BAB I. PENDAHULUAN
B. Pengertian Iman
Iman dalam pengertian umumnya terkait dengan religiusitas formal. Dalam konteks ini ada lima (5) pengertian iman yaitu:
a. Suatu keyakinan “akan dan tentang” Tuhan itu sendiri.
b. Keyakinan bahwa Tuhan merupakan sumber segala sesuatu yang “lebih
baik, lebih luhur, lebih suci, dan lebih tinggi.
c. Keyakinan bahwa dengan merangkul dan memeluk yang serba lebih itu
d. Keyakinan bahwa Tuhan sumber segala yang serba lebih baik itu ternyata lebih dulu memberi, melayani, mengasihi, memaafkan, kepada kita manusia yang lemah dan tak berdaya.
e. Suatu “keyakinan” bahwa “keempat keyakinan” merupakan sebuah
kebenaran yang mutlak. (nn. http://www.wikipedia.org/wiki/iman. accesed on April 1,2009).
Iman bukan hasil refleksi manusia tetapi merupakan buah pemberian cuma-cuma yang dihasilkan oleh kuasa Allah, Roh Kudus dalam diri kita. Melihat bahwa iman merupakan jawaban pribadi manusia atas prakarsa yang dikenal dalam firmanNya. Dalam pengalaman konkrit setiap hari manusia perlu menanggapi setiap sapaan Tuhan dalam hidupnya sehari-hari, sehingga dalam situasi apa pun manusia tetap setia dan beriman pada Allah.
Beriman kepada Allah berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada kuasa Tuhan. Dalam buku Ilmu Kateketik dikatakan bahwa seorang beriman adalah orang yang menghayati dan mau tunduk serta berserah pada Allah, mempercayakan diri sepenuhnya pada Allah, menerima bahwa Allah adalah kebenaran, menaruh kesadaran kepadaNya dan bukan dirinya sendiri. Dengan demikian menjadi teguh dan benar oleh karena keteguhan dan kebenaran Allah (Telambanua, 1999:44).
Boleh dibilang orang yang beriman kepada Tuhan berarti menyerahkan hidupnya hanya untuk Tuhan, dan tanpa ada suatu paksaan melainkan suatu keyakinan penuh dan sukarela. Oleh karena itu iman sesungguhnya adalah penyerahan total kepada Allah yang menyatakan diri tidak karena terpaksa
melainkan sukarela (Konferensi Wali Gereja, 1996:128). Iman adalah suatu kepercayaan yang berkenaan dengan agama dan juga keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dimana di dalamnya terdapat ketetapan hati, keteguhan batin serta keseimbangan batin. (Depdiknas, 2005:425).
Iman berasal dari kata Arab dan kata Ibrani yakni “aman”, mempunyai akar yang kata sama yaitu “mu”, yang berarti “kokoh, aman”. Kata penutup doa “amen”, mengungkapkan persetujuan. Iman berarti percaya, berpaling kepada, menganggap pasti, dan digunakan dalam Al-Quran untuk mengimani dan untuk apa diimani. Kata “percaya” hampir sama lingkup artinya yaitu “menganggap dan yakin serta mengakui bahwa benar”. (Heuken, 2004:88). Iman adalah jawaban atas panggilan yang diterima dengan penuh percaya. Dengan mengikuti panggilan orang diterangi sehingga semakin mengerti dan mengetahui besarnya cinta kasih Ilahi. (Heuken, 2004:89).
Iman adalah sikap esensial yang mendasarkan seluruh eksistensi kepada Tuhan. Orang percaya akan kesetiaan Tuhan dalam keadaan apa pun mengaminkan Tuhan dengan berserah kepada-Nya. (Heuken, 2004:89). Konsili Vatikan II juga membicarakan iman sebagai jawaban manusia atas Wahyu Tuhan, dan karenanya orang mengimani sesuatu. Iman itu adalah rahmat Ilahi yang menerangi serta meyakinkan manusia dari dalam jiwanya.
Iman adalah keutamaan adikodrati artinya suatu rahmat Ilahi yang tidak dapat diusahakan manusia atas kehendaknya sendiri. Rahmat supaya dapat percaya adalah prasyarat utama bagi keselamatan abadi. Dalam pengertian umum, iman memang diartikan sebagai percaya. Tapi tidak semua percaya bisa dikatakan
iman. Alkitab sudah memberikan pengertian yang cukup jelas, tentang percaya yang bagaimana yang disebut iman.
Sedangkan dalam Kitab Suci ada dua perikopa yang berbicara mengenai iman yaitu :
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
(Roma 10:17)
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari
segala sesuatu yang tidak kita lihat. (Ibrani 11:1)
Dari kedua ayat ini kita bisa memerincikan pengertian tentang iman, sebagai berikut:
• Kita mendapatkan iman karena Allah berbicara kepada kita melalui
Firman-Nya.
• Iman mengandung unsur berharap, meskipun tidak semua harapan itu iman.
• Kita berharap berdasarkan Firman Tuhan, bukan berdasarkan hasil analisa atau perhitungan manusia. Kalau Allah berbicara kepada kita, meskipun tidak ada dasar untuk berharap, kita tetap berharap dan percaya, inilah yang disebut iman. Misalnya, seorang siswa yang yakin bahwa dia akan lulus ujian karena memang selama ini dia juara kelas terus, ini bukanlah iman. Itu memang wajar demikian. Juga, seorang yang yakin bahwa tahun depan dia akan bisa membeli
sebuah mobil, karena setiap bulan dia menabung uang yang cukup, ini pun juga bukan iman.
• Yang kita harapkan tersebut belum terjadi atau tidak kelihatan (Roma
8:24-25). Bukan juga karena mendapat info lebih awal. (nn. http://www.geocities.com/Athens/6884/iman.htm accessed on August 24,2009).
Untuk lebih memperjelas kembali kajian pustaka yang ada maka dibahaslah mengenai tahap perkembangan iman . Adapun perkembangan iman mempunyai enam (6) tahap yang dijabarkan sebagai berikut:
a. Iman intuitif dan yang diarahkan pada iman yang dipegang oleh tokoh-tokoh berkuasa.
Iman tahap pertama biasanya terdapat pada anak yang berumur antara 4-8 tahun. Mereka menggunakan intuisi untuk mengetahui kebenaran sambil meniru cara yang diperlihatkan oleh orangtua mereka. Jika orangtua berdoa sambil melipat tangan dan menutup mata, maka mereka juga akan berdoa seperti itu. Mereka tidak tahu mengapa harus melipat tangan dan menutup mata, tapi karena orangtua, tokoh-tokoh yang berkuasa berbuat seperti itu maka mereka menerimanya sebagai kebenaran.
b. Iman yang berporos pada mitos atau arti harafiah.
Tahap kedua biasanya terdapat pada anak yang berumur 8 – 12 tahun, namun kadang-kadang terdapat juga pada orang yang lebih tua. Mereka tertarik untuk
menjadi anggota kelompok persekutuan tersebut. Iman mereka bertumbuh dengan mempelajari cerita atau mite yang ada dalam kelompok persekutuan itu. Cerita atau mite tersebut mereka pahami secara harafiah karena mereka belum dapat memahami makna yang terkandung dibelakang cerita atau mite tersebut. Jadi nilai-nilai dan ajaran yang mereka dapat tangkap hanyalah yang tertuang secara harafiah dalam cerita atau mite tersebut. Apa yang terkandung dalam cerita dan mite itu mereka pandang sebagai kebenaran.
c. Iman yang berporos pada kebiasaan kelompok-kelompok serta usaha untuk menyesuaikan ketidak selarasan nilai atau pendapat kelompok-kelompok tersebut.
Tahap ketiga biasanya terdapat pada anak remaja yang berusia 12 – 16 tahun, namun sering juga terdapat pada orang tua. Tahap ini seseorang telah mengikuti berbagai kelompok, misalnya: kelompok sekolah, kelompok teman sepermainan, kelompok teman sekerja, kelompok sosial, jemaat dan keluarga. Mereka berusaha hidup sesuai dengan norma, aturan dan nilai-nilai yang ada dalam setiap kelompok. Norma, aturan dan nilai-nilai yang ada dalam setiap kelompok, mereka anggap sebagai kebenaran. Kebenaran itu mereka terima tanpa pertimbangan-pertimbangan kritis, mereka menerimanya sebagai kebenaran karena orang-orang lain juga menerimanya sebagai kebenaran.
Tahap keempat bisa dicapai oleh pemuda yang berumur 17 tahun. Tapi biasanya terdapat pada orang yang yang berumur 35 – 40 tahun, bahkan banyak orang yang yang lebih tua belum mencapai tahap ini. Ada masa peralihan dari tahap ketiga ke tahap keempat. Dalam masa peralihan tersebut mereka diperhadapkan oleh berbagai ketegangan: apakah harus berdiri sendiri dan melepaskan diri dari ikatan kelompok atau tetap berada dalam kelompok dan menjadi bagian dari kelompok: apakah tetap berpegang pada pandangan subyektif dan kekuasaan kelompok yang dirasakan sangat kuat walaupun belum dibuktikan atau berpegang pada pandangan obyektif melalui proses refleksi yang kritis: apakah perwujudan diri secara penuh dijadikan sebagai perhatian utama atau tetap melayani keinginan kelompok dan menjadikan diri tetap seperti mereka: apakah tetap mempertahankan pandangan yang relatif atau berusaha mendapatkan pandangan yang mutlak.
e. Iman yang mampu hidup aman dengan pelbagai ketegangan yang belum diredakan secara menyeluruh.
Tahap kelima baru bisa dicapai oleh orang yang telah berumur 35 tahun. Perkembangan ketahap lima ditandai dengan usaha untuk mengolah kembali hasil yang telah dicapai dalam tahap empat. Dalam melakukan perubahan ini, seseorang mendengarkan suara hatinya yang terdalam, memperhadapkan kembali hasil yang telah dicapai dalam tahap empat dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat, dia berusaha melihat kenyataan itu dari berbagai segi agar kebenaran yang diperoleh lebih lengkap. Dia terbuka mendengarkan pendapat-pendapat orang
lain. Semua masukan-masukan ini dia olah kembali melalui proses berpikir dialogis untuk menghasilkan pandangan yang baru.
f. Iman yang berporos pada Tuhan saja dalam arti kemutlakan diri pribadi semakin mundur demi kepentingan yang Abadi itu.
Peralihan ketahap enam dapat terjadi kalau seseorang dapat mengubah titik tolak pandangannya secara radikal. Pada tahap sebelumnya, orang berusaha mendapatkan kebenaran yang mutlak bertitik tolak dari kemampuan dirinya menganalisa dan merefleksikan kenyataan yang mereka hadapi. Pada tahap enam orang tidak lagi bertitik tolak dari dirinya sendiri, tetapi bertitik tolak dari kebenaran yang mutlak/ abadi. Kebenaran yang mutlak dan abadi itu bersifat universal menyatakan diri secara utuh dalam bentuk dan kontek yang berbeda. Kebenaran mutlak yang dinyatakan secara utuh ini tidak identik dengan kebenaran mutlak yang dinyatakan oleh tiap-tiap agama karena pandangan tiap agama bertitik tolak dari keterbatasan mereka. Orang dalam tahap keenam tidak mau lagi terikat kepada ikatan-ikatan sosial, politik, ekonomi, ideologi maupun agama, mereka hanya menyandarkan diri kepada Tuhan dan berusaha mewujudkan kebenaran yang abadi tadi dalam hidup sehari-hari. Mereka sangat menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, karena itu mereka tidak lagi menggunakan kekerasan dalam perjuangannya. (nn. http://cwsgading.com/2009/05/06/perkembangan-iman-menurut-james-w-fowler/ accessed on November 16, 2009.
Membaca dari referensi yang ada maka kaum muda yang ada di Paroki Santo Yakobus Bantul memasuki thap yang keempat yaitu mulai berefleksi dalam
dirinya dan melakukan perwujudan dalam kehidupan mereka. Kaum muda di Paroki Santo Yakobus Bantul mengalami masa untuk mengolah segala permasalahan mereka sendiri namun sesudah fase itu terlewati mereka akhirnya berefleksi dan menyadari harus ada pembenahan dalam dirinya.