• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Komitmen Karyawan

Dalam dokumen PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN KEPRIBADI (Halaman 43-50)

4. Komitmen Karyawan

4.1 Pengertian Komitmen Karyawan

Menurut Spencer (1993), komitmen organisasi adalah kemampuan individu dan kemauan menyelaraskan perilaku dengan kebutuhan, prioritas, dan tujuan organisasi dan bertindak untuk tujuan atau kebutuhan organisasi. Komitmen organisasi terkait dengan kekuatan individu dan keterlibatannya dalam organisasi tertentu secara umum komitmen organisasi mencakup tiga hal, yaitu : pertama, kepercayaan kuat terhadap tujuan dan nilai organisasi ; kedua, kemauan kuat atau sungguh-sungguh pada kepentingan organisasi; ketiga, keinginan kuat untuk terus-menerus atau selalu menjadi anggota organisasi (Neale & Northcraft,1991). Menurut meyer danallen (1991, dalam soekidjan,2009) komitmen dapat juga berarti penerimaan yang kuat indovidu terhadap tujuan dan nilai-nilai organisasi, dan individu berupaya serta berkarya dan memiliki hasrat yang kuat untuk tetap berrtahan di organiasasi tersebut. selanjutnya Meyer dan Alen mengemukakan tiga macam komitmen organisasi yaitu : pertama, komitmen afektif yaitu merupakan komitmen yang menimbulkan perasaan memiliki dari terlibat organisasi, kedua, komitmen continuance merupakan komitmen atas biaya atau resiko yang harus di tanggung apabila seseorang keluar organisasi. Ketiga, komitmen normative yatu merupakan komitmen yang menimbulkan keinginan/perasaan keryawan untuk tinggal dalam sebuah organiasasi.

Luthas (2006) dalam penelitian Lita Larasati mendefinisikan komitmen organisasi sebagai sikap, yaitu :

 Keinginan kuat untuk tetapsebagai anggota organisasi tertentu

 Keinginan kuat berusaha keras sesuai keinginan organisasi

Dengan demikian komitmen organisasi merupakan sikap yang merefleksikan loyalitas karyawan pada organisasi dan proses berkelanjutan dimana anggota organisasi mengekspresikan perhatiannya terhadap organisasi dan keberhasilannya serta kemajuan yang berrkelanjutan. Komitmen organisais memberikan hubungan positif dengan kinerja karyawan, tingkat perganitian karyawan rendah, tingkat ketidakhadiran yang rendah. Komitmen organisasi juga memberikan iklim organisasi yang mendukung.

Komitmen individu yang kuat terhadap organisasi akan memudahkan pemimpin organisasi untuk menggerakkan sumber daya menusia yang ada dalam mencapai tujuan organisasi.komitmen organisasi yang kuat dapat menghindarkan tingginya turn over karyawan yang dimiliki organisasi.

Beberapa ahli berpendapat bahwa komitmen memliki urgensi penting dalam menggerakkan orang bekerja. Strategi penguatan komitmen untuk meningkatkan kinerja SDM perlu dilakukan untuk menggantikan mekanisme kerja yang selalu menekankan pengendalian pada kontrol pada setiap karyawan. Individu yang berkomitmen tentunya akan meningkatkan kinerja karyawan

Menurut Greenberg dan Baron (1993, dalam Chairy, 2002), karyawan yang memiliki komitmen organisasional yang tinggi adalah karyawan yang lebih stabil dan lebih produktif sehingga pada akhirnya juga akan lebih menguntungkan bagi organisasi. Mowday et al. (1982, dalam Chairy,2002) mengemukakan ciri-ciri komitmen organisasional, yaitu:

a. keyakinan yang kuat serta penerimaan terhadap tujuan dan nilai organisasi

c. keinginan yang kuat untuk bertahan dalam organisasi.

Menurut van dyne dan Graham (2005, dalam Muchas, 2008), faktor-faktor yang mempengaruhi komitmen organisasi adalah : personal, situassional dan posisi. Personal mempunyai ciri-ciri kepribadian tertentu yaitu teliti, ektovert, berpandangan positif (optimis), cenderung lebih komit. Selanjutnya Menurut Van dyne dan Graham (2005, dalam Muchlas, 2008) menjelaskan karakteristik dari personal yang ada yaitu : usia, masa kerja, pendidikan, jenis kelamin, status perkawinan,, dan keterlibatan kerja. Situaional mempunyai ciri-ciri dengan adanya value (nilai) tempat kerja, keadilan organisasi, karakteristik pekerjaan, dan dukungan organisasi. Sedangkan posisional dipengaruhi oleh masa kerja dan tingkat pekerjaan.

4.2 Jenis-Jenis Komitmen

Allen dan Meyer (dalan penelitian ,) membedakan komitmen organisasi atas tiga komponen, yaitu :

 Komponen afektif

Suatu pendekatan emosional dari identifikasi dalam keterlibatan pegawai didengan suatu organisasi. Sehingga individu akan merasa dihubungkan dengan organisasi. Komponen afektif berkaitan dengan emosional., identifikasi dan keterlibatan pengawai didalam suatu organisasi. Keryawan yang komitmen organisasinya berdasarkan komitmen afektif yang kuat akan meneruskan benerja

dengan perusahaan karena keinginan mereka sendiri, berdasarkan tingkat identifikasinya dengan perusahaan dan ketersediannya untuk membantu organisasi dalam mencapai tujuan

 Komponen normatif

Merupakan perasaan-perasaan pegawai tentang kewajiban yang harus ia berikan kepada organisasi. Karyawan dengan komitmen normatif yang kuat akan tetap bergabung dalam organisasi karena mereka sudah cukup untuk hidupnya.

 Komponen continuance

Merupakan hasrat yang dimiliki oleh individu untuk bertahan dalam orgaisasi, Sehingga individu merasa membutuhkan untuk dihubungkan dengan organiasi. Komponen utama dalam komitmen ini berdasarkan persepsi tentang kerugian yang akan ia dihadapinya jika ia meninggalkan organisasi.

Dari ketiga jenis komitmen diatas , komponen afektif merpakan tingkatan paling tertinggi. Karyawan dengan tingkat afektif komitmen akan memiliki motivasi and keinginan untuk berkontribusi secara berarti terhadap organiasi, sedangkan tingkatan terendah adalah komponen kontinuance. Meyer & Allen menyatakan komponen kontinuance tidak memliki hubungan atau memiliki hubungan negatif pada kehadiran anggota organisasi atau indikator pekerjaan selanjutnya, kecuali dalam kasus-kasus diman job relation jelas sekali mempengaruhi hasil pekerjaan.

Jenis komitmen organisasi dari Mowday et al., (1974) yang dikenal sebagai pendekatan sikap terhadap organisasi, yang memiliki 2 komponen yaitu sikap dan kehendak untuk bertingkah laku, yang masing-masing dijabarkan sebagai berikut :

a. Sikap, mencakup :

 Identifikasi dengan organisasi, yaitu penerimaan tujuan organisasi, dimana penerimaan ini merupakan dasar komitmen organisasi.

 Keterlibatan sesuai peran dan tanggung jawab pekerjaan di organisasi tersebut. Pegawai memiliki komitmen tinggi akan menerima hampir semua tugas dan tanggung jawab pekerjaan yang diberikan kepadanya.

 Kehangatan, afeksi dan loyalitas terhadap organisasi merupakan evaluasi terhadap komitmen serta adanya ikatan emosional dan keterikatan antara organisasi dan pegawai. Pegawai berkomitmen tinggi merasakan adanya loyalitas dan rasa memiliki terhadap organisasi

b. Kehendak untuk bertingkah laku, adalah:

 Kesediaan untuk menampilkan usaha, tampak melalui kesediaan bekerja melebihi apa yang diharapkan agar organisasi dapat maju. Pegawai berkomitmen tinggi ikut memperhatikan nasib organisasi.

 Keinginan tetap berada dalam organisasi. Para pegawai yang memiliki komitmen tinggi, hanya sedikit alasan untuk keluar dari organisasi dan berkeinginan untuk bergabung dengan organisasi yang telah dipilihnya dalam waktu lama.

4.3. Macam-Macam Bentuk Komitmen

Komitmen dibedakan menjdai dalam tingkatan atau derajat, sebagai berikut (Thomson dan Maybe, 1994) :

a. Komitmen pada tugas (job Commitment )

Merupakan komitmen yang berhubungan dengan aktivitas kerja. Komitmen pada tugas dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti ksesuaian orang dengan pekerjaannya dan karakteristik tugas seperti variasi keterampilan, identitas pekerjaan, tingkat kepentingan pekerjaan, otonomi, dan umpan balik pekerjaan.

Penelitian Hacman dan Oldham dalam penelitian Isnan Nurhayati (2013) menyimpulkan bahwa motivasi kerja terbentuk oleh tiga kondisi, yaitu apabila pekerja merasakan pekerjaannya berarti, pekerja merasa bertanggung jawab terhadap hasil kerjanya, dan pekerja memahami hasil pekerjaannya.

b. Komitmen pada karir (Career Commitment )

Komitmen pada karir lebih luas dan kuat dibandingkan dengan komiitmen pada pekerjaan teretntu. Komitmen ini lebih berhubungan dengan bidang karir dari pada sekumpulan aktivitas dan merupakan tahap dimana persyaratan suatu pekerjaan tertentu memenuhi aspirasi karir individu. Ada kemungkinan individu yang memiliki komitmen yang tinggi pada karir akan meninggalkan organisasi untuk meraih peluang yang lebih tinggi lagi.

Merupakan jenjang komitmen yang paling tinggi tingkatannya. Portel dan Steers (1991) mendefinisikan komitmen organisasi sebagai derajat keterikatan relatif dari individu terhadap organisasinya.

Sedangkan menurut Robbins (1996) mendefinisikan derajat sejauh mana seseorang karyawan memihak pada suatu organisasi tertentu dan tujuannya, serta berniat memelihara keanggotaan dalam organisasi.

Dalam dokumen PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN KEPRIBADI (Halaman 43-50)

Dokumen terkait