang dilakukan Gereja dan sebisa mungkin mengikutinya.

Lukas 14: 16b-20 mengangkat topik ini dan memberikan pesan untuk dapat menentukan pilihan dalam melakukan kegiatan dengan bijaksana. Dalam kisahnya, ditampilkan perumpamaan seseorang yang mengadakan perjamuan lalu mengundang banyak orang, tetapi orang-orang yang diundang itu menolak dan memberikan alasan masing- masing. Melalui perumpamaan tersebut, digambarkan bahwa banyak orang yang seringkali menolak untuk datang pada beberapa kegiatan gerejawi dengan berbagai alasan atau dalih. Makna dari undangan orang yang mengadakan perjamuan tersebut bermacam- macam, ada yang mengundang

108

untuk berkomunikasi, mengundang untuk berrekonsiliasi, dan sebagainya. Sedangkan dalam hal ini, yang dimaksud ialah undangan untuk mengadakan kegiatan bersama sebagai orang yang sama-sama mengimani Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat.

Konsekuensi menjadi angota Gereja harus dijalankan apabila ingin benar-benar menjadi anggota Gereja. Meskipun terdapat materi yang membicarakan konsekuensi menjadi orang Katolik dalam pembinaan rutin pada masa katekumenat, tetapi dalam pembinaan dengan model rekoleksi ini, hal tersebut diangkat juga. Melalui rekoleksi ini, materi yang memaparkan dan menguatkan simpatisan terhadap konsekuensi menjadi orang Katolik, sudah dimulai agar simpatisan memahaminya dari awal dan lebih siap terhadap peristiwa-peristiwa yang bisa mengejutkan di masa yang akan datang. Tawaran-tawaran menarik yang akan menghampiri, perlu ditanggapi dengan sikap dan tindakan yang bijaksana.

c). Proses Pelaksanaan

(1).Bernyanyi “Jangan Lelah” (Terlampir)

Pembimbing mengawali pertemuan ini dengan mengajak peserta untuk bernyanyi. Apabila peserta belum mengenal lagu ini, maka pembimbing mengajari secara pelan-pelan.

109

(2).Bermain “Gerakan Maut”

Pembimbing memfasilitasi peserta untuk bermain permainan yang tersirat makna. Sebelum memulai permainan, pembimbing me mberikan cara-cara permainannya, sebagai berikut:

(a).Peserta dibagi menjadi 2 (atau lebih) kelompok, diusahakan jumlahnya sama (b).Peserta dalam masing- masing kelompok diminta berbaris lurus

(c).Peserta yang paling depan diberitahu tindakan apa yang harus dilakukan, misalnya “mandi”

(d).Setelah mendengar kata kerja dari pembimbing, peserta tersebut berhadapan dengan peserta di belakangnya

(e).Peserta pertama mengucapkan kembali kata kerja dari pembimbing tetapi melakukan gerakan yang berbeda dari kata yang diucapkan, misalnya “memasukkan tangan ke dalam mulut” sebagai tanda “makan”

(f).Peserta kedua menebak tindakan peserta pertama dan mengucapkan sambil melakukan tindakan yang berbeda dari yang diucapkan

(g).Demikian seterusnya sampai peserta melakukan semua tindakan tersebut

Setelah permainan selesai, diminta beberapa peserta mengungkapkan kesan dan makna dari permainan yang kiranya sesuai dengan apa yang telah diterima selama beberapa jam mengalami rekoleksi.

(a).Bagaimana perasaan Anda ketika melakukan permainan tadi?