BAB IV : PERSENTASE ZAKAT DI BADAN AMIL ZAKAT
D. Simulasi Aplikasi Persentase Zakat Dinamis di
Untuk aplikasi persentase zakat dinamis, digunakan sampel data zakat profesi para muzakki dari 2 UPZ, yang satu dari lembaga swasta yaitu PT. Brantas Abipraya dan yang satunya lagi dari lembaga pemerintahan yaitu Kementerian Koperasi, merupakan data yang sama yang ada pada bagian sebelumnya. Kedua data tersebut didapat dari Unit Layanan Muzakki BAZNAS Pusat. Kedua data dari UPZ tersebut dibandingkan perolehan BAZNAS menggunakan persentase zakat tetap yaitu 2.5 %, dengan perolehan zakat dengan menggunakan persentase zakat dinamis yang ditawarkan oleh Yu>suf al-Qarad}a>wi>.
Hasilnya sebagai berikut:
Tabel 1V.5
Rekap Perolehan Zakat dari Januari 2016 s/d Agustus 2018 UPZ PT. BRANTAS ABIRAJA (Swasta)
Tahun Jumlah bulan
Jumlah transaksi Muzakki
Jumlah Zakat
dengan 2.5 % Jumlah Zakat dgn Dinamis
2016 11 2089 717,015,166 861,783,494
2017 11 1907 686,918,887 825,328,088
2018 8 1478 567,936,127 722,085,474
TOTAL 30 5,474 1,971,870,180 2,409,197,056 Diolah dari data Divisi Pengumpulan UPZ Nasional BAZNAS
Data Tabel IV.5 tersebut di atas sejak Januari 2016 sampai Agustus 2018 terdapat 5474 transaksi muzakki yang diajukan oleh UPZ PT Brantas Abiraja, dengan total zakat yang diperoleh sebesar Rp.1.971.870.180. Data yang dilaporkan ke BAZNAS sebanyak 30 bulan yang seharusnya 32 bulan.
Nisab zakat dalam olahan data ini sebulannya adalah senilai Rp.
3.550.000, dengan asumsi nisab satu tahun senilai 85 gram emas dan 1 gram emas senilai Rp.500.000. Dari 5474 transaksi zakat selama 30 bulan dari UPZ swasta tersebut terdapat sebanyak 179 transaksi yang berasal dari muzakki yang penghasilannya kurang dari nisab perbulannya. Di samping terdapat juga 225 transaksi yang berasal dari
muzakki yang penghasilan bulanannya melebihi 10 kali nisab, lebih dari Rp.35.500.000. Dan sebanyak 29 transaksi dari 225 tersebut adalah dari penghasilan bulanan yang lebih dari 20 kali besar nisab, lebih dari Rp.71.000.000.
Akan tetapi dengan penggajian sistem payrool yang dilakukan rata-rata oleh bendahara di UPZ-UPZ maka berapapun penghasilannya akan kena potongan 2,5% dari penghasilan bruto seorang pegawai, sehingga didapati setoran zakat senilai Rp.53.278 (dengan penghasilan Rp. 2.131.120), penghasilannya kurang dari senisab yang seharusnya tidak berkewajiban mengeluarkan zakat. Namun karena memang ada aturan untuk mengeluarkan zakat akhirnya pegawai ini tetap diambilkan zakatnya. Di samping itu terdapat juga pegawai yang penghasilannya mencapai Rp. 103.100.000/perbulannya, dan dikenakan juga zakat 2,5%, sejumlah Rp.2.577.500.
Ketika digunakan model persentase zakat dinamis, ketika makin besar penghasilannya maka zakatnya juga bertambah. Dalam simulasi di atas digunakan aturan untuk penghasilan mencapai 1000% dari nisab (10 x nisab= Rp.35.500.000) maka dikenakan zakat 5%. Dan ketika penghasilan melebihi 2000% (20 x nisab = Rp.71.000.000) maka dikenakan zakat 10%, dan ketika penghasilan melebihi 100 x nisab atau senilai Rp.355.000.000 maka dikenakan zakat 20%. Akan tetapi sebaliknya ketika penghasilannya kurang dari nisab maka tidak dikenakan zakat.
Dengan simulasi seperti di atas, Tabel IV.5 menunjukkan perolehan zakatnya malah bertambah sejumlah Rp. 437.326.876, dari perolehan sebelumnya yang hanya Rp.1.971.870.180., padahal sudah dikeluarkan sebanyak 179 transaksi dari muzakky yang memang penghasilannya kurang dari nisab. Di samping meningkatkan perolehan zakat tentu hal ini lebih dirasa proporsional atau berkeadilan karena pegawai yang berpenghasilan besar juga ditarik besar.
174
Tabel IV.6
Perolehan Zakat dari Januari 2016 s/d Agustus 2018 UPZ KEMENTERIAN KOPERASI (Pegawai Negeri)
Diolah dari data Divisi Pengumpulan UPZ Nasional BAZNAS
Tabel IV.6 ini adalah olahan dari data UPZ dari Kementerian Koperasi yang dilaporkan ke BAZNAS Pusat. Terlihat realisasi pengumpulan zakat penghasilan tidak setiap bulannya karena seharusnya sejumlah 32 bulan, tetapi realisasinya hanya 18 bulan.
Total perolehan zakatnya adalah Rp.268.072.203, yang dikumpulkan dari 2558 transaksi muzakki.
Menarik dari Tabel IV.6 di atas adalah, ketika diterapkan persentase zakat dinamis seperti yang dilakukan terhadap data dari lembaga swasta di atas, hasilnya perolehan zakatnya makin menurun sejumlah Rp.57.524.275. Hal itu tentu tidak mengherankan karena dari 2558 transaksi zakat tersebut sejumlah 1003 transaksi berasal dari penghasilan pegawai yang tidak sampai senisab. Sementara yang berpenghasilan melebihi 10 kali lipat jumlah nisab juga tidak ada, sehingga hasilnya sepertinya menurun tetapi di satu sisi tentu lebih proporsional.
Dari paparan data di atas terlihat pegawai swasta memiliki penghasilan yang jauh melebihi pegawai lembaga pemerintah. Kalau zakatnya diratakan sama tentu kesenjangan antara yang berpenghasilan besar dengan yang kecil akan semakin lebar, dan ini tidak sesuai dengan maqa>s}id asy-syari>’ah dalam hifz}u al-ma>li (memelihara harta), karena dalam semangat memelihara harta adalah bagimana harta tidak menimbulkan kesenjangan yang makin lebar antara si kaya dan si miskin. Dengan persentase zakat dinamis ini maka
tujuan syariat ini tidak tercapai, berbeda dengan presentase dinamis yang lebih memenuhi untuk hifz}u al-ma>li ini. Karena zakat betul-betul mampu mengurangi kesenjangan antara yang diberi amanah harta lebih dengan yang tidak,yang merupakan bagian dari h}ifz}u al-ma>li.
Dari dua tabel (IV.5 dan IV.6) di atas menunjukkan ketika diterapkan persentase dinamis akan lebih proporsional/adil, di samping itu ternyata juga akan meningkatkan perolehan zakat. Data dua UPZ di atas ketika dibandingkan total perolehan zakat memakai model tetap 2,5% (Rp.1.971.870.180 + Rp.268.072.203 sejumlah Rp.2.239.942.383) dengan total perolehan zakat dengan memakai persentase dinamis (Rp.2.409.197.056 + 210.547.928 sejumlah Rp.2.619.744.984) terdapat peningkatan perolehan zakat sejumlah Rp.
379.802.601, atau sekitar 16,9%.
Padahal jumlah muzakkinya berkurang dari total 8.036 muzakki menjadi 6.854 muzakki, karena dikurangi jumlah muzakki yang penghasilannya kurang dari nisab sebanyak 1.182 muzakki (1003 dari UPZ Kementrian Koperasi + 179 dari PT Brantas Abiraja ).
Hal ini menunjukkan menerapkan persentase dinamis adalah salah satu cara meningkatkan perolehan total zakat nasional, dan tentu akan dirasa lebih berkeadilan. Sekaligus dengan menerapkan persentase dinamis dalam zakat profesi, maka maqa>s}id asy-syari>’ah yaitu h}ifz}u ad-din (memelihara agama) yang bersifat d}oru>ri>y, yaitu menerapkan keadilan. Dengan menerapkannya, nilai keadilan untuk melindungi dan mengembang nilai-nilai dasar agama itu sendiri akan terwujud.