BAB III ELABORASI TEMA
III.1.2 PENGERTIAN HIGH TECH
High yang berarti tinggi. Tinggi di sini maksudnya adalah sesuatu yang mengacu pada modernisasi dan hal yang baru.
Tech yang merupakan kata lain dari Technology. Dalam bahasa Indonesia, kata ini berubah dan diserap menjadi teknologi yang artinya adalah suatu metode yang dipakai dalam suatu pemecahan masalah perancangan. Masalah perancangan yang dimaksud disini adalah masalah struktur, serta pemakaian bahan yang terkait dengan sistem konstruksi yang mendukung sebuah bangunan untuk dirancang.
M e n u r u t C o l l i n D a v i e s d a l a m b u k u h i g h t e c h a r c h i t e c t u r e H i - T e c h m e r u p a k a n p e n d e k a t a n t e m a yang :
Mengutamakan fungsi, fleksibilitas, dan kemudahan operasional antarruang.
P l u g i n f o d : Suatu wadah atau fasilisator yang bisa dipasang, berupamodul-modul yang diproduksi secara massal per unit di pabrik denganmutu dan presisi yang terkontrol.
Sistem bangunan berteknologi baru.
Penggunaan bahan-bahan yang berteknologi canggih.
Berdasarkan teknologi industry tetapi bukan hanya tradisi berarsitektur.
Menampilkan struktur bangunan dan bagian elektrikal utilitasbangunannya
Dalam tulisan Charles Jenks mengenai arsitektur High-Tech,”The Battle
of High-tech; Great Buildings with Great Faults”, dua bangunan High-Tech yang sangat penting dalam abad ini adalah Hongkong Bank (yang merupakan salah satu karya masterpiece Norman Foster) dan Lloyd´s of London (Richard Rogers). Karya arsitektur yang besar namun banyak dipertanyakan, hasil yang memuaskan tapi seperti boneka, ruang-ruang yang menakjubkan namun satu kegunaan, ekspresi struktur yang jujur dan mengagumkan namun sangat mahal. Ia juga menuliskan beberapa hal dasar mengenai High-Tech Bulding, yang di dalamnya terdapat 6(enam) hal penting:
1. Inside-out (penampakan bagian luar-dalam)
Pada bangunan hi-tech, struktur, area servis dan utilitas dari suatu bangunan hampir selalu ditonjolkan pada eksteriornya baik dalam bentuk ornamen ataupun sculpture.
2. Celebration of Process (keberhasilan suatu perencanaan)
Hi-tech menekankan pada pemahaman konstruksinya, bagaimana, mengapa dan apa dari suatu bangunan. Di antaranya
hubungan dari struktur, pemakuan, flanges, dan pipa-pipa salurannya, sehingga dapat dimengerti, baik oleh orang awam maupun para ilmuwan.
3. Transparancy, Layering, and Movement (transparan, pelapisan dan pergerakan)
Bangunan hi-tech selalu menampilkan ketiga unsur ini semaksimal mungkin. Karakter dari bangunan hi-tech dapat dilihat pada penggunaan yang lebih luas material kaca (transparan dan tembus cahaya), pelapisan pipa-pipa jaringan utilitas (layering), alat transportasi bangunan seperti tangga, eskalator atau lift (movement).
4. Flat Bright Colouring (pewarnaan yang menyala dan merata) Warna cerah yang digunakan dalam bangunan hi-tech memiliki makna asosiatif, di samping dari segi fungsionalnya untuk membedakan jenis struktur dan utilitas bangunan. Warna kuning, merah, biru yang cerah merupakan warna dari mesin-mesin industri, mobil, kapal, traktor, dan benda-benda teknologi masa sekarang. Warna-warna ini kemudian diasosiasikan sebagai suatu elemen yang membatasi masa sekarang dan masa depan terhadap masa lalu.
5. A Lightweight Filigree of Tensile Member (baja-baja tipis sebagai penguat)
Baja-baja tipis yang bersilangan diibaratkan sebagai kolom Doric bagi high tech, dilihat dari penampakan dan penyusunannya. Pengekspresian dan pengaplikasian menurut hierarki yang menjadikan kejelasan dari bagian-bagian tersebut. Landasan pemikiran yang luas pada kreasi adalah dalam pembentukan elemen yang mudah dan logis, mudah penyimpanannya serta mudah pemasangannya.
6. Optimistic Confidence in Scientific Culture (optimis terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi)
Penggunaan hi-tech merupakan harapan di masa yang akan datang, meliputi penggunaan material, warna dan penemuan-penemuan baru lainnya
Menurut Charles Jenks elemen service dan struktur pada suatu bangunan High- Tech hampir selalu diperlihatkan di eksteriornya sebagai ornamen dan sculpture. Bangunan High-Tech juga diperlihatkan dengan menggunakan kaca buram maupun transparan, ducting yang saling tumpang tindih, penggunaan warna pada tangga, eskalator dan lift dengan warna-warna cerah yang bertujuan membedakan fungsi masing-masing elemen struktur dan service. Arsitektur High-Tech merupakan suatu kejujuran yang menyatakan dengan jelas fungsi-fungsi elemen bangunannya, misalnya yang mana tangga, lift, ducting dan lainnya.
Perkembangan lebih lanjut arsitektur High-Tech bukan saja tercermin dari struktur bangunan tetapi juga pada sistem utilitas bangunan, sehingga muncul istilah smart building dengan karakter-karakter hi-tech architecture.
Sebagai alternatif, pengertian Arsitektur High Tech bisa didapat mendalam dari apa yang sudah diterapkan pada bangunan-bangunan yang dirancang dalam 20 tahun terakhir oleh para arsitek yang beraliran High Tech, seperti :
o Norman Foster o Richard Rogers o Michael Hopkins o Nicholas Grimshaw
Ada beberapa lagi exposen High Tech, dan tidak semua dari mereka orang Inggris, namun keempat orang ini adalah pemimpin dari gerakan ini.
Sebagai pelopor arsitektur hi-tech, Norman Foster mampu menampilkan bangunan-bangunan yang memiliki ciri tersendiri, seperti yang dicirikannya mengenai arsitektur High-Tech. Antara lain yang menjadi ciri khas karya Norman Foster yaitu:
o Selalu mengekspose struktur dan konstruksi bangunannya
o Menampilkan bagian dalam bangunan yang mempunyai nilai sama pada bagian luar bangunan
o Bagian interior diekspos sehingga dapat dilihat dari luar
o Mengeluarkan bagian dalam bangunan yang memang seharusnya berada di dalam sebagai ornamen atau sculpture
Dengan demikian, dapat menunjukan kepada orang awam bagaimana suatu proses penyelesaian konstruksi bangunan secara logis, memahami terapan-terapan konstruksi, gaya-gaya yang bekerja, dan bahan bangunan yang digunakan.
Selain itu, hampir semua desain-desainnya dilapisi oleh unsur transparan pada dinding luarnya, pelapisan struktur dengan warna abu-abu, pelapisan pipa-pipa saluran, tangga, eskalator, lift, dengan warna silver metalik akan menghasilkan karakteristik bangunan hi-tech.
Dalam kelanjutannya, Norman Foster juga menyederhanakan warna dari bangunan-bangunan terakhirnya ke warna silver serta menyatukan pipa-pipa saluran dan struktur ke dalam suatu palet abu-abu, tetapi warna-warna ini mempunyai komponen penghubung yang sekuat fungsi dan sangat mendesak dalam teknisnya, seperti warna kuning cerah, merah, dan biru yang merupakan warna-warna yang bisa digunakan untuk mesin industri, mobil sport, kapal, dan traktor.
Warna dalam arsitektur High-Tech merupakan unsur yang sangat diperhatikan atau diutamakan. Estetika warna perak adalah suatu rubrik yang mudah untuk menutupi strategi baru dalam bangunan konteks sensitif, dan termasuk dari penggunaan metalik abu-abu yang sesungguhnya merupakan campuran dari warna biru, putih dan hitam.
Jadi dapat disimpulkan hi-tech architecture memiliki karakter-karakter sebagai berikut:
o Berestetika mesin
o Dominasi material logam ataupun material penemuan baru o Penekanan pada ekspresi bangunan, bukan fungsi
bangunan
o Penggunaan teknologi hampir diseluruh bagian bangunan o Hi-tech architecture tidak akan lepas dari kesan futuristik,
yang berkarakter:
o Konsep bangunan berfisi kedepan
o Estetika mesin yang mencerminkan era industrialisasi o Penggunanan bahan prefabrikasi dan bahan-bahan baru
lainnya