BAB II. SAKRAMEN BAPTIS DALAM GEREJA KATOLIK
A. Sakramen Secara Umum
3. Unsur-Unsur Sakramen
14
membersihkan segala dosa manusia, namun diperlukan penyesalan dan niat untuk memperbaiki hidupnya dari pihak manusia maka melalui perantaraan imam, umat Allah dapat kembali hidup damai karena dosanya terampuni melalui “Sakramen Tobat”; “Sakramen Imamat” membuat Gereja memiliki banyak pemimpin secara rohani dan semakin banyak orang yang membantu umat secara umum untuk lebih mendalami imannya; melalui “Sakramen Perkawinan” dua orang manusia yang ingin bersatu akhirnya dapat disatukan dalam kasih dan nama Tuhan Yesus, selain itu secara tidak langsung membantu dalam mena mbah Gereja karena salah satu tujuan perkawinan ialah melanjutkan karya Allah dalam penciptaan manusia baru; “Sakramen Pengurapan Orang Sakit” menjadi pilihan seorang beriman Kristiani ketika dia ingin disembuhkan secara rohani (dan dapat juga jasmani) ataupun yang rela meninggalkan dunia secara fisik.
3. Unsur-Unsur Sakramen
Selain dari arti dan makna sakramen secara umum, ketujuh sakramen juga memiliki unsur yang sangat penting untuk dipelajari lebih dalam. Sama halnya dengan pembuktian ketujuh sakramen yang dikehendaki Yesus, demikian pula simbol yang digunakan untuk dapat menjadikan suatu sakramen, khususnya dalam perayaan liturginya, mengalami pembicaraan yang panjang dan lama. Dilihat dari perayaan liturginya, sakramen secara tradisional memiliki tiga unsur yang menjadi dekrit ajaran dari Konsili Firenze yakni, materia sacramenti, forma sacramenti,
dan pelayan sakramen. Materia sacramenti merupakan bahan atau tindakan yang digunakan sebagai tanda sakramen. Bahan atau unsur yang berasal dari alam itu
15
dinamakan materia remota seperti air, minyak, dan lain- lain. Sedangkan tindakan dalam menggunakan unsur- unsur itu seperti mencurahkan air, mengolesi minyak, dan lain- lain dinamakan materia proxima. Forma sacramenti merupakan kata-kata yang diucapkan oleh pelaya n sakramen yang menjelaskan materia, sehingga materia mempunyai arti sakramental. Misalnya, dalam Sakramen Baptis ketika pelayan sakramen menuangkan (materia proxima) air (materia remota), mengatakan: “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus” sebagai formanya. Pelayan sakramen ialah orang yang melaksanakan penerimaan sakramen seperti Uskup, Imam, dan Diakon. Tidak boleh seseorang menerimakan sakramen untuk dirinya sendiri, kecuali Imam pada Perayaan Ekaristi dan kedua mempelai dalam Sakramen Perkawinan. Pelayan sakramen menentukan keabsahan materi dan forma sakramen. Dari segi Kristologi, pelayan sakramen dilihat sebagai in persona Christi (dalam pribadi Kristus), sebagai pelayan Kristus. Maka yang sebenarnya, Kristuslah yang berperanan. “Keabsahan penerimaan sakramen ditentukan oleh pelayan sakramen dan ketetapan yang menjadi materia dan forma sakramennya ” (Martasudjita, 2003: 168).
Unsur sakramen dari segi arti dibedakan menjadi dua hal, yaitu arti biasa manusiawi dan arti rohani. Arti biasa manusiawi dinilai dari unsur yang kelihatan dan terbentuk menurut budaya tertentu, seperti air sebagai materia remota
Sakramen Baptis mengingatkan akan pembebasan Israel atau yang paling ringan memiliki simbol pembersih. Sedangkan arti rohani menunjukkan bahwa terdapat karya penyelamatan yang diterima oleh di penerima sakramem, seperti baptisan menghapus dan menyelamatkan dosa seseorang. “Pembedaan menurut arti ini
16
nampak jelas dalam materia Sakramen Baptis. Dalam hidup, air mempunyai arti pembersih, mengingatkan pembebasan Israel, sedangkan arti rohani menunjuk karya penyelamatan yang diterima oleh orang yang dibaptis. (Purwatma, Pr, 2006:5).
Sakramen menghasilkan beberapa hal, dengan kata lain terdapat tujuan dan akibat dengan diadakannya sakramen. Pertama, Sacramentum tantum (signum), yakni upacara yang kelihatan dimana didalamnya menggunakan unsur-unsur yang ada seperti tindakan dan forma sehingga manusia merasakan rahmat Allah.
“Signum atau sacramentum menunjuk tanda lahiriah yang kelihatan” (E.
Martasudjita, 2003: 193). Kedua, Res tantum yakni, sakramen yang menandakan rahmat sakramental tersebut. Misalnya, Sakramen Baptis mempersatukan manusia dengan Allah “Res menunjuk isi rahmat atau apa yang dirayakan dan dianugerahkan dalam sakramen” (E. Martasudjita, 2003: 193). Ketiga,
Sacramentum et res yang berarti akibat dari sakramen yang diterima dan si
penerima memiliki status baru. Misalnya, dengan baptisan seseorang menjadi warga Gereja. “Dengan istilah res et sacramentum ini menunjuk semacam “akibat/hasil/buah” (Martasudjita, 2003: 193).
Sakramen Baptis, penguatan, dan imamat merupakan sakramen yang memiliki sebutan khusus, yaitu meterai (charakter indebilis) yang berarti untuk selamanya dan tidak dapat hilang, serta tidak dapat diulang untuk kedua kalinya.
Meterai atau charakter indebilis, yang secara harfiah berarti sifat atau ciri yang tak terhapuskan, merupakan status baru sebagai hasil atau akibat penerimaan sakramen dan yang dibedakan dari isi rahmat yang sebenarnya. Charakter indebilis ini hanya terdapat dalam ketiga sakramen: baptisan, penguatan, dan tahbisan. Dengan meterai atau charakter indebilis, mau
17
dinyatakan bahwa sakramen-sakramen tersebut hanya diterimakan sekali dan tidak dapat diulangi lagi (Martasudjita, 2003: 195).
Sakramen yang diterima memang mengakibatkan perubahan, baik yang kedudukannya dalam umat seperti menjadi saudara dalam nama Tuhan maupun hubungannya dengan Allah dimana didalamnya terdapat ikatan roh. Normalnya kedua akibat itu terjadi bersama-sama tetapi ada kemungkinan kekecualian. Seseorang bisa saja memenuhi syarat-syarat yuridis dan mengalami perubahan status, tetapi tidak memiliki sikap jiwa yang semestinya sehingga tidak membawa akibat dalam hubungan dengan Allah. Misalnya, seseorang ingin dibaptis agar bisa masuk sekolah Katolik atau seseorang bersedia menjadi imam hanya untuk memiliki kedudukan yang tinggi dan hidup yang enak
Dari segi persyaratan, ada yang dinamakan syarat “demi syahnya ” (ad validitatem) yakni hal yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan upacara sakramen agar sakramen menjadi sah. Bidang yang berpengaruh meliputi: tanda sakramental sendiri misalnya, dalam baptisan harus ada pencurahan air; pelayan
misalnya saat upacara ekaristi harus dipimpin oleh imam dan dengan keinginan kuat mau menjalankan, apabila imam itu gadungan, sakramen tidak terjadi;
penerima, menunjukan peran si penerima sakramen sendiri. Misalnya, pada saat hendak menerima Sakramen Tobat, si penerima harus sungguh-sungguh menyesali dosanya.
Syarat lainnya ialah “demi layaknya ” (ad liceitatem) menunjukkan bahwa terdapat hal-hal yang harus dilakukan agar sakramen boleh diterimakan dan hal ini menyangkut akibat yuridis. Menjadi berbahaya apabila berhenti pada “demi bisanya” sehingga dilaksanakan penerimaan sakramen, karena penting juga
18
memperhatikan hubungan personal dengan Allah. Misalnya, dua orang katolik yang acuh terhadap kegiatan Gerejawi telah memenuhi persyaratan dan layak menerima Sakramen Pernikahan. Secara yuridis kedua orang ini dapat menerima Sakramen Pernikahan tetapi sikap acuhnya terhadap Gereja itu tidak dapat diterima walaupun tidak mempengaruhi persyaratannya. “Yang diharapkan ialah supaya sakramen membawa baik akibat yuridis maupun persatuan dengan Allah” (Banawiratma, SJ, 1989: 32).
Dalam hal ini dipakai istilah ex opere operato (berkat karya yang dikerjakan) menunjukan peran Kristus (atau oleh Kristus dalam Gereja) dan terdapat istilah yang menjadi kebalikannya yaitu ex opere operantis yang merupakan usaha manusia untuk mendapatkan rahmat itu. “Dengan istilah ex opere operato
ditekankan bahwa keselamatan dikerjakan oleh Allah/Kristus, bukan oleh daya manusia. Sedangkan dengan istilah ex opere operantis ditekankan usaha manusia” (Banawiratma, SJ, 1989: 59). Namun, sering orang menganggap ajaran ini tidak masuk akal karena dari satu sisi nampak percuma manusia melakukan banyak hal untuk keselamatan dirinya karena semua tergantung Allah (ex opere operato) dan di sisi lain, dengan manusia yang berperan (ex opere operantis) seakan-akan manusia yang menentukan dan mengatur datangnya rahmat. Hal ini perlu dijelaskan kembali bahwa memang kedua hal ini dapat terjadi. Ketika Kristus bersedia disalib, itulah usaha-Nya menyelamatkan manusia (ex opere operato)
namun ketika seseorang memohon untuk diampuni dosanya menunjukkan usaha dari manusia (ex opere operantis). Namun meskipun manusia mengusahakan dengan tindakannya, di situ Allah juga berkarya. “Lalu etiket ex opere operato