• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASANN TEORI

D. MATERI

1. Pengertian Koefisien, Variabel, Konstanta dan Suku

Menurut Tim MKPBM (2001 : 218), pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang mencakupi suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau menyelesaikan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Slavin (2005 ; 4) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah berbagai macam metode pembelajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok - kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran.

Pembelajaran kooperatif menurut Agus Suprijono (2009 : 54) merupakan konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk - bentuk yang dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Menurut Lie (2002), pembelajaran kooperatif adalah sistem

pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas - tugas yang terstruktur, dan dalam sistem ini guru bertindak sebagai fasilitator. Dalam kelas kooperatif, siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan dan beragumentasi untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing - masing. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu memahami suatu bahan pelajaran artinya bahan belum selesai jika salah satu teman dalam sekelompok belum menguasai bahan pembelajaran.

Falsafah yang menjadi dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah manusia sebagai makhluk sosial, gotong royong serta kerja sama. Kerja sama merupakan kebutuhan penting bagi kehidupan manusia. Manusia tanpa kerja sama tidak akan terlaksana dengan baik. Tapi dalam kenyataannya, kebanyakan pengajar tidak menerapkan sistem kerja sama di dalam kelas. Model pembelajaran kooperatif akan dapat menumbuhkan pembelajaran efektif yaitu pembelajaran yang bercirikan : (a) memudahkan siswa belajar sesuatu yang bermanfaat seperti fakta, keterampilan, nilai, konsep, dan bagaimana hidup serasi dengan seasama, (b) pengetahuan, nilai, dan keterampilan diakui oleh mereka yang berkompeten menilai.

Pembelajaran kooperatif pada dasarnya merupakan model pembelajaran yang sistematis dengan mengelompokkan siswa untuk melakukan pembelajaran yang efektif agar siswa dapat memaksimalkan

kegiatan belajar, dimana keberhasilan individu diorientasikan dalam keberhasilan kelompok. Dalam hal ini siswa bekerjasama belajar dalam kelompok serta bertanggungjawab pula terhadap kegiatan belajar siswa lain dalam kelompoknya untuk melakukan usaha yang sama, bekerja seperti yang ia lakukan.

2. Elemen - elemen dalam Pembelajaran Kooperatif

Ada beberapa elemen dasar yang membuat pembelajaran kooperatif lebih produktif dibandingkan dengan pembelajaran kompetitif dan individual. Menurut Roger dan David Johnson dalam Agus Suprijono (2009 :58 - 61) elemen - elemen tersebut antara lain :

a. Saling ketergantungan positif

Unsur ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif ada dua pertanggungjawaban kelompok yaitu, mempelajari bahan yang ditugaskan kepada kelompok dan menjamin semua anggota kelompok secara individu mempelajari bahan yang ditugaskan tersebut.

Beberapa cara membangun saling ketergantungan positif yaitu : 1) Menumbuhkan perasaan siswa bahwa dirinya terintegrasi dalam

kelompok, pencapaian tujuan terjadi jika semua anggota kelompok mencapai tujuan.

2) Mengusahakan agar semua anggota kelompok mendapatkan penghargaan yang sama jika kelompok mereka berhasil mencapai tujuan.

3) Mengatur sedemikian rupa sehingga setiap siswa dalam kelompok hanya mendapatkan sebagian dari keseluruhan tugas kelompok. 4) Setiap siswa ditugasi dengan tugas atau peran yang saling

mendukung dan saling berhubungan, saling melengkapi dan saling terikat dengan siswa lain dalam kelompok.

b. Tanggung jawab individual

Pertanggung jawaban ini muncul jika dilakukan pengukuran terhadap keberhasilan kelompok. Tujuan pembelajaran kooperatif adalah membentuk semua anggota kelompok menjadi pribadi yang kuat. Tanggung jawab perseorangan adalah kunci untuk menjamin semua anggota yang diperkuat oleh kegiatan belajar bersama, setelah mengikuti kelompok belajar bersama, anggota kelompok harus dapat menyelesaikan tugas yang sama. Cara menumbuhkan tanggung jawab perseorangan adalah :

1) Kelompok belajar jangan terlalu besar. 2) Melakukan penilaian terhadap setiap siswa.

3) Memberi tugas kepada siswa yang dipilih secara random untuk mempresentasikan hasil kelompoknya kepada guru maupun kepada seluruh siswa di depan kelas.

4) Mengamati setiap kelompok dan mencatat frekuensi individu dalam membentuk kelompok.

5) Menugasi seorang siswa untuk berperan sebagai pemeriksa dikelompoknya.

6) Menugasi siswa mengajar temannya. c. Interaksi promotif

Unsur ini penting karena dapat menghasilkan saling ketergantungan positif. Ciri - ciri interaksi promotif adalah :

1) Saling membantu secara efektif dan efisien.

2) Saling memberi informasi dan sarana yang diperlukan.

3) Memproses informasi bersama secara lebih efektif dan efisien. 4) Saling mengingatkan.

5) Saling membantu dalam merumuskan dan mengembangkan argumentasi serta meningkatkan kemampuan wawasan terhadap masalah yang dihadapi.

6) Saling percaya.

7) Saling memotivasi untuk memperoleh keberhasilan bersama. d. Keterampilan sosial

Untuk mengoordinasikan kegiatan siswa dalam pencapaian tujuan siswa harus : 1) saling mengenal dan mempercayai, 2) mampu berkomunikasi secara akurat dan tidak ambisius, 3) saling menerima dan saling mendukung, 4) mampu menyelesaikan konflik secara konstruktif.

e. Pemrosesan kelompok

Melalui pemrosesan kelompok dapat diidentifikasi dari urutan atau tahapan kegiatan kelompok dan kegiatan dari anggota kelompok. Tujuan pemrosesan kelompok adalah meningkatkan efektivitas anggota

dalam memberikan kontribusi terhadap kegiatan kolaboratif untuk mencapai tujuan kelompok.

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar berupa prestasi akademik, toleransi, menerima keragaman, dan pengembangan keterampilan social.

3. Ciri - ciri Pembelajaran Kooperatif

Ciri - ciri pembelajaran kooperatif adalah :

a. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.

b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda - beda, baik tingkat kemampuan tingkat tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari suku atau agama yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.

c. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok daripada masing - masing individu.

4. Langkah - langkah Pembelajaran Kooperatif

Dalam pembelajaran kooperatif, terdapat 6 langkah (fase) utama, yaitu sebagai berikut:

Tabel 2.1 Langkah - langkah Pembelajaran Kooperatif Langkah Indikator Tingkah Laku Guru Langkah 1 Menyampaikan tujuan dan

motivasi siswa

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengomunikasikan kompetensi dasar yang akan dicapai serta memotivasi siswa.

Tabel 2.1 Langkah - langkah Pembelajaran Kooperatif (Lanjutan) Langkah Indikator Tingkah Laku Guru

Langkah 2 Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa.

Langkah 3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok - kelompok belajar

Guru menginformasikan pengelompokan siswa.

Langkah 4 Membimbing kelompok belajar

Guru memotivasi serta memfasilitasi kerja siswa untuk materi pembelajaran dalam kelompok - kelompok

Langkah 5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Langkah 6 Memberikan penghargaan Guru memberi penghargaan hasil belajar individual dan kelompok.

Menurut Muslimin dkk (2000), hasil penelitian yang menunjukkan manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan hasil belajar yang rendah antara lain :

a. meningkatkan pencurahan waktu pada tugas; b. rasa harga diri menjadi lebih tinggi;

c. memperbaiki kehadiran;

d. penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar; e. perilaku mengganggu menjadi lebih kecil;

f. konflik antar pribadi berkurang; g. motivasi lebih besar atau meningkat; h. hasil belajar lebih tinggi;

C.Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD)

1. Pengertian

Student Teams Achievement Division (STAD) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Sehingga model pembelajaran ini dapat digunakan oleh guru - guru yang baru memulai menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif (Slavin, 2005: 143).

Student Teams Achievement Division (STAD) dikembangkan oleh Robert E.Slavin dan teman - temannya di Universitas John Hopkin. Dalam

Student Teams Achievement Division (STAD), para siswa dibagi dalam tim belajar yang terdiri atas empat orang yang berbeda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya. Guru menyampaikan pelajaran, lalu siswa bekerja dalam tim mereka bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran. Selanjutnya, semua siswa mengerjakan kuis mengenai materi secara sendiri -sendiri, dimana saat itu mereka tidak diperbolehkan untuk saling membantu (Slavin, 2008: 11 -13).

2. Tahap tahap Pelaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD)

Tahap -tahap pelaksanaan model kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) adalah sebagai berikut:

Tahap persiapan adalah tahap dimana guru mempersiapkan semua keperluan untuk mengajar seperti mempersiapkan materi, perangkat mengajar, LKS, soal kuis dan menentukan metode pembelajaran dan menyajikan materi awal pembelajaran. Guru membagi kelompok yang masing masing kelompok beranggotakan 4 -6 orang dengan tingkat prestasi, jenis kelamin dan ras yang berbeda. Pembagian kelompok diatur berdasarkan skor awal. Skor awal diperoleh dari tes atau kuis yang diberikan kepada setiap siswa secara individu.

b. Tahap Penyajian Materi

Pada tahap penyampaian materi, guru menyampaikan materi sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai. Penyajian materi dilakukan secara klasikal (dengan ceramah ataupun dengan penemuan terbimbing). Dalam penyampaian materi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru, yaitu sebagai berikut:

1) Mengembangkan materi pelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari oleh siswa dalam kelompok.

2) Menekankan kepada siswa bahwa belajar adalah memahami makna dari materi yang dipelajari bukan menghafal materi.

3) Mengontrol pemahaman siswa sesering mungkin.

4) Memberikan penjelasan tentang benar atau salahnya jawaban dari setiap pertanyaan.

5) Beralih pada materi lain, jika siswa sudah memahami permasalahan yang dihadapi.

6) Dalam pemberian tugas kelas, sebaiknya siswa mengerjakan satu atau dua masalah (soal) dan langsung diberikan umpan balik, agar tidak terlalu menyita waktu.

c. Tahap Kegiatan Kelompok

Pada tahap kegiatan kelompok, siswa mempelajari materi dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Dalam kegiatan kelompok, setiap anggota kelompok harus saling membantu bertanggung jawab atas kelompoknya. Guru mempersiapkan bahan tugas kelompok sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai. Peran guru dalam kegiatan kelompok adalah sebagai fasilitator, memberi bantuan dengan cara memperjelas perintah, mereview konsep, menjawab pertanyaan dan memberikan bimbingan kepada siswa atau kelompok yang mengalami kesulitan.

d. Tahap Pelaksanaan Tes Individu

Jika materi sudah dipelajari dan dibahas dalam kelompok, siswa diberi tes atau kuis secara individu. Tes atau kuis individu ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang telah dicapai oleh siswa dan untuk menunjukkan apa saja yang diperoleh siswa selama belajar dalam kelompok. Hasil tes digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan dalam nilai perkembangan kelompok.

e. Tahap Perhitungan Skor Perkembangan Individu

Skor perkembangan individu dihitung berdasarkan selisih skor awal dengan perolehan tes akhir. Setiap anggota kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan sumbangan skor maksimal untuk nilai perkembangan kelompoknya berdasarkan perolehan nilai tes. Penghitungan skor perkembangan (Robert Slavin, 1995:291) didapat melalui kriteria berikut:

Tabel 2.2 Perhitungan Skor Perkembangan

Kriteria Nilai Peningkatan Nilai kuis/tes terkini turun lebih dari 10 poin

di bawah nilai awal. 5

Nilai kuis/tes terkini turun 1 sampai dengan 10

poin di bawah nilai awal. 10 Nilai kuis/tes terkini sama dengan nilai awal

sampai dengan 10 di atas nilai awal. 20 Nilai kuis/tes terkini lebih dari 10 di atas nilai

awal. 30

f. Tahap Penghargaan Kelompok

Kegiatan ini dilakukan pada setiap akhir pertemuan kegiatan belajar mengajar. Guru memberikan penghargaan berupa pujian, skor perkembangan kepada kelompok yang teraktif, terkompak, dan termaju. Langkah tersebut dilakukan untuk memberikan motivasi kepada siswa agar lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

Langkah - langkah memberi penghargaan kelompok :

1) Menentukan nilai dasar (awal) masing - masing siswa. Nilai dasar (awal) dapat berupa nilai kuis atau tes awal atau menggunakan nilai ulangan sebelumnya.

2) Menentukan nilai tes atau kuis yang telah dilaksanakan setelah siswa bekerja dalam kelompok, missal nilai kuis I, nilai kuis II, atau rata - rata nilai kuis I dan kuis II kepada setiap siswa, yang kita sebut dengan nilai kuis terkini.

3) Menentukan nilai peningkatan hasil belajar yang besarnya ditentukan berdasarkan selisih nilai kuis terkini dan nilai dasar (awal) masing - masing siswa.

Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan rata - rata nilai peningkatan yang diperoleh masing - masing kelompok dengan memberikan predikat cukup, baik, sangat baik, dan sempurna.

Kriteria untuk status kelompok (Muslimin dkk, 2000) yang dihitung dari rata -rata poin perkembangan yang diperoleh tiap anggota kelompok, adalah sebagai berikut:

1) Cukup, bila rata - rata nilai peningkatan kelompok kurang dari 15 (rata - rata nilai peningkatan kelompok < 15)

2) Baik, bila rata - rata nilai peningkatan kelompok antara 15 dan 20 (15 < rata - rata nilai peningkatan kelompok < 20)

3) Sangat baik, bila rata - rata nilai peningkatan kelompok antara 20 dan 25 (20 < rata - rata nilai peningkatan kelompok < 25)

4) Sempurna, bila rata - rata nilai peningkatan kelompok lebih atau sama dengan 25 (rata - rata nilai peningkatan kelompok > 25).

D.Materi

Materi tentang faktorisasi aljabar ini diajarkan di kelas VIII semester pertama. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), materi ini mempunyai standar kompetensi dan kompetensi dasar sebagai berikut, (Depdiknas, 2006)

Tabel 2.3 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Standar Kompetensi Kompetensi Dasar 1. Memahami bentuk aljabar,

relasi, fungsi, dan persamaan garis lurus.

1.1 Melakukan operasi aljabar. 1.2 Menguraikan bentuk aljabar

kedalam faktor - faktornya.

1. Pengertian Koefisien, Variabel, Konstanta dan Suku

Menurut (Nurhaini & Wahyuni, 2008), sebelum mempelajari faktorisasi aljabar perlu mengingat kembali istilah - istilah yang terdapat dalam bentuk aljabar, yaitu :

a. Variabel

Variabel adalah lambang pengganti suatu bilangan yang belum diketahui nilainya dengan jelas. Variabel disebut juga peubah. Variabel biasanya dilambangkan dengan huruf kecil a, b, c, ... z. b. Konstanta

Suku dari suatu bentuk aljabar yang berupa bilangan dan tidak memuat variabel disebut konstanta. Misalnya pada bentuk aljabar -4x² - x + 3. Konstanta pada bentuk aljabar -4x² - x + 3 adalah bilangan 3. c. Koefisien

Koefisien pada bentuk aljabar adalah faktor konstanta dari suatu suku pada bentuk aljabar. Misalnya pada bentuk aljabar 2x² + 6x - 3, maka koefisien x dari bentuk aljabar tersebut adalah 6.

d. Suku

Suku adalah variabel beserta koefisiennya atau konstanta pada bentuk aljabar yang dipisahkan oleh operasi jumlah atau selisih.

1) Suku satu adalah bentuk aljabar yang tidak dihubungkan oleh operasi jumlah atau selisih. Contoh: 3x, 4a², -2ab,

2) Suku dua adalah bentuk aljabar yang dihubungkan oleh satu operasi jumlah atau selisih. Contoh: a² + 2, x + 2y, 3x² - 5x. 3) Suku tiga adalah bentuk aljabar yang dihubungkan oleh dua

operasi jumlah atau selisih. Contoh: 3x² + 4x - 5, 2x + 2y - xy, Bentuk aljabar yang mempunyai lebih dari dua suku disebut suku banyak atau polinom.

Dokumen terkait