• Tidak ada hasil yang ditemukan

Zakat Sebagai Instrumen Khusus Keuangan

BAB II : ZAKAT, MAQA>S}ID ASY-SYARI>’AH DAN

A. Zakat dalam Islam

2. Zakat Sebagai Instrumen Khusus Keuangan

penerimaan negara terutama pajak sebagai sumber penerimaan terpenting, pengeluaran negara, pinjaman negara dan pelunasannya, administrasi fiskal atau teknik fiskal, hukum dan tata usaha keuangan negara, perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, kebijakan fiskal yang

19 al-Qarad}a>wi, Malamih al-Mujtama’…, 347

20 Sesuai dengan firman Allah SWT. dalam at-Taubah (9): 103, ( نم ذخ ةقدص مهلا مأ)

21 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, cet. ke-2 (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994), 36

22 al-Qarad}a>wi, Malamih al-Mujtama’…, 81

mempelajari peranan dan pengaruh negara terhadap pendapatan nasional, distribusi pendapatan nasional, kesempatan kerja, harga-harga, serta efisiensi alokasi sumber daya.23 Artinya keuangan publik mempelajari tindakan negara memperoleh dan membelanjakan dananya serta implikasi dari tindakan tersebut.

Untuk keuangan publik dalam Islam, suatu defenisi yang diungkapkan oleh Abu Ubayd dalam kitab al-Amwal-nya mengenai pendapatan publik adalah “sunuf al-amwa>l al-lati>

yali>ha al-a‘immatu li ar-ra’iyyah (bentuk kekayaan yang dipercayakan untuk dikelola oleh pemimpin untuk rakyat).24 Dari definisi tersebut, menurut Suharto, ada empat konsep penting di dalamnya: al-amwa>l (harta kekayaan), wilayah (perwalian pengelolaan), imamah (pemerintah), dan ra’iyyah (rakyat). 25

Artinya Pemerintah dalam mengelola kekayaan publik, adalah pengelola yang sah secara hukum yakni sebagai wali yang melindungi sumber kekayaan tersebut. Pemerintah bukan pemilik kekayaan publik, sehingga hasil atau keuntungan dari pengelolaan harus didistribusikan kepada masyarakat, sebagai pemilik sebenarnya. Pemilik sebenarnya adalah umat, dia berasal dari umat dan didistribusikan lagi kepada masyarakat, dan yang berhak mengontrol juga umat, terutama kelompok yang berhak yaitu para mustah}iq.26

23 Nurul Huda dan Ahmad Muti, Keuangan Publik Islami Pendekatan al-Kharraj (Imam Abu Yu>suf), cet. ke-1 (Bogor: Galia Indonesia, 2011), 8-9

24 Dikutip melalui Ugi Suharto, Keuangan Publik Islam: Reinterpretasi Zakat dan Pajak, cet. ke-1 (Yogyakarta: Pusat Studi Zakat IBS STIS Yogyakarta, 2004), 83

25Ibid.

26 Mas’udi, “Zakat: Etika Pajak dan …, 54

32

Zakat adalah salah satu instrumen pendapatan keuangan publik Islam, di samping jizyah27, ‘usyur28, ganimah/anfal (rampasan perang) atau fai’29, dan kharaj.30 Dibandingkan pendapatan publik lainnya zakat memiliki kekhususan. Di antara kekhususan zakat dibandingkan pendapatan publik lainnya adalah:

27 Al-Jizyah adalah pajak kepala bagi non muslim yang masuk dalam wilayah dan perlindungan pemerintah Islam, sebab mereka tidak ikut berperang bersama kaum muslim dalam memerangi musuh, dan jika ikut berperang mereka dibebaskan dari jizyah. Dalam al-Kharaj, Abu Yu>suf menjelaskan jizyah hanya bagi laki-laki, tidak bagi wanita dan anak-anak di bawah umur 15 tahun, kaum lemah, budak, pendeta dan biarawan yang tidak memiliki harta tidak dipungut. Bagi yang dikenai jizyah juga disesuaikan dalam tingkatan ekonomi mereka, 48 dirham perak untuk kelas atas, 24 dirham kelas menengah, dan 12 dirham untuk kelas bawah, dipungut hanya sekali dalam satu tahun. Jizyah tidak dipungut dari orang miskin golongan mustah}iq. Qa>d}i Abi> Yu>suf Ya’qu>b bin Ibra>him, Kita>b al-Khara>j (Beirut: Da>r al-Ma’rifah, 1979), 121-122. Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, edisi ke-3, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010), 128.

28 Al-‘Usyu>r adalah bea yang diambil dari barang yang dibawa masuk atau keluar ke dan dari daerah Islam yang melintasi pos bea dan cukai dengan maksud untuk diperdagangkan. Bagi muslim 2.5%, dari ahli zimmah 5%, dan dari kafir harbi 10 % dan nilai perdagangannya mencapai 200 dirham, itu juga diambil setahun sekali sebagaimana zakat bagi kaum muslim. Qa>d}i Abi> Yu>suf Ya’qu>b bin Ibra>him, Kita>b al-Khara>j…, 132-133. Karim, Sejarah Pemikiran

…, 46, 70

29Ganimah/anfa>l adalah rampasan perang, bagi Abi Yu>suf bukan hanya rampasan perang yang diperoleh dari orang kafir saja, namun ia juga mencakup barang tambang dan perhiasan yang diperoleh dari laut, serta barang temuan atau harta karun. Qa>d}i Abi> Yu>suf Ya’qu>b bin Ibra>him, Kita>b al-Khara>j…, 21-22. Yang menjadi pendapatan publik adalah 1/5 nya, dan 4/5 dibagikan kepada pasukan. Termasuk dalam hal ini adalah fay’, lahan orang kafir yang diperoleh oleh Nabi tanpa peperangan, seperti lahan bani Nadhir dan tanah Fadak, kedua lahan ini menjadi milik Nabi yang tidak dibagikan seperti anfal. Suharto, Keuangan Publik Islam…, 141-146,

30Khara>j secara bahasa bermakna sewa, ia merupakan hak yang dikenakan atas lahan tanah yang telah dirampas dari kaum kafir, dengan cara perang maupun damai. Khara>j pertama kali dilakukan oleh Umar bin Khatan untuk lahan di Sawad, Kufah, Irak, yang sistemnya masahah (berdasarkan luas lahan). Abu Yu>suf menawarkan sistem kharaj yang berbeda kepada khalifah ar-Rasyid dengan sistem muqasamah (berbagi), karena dipandang lebih adil.

Qa>d}i Abi> Yu>suf Ya’qu>b bin Ibra>him, Kita>b al-Khara>j…, 24-25, juga 47-48.

Karim, Sejarah Pemikiran …, 48

a. Ia hanya diwajibkan kepada muslim dan pada dasarnya didistribusikan hanya kepada muslim. Namun, non muslim bisa mendapatkan zakat dengan syarat fay’ publik tidak mencukupi untuk mereka. Artinya, sifat publik dalam zakat pada dasarnya adalah spesifik.

b. Zakat, sebagai sumber pendapatan, dipisahkan dari sumber-sumber pendapatan lainnya. Berbagai pendapatan baru, bisa dikategorikan di bawah satu kategori yakni fay’

, kecuali untuk zakat.

c. Zakat bukan pajak, dalam pengertian bahwa ia bisa berfungsi bahkan tanpa ada pemerintah. Walaupun, dalam keuangan publik, pemerintah adalah raison d’etre-nya.

Sifat khusus zakat terletak pada fakta bahwa ia akan terus memiliki fungsi distributif keuangan publik sekalipun pemerintah tidak ada di sana.

d. Peran Nabi dalam kaitannya dengan zakat, terlepas dari posisinya sebagai legislator, hanya mengelola pengumpulan dan pendistribusian tanpa beliau mendapatkan hak untuk memperoleh bagian. Khalifah setelahnya diberi kekuasaan serupa, tetapi mereka mendapatkan bagian di bawah ketentuan al-Qura>n yakni sebagai ‘amilin.

e. Keluarga dan keluarga dekat Nabi, tidak dibolehkan mendapat bagian zakat hanya selama Nabi masih hidup.

Tetapi, setelah Nabi wafat, mereka adalah sama dengan publik lainnya berkaitan dengan penerima zakat.31

31 Suharto, Keuangan Publik Islam…, 211. Ugi yang mengutip banyak pendapat Abu Ubaid, mengelompokkan pendapatan publik kepada dua pengelompokan besar, yaitu zakat dan fay’. Zakat punya aturan sendiri, dan pendapatan lainnya bisa dikelompokkan kepada fay’. Seperti halnya kharaj bagi Abi Yu>suf yang mengacu kepada pajak secara umum, makanya Abu Yu>suf menganggap bahwa fay’ tidak lain adalah kharaj. Qa>d}i Abi> Yu>suf Ya’qu>b bin Ibra>him, Kita>b al-Khara>j…, 23

34

Dengan kekhususan di atas, zakat telah menjadi instrumen khusus keuangan Islam yang sangat andal pada masa kejayaan pemerintahan Islam. Sejarah mencatat bahwa ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz berkuasa, pemerintah sangat sulit mencari mustahik zakat. Pada masa tersebut masyarakat yang semula menjadi mustahik, setelah adanya pemberdayaan zakat yang merata dan adil, pada tahun berikutnya status mereka berubah menjadi muzakki atau pembayar zakat. 32

Pemerintahan Islam waktu itu mengalami surplus, sehingga redistribusi kekayaan negara selanjutnya diarahkan kepada subsidi pembayaran utang-utang pribadi (swasta), dan subsidi sosial dalam bentuk pembiayaan kebutuhan dasar yang sebenarnya tidak menjadi tanggungan negara, seperti biaya pernikahan.