• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Maqa>s}id asy-Syari>’ah

BAB II : ZAKAT, MAQA>S}ID ASY-SYARI>’AH DAN

B. Maqa>s}id asy-Syari>’ah

1. Pengertian Maqa>s}id asy-Syari>’ah

Maqa>s}id asy-Syari>’ah secara bahasa terdiri dari dua kata, yakni maqa>s}id dan syari>’ah. Maqa>s}id adalah bentuk jamak dari qas}du yang berarti kesengajaan atau tujuan,67 sedangkan asy-syari>’ah secara bahasa adalah “ ءاملا ىلإردحت عااااااضا ملا “68 berarti jalan menuju sumber air, dapat pula dikatakan sebagai jalan ke arah sumber pokok kehidupan.69

Pengkaitan syari’at dengan air, dalam arti bahasa ini tampaknya dimaksudkan untuk memberikan penekanan pentingnya syari’at-- sesuatu yang penting dalam kehidupan--, yang disimbolkan dengan air. Urgennya air ini telah dijelaskan oleh Allah dalam firmanNya:

70 يح ئش لك ءاملا نم انلعجو Asy-Syat}ibi> mendefenisikan maqa>s}id asy-syari>’ah adalah:

ايندلاو نيدلا يف مهحلاصم مايق يف عراشلا دصاقم قيقحتل تعضو ... ةعيرشلا هذه

71 اعم Dalam ungkapan yang lain asy-Syat}ibi> mengemukakan:

دابعلا حلاصمل ةعورشم ماكحلأا

72

Apabila ditelaah secara mendalam dari pernyataan asy-Syat}ibi> di atas, maka kandungan dari maqa>s}id asy-syari>’ah atau

67 Lihat Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic, J Milton Cowan (ed.) (London: Macdonald & Evan Ltd, 1980), 767

68 Ibn Mansur al-Afriqi, Lisa>n al-A’rab, (Beirut: Da>r as-Sadr, t.t.), VIII:175

69 Fazlurrahman, Islam , alih bahasa Ahsin Muhammad, (Bandung:

Penerbit Pustaka, 1984), 140

70 Q.S. Al-Anbiya> (21): 30

71 Abu Ishaq asy-Syat}ibi>, Muwa>faqa>t fi> Us}u>l asy-Syari>’ah, syarah

‘Abdulla>h Dara>z, (Kairo: Mustafa Muhammad, t.t.), I: 21

72 Ibid. II: 54

50

tujuan hukum Islam adalah kemashlahatan bagi umat manusia.

Titik tolak pandangan asy-Syat}ibi> adalah bahwa semua kewajiban (takli>f) diciptakan dalam rangka merealisasikan kemaslahatan manusia. Tak satupun hukum Allah dalam pandangan asy-Syat}ibi> yang tidak memiliki tujuan kemaslahatan bagi hambanya.73

Aturan yang tidak mempunyai satu tujuanpun sama dengan takli>f ma> la> yuta>q (membebankan sesuatu yang tidak dapat dilaksanakan)74, ini adalah sesuatu yang tidak mungkin bagi hukum-hukum Allah. Penekanan maqa>s}id asy-syari>’ah yang dilakukan asy-Syat}ibi> secara umum bertitik tolak dari kandungan ayat al-Qura>n yang menunjukkan bahwa ayat-ayat Tuhan mengandung kemaslahatan.75

Hemat penulis dapat dikatakan bahwa kandungan maqa>s}id asy-syari>’ah adalah kemaslahatan. Analisis maqa>s}id asy-syari>’ah tidak hanya dilihat dalam arti teknis belaka, tetapi dalam upaya dinamika dan pengembangan hukum harus dilihat sebagai sesuatu yang mengandung nilai filosofis dari hukum-hukum yang disyari’atkan oleh Tuhan terhadap manusia.

Bagi asy-Syat}ibi> tidak menjadi persoalan apakah Allah melalui al-Qura>n telah memberikan sesuatu secara terperinci atau tidak. Tetapi dengan pernyataan Allah dalam al-Qura>n, bahwa Islam telah sempurna sebagai agama manusia, menunjukkan bahwa al-Qura>n telah mencakup dasar-dasar kepercayaan dan praktik agama dengan berbagai aspeknya.

Sebaliknya pula berarti bahwa tidak satupun yang berada di luar ajaran al-Qura>n. Lalu muncul sebuah pertanyaan bagaimana posisi sunnah? Apakah menjadi dasar dari maqa>s}id asy-syari>’ah? Menurut asy-Syat}ibi>, sunnah adalah segala sesuatu yang diperoleh dari Nabi, yakni hal-hal yang tidak dijelaskan dalam

73 Ibid., I: 195

74 Ibid., 150

75 Abu Ishaq asy-Syat}ibi>, Muwa>faqa>t fi> Us}u>l asy-Syari>’ah, syarah Abdullah Daraz, (Kairo: Mustafa Muhammad, t.t.), II:6

al-Qura>n. Jadi posisi sunnah merupakan baya>n (penjelasan) terhadap al-Qura>n. Hukum-hukum yang diambil dari al-Qura>n terlebih dahulu dicari uraiannya atau penjelasannya dalam as-sunnah.76

Dapat dipahami bahwa dasar pemikiran asy-Syat}ibi> tentang maqa>s}id asy-syari>’ah adalah al-Qura>n dan as-Sunnah sebagai ruh dari syari’at. Al-Qura>n dan as-Sunnah keduanya memiliki keterkaitan, sunnah merupakan penjabaran dari al-Qura>n.

Asy-Syat}ibi> bukanlah orang pertama mengemukakan istilah maqa>s}id asy-syari>’ah, sudah banyak pendahulunya yang menggunakan istilah ini dalam karya mereka, tetapi asy-Syat}ibi>lah orang pertama yang menyusun maqa>s}id asy-syari>’ah secara rinci dan sistematis. 77

76Ibid., al-Muwa>faqa>t …, dalam kata pengantar oleh Abdullah Dara>z, Jil.

I :7-8

77 Menurut Ahmad Raisuni, kata maqa>s}id asy-syari>’ah pertama kali digunakan oleh at-Turmuzi al-Hakim, ulama yang hidup di abad ke-3. Dialah yang pertama menyuarakan maqa>s}id asy-syari>’ah lewat buku-bukunya seperti, as}-S}ala>h wa Maqa>s}iduhu, al-H{a>j wa Asra>ruh, al-‘Illah, ‘Ilal asy-Syari>’ah, ‘Ilal al-‘Ubu>diyyah dan juga lewat bukunya al-Furu>q yang kemudian dipakai oleh Imam Qarafi sebagai judul bukunya. Setelah al-Hakim muncul Abu Mansur al-Maturidy (w. 333) dengan karyanya Ma’khad asy-Syara’, disusul Abu Bakar al-Qaffal asy-Syasyi (w. 365) dengan bukunya Us}u>l al-Fiqih dan Mah}a>sin asy-Syari>’ah. Setelah al-Qaffal muncul Abu Bakar al-Abhari (w. 375) dan al-Baqillany (w. 403) masing-masing dengan karyanya, di antaranya, Mas‘alah al-Jawa>b wa ad-Dala>il wa al-‘Illah dan at-Taqri>b wa al-Irsya>d fi> Tarti>b T{uru>q al-Ijtiha>d.

Setelah al-Baqillany muncul al-Juwaeny, al-Gazali, ar-Razy, al-Amidy, Ibn Hajib, al-Baidawi, al-Asnawi, Ibn Subki, Ibn Abdissalam, al-Qarafi, at-Tufi, Ibn Taimiyyah dan Ibn Qayyim. Lihat Ahmad Raisuni, Naz{a>riyya>t al-Maqa>s}id ‘Inda al-Ima>m asy-Sya>tibi, (Beirut: al-Muassasah al-Jami’iyyah li ad-Dira>sat wa an-Nasyr wa al-Tauzi>’, 1992), hlm . 32. Di masa kontemporer ini/ abad 21, juga ada tokoh yang berusaha mengembangkan ide-ide maqasid, yang lebih jauh memaknai maqasid untuk pengembangan hukum Islam, yaitu Yasser Auda. Dalam tulisan ini dirujuk juga beberapa pemikirannya untuk analisa.

52